Suami Bukan Tamu Di Rumahnya Sendiri

Suami Bukan Tamu Di Rumahnya Sendiri
Ketika Adat Keluarga Perlu Disempurnakan dengan Adab Islam
Di sebagian keluarga terdapat sebuah kebiasaan yang dianggap lumrah: ketika suami pulang ke rumah, hampir seluruh kebutuhannya harus dilayani oleh istri. Makanan disiapkan, minuman diambilkan, pakaian dibereskan, barang yang berada beberapa langkah darinya pun terkadang diminta untuk diambilkan.
Bahkan pada sebagian lingkungan, semakin banyak seorang suami dilayani, semakin dianggap tinggi kedudukannya sebagai kepala keluarga. Sebaliknya, ketika seorang suami mencuci piring, membereskan rumah, menyiapkan makanan, atau membantu pekerjaan istrinya, terkadang muncul komentar:
“Kok suami mengerjakan pekerjaan istri?”
Di sinilah kita perlu membedakan antara adat keluarga dan adab yang diajarkan Islam.
Adat tidak selalu salah, tetapi tidak selalu menjadi ukuran terbaik
Tidak masalah seorang istri melayani suaminya. Bahkan pelayanan yang dilakukan dengan cinta, kerelaan, dan niat menjaga keharmonisan rumah tangga merupakan perkara yang baik.
Demikian pula seorang suami tidak harus menolak setiap pelayanan istrinya dengan alasan ingin mandiri.
Persoalannya muncul ketika pelayanan itu berubah menjadi sebuah pemahaman bahwa suami harus selalu dilayani dan tidak pantas membantu, seakan-akan pekerjaan rumah akan menjatuhkan kehormatan seorang laki-laki.
Untuk menilai anggapan seperti ini, cukup kita melihat kehidupan manusia yang paling mulia: Rasulullah ﷺ.
Bagaimana Rasulullah ﷺ ketika berada di rumah?
Al-Aswad bin Yazid pernah bertanya kepada Aisyah رضي الله عنها:
مَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟
“Apa yang biasa dilakukan Nabi ﷺ di rumahnya?”
Aisyah رضي الله عنها menjawab:
كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
“Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya—yakni melayani keluarganya. Apabila waktu salat tiba, beliau keluar untuk melaksanakan salat.”
(HR. al-Bukhari)
Perhatikan ungkapan Aisyah رضي الله عنها:
فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ
Beliau ﷺ turut mengerjakan kebutuhan dan pekerjaan keluarganya.
Padahal beliau adalah Rasulullah ﷺ, pemimpin umat, kepala negara, panglima, guru para sahabat, dan manusia yang paling sibuk dengan urusan dakwah.
Namun ketika berada di rumah, beliau tidak memosisikan dirinya seperti seorang tamu yang harus selalu dilayani.
Membantu keluarga tidak mengurangi kewibawaan
Inilah pelajaran yang terkadang tertutup oleh kebiasaan masyarakat.
Ada laki-laki yang khawatir apabila terlalu banyak membantu istrinya, wibawanya sebagai kepala keluarga akan berkurang.
Padahal Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling berwibawa, tetapi beliau tetap membantu keluarganya.
Berarti, kewibawaan seorang suami tidak dibangun dengan banyaknya pelayanan yang ia terima.
Kepemimpinan rumah tangga juga tidak berarti bahwa seluruh pekerjaan rumah harus berada di bawah komandonya sementara dirinya tidak boleh turun tangan.
Allah berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan pergaulilah mereka dengan cara yang patut.”
(QS. an-Nisa’: 19)
Muamalah dengan ma’ruf mencakup sikap yang baik, kelembutan, perhatian, dan mempertimbangkan keadaan pasangan.
Lihat keadaan, bukan sekadar pembagian tugas
Rumah tangga bukan perusahaan yang setiap pekerjaan harus selalu dijawab dengan:
“Itu bukan tugas saya.”
Ada saat suami lelah setelah bekerja. Sangat indah ketika istrinya memahami keadaannya dan melayaninya.
Tetapi ada pula saat istri yang kelelahan: mengurus anak, memasak, membersihkan rumah, menghadapi anak yang sakit, atau menjalankan berbagai tanggung jawab sejak pagi.
Pada keadaan seperti itu, seorang suami yang mengambil piringnya sendiri, membereskan meja, menjaga anak, atau membantu pekerjaan rumah sedang meneladani sebuah akhlak yang agung.
Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”
(HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Menariknya, ukuran kebaikan seseorang dalam hadis ini tampak justru ketika ia berinteraksi dengan keluarganya.
Jangan mengubah pelayanan menjadi tuntutan
Ada perbedaan besar antara:
“Istri saya senang melayani saya.”
dengan:
“Saya suaminya, maka saya harus selalu dilayani.”
Yang pertama bisa lahir dari kasih sayang. Yang kedua, apabila berlebihan, dapat melahirkan egoisme.
Begitu pula ada perbedaan antara seorang suami membantu karena kasih sayang dengan anggapan bahwa seluruh kewajiban rumah tangga harus dibebankan kepadanya. Islam mengajarkan keseimbangan, bukan pertukaran dominasi.
Tujuannya bukan menghitung:
“Hari ini saya sudah mengerjakan berapa pekerjaan dan kamu berapa?”
Tetapi membangun rumah yang dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang.”
(QS. ar-Rum: 21)
Rumah tangga dibangun dengan saling melayani
Istri yang dengan senang hati menyiapkan makanan untuk suaminya sedang melakukan kebaikan.
Suami yang melihat istrinya kelelahan lalu membantunya juga sedang melakukan kebaikan.
Istri yang memahami beratnya pekerjaan suami adalah akhlak.
Suami yang memahami beratnya pekerjaan istri juga akhlak.
Karena rumah tangga yang sehat bukanlah tentang siapa yang paling banyak dilayani, tetapi tentang siapa yang paling dahulu berusaha memberikan kebaikan kepada pasangannya.
Maka tidak perlu merasa kehilangan kehormatan ketika seorang suami sesekali mencuci piring, mengangkat jemuran, membersihkan rumah, menyiapkan makanan, atau mengurus anak.
Jika Rasulullah ﷺ saja كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ—turut membantu keluarganya—maka membantu keluarga bukanlah sesuatu yang merendahkan seorang laki-laki.
Justru salah satu bentuk kemuliaan seorang kepala keluarga adalah ketika kepemimpinannya tidak hanya dirasakan melalui perintahnya, tetapi juga melalui kasih sayang, keteladanan, dan kesediaannya untuk turun tangan.
Adat boleh dipertahankan selama baik. Namun ketika adat membuat kita merasa bahwa melayani keluarga mengurangi kehormatan seorang suami, sunnah Nabi ﷺ mengajarkan sesuatu yang lebih indah.
Wallahu a’lam



