Mudah-mudahan Rabb kami mengganti untuk kami dengan yang lebih baik darinya

Surat Al-Qalam ayat 32
عَسَىٰ رَبُّنَا أَنْ يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِنْهَا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا رَاغِبُونَ
“Mudah-mudahan Rabb kami mengganti untuk kami dengan yang lebih baik darinya. Sesungguhnya kami berharap kepada Rabb kami.”
Ayat ini adalah ucapan para pemilik kebun dalam kisah di Surat Al-Qalam ketika mereka menyadari kesalahan mereka, lalu berharap Allah mengganti kerugian mereka dengan yang lebih baik.
Lepaskan rasa penyesalanmu dengan ayat ini pada setiap kesempatan yang hilang,
pada setiap pekerjaan yang engkau kehilangannya,
pada setiap kekasih yang terlepas dari genggamanmu di tengah perjalanan,
pada setiap teman yang engkau kira memiliki wajah yang indah (baik),
namun ternyata hanyalah topeng bagi luka yang menyakitkan.
Apa yang Allah ambil darimu, maka itu adalah hikmah,
dan apa yang Dia sisakan untukmu, maka itu adalah rahmat.
Jika engkau mengetahui hikmahnya, maka bersyukurlah.
Jika engkau belum memahaminya, maka bersabarlah.
Takdir Allah seluruhnya adalah kebaikan, meskipun ia menyakitkanmu.
Takdir-takdir Allah semuanya adalah kebaikan, meskipun ia membuatmu sedih.
Terkadang engkau melewati takdir yang sulit, menyakitkan, bahkan terasa panjang. Engkau mungkin menangis, merasa sakit, atau sesak. Yakinlah, jika engkau ridha, Allah akan menggantinya untukmu.
Jangan sibuk memikirkan bagaimana datangnya jalan keluar, karena jika Allah menghendaki sesuatu, Dia akan menyiapkan sebab-sebabnya dengan cara yang tidak terlintas dalam pikiran.
Setiap kali keberuntunganmu tersendat, engkau akan menyadari bahwa itu sebenarnya baik bagimu.
Dan setiap kali engkau tertimpa kekecewaan serta kehilangan hal-hal penting, engkau akan menemukan sesuatu yang lebih indah darinya.
Itu bukan kebetulan, tetapi itulah rahmat dari Allah ketika Dia menghibur dan memperbaiki hati-hati kita.
Beriman kepada qadha dan qadar adalah salah satu rukun iman. Iman seseorang tidak sempurna kecuali dengan meyakininya. Makna akidah ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu, Dia adalah Pencipta segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam semesta kecuali dengan kehendak dan kemauan-Nya. Semua itu telah Allah tuliskan di Lauhul Mahfuzh sebelum penciptaan langit dan bumi.
Al-Baghawi rahimahullah berkata dalam Syarh As-Sunnah:
الإيمان بالقدر فرض لازم، وهو أن يعتقد أن الله تعالى خالق أعمال العباد، خيرها وشرها، كتبها عليهم في اللوح المحفوظ قبل أن خلقهم، قال الله سبحانه وتعالى: والله خلقكم وما تعملون، وقال الله عز وجل: قل الله خالق كل شيء، وقال عز وجل : إنا كل شيء خلقناه بقدر. انتهى.
“Iman kepada qadar adalah kewajiban yang pasti, yaitu seseorang meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta perbuatan hamba, baik yang baik maupun yang buruk. Semua itu telah Dia tuliskan atas mereka di Lauhul Mahfuzh sebelum Dia menciptakan mereka.”
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat.”
Dan firman-Nya: “Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu.”
Dan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran (takdir).”
Tidak boleh bagi seorang muslim menelusuri rahasia takdir, dan tidak boleh bertanya: mengapa Allah melakukan ini? Mengapa yang ini diberi dan yang itu tidak? Mengapa yang ini dibuat kaya dan yang itu miskin? Hal ini termasuk perkara yang Allah khususkan bagi diri-Nya, yang tidak Dia tampakkan kepada malaikat yang dekat maupun nabi yang diutus. Siapa yang mencoba menyelami lautan ini, dikhawatirkan ia akan tersesat, sengsara, dan terhina.
