Fatawa Umum

Bagaimana Status Shalat Di Masjid Syiah?

Assalamualaikum ustaz, kaifahalukum,

Afwan ustaz Ana ada pertanyaan dari ikwhah ini, katanya beliau pernah shalat jumat di negara tunisia, dan ternyata di akhir shalatnya baru dia sadari kalau masjid dan orang2 disitu orang2 syiah, karena ada batu ditempat sujudnya, kemudian ada gerakan2 tambahan nya saat duduk tasyahud, ada 2 kali lagi takbir,

Bagaiamana status shalat nya itu ustaz, apakah sah atau tidak, dan kalau tidak sah apa yang perlu dikerjakan, apakah perlu diqodo dan bagaimana cara qodonya?🙏🏻

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘d:

 *Pertama:*

Salat Jumat, para ulama sepakat bahwa hukumnya wajib atas setiap laki-laki yang berada di dalam suatu kota, baik mendengar azan atau tidak, dan sejauh apa pun tempatnya dari masjid.

 *Kedua:*

Selama imam tampak sebagai seorang muslim secara lahiriah, maka tidak boleh meninggalkan salat Jumat dan berjamaah di belakangnya, hanya karena kemungkinan ia Syiah atau Sufi.

Kecuali jika memungkinkan untuk menegakkan salat Jumat dan jamaah tanpa menimbulkan fitnah, di belakang imam lain yang dikenal lurus akidah dan manhajnya, maka salat di belakang orang tersebut lebih utama dan lebih baik.

Asal hukum dalam Islam adalah berbaik sangka terhadap sesama muslim, dan tidak menuduh agama atau manhajnya tanpa bukti yang nyata.

Pendapat yang kuat (rajih) menyatakan bahwa salat di belakang setiap orang yang dihukumi muslim adalah sah, selama ia tidak melakukan perbuatan kufur, seperti: meyakini bahwa Al-Qur’an telah diubah, mengkafirkan para sahabat Nabi ﷺ, berdoa kepada orang mati dan memohon pertolongan kepada mereka.

Orang yang demikian tidak boleh dijadikan imam.

Fatwa Ulama:

1. Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya tentang salat di belakang orang yang bid‘ahnya tidak diketahui. Beliau menjawab:

فأجاب : ” يجوز للرجل أن يصلى الصلوات الخمس والجمعة وغير ذلك خلف من لم يعلم منه بدعة ولا فسقا باتفاق الأئمة الأربعة وغيرهم من أئمة المسلمين ، وليس من شرط الائتمام أن يعلم المأموم اعتقاد إمامه ، ولا أن يمتحنه فيقول : ماذا تعتقد ؟ بل يصلى خلف مستور الحال ، ولو صلى خلف من يعلم أنه فاسق أو مبتدع ففي صحة صلاته قولان مشهوران في مذهب أحمد ومالك ، ومذهبُ الشافعي وأبى حنيفة الصحة .

… ولو علم المأموم أن الإمام مبتدع يدعو إلى بدعته ، أو فاسق ظاهر الفسق ، وهو الإمام الراتب الذي لا تمكن الصلاة إلا خلفه كإمام الجمعة والعيدين ، والإمام في صلاة الحج بعرفة ونحو ذلك ، فان المأموم يصلي خلفه عند عامة السلف والخلف ، وهو مذهب أحمد والشافعي وأبى حنيفة وغيرهم

ولهذا قالوا في العقائد : إنه يصلى الجمعة والعيد خلف كل إمام برا كان أو فاجرا ، وكذلك إذا لم يكن في القرية إلا إمام واحد فإنها تصلى خلفه الجماعات ، فإن الصلاة في جماعة خير من صلاة الرجل وحده وإن كان الإمام فاسقا ، هذا مذهب جماهير العلماء ، أحمد بن حنبل والشافعى وغيرهما ، بل الجماعة واجبة على الأعيان في ظاهر مذهب أحمد . ومن ترك الجمعة والجماعة خلف الإمام الفاجر فهو مبتدع عند الإمام أحمد وغيره من أئمة السنة …

