Fatawa Umum

Apakah benar mayat diuji (difitnah) di dalam kuburnya selama tujuh hari, sehingga disunnahkan memberi makan atas nama mereka selama hari-hari itu?

*Apakah benar mayat diuji (difitnah) di dalam kuburnya selama tujuh hari, sehingga disunnahkan memberi makan atas nama mereka selama hari-hari itu?*

Pertanyaan:

Kaum sufi di negeri kami berdalil dengan atsar berikut untuk menganjurkan memberi makan (sedekah makanan) atas nama mayit.

Sejauh mana keshahihan atsar ini?

Disebutkan oleh al-Hafizh Abu Nu‘aim dalam Hilyah al-Awliyā’:

> حدثنا أبو بكر بن مالك ، ثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل ، حدثنا أبي ، ثنا هاشم بن القاسم ، ثنا الأشجعي ، عن سفيان قال : قال طاوس : إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعاً فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام.

Artinya:

“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Malik, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami ayahku (Imam Ahmad), telah menceritakan kepada kami Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepada kami al-Asyja‘ī, dari Sufyān, ia berkata: Thāwūs berkata, ‘Sesungguhnya orang-orang mati diuji di dalam kubur mereka selama tujuh hari, maka dahulu mereka menyukai (menganjurkan) untuk memberi makan atas nama mereka pada hari-hari itu.’”

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah ﷺ. Amma ba‘d:

Pertama:

Atsar-atsar yang menyebutkan bahwa orang mati diuji di kuburnya selama tujuh hari—sejauh yang kami ketahui—ada tiga riwayat:

1️⃣ Atsar pertama: dari Thāwūs al-Yamānī رحمه الله (w. 101 H)

> “إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا، فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الْأَيَّامِ”

Artinya: “Sesungguhnya orang mati diuji di kubur mereka selama tujuh hari, maka mereka dahulu menganjurkan memberi makan atas nama mereka pada hari-hari itu.”

Riwayat ini disebut oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd (sebagaimana dinukil oleh Ibn Hajar dalam Al-Mathālib al-‘Āliyah 5/330 dan oleh As-Suyūṭī dalam Al-Ḥāwī lil-Fatāwā 2/216).

Diriwayatkan juga oleh al-Hafizh Abu Nu‘aim dalam Hilyah al-Awliyā’ (4/11) melalui sanad: Hāsyim bin al-Qāsim → al-Asyja‘ī → Sufyān ats-Tsaurī → Thāwūs.

Sanad ini sahih sampai Thāwūs.

– al-Asyja‘ī (Ubaidullah bin Ubaid ar-Rahman) adalah tsiqah.

– Sufyān adalah ats-Tsaurī, imam besar yang terkenal.

As-Suyūṭī berkata:

> “رجال الإسناد رجال الصحيح، وطاوس من كبار التابعين…”

(Para perawi sanad ini semuanya perawi Shahih, dan Thāwūs termasuk tabi‘in besar…).

2️⃣ Atsar kedua: dari ‘Ubaid bin ‘Umair al-Laitsī رحمه الله (w. 68 H)

> “يفتن رجلان مؤمن ومنافق، فأما المؤمن فيفتن سبعاً، وأما المنافق فيفتن أربعين صباحاً”

Artinya: “Diuji dua orang: seorang mukmin dan seorang munafik. Adapun mukmin diuji selama tujuh hari, sedangkan munafik diuji selama empat puluh pagi.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jurayj dalam Al-Mushannaf dari al-Hārith bin Abī al-Hārith, dari ‘Ubaid bin ‘Umair.

Namun, al-Hārith bin Abī al-Hārith tidak dikenal secara pasti. Jika ia adalah al-Hārith bin ‘Abdurrahman ad-Dawsī, maka ada kelemahan pada dirinya sebagaimana dikatakan Abu Hātim: “Laisa bi qawiyy (tidak kuat)”, meskipun Ibn Ḥibbān men-tatsiqah-kannya.

Selain itu, ‘Ubaid bin ‘Umair tergolong tabi‘in besar, bukan sahabat, sehingga riwayatnya mursal (terputus).