Ath-Thahawi rahimahullah berkata:
وأصل القدر سر الله تعالى في خلقه لم يطلع على ذلك ملك مقرب ولا نبي مرسل والتعمق والنظر في ذلك ذريعة الخذلان وسلم الحرمان ودرجة الطغيان فالحذر كل الحذر من ذلك نظرا وفكرا ووسوسة فإن الله تعالى طوى علم القدر عن أنامه ونهاهم عن مرامه كما قال الله تعالى في كتابه: لا يسأل عما يفعل وهم يسألون، فمن سأل: لم فعل؟ فقد رد حكم الكتاب ومن رد حكم الكتاب كان من الكافرين.
“Asal pembahasan tentang takdir adalah rahasia Allah Ta’ala dalam makhluk-Nya, yang tidak diketahui oleh malaikat yang dekat maupun nabi yang diutus. Mendalami dan meneliti hal itu adalah sebab kehinaan, jalan menuju terhalang (dari kebaikan), dan tangga menuju kesesatan. Maka berhati-hatilah dari memikirkannya, merenungkannya, dan berbisik-bisik tentangnya. Sesungguhnya Allah menutup ilmu tentang takdir dari makhluk-Nya dan melarang mereka untuk mencarinya.”
Sebagaimana firman Allah: “Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sedangkan mereka yang akan ditanya.” Maka siapa yang bertanya: “Mengapa Dia melakukan itu?” berarti ia telah menolak hukum Al-Kitab, dan siapa yang menolak hukum Al-Kitab maka ia termasuk orang-orang kafir.
Beliau juga berkata:
وعلى العبد أن يعلم أن الله قد سبق علمه في كل كائن من خلقه فقدر ذلك تقديرا محكما مبرما ليس فيه ناقض ولا معقب ولا مزيل ولا مغير ولا ناقص ولا زائد من خلقه في سماواته وأرضه وذلك من عقد الإيمان وأصول المعرفة والاعتراف بتوحيد الله تعالى وربوبيته كما قال تعالى في كتابه : ( وخلق كل شيء فقدره تقديرا وقال تعالى: وكان أمر الله قدرا مقدورا ) فويل لمن صار لله تعالى في القدر خصيما وأحضر للنظر فيه قلبا سقيما لقد التمس بوهمه في محض الغيب سرا كتيما وعاد بما قال فيه أفاكا أثيما. انتهى.
“Seorang hamba harus mengetahui bahwa Allah telah mendahului dengan ilmu-Nya terhadap segala sesuatu yang terjadi dari makhluk-Nya. Dia menetapkan itu dengan ketetapan yang kokoh dan pasti, tidak ada yang dapat membatalkan, menentang, mengubah, mengurangi, atau menambahnya di langit maupun di bumi. Itu termasuk bagian dari ikatan iman, dasar pengetahuan, dan pengakuan terhadap tauhid serta rububiyah Allah.”
Sebagaimana firman Allah: “Dan Dia menciptakan segala sesuatu lalu menetapkannya dengan ukuran (takdir) yang sempurna.”
Dan firman-Nya: “Dan ketetapan Allah itu adalah suatu ketetapan yang pasti berlaku.”
Maka celakalah orang yang menjadikan dirinya sebagai penentang Allah dalam masalah takdir, dan menghadirkan hati yang sakit untuk menelitinya. Ia berusaha mencari rahasia tersembunyi dalam perkara gaib, namun akhirnya kembali dengan membawa kedustaan dan dosa.
Seorang muslim harus mengetahui bahwa keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengandung kebaikan dan hikmah. Maka seorang hamba hendaknya selalu ridha terhadap apa yang Allah tetapkan dan takdirkan, serta yakin bahwa ketetapan-Nya bagi seorang mukmin pasti baik, meskipun tampak sebagai keburukan di mata manusia.
{ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ }
[سُورَةُ البَقَرَةِ: ٢١٦]
Dan Allah Maha Mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.
Semoga bermanfaat.



