Bagaimana hukum memakai sikat dan pasta gigi jika mengandung unsur babi?

Pertanyaan
Banyak berita beredar di sosmed ustd, bhwa sikat gigi yg kita pakai itu bulu nya dibuat dari campuran bulu babi, jika seandainya itu benar, maka apa hukum nya ustadz…, ada juga yg mngataka Pepsodent dsb itu pakai campuran enzim babi
Jawaban
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Amma ba‘du:
Pertama:
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan krim, sampo, pasta gigi, dan sabun, secara umum terbagi menjadi dua:
1. Lemak dan minyak hewani,
2. Atau bahan lain seperti bahan nabati dan bahan kimia sintetis.
Apabila bahan tersebut berasal dari lemak atau minyak hewan, maka terbagi menjadi dua macam:
a. Jika berasal dari hewan yang halal dimakan dagingnya, dan telah disembelih sesuai syariat, atau dari hewan laut yang tidak memerlukan penyembelihan syar‘i, maka hukumnya halal tanpa ada keraguan.
b. Namun jika berasal dari hewan yang haram dimakan, seperti babi, atau berasal dari hewan yang halal tetapi tidak disembelih sesuai syariat (sehingga berstatus bangkai), maka semuanya haram tanpa ragu sedikit pun.
Fatwa Ulama:
Para ulama Al-Lajnah Ad-Dā’imah berkata:
إذا تأكد المسلم أو غلب على ظنه أن لحم الخنزير أو شحمه أو مسحوق عظمه دخل منه شيء في طعام أو دواء أو معجون أسنان أو نحو ذلك : فلا يجوز له أكله ، ولا شربه ، ولا الادهان به ، وما يشك فيه : فإنه يدعه ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : ( دع ما يريبك إلى ما لا يريبك ) .
“Apabila seorang Muslim yakin atau kuat dugaan bahwa dalam makanan, obat, pasta gigi, atau semisalnya terdapat daging, lemak, atau serbuk tulang babi, maka tidak boleh baginya memakannya, meminumnya, ataupun mengoleskannya.
Adapun jika ia ragu, maka hendaklah meninggalkannya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
(دَعْ مَا يُرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يُرِيبُكَ)
‘Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.’” (HR. at-Tirmidzi, dinilai hasan sahih)
Ditegaskan oleh: Syaikh ‘Abd al-‘Azīz bin Bāz, Syaikh ‘Abd ar-Razzāq ‘Afīfī, Syaikh ‘Abdullāh bin Ghudayyān, dan Syaikh ‘Abdullāh bin Qu‘ūd. (Fatāwā al-Lajnah ad-Dā’imah, 22/281)
Keputusan Organisasi Islam untuk Ilmu Kedokteran (Kuwait, 1415 H / 1995 M):
المواد الغذائية التي يدخل شحم الخنزير في تركيبها دون استحالة عينه ، مثل بعض الأجبان ، وبعض أنواع الزيت ، والدهن ، والسمن ، والزبد ، وبعض أنواع البسكويت ، والشكولاته ، والآيس كريم : هي محرمة ، ولا يحل أكلها مطلقاً ؛ اعتباراً لإجماع أهل العلم على نجاسة شحم الخنزير ، وعدم حل أكله ؛ ولانتفاء الاضطرار إلى تناول هذه المواد .
انتهى
“Makanan yang mengandung lemak babi tanpa terjadi perubahan zat (‘adam al-istihālah), seperti sebagian keju, minyak, mentega, biskuit, cokelat, dan es krim — maka haram dikonsumsi sama sekali.
Hal ini berdasarkan ijma‘ ulama tentang najisnya lemak babi dan haramnya memakannya, serta tidak adanya kondisi darurat yang membolehkan konsumsi bahan-bahan tersebut.” (Selesai kutipan)
Kedua:
Apabila lemak atau minyak tersebut berubah menjadi zat lain yang berbeda sifat dan namanya — maka hukumnya menjadi suci dan halal, karena telah terjadi istihālah (perubahan hakikat zat).
Artinya, jika lemak najis berubah menjadi zat lain yang bukan lemak, maka tidak lagi dihukumi najis atau haram, sebagaimana penjelasan para ulama.
Ibnul Qayyim berkata:
وعلى هذا الأصل : فطهارة الخمر بالاستحالة على وفق القياس ؛ فإنها نجسة ؛ لوصف الخبث ، فإذا زال الموجِب : زال الموجَب ، وهذا أصل الشريعة في مصادرها ، ومواردها ، بل وأصل الثواب ، والعقاب .
وعلى هذا : فالقياس الصحيح : تعدية ذلك إلى سائر النجاسات إذا استحالت ، وقد ” نبش النبي صلى الله عليه وسلم قبورَ المشركين من موضع مسجده ” ولم ينقل التراب ، وقد أخبر الله سبحانه عن اللَّبَن أنه ( يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ ) ، وقد أجمع المسلمون على أن الدابة إذا علفت بالنجاسة ، ثم حبست ، وعلفت بالطاهرات : حلَّ لبنُها ، ولحمها ، وكذلك الزرع والثمار إذا سُقيَت بالماء النجس ، ثم سقيت بالطاهر : حلَّت ؛ لاستحالة وصف الخبث ، وتبدله بالطيب ، وعكس هذا أن الطيب إذا استحال خبيثاً : صار نجساً ، كالماء ، والطعام إذا استحال بوْلاً ، وعذرة ، فكيف أثَّرت الاستحالة في انقلاب الطيب خبيثاً ولم تؤثر في انقلاب الخبيث طيبا ، والله تعالى يخرج الطيب من الخبيث والخبيث من الطيب ؟! .
