Apakah Sentuhan Suami Istri Membatalkan Wudhu?

No Fatwa: 19 / 30-01-2026 / TF 02-MI
Dari Sdr.
Waktu: Jumat, 11 Syakban 1447 H
Pertanyaan
Izin bertanya : Suami istri yg sudah berwudhu lantas bersentuhan sebelum sholat ( sengaja atwpn tidak sengaja) Apakah membatalkan wudhu & harus mengulang wudhu kembali?
Jawaban
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepada kalian. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Dan semoga shalawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du:
Terjemahan Bahasa Indonesia
Para ulama berbeda pendapat mengenai batal atau tidaknya wudu karena menyentuh wanita tanpa syahwat.
Mazhab Hanafi berpendapat bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudu secara mutlak, baik dengan syahwat maupun tanpa syahwat. Ibn Nujaym berkata dalam Al-Bahr ar-Rā’iq:
مس بشرة المرأة لا ينقض الوضوء مطلقا، سواء كان بشهوة أو لا ، انتهى.
“Menyentuh kulit wanita tidak membatalkan wudu secara mutlak, baik dengan syahwat maupun tanpa syahwat.” Selesai.
Mazhab Maliki berpendapat bahwa sentuhan membatalkan wudu dengan syarat-syarat tertentu. Syaikh ‘Alisy merangkum syarat-syarat itu dalam Manh al-Jalīl Syarh Mukhtashar Khalīl.
Intinya: sentuhan seorang yang berwudu dan telah baligh kepada orang yang biasanya menimbulkan kenikmatan (baik laki-laki maupun perempuan) tidak membatalkan wudu kecuali jika ia bermaksud menikmati sentuhan tersebut, meskipun ia tidak merasakan kenikmatan saat menyentuh. Wudu juga batal jika ia merasakan kenikmatan saat menyentuh meskipun tidak berniat untuk menikmati. Namun, jika ia tidak berniat dan tidak merasakan kenikmatan, maka tidak batal, meskipun kenikmatan itu muncul setelah sentuhan.
Mazhab Syafi‘i, sebagaimana dijelaskan oleh An-Nawawi dalam Al-Majmū‘, menyatakan:
إذا التقت بشرتا رجل وامرأة أجنبية تشتهى، انتقض وضوء اللامس منهما، سواء كان اللامس الرجل أو المرأة، وسواء كان اللمس بشهوة أم لا، تعقبه لذة أم لا، وسواء قصد ذلك أم حصل سهوا أو اتفاقا، وسواء استدام اللمس أم فارق بمجرد التقاء البشرتين، وسواء لمس بعضو من أعضاء الطهارة أم بغيره، وسواء كان الملموس أو الملموس به صحيحا أم أشل، زائدا أم أصليا، فكل ذلك ينقض الوضوء عندنا، وفي كله خلاف للسلف ، اهـ.
jika kulit laki-laki dan perempuan ajnabiyah yang menimbulkan syahwat saling bersentuhan, maka wudu orang yang menyentuh batal, baik yang menyentuh itu laki-laki atau perempuan, baik sentuhan itu dengan syahwat atau tanpa syahwat, baik disertai kenikmatan atau tidak, baik disengaja atau terjadi karena lupa atau kebetulan, baik sentuhan itu berlanjut atau terpisah seketika setelah bersentuhan, baik menyentuh dengan anggota wudu atau selainnya, baik yang disentuh atau yang menyentuh itu sehat atau lumpuh, anggota tambahan atau anggota asli—semua itu membatalkan wudu menurut kami. Dalam seluruh rincian ini terdapat perbedaan dengan pendapat para ulama salaf. Selesai.
Ringkasnya: jika laki-laki baligh menyentuh perempuan yang menimbulkan syahwat dengan ketentuan-ketentuan tersebut, maka wudunya batal.
Mazhab Hanbali berpendapat bahwa wudu tidak batal kecuali dengan dua syarat: (1) tanpa penghalang, dan (2) dengan syahwat. Al-Mardawi berkata dalam Al-Inshāf:
الخامس -يعني من نواقض الوضوء- أن تمس بشرته بشرة أنثى لشهوة، هذا المذهب، وعليه جماهير الأصحاب ، اهـ
“Yang kelima—yakni dari pembatal wudu—adalah bersentuhnya kulit dengan kulit perempuan dengan syahwat; inilah mazhab (Hanbali), dan inilah pendapat mayoritas ulama mazhab.” Selesai.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memilih pendapat bahwa sentuhan tidak membatalkan wudu secara mutlak, sebagaimana dinukil oleh penulis Al-Inshāf darinya.
Dalil bagi yang berpendapat bahwa sentuhan tanpa syahwat tidak membatalkan wudu adalah hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata:
كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَايَ فِي قِبْلَتِهِ، فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي، فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ، فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا، قَالَتْ: وَالبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ.
“Aku biasa tidur di hadapan Rasulullah ﷺ, dan kedua kakiku berada di arah kiblat beliau. Jika beliau sujud, beliau menyentuhku (menggeserku), maka aku menarik kedua kakiku; jika beliau berdiri, aku meluruskannya kembali.” Ia berkata: “Pada masa itu rumah-rumah belum memiliki lampu.”
Dalam Musnad Ahmad disebutkan:
فإذا أراد أن يسجد غمز يعني رجلي فضممتها إلي ثم يسجد.
“Jika beliau hendak sujud, beliau menyentuh—yakni—kedua kakiku, lalu aku merapatkannya kepadaku, kemudian beliau sujud.” Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Arna’uth. Ibn Qudamah berkata dalam Al-Mughnī:
ولو كان ناقضا للوضوء لم يفعله ، اهـ.
“Seandainya sentuhan itu membatalkan wudu, niscaya beliau tidak akan melakukannya.” Selesai.
Demikian pula hadis riwayat Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
فقدت رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة من الفراش فالتمسته فوقعت يدي على بطن قدميه وهو في المسجد وهما منصوبتان…الحديث.
“Aku kehilangan Rasulullah ﷺ suatu malam dari tempat tidur, lalu aku mencarinya dan tanganku menyentuh telapak kedua kakinya, sementara beliau sedang shalat di masjid dan kedua kakinya ditegakkan…” Hadis ini menunjukkan bahwa sentuhan terjadi tanpa penghalang, dan hal itu menunjukkan bahwa sentuhan tidak membatalkan wudu selama tidak disertai syahwat.
Adapun dalil bagi yang berpendapat bahwa sentuhan membatalkan wudu secara mutlak—yaitu mazhab Syafi‘i—adalah keumuman firman Allah Ta‘ala:
أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ [النساء: 43].
“atau kalian menyentuh wanita” (QS. An-Nisā’: 43). Makna hakiki al-mulāmasah adalah bertemunya dua kulit. Hal ini dikuatkan oleh bacaan Ibnu Mas‘ud:
أو لمستم
“aw lamastum”, yang jelas menunjukkan sekadar sentuhan tanpa jima‘. Bacaan ini termasuk qirā’ah sab‘iyyah (tujuh bacaan mutawatir).
Pendapat yang lebih kuat adalah wudu tidak batal secara mutlak kecuali jika keluar sesuatu (hadats).
Semoga Allah Ta‘ālā menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memilih ilmu yang bermanfaat, meninggalkan hal yang sia-sia, dan mengamalkan apa yang telah diketahui. Kami memohon kepada Allah Ta‘ālā agar memberikan taufik kepada kami dan kepada kalian semua untuk melakukan apa yang Dia cintai dan ridhai. Aamiin
وَاللَّهُ أَعْلَمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
