Fatawa Umum

Kalau Lupa Tahiyat Awal Lalu Sudah Terlanjur Berdiri Tegak, Apakah Harus Duduk Kembali Atau Dilanjutkan?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Izin bertanya Ustadz.

Jika di sholat dzuhur lupa tahiyat awwal lalu sedah terlanjur berdiri tegak, apakah kita harus duduk atau lanjutkan Ustad

Jazakallahu khairon

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba‘du:

Para fuqaha telah sepakat bahwa orang yang lupa tasyahhud awal, lalu makmum bertasbih mengingatkannya, atau ia teringat sendiri sebelum benar-benar tegak berdiri, maka ia wajib kembali duduk untuk tasyahhud. Namun, jika ia sudah berdiri tegak, maka ia tidak kembali duduk untuk tasyahhud karena ia telah masuk dalam rukun. Dalam hal ini ia sujud sahwi, berdasarkan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan lainnya dari al-Mughirah bin Syu‘bah:

إِذَا قَامَ الْإِمَامُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ فَإِنْ ذَكَرَ قَبْلَ أَنْ يَسْتَوِيَ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ وَإِنْ اسْتَوَى قَائِمًا فَلَا يَجْلِسْ وَيَسْجُدُ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ

“Jika imam berdiri pada dua rakaat (lupa tasyahhud awal), lalu ia teringat sebelum berdiri tegak, maka hendaklah ia duduk. Tetapi jika sudah berdiri tegak, maka janganlah ia duduk lagi, dan hendaklah ia sujud sahwi dua kali.”

Dan berdasarkan hadis yang terdapat dalam Shahihain (al-Bukhari dan Muslim) dari Abdullah bin Buhainah ra, ia berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ مِنْ اثْنَتَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ لَمْ يَجْلِسْ بَيْنَهُمَا فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berdiri (lupa) dari dua rakaat Zhuhur dan tidak duduk di antara keduanya (untuk tasyahhud awal). Ketika beliau menyelesaikan shalatnya, beliau sujud dua kali (sujud sahwi), kemudian beliau salam setelah itu.”

Dan Ibn Mājah meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمْ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلَا يَجْلِسْ وَيَسْجُدُ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ

“Apabila salah seorang dari kalian berdiri (lupa) dari dua rakaat dan belum berdiri tegak, maka hendaklah ia duduk kembali. Tetapi apabila ia sudah berdiri tegak, maka janganlah ia duduk, dan hendaklah ia sujud sahwi dua kali.”

Namun, para ulama berbeda pendapat jika ia tetap kembali duduk untuk tasyahhud setelah berdiri tegak: apakah shalatnya batal atau tidak?

Hanafiyah dan Syafi‘iyah berpendapat bahwa shalatnya batal jika ia kembali dengan sengaja dan mengetahui hukumnya.

Malikiyah (dalam pendapat masyhur) dan Hanabilah berpendapat shalatnya tidak batal, kecuali:

Menurut Hanabilah: jika ia sudah mulai membaca (al-Fatihah), lalu kembali, maka shalatnya batal.

Menurut Malikiyah: jika ia sudah menyelesaikan al-Fatihah, lalu kembali, maka shalatnya batal.

Al-Mardāwī berkata dalam al-Inṣāf, ketika menyebutkan beberapa pendapat dalam masalah ini, beserta perinciannya dalam madzhab Hanbali:

