Durus Minas Sirah – Tahun Kesedihan
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah
Tahun Kesedihan
بَعْدَ خُرُوجِ بَنِي هَاشِمٍ مِنَ الشِّعْبِ بِزَمَنٍ يَسِيرٍ، اشْتَدَّ الْمَرَضُ بِأَبِي طَالِبٍ، عَمِّ النَّبِيِّ ﷺ، وَحَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، وَجَاءَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ يُعَانِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، فَجَلَسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، وَأَخَذَ يُحَاوِلُ إِقْنَاعَهُ أَنْ يَقُولَ: «لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ» قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ، قَائِلًا: «قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ». لَكِنَّ جُلَسَاءَ السُّوءِ الَّذِينَ كَانُوا عِنْدَهُ، وَعَلَى رَأْسِهِمْ أَبُو جَهْلٍ، أَخَذُوا يُحَذِّرُونَهُ، وَيَقُولُونَ لَهُ: «أَتَتْرُكُ دِينَ آبَائِكَ وَأَجْدَادِكَ؟! أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟!». وَاسْتَمَرُّوا بِهِ حَتَّى مَاتَ عَلَى الشِّرْكِ، فَكَانَ حُزْنُ الرَّسُولِ ﷺ عَلَى عَمِّهِ مُضَاعَفًا حَيْثُ مَاتَ مُشْرِكًا، وَهَكَذَا هُمْ رُفَقَاءُ السُّوءِ لَا يَزَالُونَ بِالْمَرْءِ حَتَّى يُهْلِكُوهُ.
Tidak lama setelah Bani Hasyim keluar dari lembah tempat mereka mengalami pemboikotan, penyakit yang diderita Abu Thalib, paman Nabi ﷺ, semakin parah hingga ajalnya hampir tiba. Rasulullah ﷺ datang menemuinya ketika ia sedang menghadapi sakaratulmaut. Beliau duduk di dekat kepalanya dan berusaha membujuknya agar mengucapkan kalimat “Lā ilāha illallāh” sebelum meninggal dunia. Beliau bersabda, “Ucapkanlah Lā ilāha illallāh, niscaya aku akan memberikan kesaksian untukmu dengan kalimat itu pada hari Kiamat.” Akan tetapi, orang-orang yang menjadi teman buruknya dan berada di sekelilingnya, terutama Abu Jahal, terus memperingatkan dan menghalanginya. Mereka berkata, “Apakah engkau akan meninggalkan agama nenek moyangmu?! Apakah engkau akan berpaling dari agama Abdul Muththalib?!” Mereka terus memengaruhinya hingga akhirnya ia meninggal dunia dalam keadaan musyrik. Oleh karena itu, kesedihan Rasulullah ﷺ atas kematian pamannya menjadi berlipat ganda, karena Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan Allah. Demikianlah keadaan teman-teman yang buruk. Mereka terus memengaruhi seseorang hingga akhirnya menyeretnya kepada kebinasaan.
وَلَمَّا مَاتَ أَبُو طَالِبٍ ازْدَادَ أَذَى الْمُشْرِكِينَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَنَالُوا مِنْهُ أَكْثَرَ مِمَّا كَانُوا يَنَالُونَ مِنْهُ مِنْ قَبْلُ، وَلَمْ يَكُنْ فِي بَنِي هَاشِمٍ مَنْ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَقُومَ مَقَامَ أَبِي طَالِبٍ فِي حِمَايَةِ النَّبِيِّ ﷺ وَنُصْرَةِ دَعْوَتِهِ.
Setelah Abu Thalib meninggal dunia, gangguan kaum musyrikin terhadap Rasulullah ﷺ semakin meningkat. Mereka berani menyakiti beliau lebih keras daripada yang mereka lakukan sebelumnya. Pada saat itu, tidak ada seorang pun dari kalangan Bani Hasyim yang mampu menggantikan kedudukan Abu Thalib dalam melindungi Nabi ﷺ dan memberikan dukungan kepada dakwah beliau.
وَبَعْدَ زَمَنٍ يَسِيرٍ مِنْ وَفَاةِ أَبِي طَالِبٍ، تُوُفِّيَتْ خَدِيجَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَحَزِنَ عَلَيْهَا الرَّسُولُ ﷺ حُزْنًا شَدِيدًا، فَقَدْ كَانَتْ تِلْكَ الزَّوْجَةُ الصَّالِحَةُ تُوَاسِي رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بِنَفْسِهَا وَمَالِهَا.
Tidak lama setelah wafatnya Abu Thalib, Khadijah radhiyallahu ‘anha juga meninggal dunia. Rasulullah ﷺ merasakan kesedihan yang sangat mendalam atas kepergian beliau. Sebab, Khadijah merupakan seorang istri salehah yang senantiasa mendampingi, menghibur, dan memberikan dukungan kepada Rasulullah ﷺ, baik dengan pengorbanan dirinya maupun dengan hartanya.