Hadis Badui Keenam: Tiga Dosa Besar yang Paling Membinasakan

HADIS BADUI KEENAM
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
جاء أعرابي إلى النبي ﷺ، فقال : يا رسول الله، ما الكبائر ؟ قال : ” الإشراك بالله “. قال : ثم ماذا ؟ قال : ” ثم عقوق الوالدين “. قال : ثم ماذا ؟ قال : ” اليمين الغموس “. قلت : وما اليمين الغموس ؟ قال : ” الذي يقتطع مال امرئ مسلم، هو فيها كاذب “.
Seorang Arab Badui datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah dosa-dosa besar itu?”
Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah.”
Ia bertanya lagi, “Kemudian apa?”
Beliau menjawab, “Kemudian durhaka kepada kedua orang tua.”
Ia bertanya lagi, “Kemudian apa?”
Beliau menjawab, “Sumpah palsu yang menjerumuskan.”
Aku bertanya, “Apakah sumpah palsu yang menjerumuskan itu?”
Beliau menjawab, “Yaitu sumpah yang dengannya seseorang merampas harta seorang Muslim, sementara ia berdusta di dalam sumpah tersebut.”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6920.
Penyebutan tiga dosa besar ini tidak menafikan adanya dosa besar selainnya. Dalam riwayat dan tempat lain juga disebutkan dosa besar seperti kesaksian palsu, perzinaan seorang laki-laki dengan istri tetangganya, menghalalkan kehormatan Baitullah, dan dosa-dosa lainnya yang disebutkan dalam sunnah.
Tidak ada sesuatu pun yang menandingi rasa takut para sahabat radhiyallahu ‘anhum terhadap terjatuhnya mereka ke dalam dosa-dosa besar. Oleh karena itu, mereka banyak bertanya dan mencari penjelasan tentang dosa-dosa tersebut. Nabi ﷺ pun menyebutkannya kepada mereka satu per satu serta memperingatkan mereka darinya, karena khawatir mereka terjerumus ke dalamnya.
Dalam hadis ini, sahabat yang mulia Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa seorang lelaki dari kalangan Arab Badui—yaitu kaum pedalaman yang tinggal di padang pasir—datang kepada Nabi ﷺ untuk bertanya tentang dosa-dosa besar: apakah dosa-dosa besar itu?
Dosa besar pada asalnya adalah dosa-dosa yang agung. Yaitu setiap dosa yang dalam Al-Qur’an, sunnah yang sahih, atau ijmak dinyatakan sebagai dosa besar, atau disebut sebagai dosa yang sangat besar, atau diberitakan adanya ancaman siksa yang keras baginya, atau diberlakukan hukuman had atas pelakunya, atau ditegaskan kecaman keras terhadap pelakunya, atau disebutkan laknat bagi pelakunya.
Nabi ﷺ pun menjawabnya dengan menjelaskan bahwa dosa besar yang pertama dan paling besar adalah menyekutukan Allah عز وجل, yaitu dengan menyembah selain-Nya bersama Allah. Lelaki Arab Badui itu ingin menambah pengetahuannya tentang dosa-dosa besar, lalu bertanya, “Apa yang termasuk dosa besar setelah menyekutukan Allah?” Maka Nabi ﷺ menjawab, “Kemudian durhaka kepada kedua orang tua.” Yaitu berbuat buruk kepada keduanya dan tidak menunaikan hak-hak mereka dalam bentuk apa pun, seperti mencaci dan memukul, menyebabkan orang lain melaknat keduanya, durhaka kepada keduanya dalam perkara yang makruf, merasa keberatan dengan keberadaan keduanya, lalai dalam menunaikan hak-hak mereka, tidak menafkahi keduanya, tidak merendahkan diri di hadapan keduanya, lebih mendahulukan istri dan anak-anak daripada keduanya, serta bentuk-bentuk gangguan lainnya dan kelalaian dalam menunaikan hak-hak mereka.
Kemudian lelaki Arab Badui itu ingin memperoleh pengetahuan yang lebih luas tentang dosa-dosa besar, lalu bertanya lagi kepada Nabi ﷺ, “Apa lagi yang termasuk dosa besar setelah durhaka kepada kedua orang tua?” Maka Nabi ﷺ menjawab, “Sumpah palsu yang menjerumuskan (al-yamīn al-ghamūs).” Yaitu sumpah atas sesuatu yang diucapkan seseorang sementara ia mengetahui bahwa dirinya berdusta. Dikatakan demikian karena sumpah ini menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka.
Firas bin Yahya al-Hamdani, perawi hadis ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Hibban, ingin meminta penjelasan tentang makna sumpah palsu yang menjerumuskan. Ia pun bertanya kepada gurunya, Amir bin Syurahbil asy-Sya‘bi. Gurunya menjelaskan bahwa sumpah tersebut adalah sumpah yang digunakan untuk mengambil harta saudaranya tanpa hak, sementara ia berdusta. Ia bersumpah dengan sumpah dusta dan palsu untuk membantu dirinya merampas harta saudaranya. Dalam hal ini terdapat peringatan yang sangat keras terhadap sumpah dusta secara umum, dan keharamannya semakin berat apabila sumpah tersebut berkaitan dengan pengambilan harta seorang Muslim tanpa hak.
Penyebutan tiga dosa besar ini tidak berarti bahwa dosa besar hanyalah tiga tersebut. Sebab di tempat lain juga disebutkan dosa-dosa besar seperti kesaksian palsu, perzinaan seorang laki-laki dengan istri tetangganya, menghalalkan kehormatan Baitullah, dan dosa-dosa lainnya yang disebutkan dalam sunnah.
Penutup
Dari penjelasan hadis ini tampak jelas betapa besar perhatian Islam dalam menjaga akidah, kehormatan orang tua, dan harta kaum Muslimin. Tiga dosa besar yang disebutkan dalam hadis ini bukan sekadar kesalahan pribadi, tetapi kerusakan mendasar yang menghancurkan agama, akhlak, dan tatanan sosial. Oleh karena itu, kewaspadaan para sahabat radhiyallahu ‘anhum terhadap dosa-dosa besar patut dijadikan teladan, dengan senantiasa belajar, bertanya, dan menjauhi segala sebab yang dapat menjerumuskan ke dalamnya.
Seorang Muslim hendaknya terus mengoreksi diri, memperkuat tauhidnya, berbakti kepada kedua orang tua, serta menjaga lisannya dari sumpah dusta dan kezhaliman terhadap harta orang lain. Dengan sikap demikian, ia berharap memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat, serta terhindar dari ancaman dosa-dosa besar yang berat akibatnya di sisi Allah Ta‘ala.
Semoga bermanfaat.