وَإِنْ نَسِيَ التَّشَهُدَ الْأَوَّلَ وَنَهَضَ لَزِمَهُ الرُّجُوعُ مَا لَمْ يَنْتَصِبْ قَائِمًا فَإِنْ اسْتَتَمَّ قَائِمًا لَمْ يَرْجِعْ وَإِنْ رَجَعَ جَازَ اعْلَمْ أَنَّهُ إِذَا تَرَكَ التَّشَهُدَ الْأَوَّلَ نَاسِيًا وَقَامَ إِلَى ثَالِثَةٍ لَمْ يَخْلُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ أَحَدُهَا أَنْ يَذْكُرَ قَبْلَ أَنْ يَعْتَدِلَ قَائِمًا فَهُنَا يَلْزَمُهُ الرُّجُوعُ لِلتَّشَهُدِ كَمَا جَزَمَ بِهِ الْمُصَنِّفُ هُنَا وَلَا أَعْلَمُ فِيهِ خِلَافًا وَيَلْزَمُ الْمَأْمُومَ مُتَابَعَتُهُ وَلَوْ بَعْدَ قِيَامِهِمْ وَشُرُوعِهِمْ فِي الْقِرَاءَةِ الْحَالُ الثَّانِيَةُ ذِكْرُهُ بَعْدَ أَنِ اسْتَتَمَّ قَائِمًا وَقَبْلَ شُرُوعِهِ فِي الْقِرَاءَةِ فَجَزَمَ الْمُصَنِّفُ أَنَّهُ لَا يَرْجِعُ وَإِنْ رَجَعَ جَازَ فَظَاهِرُهُ أَنَّ الرُّجُوعَ مَكْرُوهٌ وَهُوَ إِحْدَى الرِّوَايَاتِ وَهُوَ الصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ قَالَ فِي الْفُرُوعِ وَالْأَشْهَرُ يُكْرَهُ الرُّجُوعُ وَصَحَّحَهُ فِي النَّظْمِ قَالَ الشَّارِحُ الْأَوْلَى أَنْ لَا يَرْجِعَ وَإِنْ رَجَعَ جَازَ قَالَ فِي الْحَاوِي الْكَبِيرِ وَالْأَوْلَى لَهُ أَنْ لَا يَرْجِعَ وَهُوَ أَصَحُّ قَالَ فِي الْمُحَرَّرِ وَالْمُغْنِي أَوْلَى وَجَزَمَ بِهِ فِي التَّلْخِيصِ وَنَاظِمِ الْمُفْرَدَاتِ وَهُوَ مِنْهَا وَقَدَّمَهُ فِي مُجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ وَعَنْهُ يُخَيَّرُ بَيْنَ الرُّجُوعِ وَعَدَمِهِ وَعَنْهُ يَمْضِي فِي صَلَاتِهِ وَلَا يَرْجِعُ وُجُوبًا اخْتَارَهُ الْمُصَنِّفُ وَصَاحِبُ الْفَائِقِ وَعَنْهُ يَجِبُ الرُّجُوعُ وَأَطْلَقَهُمَا فِي الْفُرُوعِ الْحَالُ الثَّالِثَةُ ذِكْرُهُ بَعْدَ أَنْ شَرَعَ فِي الْقِرَاءَةِ فَهُنَا لَا يَرْجِعُ قَوْلًا وَاحِدًا كَمَا قَطَعَ بِهِ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ وَإِنْ شَرَعَ فِي الْقِرَاءَةِ لَمْ يَجُزْ لَهُ الرُّجُوعُ انْتَهَى

“Jika seseorang lupa tasyahhud awal lalu berdiri, maka ia wajib kembali selama ia belum tegak berdiri. Jika ia sudah berdiri tegak maka ia tidak kembali, namun bila ia kembali maka itu boleh.”

Ketahuilah, bahwa jika seseorang meninggalkan tasyahhud awal karena lupa lalu bangkit untuk rakaat ketiga, maka ia tidak lepas dari tiga keadaan:

1. Keadaan pertama: Ia teringat sebelum ia tegak berdiri, maka dalam hal ini ia wajib kembali duduk untuk tasyahhud, sebagaimana dipastikan oleh penulis kitab di sini. Aku tidak mengetahui adanya khilaf dalam hal ini. Makmum pun wajib mengikutinya, sekalipun mereka sudah terlanjur berdiri dan memulai bacaan.

2. Keadaan kedua: Ia teringat setelah berdiri tegak, namun sebelum memulai bacaan. Penulis kitab memastikan bahwa ia tidak kembali, tetapi jika ia kembali maka boleh. Ini menunjukkan bahwa kembali hukumnya makruh. Ini adalah salah satu riwayat, dan inilah yang shahih dalam madzhab. Dikatakan dalam al-Furū‘: pendapat yang lebih masyhur adalah makruh kembali. Dikuatkan dalam an-Nazhm. Asy-Syārih berkata: yang lebih utama adalah tidak kembali, namun jika kembali maka boleh. Dalam al-Hāwī al-Kabīr disebutkan: yang lebih utama adalah tidak kembali, dan inilah yang lebih shahih. Demikian juga dalam al-Muḥarrar dan al-Mughnī: lebih utama tidak kembali. Hal ini dipastikan dalam at-Talkhīṣ dan Nāẓim al-Mufradāt, dan ia termasuk masalah al-Mufradāt (kekhususan Hanabilah). Juga didahulukan dalam Majma‘ al-Baḥrayn. Ada pula riwayat yang mengatakan bahwa ia boleh memilih antara kembali atau melanjutkan. Ada pula yang mengatakan ia wajib melanjutkan shalatnya dan tidak boleh kembali. Ini dipilih oleh penulis kitab dan penulis al-Fā’iq. Dan ada juga riwayat yang mengatakan bahwa ia wajib kembali. Kedua pendapat itu disebutkan dalam al-Furū‘ tanpa perincian.

3. Keadaan ketiga: Ia teringat setelah memulai bacaan (al-Fātiḥah), maka dalam hal ini tidak boleh kembali menurut satu pendapat, sebagaimana dipastikan oleh penulis kitab dengan ucapannya: “Jika sudah memulai bacaan, maka tidak boleh baginya kembali.”