والصحيح أنه يصليها ولا يعيدها ، فإن الصحابة كانوا يصلون الجمعة والجماعة خلف الأئمة الفجار ، ولا يعيدون ، كما كان ابن عمر يصلى خلف الحجاج ، وابن مسعود وغيره يصلون خلف الوليد بن عقبة ، وكان يشرب الخمر … والفاسق والمبتدع صلاته في نفسه صحيحة فإذا صلى المأموم خلفه لم تبطل صلاته ، لكن إنما كَرِهَ مَنْ كَرِهَ الصلاة خلفه لأن الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر واجب ، ومن ذلك أن من أظهر بدعة أو فجورا لا يُرتّب إماما للمسلمين ، فإنه يستحق التعزير حتى يتوب ، فإذا أمكن هجره حتى يتوب كان حسنا ، وإذا كان بعض الناس إذا ترك الصلاة خلفه ، وصلى خلف غيره أثّر ذلك حتى يتوب أو يعزل أو ينتهي الناس عن مثل ذنبه ، فمثل هذا إذا ترك الصلاة خلفه كان فيه مصلحة ، ولم يفت المأموم جمعة ولا جماعة ، وأما إذا كان ترك الصلاة يفوّت المأموم الجمعة والجماعة فهنا لا يَترك الصلاة خلفهم إلا مبتدع مخالف للصحابة رضي الله عنهم ” انتهى من “مجموع الفتاوى” (23/351- 356) .

Beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله) menjawab:

“Seorang laki-laki boleh melaksanakan shalat lima waktu, shalat Jumat, dan shalat lainnya di belakang imam yang tidak diketahui memiliki bid‘ah atau kefasikan, berdasarkan kesepakatan empat imam mazhab dan para imam kaum Muslimin lainnya.

Tidak disyaratkan bagi makmum untuk mengetahui akidah imamnya, dan tidak perlu pula mengujinya dengan pertanyaan seperti: ‘Apa keyakinanmu?’, tetapi boleh shalat di belakang orang yang keadaannya tidak diketahui (mastūr al-hāl).

Adapun bila seseorang shalat di belakang imam yang diketahui sebagai fasik atau ahli bid‘ah, maka terdapat dua pendapat terkenal dalam mazhab Ahmad dan Malik tentang sah tidaknya shalat tersebut. Sedangkan mazhab Asy-Syafi‘i dan Abu Hanifah berpendapat shalatnya tetap sah.

Dan jika makmum mengetahui bahwa imam tersebut seorang ahli bid‘ah yang mengajak manusia kepada bid‘ahnya, atau seorang fasik yang menampakkan kefasikannya, sementara dia adalah imam tetap (resmi) yang tidak memungkinkan shalat kecuali di belakangnya, seperti imam Jumat, imam shalat ‘Ied, atau imam shalat di Arafah saat haji, maka makmum tetap shalat di belakangnya menurut mayoritas ulama salaf dan khalaf, dan ini adalah pendapat Imam Ahmad, Asy-Syafi‘i, Abu Hanifah, dan selain mereka.

Karena itu mereka berkata dalam kitab-kitab akidah:
“Shalat Jumat dan ‘Ied dilaksanakan di belakang setiap imam —baik yang saleh maupun yang fajir (berdosa besar).”
Demikian pula jika di suatu desa hanya ada satu imam, maka shalat berjamaah tetap dilakukan di belakangnya, sebab shalat berjamaah lebih baik daripada shalat sendirian, meskipun imamnya fasik.
Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, seperti Ahmad bin Hanbal, Asy-Syafi‘i, dan lainnya. Bahkan, menurut mazhab Ahmad, shalat berjamaah hukumnya wajib ‘ain.