ولا عبرة بالأصل ، بل بوصف الشيء نفسه ، ومن الممتنع بقاء حكم الخبث وقد زال اسمه ووصفه ، والحكم تابع للاسم والوصف ، دائرٌ معه وجوداً وعدماً ، فالنصوص المتناولة لتحريم الميتة والدم ولحم الخنزير والخمر لا تتناول الزرع والثمار والرماد والملح والتراب والخل ، لا لفظاً ، ولا معنىً ، ولا نصّاً ، ولا قياساً ،
والمفرِّقون بين استحالة الخمر وغيرها قالوا : الخمر نجست بالاستحالة فطهرت بالاستحالة ، فيقال لهم : وهكذا الدم والبول والعذرة إنما نجست بالاستحالة ، فتطهر بالاستحالة ، فظهر أن القياس مع النصوص ، وأن مخالفة القياس في الأقوال التي تخالف النصوص .
Berdasarkan prinsip ini, kesucian khamr melalui istiḥālah (perubahan hakiki) dapat dijelaskan melalui analogi (qiyās). Khamr asalnya najis karena sifat keburukannya (khabath). Ketika penyebab najis itu hilang, maka hilang pula hukum najisnya. Ini adalah prinsip dasar syariat dalam sumber hukum, aplikasinya, bahkan dasar pahala dan siksa.
Berdasarkan analogi ini, prinsip yang benar adalah bahwa perubahan hakiki (istiḥālah) berlaku juga untuk semua najis: ketika sesuatu yang najis berubah menjadi sesuatu yang suci (ṭayyib), maka ia menjadi halal; sebaliknya, sesuatu yang suci menjadi najis jika berubah menjadi buruk.
Contoh yang disebutkan:
Nabi ﷺ pernah menggali kubur kaum musyrik di sekitar masjid, tidak memindahkan tanahnya, menunjukkan bahwa tanah itu tidak najis.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang susu: “ia keluar dari antara kotoran dan darah” (QS. An-Nahl: 66), namun susu itu tetap halal karena perubahan sifat kotoran menjadi sesuatu yang suci.
Hewan yang diberi makan najis kemudian diberi makan yang halal, susunya dan dagingnya halal.
Tanaman dan buah-buahan yang disiram dengan air najis kemudian disiram dengan air suci menjadi halal, karena sifat kotorannya hilang.
Sebaliknya, sesuatu yang suci berubah menjadi najis, misal air atau makanan yang berubah menjadi urine atau lendir, maka menjadi najis.
Kesimpulannya: hukum bergantung pada sifat benda itu sendiri, bukan asalnya. Tidak mungkin hukum keburukan tetap berlaku jika nama dan sifatnya sudah hilang.
Oleh karena itu, nash syariat yang melarang bangkai, darah, daging babi, khamr tidak berlaku pada tanaman, buah, abu, garam, tanah, atau cuka, baik secara lafaz, makna, nash, maupun qiyās.
Orang yang membedakan antara istiḥālah khamr dan hal lainnya berkata: “Khamr menjadi najis karena sifatnya, namun jika berubah menjadi sesuatu yang lain, ia suci.” Maka dijawab: hal yang sama berlaku untuk darah, urine, dan air mani; mereka menjadi halal jika sifat najisnya hilang.
Kesimpulan: qiyās harus selaras dengan nash, dan menyalahi qiyās dalam kasus yang bertentangan dengan nash adalah keliru. (I‘lām al-Muwaqqi‘īn, 2/14–15)
Keputusan Organisasi Islam untuk Ilmu Kedokteran (lanjutan):
8. الاستحالة التي تعني انقلاب العين إلى عين أخرى تغايرها في صفاتها ، تحوِّل المواد النجسة أو المتنجسة إلى مواد طاهرة ، وتحوِّل المواد المحرمة إلى مواد مباحة شرعاً .
وبناءً على ذلك :
-الصابون الذي يُنتج من استحالة شحم الخنزير أو الميتة يصير طاهراً بتلك الاستحالة ويجوز استعماله .
– الجبن المنعقد بفعل إنفحة ميتة الحيوان المأكول اللحم طاهر ويجوز تناوله .
– المراهم والكريمات ومواد التجميل التي يدخل في تركيبها شحم الخنزير لا يجوز استعمالها إلا إذا تحققت فيها استحالة الشحم وانقلاب عينه . أما إذا لم يتحقق ذلك فهي نجسة .
انتهى
“Apabila terjadi istihālah hakikiyyah, yakni perubahan total zat menjadi zat lain yang berbeda sifatnya, maka bahan najis atau haram menjadi suci dan boleh digunakan.
Berdasarkan hal ini:
Sabun yang terbuat dari lemak babi atau bangkai dan telah mengalami istihālah, menjadi suci dan boleh digunakan.
Keju yang dibuat dengan enzim dari bangkai hewan halal, boleh dimakan.
Krim atau kosmetik yang mengandung lemak babi tidak boleh digunakan kecuali telah terbukti mengalami istihālah. Jika tidak, maka tetap najis.” http://islamport.com/w/fqh/Web/1272/4494.htm
Ketiga:
Jika tidak diketahui apakah hewan halal tersebut disembelih sesuai syariat atau tidak, maka hukum asalnya adalah haram digunakan, karena hukum asal sembelihan adalah haram sampai terbukti kehalalannya.
