Bulan Yang Banyak Dilalaikan Manusia

يا رسولَ اللَّهِ، لم أَرَك تَصومُ شَهْرًا منَ الشُّهورِ ما تصومُ من شعبانَ؟ قال: ذلِكَ شَهْرٌ يَغفُلُ النَّاسُ عنهُ بينَ رجبٍ ورمضانَ، وَهوَ شَهْرٌ تُرفَعُ فيهِ الأعمالُ إلى ربِّ العالمينَ، فأحبُّ أن يُرفَعَ عمَلي وأَنا صائمٌ
“Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa pada satu bulan di antara bulan-bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya‘ban.” Beliau bersabda: “Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, berada di antara Rajab dan Ramadan. Ia adalah bulan ketika amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, maka aku senang jika amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. an-Nasa’i no. 2357 – lafaz ini miliknya – dan Ahmad no. 21753)
Penjelasan:
Dahulu para sahabat radhiyallāhu ‘anhum mengamati Rasulullah ﷺ dalam ibadah, muamalah, dan seluruh aspek kehidupannya. Di antara yang mereka amati adalah puasa beliau, baik yang wajib maupun yang sunnah, agar mereka dapat belajar darinya.
Dalam hadis ini, Usāmah bin Zaid radhiyallāhu ‘anhumā berkata: “Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan di antara bulan-bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya‘ban.” Maksudnya: engkau tidak memperbanyak puasa sunnah pada bulan mana pun sepanjang tahun seperti banyaknya puasa di bulan Sya‘ban. Telah diriwayatkan tentang puasa beliau ﷺ di bulan Sya‘ban sebagaimana dalam hadis sahih dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā: “Rasulullah ﷺ biasa berpuasa hingga kami berkata: ‘Beliau tidak pernah berbuka.’ Dan beliau berbuka hingga kami berkata: ‘Beliau tidak pernah berpuasa.’ Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa satu bulan kecuali Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan di bulan Sya‘ban.”
Maka Nabi ﷺ menjelaskan kepada Usāmah sebab puasa beliau dengan bersabda: “Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia antara Rajab dan Ramadan,” yakni manusia lalai darinya karena mereka memperbanyak ibadah pada dua bulan tersebut. “Dan ia adalah bulan ketika amal-amal diangkat,” yakni amal-amal Bani Adam berupa kebaikan dan keburukan, ketaatan dan kemaksiatan, “kepada Rabb semesta alam.” Karena itu selayaknya amal pada bulan tersebut adalah amal saleh. “Maka aku senang jika amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa,” yakni karena puasa termasuk amal yang paling utama di sisi Allah, atau karena amal saleh yang disertai puasa akan mengangkat derajatnya dan menunjukkan keikhlasannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Dikatakan: yang dimaksud dengan amal yang diangkat pada bulan Sya‘ban adalah amal setahun penuh. Telah datang dalam hadis sahih dari Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallāhu ‘anhu bahwa Allah ‘Azza wa Jalla “mengangkat amal malam sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam,” dan amal mingguan diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, sebagaimana dalam riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’i. Dikatakan: ini mungkin menunjukkan bahwa amal ditampilkan sekaligus dalam setahun, dan mungkin juga ditampilkan secara terperinci pada hari-hari atau pekan-pekan, atau sebaliknya. Seakan-akan amal ditampilkan berulang-ulang, dan setiap penampilan memiliki hikmah yang Allah tampakkan kepada siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya, atau Dia simpan di sisi-Nya, padahal tidak ada satu pun amal mereka yang tersembunyi bagi-Nya.
Dalam hadis ini terdapat penjelasan bahwa bulan Sya‘ban termasuk bulan yang dianjurkan untuk memperbanyak puasa.
Sumber: https://dorar.net/hadith/sharh/80936