Barang siapa meninggalkan shalat Jumat dan berjamaah hanya karena imamnya fajir, maka dia adalah ahli bid‘ah, menurut Imam Ahmad dan ulama Ahlus Sunnah lainnya.

Pendapat yang benar adalah bahwa shalat di belakang imam fajir atau ahli bid‘ah tetap sah dan tidak perlu diulang.
Para sahabat dahulu melaksanakan shalat Jumat dan berjamaah di belakang para imam yang fajir, dan mereka tidak mengulang shalatnya.

Contohnya:

Ibnu ‘Umar pernah shalat di belakang Al-Hajjāj,

Ibnu Mas‘ūd dan selainnya pernah shalat di belakang Al-Walīd bin ‘Uqbah, padahal ia dikenal meminum khamr (arak).

Karena itu, shalat orang fasik atau ahli bid‘ah pada dirinya sendiri tetap sah, maka bila makmum shalat di belakangnya, shalat makmum pun tidak batal.

Namun, sebagian ulama membenci shalat di belakang mereka, bukan karena batalnya shalat, melainkan karena amar ma‘ruf nahi munkar adalah kewajiban.
Di antara bentuknya adalah tidak menjadikan orang yang menampakkan bid‘ah atau kefasikan sebagai imam kaum Muslimin.
Ia berhak diberi hukuman (ta‘zīr) hingga bertaubat.

Maka bila memungkinkan untuk meninggalkan shalat di belakangnya agar ia sadar dan bertaubat, hal itu bagus.
Apabila meninggalkan shalat di belakangnya dan berpindah ke imam lain dapat memberikan pengaruh positif —seperti ia bertaubat, dicopot dari jabatan imam, atau orang lain berhenti meniru perbuatannya— maka meninggalkan shalat di belakangnya merupakan maslahat.

Akan tetapi, jika meninggalkan shalat di belakangnya menyebabkan hilangnya kesempatan shalat Jumat atau berjamaah, maka tidak boleh meninggalkan shalat di belakang mereka, karena yang demikian itu adalah perbuatan bid‘ah yang menyelisihi jalan para sahabat رضي الله عنهم.

(Selesai dari Majmū‘ al-Fatāwā 23/351–356).

2. Fatwa Lajnah Dā’imah:

إذا كان المسلم ظاهرا ، مجهول الحال بالنسبة لعقيدته ، ولم يعلم عنه انحراف في عقيدته صحت الصلاة وراءه وأكلت ذبيحته ” انتهى .

> “Jika seseorang tampak sebagai muslim secara lahiriah, dan tidak diketahui penyimpangan dalam akidahnya, maka salat di belakangnya sah, dan sembelihannya halal dimakan.”
(Fatawa al-Lajnah ad-Dā’imah, 7/365)

Dan disebutkan pula (7/353):

وأما الصلاة خلف المبتدعة : فإن كانت بدعتهم شركية كدعائهم غير الله ونذرهم لغير الله واعتقادهم في مشايخهم ما لا يكون إلا لله من كمال العلم ، أو العلم بالمغيبات ، أو التأثير في الكونيات ، فلا تصح الصلاة خلفهم .

وإن كانت بدعتهم غير شركية ؛ كالذكر بما أثر عن النبي صلى الله عليه وسلم ولكن مع الاجتماع والترنحات ، فالصلاة وراءهم صحيحة ، إلا أنه ينبغي للمسلم أن يتحرى لصلاته إماما غير مبتدع ؛ ليكون ذلك أعظم لأجره وأبعد عن المنكر ” انتهى

.> “Adapun shalat di belakang para pelaku bid‘ah (ahli bid‘ah):

👉 Jika bid‘ah mereka bersifat syirik, seperti berdoa kepada selain Allah, bernazar kepada selain Allah, atau meyakini bahwa para syaikh mereka memiliki sifat-sifat yang hanya pantas bagi Allah —seperti kesempurnaan ilmu, pengetahuan terhadap perkara gaib, atau kemampuan mempengaruhi urusan-urusan alam (takdir dan kejadian di semesta)—
maka tidak sah shalat di belakang mereka.