Nabi ﷺ melarang makan hewan buruan yang tenggelam, karena tidak diketahui apakah mati karena diburu atau karena tenggelam, juga melarang hasil buruan anjing bila bercampur dengan anjing lain, karena tidak jelas anjing mana yang membunuh.
Hadis dari ‘Adiy bin Hātim رضي الله عنه:
( إِذَا أرْسَلْتَ كَلْبَكَ وَسَمَّيْتَ ؛ فَأمْسَكَ وَقَتَلَ : فَكُلْ ، وَإِنْ أكَلَ : فَلاَ تَأكُلْ ، فَإِنَّمَا أمْسَكَ عَلَى نَفْسِهِ ، وَإِذَا خَالَطَ كِلاَباً لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللهِ عَلَيْهَا ، فَأمْسَكْنَ ، وَقَتَلْنَ : فَلاَ تَأكُلْ ؛ فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي أيُّهَا قَتَلَ ، وَإِنْ رَمَيْتَ الصَّيْدَ فَوَجَدْتَهُ بَعْدَ يَوْمٍ أوْ يَوْمَيْنِ لَيْسَ بِهِ إِلاَّ أثَرَ سَهْمِكَ : فَكُلْ ، وَإِنْ وَقَعَ في الماءِ : فَلاَ تَأكُلْ ) .
“Jika engkau melepaskan anjingmu dengan menyebut nama Allah dan ia menangkap buruannya lalu membunuhnya, maka makanlah.
Tetapi jika ia memakannya, jangan dimakan, karena ia menangkap untuk dirinya sendiri.
Jika ia berbaur dengan anjing lain dan mereka membunuhnya, maka jangan dimakan, karena engkau tidak tahu mana yang membunuh.
Jika engkau memanah buruan dan menemukannya setelah satu atau dua hari, selama tidak jatuh ke air dan hanya terkena anak panahmu, maka makanlah; tetapi jika jatuh ke air, jangan dimakan.” (HR. al-Bukhārī no. 5167, Muslim no. 1929)
Ibnul Qayyim berkata:
ثم النوع الثاني : استصحاب الوصف المُثْبِت للحُكم ، حتى يثبت خلافه ، وهو حجة ، كاستصحاب حكم الطهارة ، وحكم الحدث ، واستصحاب بقاء النكاح ، وبقاء المِلك ، وشغل الذمة بما تشغل به ، حتى يثبت خلاف ذلك ، وقد دل الشارع على تعليق الحكم به في قوله في الصيد ( وإن وجدته غريقاً فلا تأكله ؛ فإنك لا تدري الماءُ قتله أو سهمك ) ، وقوله ( وإن خالطها كلاب من غيرها فلا تأكل ؛ فإنك إنما سميت على كلبك ولم تسمِّ على غيره ) .
لمَّا كان الأصل في الذبائح : التحريم ، وشك هل وجد الشرط المبيح أم لا : بقي الصيد على أصله في التحريم .
Kemudian jenis kedua adalah prinsip istishhāb al-wasf al-muṯabbit li al-ḥukm (menetapkan kekekalan sifat hukum sampai ada dalil yang membatalkannya). Prinsip ini menjadi hujjah (dalil) dalam syariat, seperti:
- Istishhāb hukum tahārah (kesucian)
- Istishhāb hukum ḥadath (najis kecil/berubahnya wudhu)
- Istishhāb keberlanjutan pernikahan
- Istishhāb kepemilikan harta
- Istishhāb kesibukan tanggung jawab dengan apa yang biasanya menyibukkannya
Prinsip ini berlaku sampai ada dalil yang menunjukkan sebaliknya.
Allah dan Rasul-Nya menunjukkan pentingnya prinsip ini dalam firman dan hadis, misalnya dalam masalah perburuan:
“Jika kamu menemukan binatang buruan dalam keadaan tenggelam, maka jangan dimakan; karena kamu tidak tahu apakah air yang membunuhnya atau panahmu.”
“Jika bercampur dengan anjing selain anjingmu, maka jangan dimakan; karena kamu hanya menyebut nama Allah pada anjingmu, bukan pada yang lain.”
Karena hukum asal bagi hewan buruan adalah haram dimakan, dan muncul keraguan apakah syarat halal telah terpenuhi atau tidak, maka hukum asal tetap berlaku, yaitu haram dimakan sampai terbukti sebaliknya. (I‘lām al-Muwaqqi‘īn, 1/339–340)
Keempat:
Jika bahan yang digunakan adalah nabati atau sintetis, maka boleh digunakan, kecuali jika terbukti berbahaya atau beracun, baik karena zatnya sendiri maupun karena reaksi dengan bahan lain.
Syaikh Muhammad bin Shālih al-‘Utsaimīn رحمه الله berkata:
تحمير الشفاه لا بأس به ؛ لأن الأصل الحل ، حتى يتبين التحريم ، … ولكن إن تبين أنه مضر للشفة ، ينشفها ويزيل عنها الرطوبة والدهنية : فإنه في مثل هذه الحال ينهى عنه ، وقد
أُخبرت أنه ربما تتشقق الشفاة منه ، فإذ ثبت هذا : فإن الإنسان منهي عن فعل ما يضره .
