Disfungsi Ulama

Disfungsi Ulama
Kata disfungsi menurut KBBI adalah tidak berfungsi secara normal atau terganggu fungsinya. Kata disfungsi umumnya dipakai dalam ilmu kesehatan untuk menggambarkan terganggunya fungsi suatu organ. Penyakit gagal jantung misalnya, adalah bentuk disfungsi jantung yang mengakibatkan terganggunya seluruh fungsi tubuh. Bahkan penyakit gagal jantung bisa menyebabkan kematian yang artinya semua organ tubuh dalam manusia tidak berfungsi lagi.
Disfungsi organ tubuh ada yang berdampak vital pada tubuh, ada yang bertambah tidak vital. Salah satu disfungsi yang dapat berakibat adalah penyakit gagal jantung yang merupakan disfungsi jantung. Contoh disfungsi yang tidak memiliki dampak vital adalah disfungsi dengan derajat ringan, contohnya asma ringan yang merupakan disfungsi fungsi paru-paru.
Dalam ranah sosial, hukum dan ekonomi istilah disfungsi juga bisa diterapkan. Ketika kegiatan ronda malam yang fungsinya untuk menjaga keamanan masyarakat dengan swasembada masyarakat malah beralih fungsi menjadi ajang judi antar warga di pos ronda, maka keamanan suatu kampung atau masyarakat tentu akan terganggu. Sebagaimana seorang hakim yang fungsinya adalah menegakkan keadilan, akan menjadi hancur ketika tidak lagi menjadi mesin mencari keadilan dan beralih menjadi perpanjangan penguasa untuk menancapkan kekuasaan.
Setiap peran dalam kehidupan sosial memiliki fungsinya masing-masing. Disfungsi salah satu peran akan mengakibatnya tidak seimbangnya perjalanan kehidupan sosial. Salah satu peran yang vital dalam kehidupan sosial Masyarakat adalah Ulama. Fungsi pentingnya adalah memperbaiki moral masyarakat. Memberikan pengajaran kepada masyarakat bahwa suatu perbuatan itu baik atau buruk.
Dalam surat An Nahl ayat 43 Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada Ahli Dzikir jika kamu tidak tahu”
Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ahli dzikir adalah ulama. Sehingga fungsi ulama adalah tempat bertanya bagi orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan. Syarat yang harus dimiliki ketika seseorang menjadi tempat bertanya adalah harus memiliki ilmu atau pengetahuan yang memadai.
Dalam bahasa arab Ulama (العلماء) adalah bentuk jamak dari ‘Aalim (العالم) yang artinya orang yang memiliki ilmu atau pengetahuan. Dari sini bisa dipahami bahwa status ulama bisa didapat oleh seseorang ketika dia memiliki ilmu. Apakah dia akan ditanya oleh masyarakat atau tidak, status ulamanya akan tetap melekat dalam dirinya.
Imam At Tirmidzi dalam kitab Al Jaami’ Al Kaabir menuliskan hadist Nabi Muhammad yang sangat Panjang yang membahas mengenai keutamaan menuntut ilmu dan keutamaan orang yang berilmu.
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ
“’Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat menurunkan sayapnya sebagai tanda ridha kepada pencari ilmu. Dan sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampunan oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, bahkan ikan-ikan di dalam air.”
Yang menarik dari hadist ini adalah seorang alim bahkan dimintakan ampunan oleh ikan-ikan yang berada di air. Kalau yang memintakan ampunan adalah manusia mungkin itu hal yang biasa. Ibnu Jama’ah Al Kinani dalam kitabnya Tadzkirah as-Saami’ memiliki jawaban kenapa seorang alim bahkan dimintakan ampunan oleh binatang.
وأما إلهام الحيوانات بالاستغفار لهم فقيل: لأنها خلقت لمصالح العباد ومنافعهم والعلماء هم الذين يبينون ما يحل منه وما يحرم ويوصون بالإحسان إليها ونفي الضرر عنها.
“Adapun tentang hewan-hewan yang memohon ampunan bagi mereka (ulama), dikatakan: karena hewan-hewan itu diciptakan untuk kemaslahatan umat manusia dan manfaatnya bagi mereka, sedangkan para ulama adalah orang-orang yang menjelaskan apa yang halal darinya dan apa yang haram, serta menasihati untuk berbuat ihsan kepadanya dan menolak mudarat darinya.”
Penjelasan Ibnu Jama’ah sudah memberi gambaran apa fungsi ulama, setidaknya ada tiga yang dapat disimpulkan mengenai fungsi ulama :
- Menjelaskan halal haram.
- Mengusahakan terjadinya kemaslahatan atau kebaikan.
- Mengusahakan hilangnya keburukan.
Bal’am bin Ba’ura adalah ulama Bani Israil di zaman Nabi Musa. Kisah Bal’am adalah kisah bagaimana seorang ulama tidak menjalankan fungsinya. Dengan iming-iming dari seorang raja, Bal’am tergoda untuk menyesatkan Bani Israil. Menyesatkan adalah tugas dan fungsi setan, lalu kenapa fungsi ini dijalankan oleh ulama? Inilah yang dinamakan disfungsi Ulama.
Ulama yang mengalami disfungsi sebenarnya sudah dikenal sejak zaman dahulu. Tapi istilah yang dipakai adalah ulama su’ (علماء السوء). Apa itu ulama su’ ? Definisi yang bagus untuk menggambarkan ulama su’ disebutkan oleh Abu Laits al-Samarqandi dalam kitab Tafsirnya, Bahru al-Ulum,
علماء السوء الذين لا يأمرون بالمعروف، ويجالسونهم، ويؤاكلونهم
“Ulama su’ adalah mereka yang tidak memerintahkan kepada yang ma’ruf, duduk bermajelis bersama mereka (para pelaku maksiat), dan makan bersama mereka.”
Dari definisi ini bisa tergambar bahwa disfungsi ulama yaitu tidak menyampaikan kebaikan dan tidak melarang keburukan. Karena duduk bermajelis bersama para pelaku maksiat artinya adalah tidak melarang keburukan yang berada dalam diri mereka sedangkan keburukan berada dihadapannya.
Disfungsi ulama bisa juga dipahami melalui perkataan Imam al-Ghozali ketika mendefinisikan ulama su’ di dalam kitab Beliau yang terkenal yang berjudul Ihya ‘Ulumuddin.
علماء السوء الذين قصدهم من العلم التنعم بالدنيا والتوصل إلى الجاه والمنزلة عند أهلها
“Ulama su’adalah meraka yang tujuan dari ilmunya adalah untuk menikmati kenikmatan duniawi dan mencapai kedudukan serta kehormatan di kalangan ulama.”
Disfungsi yang tergambar dari perkataan Imam al-Ghozali adalah Ulama yang tujuan ilmunya untuk mendapat ridho Allah sudah berubah menjadi kenikmatan dunia. Dan ini adalah sumber dari semua masalah kenapa ulama bisa mengalami disfungsi. Jadi kunci dari fenomena disfungsi ulama adalah cinta dunia.
Wallahu a’lam