👉 Namun, jika bid‘ah mereka tidak sampai pada tingkat syirik, seperti berzikir dengan lafaz-lafaz yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ, tetapi dilakukan secara berjamaah dengan gerakan-gerakan tertentu (seperti bergoyang atau menari),
maka shalat di belakang mereka tetap sah.

Akan tetapi, sebaiknya seorang Muslim memilih imam yang tidak melakukan bid‘ah, agar pahalanya lebih besar dan lebih jauh dari perbuatan munkar.
(Selesai)

3. Syaikh Ibn Baz rahimahullah ditanya:
Tentang orang yang tinggal di negeri yang penduduknya ahli bid‘ah — apakah boleh salat Jumat dan jamaah bersama mereka, atau cukup salat sendiri, atau gugur kewajiban Jumat darinya?

Beliau menjawab:

إنّ إقامة صلاة الجمعة واجبة خلف كل إمام بر أو فاجر ، فإذا كان الإمام في الجمعة لا تخرجه بدعته عن الإسلام فإنه يصلى خلفه

> “Sesungguhnya pelaksanaan shalat Jumat wajib dilakukan di belakang setiap imam, baik yang saleh maupun yang fajir (pelaku maksiat). Maka, apabila imam dalam shalat Jumat itu tidak menyebabkan dirinya keluar dari Islam karena bid‘ah yang ia lakukan, maka boleh shalat di belakangnya.

Imam Abu Ja‘far ath-Thahawi رحمه الله berkata dalam kitab ‘Aqidah-nya yang terkenal:

ونرى الصلاة خلف كل بر وفاجر من أهل القبلة وعلى من مات منهم ” انتهى … “

> “Kami berpendapat bahwa shalat boleh dilakukan di belakang setiap orang yang baik maupun yang fajir dari kalangan Ahlul Qiblah (kaum Muslimin), dan juga shalat atas jenazah siapa pun di antara mereka yang meninggal dunia.”
(Selesai ucapannya).

Kemudian (Syaikh Ibn Bāz) menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang telah disebutkan sebelumnya, lalu beliau berkata:

وأما السؤال الثاني : فجوابه أن يقال : هذه المسألة فيها خلاف مشهور بين أهل العلم ، والصواب في ذلك : جواز إقامة الجمعة بثلاثة فأكثر إذا كانوا مستوطنين في قرية لا تقام فيها الجمعة ، أما اشتراط أربعين أو اثني عشر أو أقل أو أكثر لإقامة الجمعة فليس عليه دليل يعتمد عليه فيما نعلم ، وإنما الواجب أن تقام في جماعة وأقلها ثلاثة وهو قول جماعة من أهل العلم ، واختاره شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله ، وهو الصواب كما تقدم ” انتهى

> “Adapun pertanyaan kedua, maka jawabannya adalah:
Masalah ini memang diperselisihkan secara masyhur di kalangan para ulama.
Pendapat yang benar dalam hal ini adalah: bolehnya menegakkan shalat Jumat dengan tiga orang atau lebih, apabila mereka bermukim di suatu desa yang tidak ditegakkan shalat Jumat di dalamnya.
Adapun syarat harus empat puluh orang, atau dua belas orang, atau lebih sedikit atau lebih banyak dari itu untuk menegakkan Jumat — tidak ada dalil yang kuat yang bisa dijadikan sandaran dalam hal ini sejauh yang kami ketahui.

Yang wajib hanyalah agar shalat Jumat ditegakkan secara berjamaah, dan batas minimalnya adalah tiga orang, sebagaimana pendapat sekelompok ulama, dan inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله, serta itulah pendapat yang benar sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.”

(Selesai dari Majmū‘ Fatāwā Syaikh Ibn Bāz, jilid 4 halaman 303).