“Memerahkan bibir (lipstik) hukumnya boleh, karena hukum asal segala sesuatu adalah mubah, kecuali ada dalil yang melarang. Namun, jika terbukti berbahaya — misalnya membuat bibir kering atau pecah — maka tidak boleh digunakan, karena Islam melarang segala hal yang membahayakan tubuh.” (Fatāwā Manār al-Islām, 3/831)
Kelima:
Seorang Muslim wajib berhati-hati dalam makanan, minuman, pakaian, dan seluruh urusan hidupnya — memastikan semua dari yang halal dan thayyib.
Harus dibedakan antara:
Bahan-bahan umum kehidupan (hukum asalnya halal), dan
Sembelihan hewan (hukum asalnya haram sampai terbukti kehalalannya).
Para ulama Al-Lajnah ad-Dā’imah (Komisi Fatwa Tetap) pernah ditanya tentang adanya lemak babi dalam sebagian jenis sabun dan pasta gigi. Mereka menjawab:
لم يصلنا من طريق موثوق أن بعض آلات التنظيف يوجد فيها شيء من شحم الخنزير كصابون ” كاماي ” وصابون ” بالموليف ” ومعجون الأسنان ” كولكيت ” ، وإنما يبلغنا عن ذلك مجرد إشاعات .
ثانياً : الأصل في مثل هذه الأشياء الطهارة ، وحل الاستعمال ، حتى يثبت من طريق موثوق أنها خلطت بشحم الخنزير ، أو نحوه في النجاسة وتحريم الانتفاع به ، فعند ذلك يحرم استعمالها ، أما إذا لم يزد الخبر عن كونه إشاعة ، ولم يثبت : فلا يجب اجتناب استعمالها . ثالثاً : على من ثبت لديه خلط آلات التنظيف بشحم الخنزير أن يجتنب استعمالها ، وأن يغسل ما تلوث منها ، أما ما أداه من الصلوات أيام استعمال هذه الآلات : فليس عليه إعادته ، على الصحيح من أقوال العلماء .
“Tidak sampai kepada kami dari jalur yang terpercaya bahwa sebagian alat pembersih itu mengandung lemak babi, seperti sabun Camay, sabun Palmolive, dan pasta gigi Colgate; yang sampai kepada kami hanyalah sekadar kabar angin (isu semata).
Kedua: Hukum asal dalam hal-hal semacam ini adalah suci dan boleh digunakan, sampai terbukti secara pasti melalui sumber terpercaya bahwa benda tersebut dicampur dengan lemak babi atau sesuatu yang serupa dengannya dari bahan najis yang haram dimanfaatkan. Jika sudah terbukti demikian, maka haram hukumnya digunakan.
Namun jika berita itu tidak lebih dari sekadar isu dan belum terbukti kebenarannya, maka tidak wajib menjauhi penggunaannya.
Ketiga: Barang siapa telah yakin bahwa alat pembersih tertentu dicampur dengan lemak babi, maka wajib baginya menjauhi penggunaannya, dan mencuci segala sesuatu yang terkena olehnya.
Adapun shalat yang telah dikerjakannya selama memakai alat pembersih tersebut, tidak perlu diulang, menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama.
📘 Ditetapkan oleh:
Syaikh ‘Abdul ‘Azīz bin Bāz,
Syaikh ‘Abdur Razzāq ‘Afīfī,
Syaikh ‘Abdullāh bin Ghudayyān,
Syaikh ‘Abdullāh bin Qu‘ūd.
(Fatāwā al-Lajnah ad-Dā’imah, 5/385–386)
Mereka juga berkata:
الجبن الصناعي الذي كثر القول فيه على أن فيه شحم الخنزير: فنحن لم يثبت عندنا أن فيه شحم خنزير ، والأصل في الأشياء الحل ، ومن تيقن أن فيه شحم خنزير أو غلب على ظنه : لا يجوز له استعماله .
“Tentang keju buatan pabrik (keju industri) yang banyak dikatakan mengandung lemak babi, maka kami belum menemukan bukti bahwa di dalamnya memang terdapat lemak babi. Hukum asal segala sesuatu adalah halal.
Namun siapa yang yakin bahwa di dalamnya terdapat lemak babi, atau sangat kuat dugaan bahwa memang demikian, maka tidak boleh baginya menggunakannya.”
📘 Ditetapkan oleh:
Syaikh ‘Abdul ‘Azīz bin Bāz,
Syaikh ‘Abdur Razzāq ‘Afīfī,
Syaikh ‘Abdullāh bin Ghudayyān,
Syaikh ‘Abdullāh bin Qu‘ūd.
(Fatāwā al-Lajnah ad-Dā’imah, 22/111)
Syaikh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-‘Utsaimīn رحمه الله juga pernah ditanya:
“Kami menemukan sebagian selebaran yang mengatakan bahwa sebagian sabun dibuat dari lemak babi, bagaimana pendapat Anda?”
Beliau menjawab:
أرى أن الأصل الحل ، في كل ما خلق الله لنا في الأرض ؛ لقول الله تعالى : ( هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً ) البقرة/29 ، فإذا ادَّعى أحدٌ أن هذا حرام لنجاسته ، أو غيرها : فعليه الدليل ، وأما أن نصدق بكل الأوهام ، وكل ما يُقال : فهذا لا أصل له ، فإذا قال : إن هذه الصابونة من شحم خنزير : قلنا له : هات الإثبات ، فإذا ثبت أن معظمها شحم خنزير أو دهن خنزير : وجب علينا تجنبها .