3️⃣ Atsar ketiga: dari Mujāhid bin Jabr رحمه الله (w. 101–104 H)

> “إن الموتى كانوا يفتنون في قبورهم سبعاً، فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام”

> “Sesungguhnya orang-orang mati dahulu diuji (difitnah) di dalam kubur mereka selama tujuh hari, maka mereka menganjurkan untuk memberi makan (bersedekah makanan) atas nama mereka pada hari-hari itu.”

Atsar ini disebut oleh Ibn Rajab dalam Ahwāl al-Qubūr (hlm. 16), namun tanpa sanad, dan As-Suyūṭī juga berkata:

> “لم أقف على سنده” (Aku tidak menemukan sanadnya).

 *Kedua:*

Sebagian ulama seperti As-Suyūṭī berargumen dengan atsar-atsar ini bahwa ujian kubur bagi orang mukmin berlangsung selama tujuh hari, hingga beliau menulis risalah khusus berjudul “Ath-Thurayyā fī Izhhār mā Kāna Khafiyyā”.

Ia menyimpulkan dua alasan:

1. Riwayat-riwayat ini mursal tetapi saling menguatkan.

2. Karena hal ini termasuk urusan akhirat dan perkara ghaib, maka ia berstatus marfū‘ (berasal dari Nabi ﷺ), meskipun diriwayatkan dari tabi‘in.

As-Suyūṭī berkata:

> “ما رُوي مما لا مجال للرأي فيه كأمور البرزخ والآخرة فإن حكمه الرفع…”

(Segala yang diriwayatkan tentang perkara ghaib yang tidak bisa dijangkau akal seperti alam barzakh dan akhirat, maka hukumnya marfū‘ kepada Nabi ﷺ).

Ia menambahkan bahwa atsar ini dapat diterima karena serupa dengan riwayat dari Mujāhid dan ‘Ubaid bin ‘Umair yang menguatkannya.

Kemudian ia berkata:

> “إن قيل: ما الحكمة في هذا العدد بخصوصه؟ فالجواب: أن السبع والثلاث لهما نظر في الشرع…”

(Jika ditanya: apa hikmah angka tujuh ini secara khusus? Maka jawabannya: angka tujuh dan tiga memiliki kedudukan khusus dalam syariat…)

 *Ketiga:*

Namun, penjelasan As-Suyūṭī رحمه الله ini mengandung beberapa kelemahan:

1. Hanya atsar Thāwūs yang sanadnya sahih, sedangkan dua atsar lainnya lemah atau tidak diketahui asalnya.

Maka tidak cukup kuat untuk saling menguatkan.

2. Riwayat ini menyelisihi hadis-hadis sahih tentang fitnah kubur, yang semuanya menunjukkan bahwa pertanyaan malaikat terjadi sekali saja, bukan berulang tujuh hari.

Misalnya hadis al-Barā’ bin ‘Āzib رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

> “يَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟…”

(Datang kepadanya dua malaikat, lalu mendudukkannya dan berkata: Siapa Rabbmu?…)

— HR. Abu Dāwud (4753), shahih menurut al-Albānī.

Tidak ada satu pun hadis sahih yang menunjukkan bahwa fitnah kubur berlangsung tujuh hari.

3. Dalam kitab-kitab fikih klasik yang mu‘tabar, tidak ada anjuran memberi makan selama tujuh hari untuk mayit.

Tidak ada ulama besar yang menyatakan seperti yang dikemukakan As-Suyūṭī.

 *Keempat:*

Kalaupun pendapat As-Suyūṭī diambil, maka beliau sendiri tidak menegaskannya secara pasti, melainkan hanya dalam taraf istihbāb (anjuran ringan) bagi yang mampu.

Tidak boleh menjadikannya sebagai kebiasaan wajib yang memberatkan keluarga mayit atau menimbulkan celaan bila tidak dilakukan.

 *Kesimpulan:*

Riwayat tentang “mayat diuji selama tujuh hari” hanya sahih dari Thāwūs dengan status mauqūf (ucapan tabi‘in).

Tidak ada hadis marfū‘ yang sahih dari Nabi ﷺ tentang hal ini.

Maka tidak disyariatkan secara khusus memberi makan selama tujuh hari untuk mayit.

Yang disyariatkan adalah berdoa, bersedekah, dan memohonkan ampunan untuknya kapan pun, tanpa pembatasan hari.

والله أعلم.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button