Maka seorang muslim harus mengetahui akidah kaum Syiah, agar ia dapat memahami hukum salat di belakang mereka.

Adapun hukum salat di belakang orang yang demikian keadaannya, maka Syaikh Ibn Baz rahimahullah berkata:

لا تجوز الصلاة خلف جميع المشركين ، ومنهم من يستغيث بغير الله ويطلب منه المدد ، لأن الاستغاثة بغير الله من الأموات والأصنام والجن وغير ذلك من الشرك بالله سبحانه ..

> “Tidak boleh salat di belakang semua orang musyrik, termasuk mereka yang meminta pertolongan kepada selain Allah dan memohon bantuan (madad) kepadanya, karena meminta pertolongan kepada selain Allah —baik kepada orang mati, berhala, jin, dan selainnya— merupakan perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.”

(Fatawa Syaikh Ibn Baz, jilid 2, hal. 396)

Beliau juga berkata:

كل إمام عُلم أنه يغلو في آل البيت فإنه لا يُصلى خلفه ، ومن لم يُعرف بذلك أو غيرهم من المسلمين فإنه يصلى خلفه .

> “Setiap imam yang diketahui berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Ahlul Bait, maka tidak boleh salat di belakangnya.

Adapun jika ia tidak dikenal demikian, atau termasuk dari kalangan kaum muslimin pada umumnya, maka boleh salat di belakangnya.”

(Fatawa Syaikh Ibn Baz, jilid 12, hal. 107)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ditanya tentang shalat dibelakang Syiah ekstrem, beliau menjawab:

Salatnya tidak sah jika imam masjid termasuk dari golongan mereka; maka ia harus mengulang salatnya.

Salat di belakang orang kafir tidak sah, sedangkan di belakang orang fasik masih sah.

Adapun mereka (yakni kelompok yang dimaksud), mereka menyeru Ahlul Bait, meminta pertolongan kepada ‘Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, serta mengatakan bahwa mereka mengetahui perkara gaib. Mereka juga mencela para sahabat.

Maka mereka termasuk para pemimpin kekufuran (a’immatul kufr).

 *Tata cara (i’adah) mengulangi dengan salat Jumat*

Adapun orang yang shalat jumatnya telah dihukumi tidak sah maka dihukumi sama dengan orang yang tidak menghadiri shalat Jumat bersama kaum Muslimin karena uzur syar‘i, seperti sakit atau sebab lainnya, maka ia shalat Zuhur. Demikian pula wanita—ia shalat Zuhur. Begitu pula musafir dan penduduk pedesaan (badui), mereka menunaikan shalat Zuhur, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sunnah.

Kapan dilakukan (i’adah) mengulangi dengan salat dhuhur? Segera saat dia mengetahui hukum batalnya shalat jumat itu, meskipun pada waktu-waktu yang dilarang.

Sebagaimana apabila seorang Muslim memiliki uzur seperti tertidur atau lupa sehingga tidak dapat melaksanakan salat pada waktunya, maka wajib baginya — setelah uzurnya hilang — untuk mengqadha salat tersebut, meskipun hal itu dilakukan pada waktu yang terlarang (untuk salat).

Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.

Lihat: Al-Mughnī (2/515).

Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ:

> «مَنْ نَامَ عَنْ صَلَاةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا»

“Barang siapa tertidur dari salat atau lupa melaksanakannya, maka hendaklah ia menunaikannya ketika ia telah mengingatnya.”

— (HR. al-Bukhārī, no. 597; Muslim, no. 684).

 *Kesimpulan:*

Jika imam tidak diketahui keyakinannya, tetapi lahiriahnya muslim, maka salat di belakangnya sah.

Jika diketahui bahwa imam tersebut melakukan kesyirikan atau mengkafirkan sahabat seperti Syiah, maka tidak boleh salat di belakangnya.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua.

Wallāhu a‘lam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button