“Menurut saya, hukum asal segala sesuatu yang Allah ciptakan di bumi adalah halal, berdasarkan firman Allah Ta‘ālā:
﴿ هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ﴾
‘Dialah yang menciptakan untuk kalian segala yang ada di bumi.’ (QS. Al-Baqarah: 29)
Maka siapa yang mengklaim bahwa sesuatu itu haram karena najis atau sebab lainnya, dialah yang harus mendatangkan bukti.
Adapun mempercayai setiap isu atau ucapan tanpa bukti, itu tidak memiliki dasar.
Jika seseorang berkata, ‘Sabun ini dibuat dari lemak babi,’ maka katakan kepadanya, ‘Tunjukkan buktinya.’
Bila terbukti bahwa sebagian besar bahan sabun itu adalah lemak babi atau minyak babi, maka wajib bagi kita menjauhinya.”
📘 Sumber: Liqa’āt al-Bāb al-Maftūḥ (31, Pertanyaan no. 10).
Kesimpulan:
1. Jika bukti kuat menunjukkan adanya lemak babi atau bahan najis tanpa istihālah → haram digunakan.
2. Jika bahan tersebut telah mengalami istihālah sempurna → halal dan suci.
3. Jika tidak ada bukti jelas → hukum asalnya halal.
4. Jika bahan tersebut berbahaya bagi tubuh → haram karena mudaratnya.
ADAPUN BERKAITAN DENGAN INDIKASI BAHAN SIKAT GIGIDARI BULU BABI, MAKA SEBAGAI BERIKUT:
Para ulama fikih berbeda pendapat tentang kenajisan bulu babi (rambut babi). Mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Syafi‘i, dan Hanbali berpendapat bahwa bulu babi najis, sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa bulu babi suci.
Menurut pendapat yang menyatakan najis: tidak boleh menggunakan bulu babi dalam keadaan basah, atau menyentuh sesuatu yang basah, karena najis dapat berpindah melalui kelembapan.
Dalam Al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah (20/35) disebutkan:
” ذهب الجمهور إلى نجاسة شعر الخنزير فلا يجوز استعماله لأنه استعمال للعين النجسة .
وعند الشافعية لو خرز خف بشعر الخنزير لم يطهر محل الخرز بالغسل أو بالتراب ، لكنه معفو عنه ، فيصلى فيه الفرائض والنوافل لعموم البلوى . وعند الحنابلة يجب غسل ما خرز به رطبا ، ويباح استعمال منخل من الشعر النجس في يابس لعدم تعدي نجاسته ، ولا يجوز استعماله في الرطب لانتقال النجاسة بالرطوبة .
وأباح الحنفية استعمال شعره للخرازين للضرورة .
وذهب المالكية إلى طهارة شعر الخنزير ، فإذا قص بمقص جاز استعماله ، وإن وقع القص بعد الموت ، لأن الشعر مما لا تحله الحياة ، وما لا تحله الحياة لا ينجس بالموت ، إلا أنه يستحب غسله للشك في طهارته ونجاسته . أما إذا نتف فلا يكون طاهرا ” انتهى .
“Mayoritas ulama berpendapat bahwa bulu babi itu najis, maka tidak boleh digunakan, karena berarti menggunakan sesuatu yang najis.
Dalam mazhab Syafi‘i: bila sepatu dijahit dengan bulu babi, maka bagian jahitannya tidak bisa disucikan dengan mencuci air atau debu, namun hal itu dimaafkan, sehingga boleh dipakai untuk salat fardu dan sunnah karena darurat umum.
Dalam mazhab Hanbali: bila basah, bagian yang dijahit dengan bulu babi wajib dicuci, namun boleh menggunakan saringan yang terbuat dari rambut najis untuk bahan kering, karena najisnya tidak menular dalam keadaan kering.
Adapun bila digunakan untuk bahan basah, tidak boleh, karena najis berpindah melalui kelembapan.
Sedangkan ulama Hanafi membolehkan penggunaan bulu babi oleh para tukang kulit karena kebutuhan.
Mazhab Maliki berpendapat bahwa bulu babi suci, apabila dipotong dengan gunting maka boleh digunakan, baik saat masih hidup maupun setelah mati, karena bulu termasuk bagian tubuh yang tidak dialiri kehidupan (tidak mengandung ruh).
Maka sesuatu yang tidak dialiri kehidupan tidak menjadi najis karena kematian, namun disunnahkan untuk mencucinya karena masih ada keraguan antara suci dan najis.
Tetapi jika bulunya dicabut, maka bagian akarnya najis sedangkan ujungnya tetap suci.”