Dalam Asnā al-Maṭālib yang digabungkan dengan Rawḍ al-Ṭālib karya Zakariyya al-Anṣārī asy-Syāfi‘ī, ketika membahas tentang imam yang berdiri untuk rakaat ketiga:

وَإِنْ انْتَصَبَ قَائِمًا لَمْ يَعُدْ لِتَلَبُّسِهِ بِفَرْضٍ فَلَا يَقْطَعُهُ لِسُنَّةٍ فَإِنْ عَادَ عَالِمًا بِالتَّحْرِيمِ عَامِدًا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ لِزِيَادَتِهِ رُكْنًا عَمْدًا لَا إِنْ عَادَ جَاهِلًا فَلَا تَبْطُلُ لَكِنْ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ عِنْدَ تَعَلُّمِهِ وَلَا إِنْ عَادَ نَاسِيًا فَلَا تَبْطُلُ لَكِنْ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ إِنْ ذَكَرَ أَيْ عِنْدَ تَذَكُّرِهِ وَيَسْجُدُ فِيهِمَا لِلسَّهْوِ كَمَا صَرَّحَ بِهِ الْأَصْلُ

“Jika ia sudah berdiri tegak maka tidak kembali, karena ia sudah terikat dengan fardhu, sehingga tidak boleh memutusnya demi sunnah. Jika ia kembali dalam keadaan mengetahui keharaman hal itu dan sengaja melakukannya, maka batal shalatnya, karena ia menambah rukun dengan sengaja. Tetapi jika ia kembali dalam keadaan tidak tahu, maka shalatnya tidak batal, hanya saja wajib baginya berdiri kembali ketika ia mengetahui. Jika ia kembali karena lupa, maka shalatnya juga tidak batal, hanya saja wajib baginya berdiri kembali ketika ia ingat. Dalam kedua keadaan itu, ia sujud sahwi sebagaimana dijelaskan oleh kitab induk.”

Kemudian beliau berkata:

فَإِنْ انْتَصَبَا مَعًا أَوْ انْتَصَبَ الْإِمَامُ وَحْدَهُ ثُمَّ عَادَ فِيهِمَا لَزِمَ الْمَأْمُومِ الْقِيَامَ بِأَنْ يَسْتَمِرَّ فِي الْأُولَى قَائِمًا وَيَقُومَ فِي الثَّانِيَةِ لِوُجُوبِ الْقِيَامِ عَلَيْهِ فِيهَا بِانْتِصَابِ الْإِمَامِ وَأَمَّا فِي الْأُولَى فَإِمَامُهُ إِمَّا مُخْطِئٌ بِالْعَوْدِ فَلَا يُوَافِقُهُ فِي الْخَطَأِ أَوْ عَامِدٌ فَصَلَاتُهُ بَاطِلَةٌ وَلَهُ فِيهِمَا مُفَارَقَتُهُ وَلَوْ انْتَظَرَهُ قَائِمًا لِاحْتِمَالِ كَوْنِهِ عَادَ نَاسِيًا جَازَ لَكِنَّ الْمُفَارَقَةَ أَوْلَى فَإِنْ عَادَ مَعَهُ عَامِدًا عَالِمًا بِالتَّحْرِيمِ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ أَوْ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا فَلَا انْتَهَى

“Jika imam dan makmum sama-sama sudah berdiri tegak, atau imam saja yang berdiri tegak lalu kembali duduk, maka makmum wajib berdiri: tetap berdiri pada keadaan pertama, dan bangkit berdiri pada keadaan kedua. Karena berdiri menjadi wajib baginya setelah imam berdiri tegak. Adapun dalam keadaan pertama, imamnya salah dengan kembali, maka ia tidak boleh mengikuti imam dalam kesalahan. Jika imam sengaja kembali, maka batal shalatnya, dan makmum boleh memisahkan diri darinya. Jika ia menunggu imam dalam keadaan berdiri, dengan kemungkinan imam kembali karena lupa, maka hal itu boleh, namun yang lebih utama adalah memisahkan diri. Jika makmum ikut kembali bersama imam dalam keadaan sengaja dan tahu haramnya, maka batal shalatnya. Tetapi jika karena lupa atau tidak tahu, maka tidak batal.” Selesai.

Kesimpulan Praktis:

Jika imam kembali duduk sebelum benar-benar tegak berdiri, maka perbuatannya benar dan wajib diikuti oleh makmum.

Jika imam kembali duduk setelah berdiri tegak, maka shalatnya tetap sah jika ia tidak tahu, atau lupa, atau mengikuti pendapat ulama yang membolehkan. Namun, yang lebih utama adalah tidak kembali duduk, demi mengamalkan hadis dan keluar dari perselisihan ulama yang menyatakan shalatnya batal.

Imam hendaknya berhati-hati dalam menunaikan shalat agar sesuai dengan syariat, serta tidak menimbulkan kebingungan bagi makmum. Dan makmum hendaknya berbaik sangka kepada imam mereka serta mengikuti imam dalam perkara yang tidak mereka yakini sebagai kebatalan shalat.

Wallāhu a‘lam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button