Sirah Nabawiyah

Durus Minas Sirah – Ibnudz Dzabihain

Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah

ابْنُ الذَّبِيحَيْنِ

Putra Dua Orang yang Hendak Disembelih

لَمَّا أَرَادَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ جَدُّ النَّبِيِّ ﷺ حَفْرَ بِئْرِ زَمْزَمَ حِينَ جَاءَهُ الْأَمْرُ بِذَلِكَ فِي الرُّؤْيَا الَّتِي رَآهَا، نَازَعَتْهُ قُرَيْشٌ، وَاشْتَدَّ عَلَيْهِ أَذَاهُمْ، حَيْثُ أَرَادُوا أَنْ يُشَارِكُوهُ شَرَفَ حَفْرِهَا وَالْقِيَامِ بِهَا، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مِنَ الْأَبْنَاءِ مَنْ يُسَانِدُهُ، وَيَتَقَوَّى بِهِ عَلَى قُرَيْشٍ سِوَى ابْنِهِ الْحَارِثِ؛ فَنَذَرَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ لَئِنْ رَزَقَهُ اللَّهُ عَشَرَةً مِنَ الْبَنِينَ الذُّكُورِ لَيَذْبَحَنَّ وَاحِدًا مِنْهُمْ تَقَرُّبًا لِلْآلِهَةِ.

Ketika Abdul Muththalib, kakek Nabi ﷺ, hendak menggali sumur Zamzam setelah mendapat perintah untuk melakukannya melalui mimpi yang dilihatnya, kaum Quraisy menentangnya dan semakin keras mengganggunya. Mereka ingin turut memperoleh kehormatan dalam penggalian dan pengurusan sumur tersebut. Saat itu, di antara putra-putranya, hanya Al-Harits yang dapat membantu dan menguatkannya dalam menghadapi Quraisy. Karena itulah, Abdul Muththalib bernazar bahwa apabila Allah menganugerahinya sepuluh orang putra, ia akan menyembelih salah seorang di antara mereka sebagai persembahan untuk mendekatkan diri kepada sesembahan-sesembahan mereka.

وَتَمَّ لَهُ مَا أَرَادَ، فَرُزِقَ عَشَرَةَ ذُكُورٍ، كَانَ أَحَدُهُمْ عَبْدَ اللَّهِ وَالِدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمَّا أَرَادَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ الْإِيفَاءَ بِنَذْرِهِ، اسْتَخْدَمَ الْقُرْعَةَ بَيْنَ أَبْنَائِهِ، فَخَرَجَتْ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ، وَلَمَّا أَرَادَ ذَبْحَهُ قَامَ النَّاسُ فِي وَجْهِهِ لِيَمْنَعُوهُ حَتَّى لَا يَكُونَ ذَلِكَ فِي النَّاسِ سُنَّةً، ثُمَّ اتَّفَقُوا عَلَى الْقُرْعَةِ بَيْنَ عَبْدِ اللَّهِ وَعَشَرَةٍ مِنَ الْإِبِلِ تَكُونُ لَهُ فِدَاءً، فَلَمَّا عُمِلَتِ الْقُرْعَةُ، خَرَجَتْ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ، فَضَاعَفُوا عَدَدَ الْإِبِلِ، فَخَرَجَتْ عَلَيْهِ مَرَّةً أُخْرَى، فَأَخَذُوا يَزِيدُونَ فِي عَدَدِ الْإِبِلِ، وَكَانَتِ الْقُرْعَةُ تَخْرُجُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ دَائِمًا، حَتَّى بَلَغَ عَدَدُ الْإِبِلِ مِئَةً، فَخَرَجَتِ الْقُرْعَةُ عَلَى الْإِبِلِ، فَذَبَحَهَا عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَافْتَدَى ابْنَهُ عَبْدَ اللَّهِ بِهَا.

Keinginannya pun terwujud. Ia dikaruniai sepuluh orang putra, salah satunya adalah Abdullah, ayah Nabi ﷺ. Ketika Abdul Muththalib hendak menunaikan nazarnya, ia mengadakan undian di antara putra-putranya, dan undian itu jatuh kepada Abdullah. Namun, saat ia hendak menyembelih Abdullah, orang-orang menghadangnya dan berusaha mencegahnya agar perbuatan tersebut tidak menjadi kebiasaan yang diikuti oleh masyarakat. Kemudian, mereka sepakat mengadakan undian antara Abdullah dan sepuluh ekor unta sebagai tebusannya. Ketika undian dilakukan, hasilnya kembali jatuh kepada Abdullah. Mereka pun melipatgandakan jumlah unta, tetapi undian kembali jatuh kepadanya. Jumlah unta terus ditambah, sementara hasil undian senantiasa menunjuk Abdullah, hingga akhirnya mencapai seratus ekor. Kali ini undian jatuh kepada unta-unta tersebut. Abdul Muththalib lalu menyembelihnya sebagai tebusan untuk menyelamatkan putranya, Abdullah.

وَقَدْ حَصَلَ هَذَا النَّذْرُ قَبْلَ وِلَادَةِ النَّبِيِّ ﷺ بِخَمْسِ سِنِينَ تَقْرِيبًا.

Peristiwa nazar tersebut terjadi sekitar lima tahun sebelum kelahiran Nabi ﷺ.

Sumber: Durūs min as-Sīrah (دروس من السيرة), pembahasan Ibn adz-Dzabīḥain (ابن الذبيحين), halaman 9 kitab.

Sayyid Syadly, Lc

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button