Maka tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim — baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, Muslim ataupun non-Muslim — menggunakan sikat rambut yang terbuat dari bulu babi, menurut pendapat jumhur ulama, yaitu mazhab Hanafiyah, Hanabilah, dan Syafi‘iyah, karena bulu babi dihukumi najis, dan tidak ada keadaan darurat yang membolehkan penggunaannya. Adapun keringanan dalam penggunaannya hanya diberikan dalam kondisi darurat, sebagaimana akan dijelaskan dalam kutipan berikut:
Al-Kāsānī berkata dalam Badā’i‘ aṣ-Ṣanā’i‘ (mazhab Hanafiyah):
( وأما ) الخنزير : فقد روي عن أبي حنيفة أنه نجس العين ، لأن الله تعالى وصفه بكونه رجسا فيحرم استعمال شعره وسائر أجزائه ، إلا أنه رخص في شعره للخرازين للضرورة ، وروي عن أبي يوسف في غير رواية الأصول أنه كره ذلك أيضا نصا ولا يجوز بيعها في الروايات كلها …………. وروي عن أصحابنا في غير رواية الأصول أن هذه الأجزاء منه طاهرة لانعدام الدم فيها والصحيح أنها نجسة ، لأن نجاسة الخنزير ليست لما فيه من الدم والرطوبة بل لعينه . انتهى
“Adapun babi, diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa ia najis pada zatnya (‘aynuhu najasah), karena Allah Ta‘ālā menyifatinya sebagai rijs (kotor), maka haram menggunakan rambutnya dan seluruh bagian tubuhnya, kecuali diberi keringanan untuk para pengrajin kulit (pembuat sepatu) karena kebutuhan (darurat).
Diriwayatkan dari Abu Yusuf — selain dalam riwayat utama — bahwa beliau juga memakruhkannya secara tegas, dan tidak boleh menjualnya menurut semua riwayat.
Diriwayatkan pula dari sebagian ulama mazhab kami, selain dalam riwayat utama, bahwa bagian-bagian tubuh babi tersebut suci, karena tidak ada darah di dalamnya. Namun pendapat yang benar adalah najis, sebab kenajisan babi bukan disebabkan darah atau cairannya, melainkan karena zatnya sendiri.”
Al-‘Abbādī al-Ḥanafī berkata dalam Al-Jawharah an-Nayyirah:
( قوله : وشعر الميتة وعظمها طاهران ) أراد ما سوى الخنزير ولم يكن عليه رطوبة ورخص في شعره للخرازين للضرورة ، لأن غيره لا يقوم مقامه عندهم وعن أبي يوسف أنه كرهه أيضا لهم ولا يجوز بيعه في الروايات كلها والريش والصوف والوبر والقرن والخف والظلف والحافر كل هذه طاهرة من الميتة سوى الخنزير وهذا إذا كان الشعر محلوقا أو مجزورا فهو طاهر ، وإن كان منتوفا فهو نجس . انتهى
“Ucapannya: ‘Rambut dan tulang bangkai itu suci’ — maksudnya adalah selain babi, dan jika tidak terdapat kelembapan (basah) padanya. Diberi keringanan dalam penggunaan rambut babi hanya untuk para pengrajin kulit karena darurat, sebab tidak ada pengganti yang setara menurut mereka.
Dari Abu Yusuf: beliau memakruhkannya juga bagi mereka, dan tidak boleh menjualnya menurut seluruh riwayat.
Adapun bulu, wol, rambut halus, tanduk, kuku, telapak, dan cakar — semuanya suci dari bangkai selain babi. Ini berlaku apabila rambut itu dicukur atau digunting, maka ia suci; tetapi jika dicabut (dicabut bersama akarnya) maka ia najis.”
Ibn Qudāmah berkata dalam Al-Mughnī:
وكل حيوان فشعره مثل بقية أجزائه ما كان طاهرا فشعره طاهر ، وما كان نجسا فشعره كذلك ، ولا فرق بين حالة الحياة وحالة الموت . انتهى
“Setiap hewan, maka rambutnya memiliki hukum seperti bagian tubuh lainnya; apa yang suci, maka rambutnya juga suci; dan apa yang najis, maka rambutnya juga najis;
tidak ada perbedaan antara keadaan hidup dan mati.”
Dalam Ḥāsyiyah al-Jamal atas Syarḥ Minhāj aṭ-Ṭullāb (mazhab Syafi‘iyah) disebutkan:
( فرع ) قضية حرمة استعمال نحو جلد الكلب والخنزير وشعرهما لغير ضرورة حرمة استعمال ما يقال له في العرف الشبة لأنها من شعر الخنزير نعم إن توقف استعمال الكتان عليها ولم يوجد ما يقوم مقامها فهذا ضرورة مجوزة لا ستعمالها . انتهى
“(Cabang masalah) — Berdasarkan keharaman menggunakan kulit anjing dan babi serta rambut keduanya tanpa adanya darurat, maka haram pula menggunakan apa yang disebut dalam adat sebagai syabbah (sisir dari bulu babi), karena ia terbuat dari bulu babi.
Namun, jika penggunaan kain linen atau sutra hanya dapat dilakukan dengan alat tersebut dan tidak ada penggantinya, maka hal itu termasuk darurat yang membolehkan penggunaannya.”
(selesai kutipan)
Ibn Mufliḥ berkata dalam Al-Furū‘:
المذهب : نجاسة كلب وخنزير وما تولد من أحدهما ( م ) وعنه غير شعر ، اختاره أبو بكر وشيخنا . انتهى
“Mazhab yang dipegang adalah bahwa anjing, babi, dan hewan hasil persilangan keduanya adalah najis, dan diriwayatkan (pendapat lain) bahwa selain rambutnya tidak najis, pendapat ini dipilih oleh Abu Bakr (Abdul Aziz) dan Syaikh kami (Ibn Taimiyyah).”
Al-Mardāwī berkata dalam Al-Inṣāf:
والصحيح من المذهب : أنهما ( يعني الكلب والخنزير ) والمتولد منهما أو من أحدهما وجميع أجزائهما : نجس ، وعليه جماهير الأصحاب ، وقطع به أكثرهم . انتهى
“Pendapat yang benar dalam mazhab (Hanbali) adalah bahwa anjing dan babi serta hewan hasil persilangan keduanya dan seluruh bagian tubuh mereka adalah najis, dan ini merupakan pendapat mayoritas besar ulama mazhab, bahkan ditegaskan oleh kebanyakan mereka.”
Kesimpulan:
Mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Syafi‘i, dan Hanbali menyatakan haram menggunakan sisir yang terbuat dari bulu babi, karena bulu babi najis secara zat, dan tidak ada kebutuhan mendesak yang membolehkan penggunaannya.Namun sebagian ulama Hanafiyah membolehkan untuk keperluan industri kulit dalam keadaan darurat murni saja.
Dalam Al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah juga disebutkan (26/102):
” وانفرد المالكية بالقول بطهارة شعر الخنزير ، لأنه [أي الشعر] طاهر حال الحياة ، وهذا إذا جز جزا ولم ينتف . فإن نتف فإن أصوله نجسة ، وأعلاه طاهر .
واستدلوا بقوله سبحانه وتعالى : ومن أصوافها وأوبارها وأشعارها أثاثا ومتاعا إلى حين .
والآية سيقت للامتنان ، فالظاهر شمولها الموت والحياة .
وبحديث ميمونة – رضي الله عنها – : أن الرسول صلى الله عليه وسلم قال في شاة ميمونة حين مر بها : إنما حرم أكلها . – وفي لفظ – إنما حرم عليكم لحمها ورخص لكم في مسكها أي جلدها .
واستدلوا من المعقول بأن المعهود في الميتة حال الحياة الطهارة ، وإنما يؤثر الموت النجاسة فيما تحله الحياة ، والشعور لا تحلها الحياة .
فلا يحلها الموت ، وإذا لم يحلها وجب الحكم ببقاء الوصف الشرعي المعهود لعدم المزيل .
فالأصل في طهارة شعر الميتة أن ما لا تحله الحياة – لأنه لا يحس ولا يتألم – لا تلحقه النجاسة بالموت ” انتهى .
“Mazhab Maliki menyendiri dengan berpendapat bahwa bulu babi itu suci, karena bulu tersebut suci ketika hewan hidup, dan bila dipotong (bukan dicabut) maka tetap suci.
Namun bila dicabut, maka akarnya najis dan ujungnya suci.
Mereka berdalil dengan firman Allah Ta‘ālā:
وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ
“Dan dari bulu domba, unta, dan kambing mereka, engkau jadikan perhiasan rumah dan kesenangan hidup sampai waktu tertentu.” (QS. An-Naḥl: 80)
Ayat ini menunjukkan nikmat Allah atas manusia, sehingga maknanya mencakup keadaan hidup dan mati.
Mereka juga berdalil dengan hadis Maimunah رضي الله عنها, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang kambing yang mati:
«إِنَّمَا حُرِّمَ أَكْلُهَا»
“Sesungguhnya yang diharamkan hanyalah memakannya.”
Dalam riwayat lain:
«إِنَّمَا حُرِّمَ عَلَيْكُمْ لَحْمُهَا، وَرُخِّصَ لَكُمْ فِي مَسْكِهَا»
“Yang diharamkan atas kalian hanyalah dagingnya, dan dibolehkan bagi kalian kulitnya.”
Mereka juga berdalil secara rasional: bahwa keadaan hewan sebelum mati adalah suci, dan kematian hanya menyebabkan najis pada bagian tubuh yang dialiri kehidupan, sementara bulu tidak demikian — ia tidak merasa sakit dan tidak memiliki kehidupan, maka kematian tidak mengubah status sucinya.
Oleh karena itu, hukum asal pada bulu bangkai adalah suci, karena ia termasuk bagian yang tidak dialiri kehidupan.”
Adapun pendapat yang paling kuat (rajih) adalah bahwa semua jenis bulu — termasuk bulu babi dan anjing — adalah suci.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah رحمه الله berkata:
” وله [أي الإمام أحمد] في الشعور النابتة على محل نجس ثلاث روايات :
إحداها : أن جميعها طاهر حتى شعر الكلب والخنزير ; وهو اختيار أبي بكر عبد العزيز .
والثانية : أن جميعها نجس كقول الشافعي .
والثالثة : أن شعر الميتة إن كانت طاهرة في الحياة : طاهر ، كالشاة والفأرة , وشعر ما هو نجس في حال الحياة نجس كالكلب والخنزير , وهي المنصورة عند أكثر أصحابه .
والقول الراجح هو : طهارة الشعور كلها : الكلب , والخنزير , وغيرهما بخلاف الريق , وعلى هذا فإذا كان شعر الكلب رطبا , وأصاب ثوب الإنسان , فلا شيء عليه , كما هو مذهب جمهور الفقهاء أبي حنيفة , ومالك , وأحمد في إحدى الروايتين عنه ; وذلك ; لأن الأصل في الأعيان الطهارة , فلا يجوز تنجيس شيء ولا تحريمه إلا بدليل , كما قال تعالى : وقد فصل لكم ما حرم عليكم إلا ما اضطررتم إليه , وقال تعالى : وما كان الله ليضل قوما بعد إذ هداهم حتى يبين لهم ما يتقون , وقال النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح : إن من أعظم المسلمين جرما من سأل عن شيء لم يحرم فحرم من أجل مسألته . وفي السنن : عن سلمان الفارسي مرفوعا ; ومنهم من يجعله موقوفا : أنه قال : الحلال ما أحل الله في كتابه , والحرام ما حرم الله في كتابه , وما سكت عنه فهو مما عفا عنه . وإذا كان كذلك , فالنبي صلى الله عليه وسلم قال : طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبعا أولاهن بالتراب , وفي الحديث الآخر إذا ولغ الكلب . فأحاديثه كلها ليس فيها إلا ذكر الولوغ ; لم يذكر سائر الأجزاء , فتنجيسها إنما هو بالقياس … وكل حيوان قيل بنجاسته , فالكلام في شعره وريشه كالكلام في شعر الكلب , فإذا قيل بنجاسة كل ذي ناب من السباع , وذي مخلب من الطير , إلا الهر وما دونها في الخلقة كما هو مذهب كثير من العلماء : علماء أهل العراق , وهو أشهر الروايتين عن أحمد , فإن الكلام في ريش ذلك وشعره فيه هذا النزاع , هل هو نجس ؟ على روايتين عن أحمد .
إحداهما : أنه طاهر , وهو مذهب الجمهور : كأبي حنيفة , والشافعي ومالك . والرواية الثانية : أنه نجس , كما هو اختيار كثير من متأخري أصحاب أحمد , والقول بطهارة ذلك هو الصواب كما تقدم ” انتهى من “الاختيارات الفقهية” ضمن الفتاوى الكبرى (5/ 264).
“Imam Ahmad memiliki tiga riwayat mengenai bulu yang tumbuh pada bagian tubuh yang najis:
1. Semuanya suci, bahkan bulu anjing dan babi — ini pendapat Abu Bakr ‘Abdul ‘Aziz.
2. Semuanya najis, sebagaimana pendapat Asy-Syafi‘i.
3. Bulu bangkai yang hewannya suci ketika hidup maka bulunya suci (seperti kambing, tikus),
sedangkan bulu hewan yang najis ketika hidup maka bulunya najis (seperti anjing dan babi).
Pendapat ketiga ini diikuti oleh kebanyakan ulama Hanbali.
Pendapat yang paling kuat adalah bahwa semua bulu itu suci, baik bulu anjing, babi, maupun selainnya — berbeda halnya dengan air liurnya.
Maka jika bulu anjing basah dan menyentuh pakaian seseorang, tidak ada kewajiban untuk mencucinya.
Ini adalah pendapat mayoritas fuqaha — Abu Hanifah, Malik, dan satu riwayat dari Ahmad —
karena hukum asal segala sesuatu adalah suci, dan tidak boleh menajiskan atau mengharamkan sesuatu tanpa dalil.
Allah Ta‘ālā berfirman:
وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ
“Dan sungguh Dia telah menjelaskan kepada kalian apa yang diharamkan atas kalian, kecuali bila kalian terpaksa.” (QS. Al-An‘ām: 119)
Dan Allah juga berfirman:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَ
“Allah tidak akan menyesatkan suatu kaum setelah Dia memberi petunjuk kepada mereka, sampai Dia jelaskan kepada mereka apa yang harus mereka jauhi.” (QS. At-Taubah: 115)
Nabi ﷺ juga bersabda dalam hadis sahih:
«إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا، مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ»
“Di antara dosa terbesar seorang Muslim adalah bertanya tentang sesuatu yang belum diharamkan, lalu menjadi haram karena pertanyaannya.”
Dan dalam hadis Salman Al-Farisi رضي الله عنه:
«الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ، وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ»
“Yang halal adalah apa yang Allah halalkan dalam Kitab-Nya, yang haram adalah apa yang Allah haramkan dalam Kitab-Nya, dan yang tidak disebutkan maka termasuk yang Allah maafkan.”
Nabi ﷺ juga bersabda:
«طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعًا أُولاهُنَّ بِالتُّرَابِ»
“Sucinya bejana salah seorang dari kalian bila dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, yang pertama dengan tanah.”
Hadis-hadis tersebut hanya menyebutkan jilatannya (al-wulūgh), tidak menyebut bagian tubuh lainnya, sehingga menajiskan seluruh bagian tubuhnya hanyalah berdasarkan qiyas (analogi).”
(selesai dari Al-Ikhtiyārāt al-Fiqhiyyah, dalam Al-Fatāwā al-Kubrā, 5/264).
Al-Mardāwī berkata dalam kitab Al-Inṣāf:
وعنه طهارة الشعر ، اختاره أبو بكر عبد العزيز ، والشيخ تقي الدين ، وصاحب الفائق ، قال ابن تميم : فيخرج ذلك في كل حيوان نجس . انتهى
“Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa rambut itu suci, pendapat ini dipilih oleh Abu Bakr ‘Abdul ‘Azīz, Syaikh Taqiyuddīn (Ibn Taimiyyah), dan penulis kitab Al-Fā’iq.
Ibn Tamīm berkata: ‘Dengan demikian, hukum ini juga berlaku bagi setiap hewan yang dianggap najis.’”
Kesimpulan:
Tidak mengapa menggunakan sisir yang terbuat dari bulu babi, dan tidak masalah bila menyentuh rambut yang basah.
Namun, lebih baik ditinggalkan untuk keluar dari perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Wallāhu a‘lam.



