Hadis

TENTANG SAKIT DALAM HADIS NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WASSALAM

TENTANG SAKIT DALAM HADIS NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WASSALAM

Penyakit adalah salah satu bentuk kelemahan manusia, dan ia merupakan ujian dari Allah ﷻ. Penyakit menimpa orang saleh maupun orang fasik, yang taat maupun yang bermaksiat. Tidak ada seorang pun di antara kita kecuali ia akan terkena penyakit, atau penyakit itu menimpa orang-orang di sekitarnya yang ia cintai.

ثَمَانِيَةٌ لا بُدَّ مِنْهَا عَلَى الْفَتَى

وَلَابُدَّ أَنْ تَجْرِي عَلَيْهِ الثَّمَانِيَةُ

سُرُورٌ وَهَمٌّ، وَاجْتِمَاعٌ وَفُرْقَةٌ

وَيُسْرٌ وَعُسْرٌ، ثُمَّ سُقْمٌ وَعَافِيَةٌ

“Ada delapan hal yang pasti dialami oleh seorang pemuda,

Dan pasti delapan itu akan berjalan atas dirinya:

Kegembiraan dan kesedihan, pertemuan dan perpisahan,

Kelapangan dan kesempitan, lalu sakit dan sehat.”

Penyakit memiliki banyak sisi keutamaan dan kebaikan bagi siapa yang bersabar dan ridha terhadap takdir Allah di dalamnya—diketahui oleh yang tahu dan diabaikan oleh yang tidak tahu. Banyak orang diuji dengan penyakit, namun ia lupa bahwa dalam penyakit terdapat anugerah. Dalam sunnah Nabi, penyakit adalah anugerah, bukan musibah murni.

Pertama: Penghapus Dosa

Ketika seorang Muslim bersabar, dosa-dosanya dihapus, kebaikannya bertambah, dan derajatnya diangkat. Itu berlaku untuk seluruh bentuk kesakitan dan penyakit, serta musibah dunia dan segala kesusahannya.

Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

( ما يصيب المسلم من نصب (تعب) ولا وصب (وجع وألم)، ولا هم ولا حزن، ولا أذى ولا غم، حتى الشوكة يشاكها، إلا كفر الله بها من خطاياه ) رواه البخاري .

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa rasa lelah, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan—bahkan duri yang menusuknya—kecuali Allah akan menghapus dengan itu sebagian kesalahan-kesalahannya.”

(HR. Bukhari)

Maka penyakit—meskipun secara lahiriah tampak sebagai cobaan dan musibah—namun pada hakikatnya ia membawa kebaikan dan karunia. Pada setiap orang yang sakit terdapat anugerah Rabbani, hadiah-hadiah Nabawi, dan buah kesabaran yang sangat besar dalam menghadapi penyakit, menurut sunnah Nabi. Di antara keutamaannya adalah:

Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

( دخلت علي رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ وهو يوعك، فمسسته بيدي فقلت: يا رسول الله: إنك توعك وعكا شديدا، فقال ـ صلى الله عليه وسلم ـ: أجل، إني أوعك كما يوعك رجلان منكم، قلت: ذلك بأن لك أجرين، قال: أجل ذلك كذلك، ثم قال: ما من مسلم يصيبه أذى شوكة فما فوقها إلا كفر الله ـ تعالى ـ بها سيئاته، كما تحط الشجرة ورقها ) رواه البخاري، وفي رواية مسلم: ( ما من مسلم يصيبه أذى من مرض فما سواه ، إلا حط الله به سيئاته ، كما تحط الشجرة ورقها ) .

“Aku masuk menemui Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang terserang demam. Aku menyentuh beliau dengan tanganku dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sungguh engkau sedang demam berat sekali.’ Maka beliau ﷺ bersabda: ‘Benar. Aku mengalami demam sebagaimana dua orang dari kalian mengalaminya.’ Aku berkata: ‘Apakah karena engkau mendapat dua pahala?’ Beliau bersabda: ‘Benar, begitu adanya.’ Lalu beliau bersabda: ‘Tidaklah seorang Muslim tertimpa gangguan, walaupun hanya duri atau lebih dari itu, kecuali Allah menghapus dengan itu dosa-dosanya, sebagaimana pohon merontokkan daun-daunnya.’”

(HR. Bukhari)

Dalam riwayat Muslim:

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa gangguan karena sakit atau selainnya, kecuali Allah merontokkan dengan itu dosa-dosanya sebagaimana pohon merontokkan daun-daunnya.”

Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda:

 ( ما يصيب المسلم من نصب ولا وصب، ولا هم ولا حزن، ولا أذى ولا غم حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه )

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa rasa lelah, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kegundahan—bahkan duri yang menusuknya—melainkan Allah menghapus dengan itu sebagian dari kesalahan-kesalahannya.”

(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa penyakit psikologis sama seperti penyakit fisik dalam menghapuskan dosa. Karena Nabi ﷺ bersabda:

( ما يصيب المسلم من نصب ولا وصب )،

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa nashab (kelelahan) dan washab (penyakit)” — ini semua adalah kondisi fisik.

Kemudian beliau bersabda: “… dan tidak pula ham (kegelisahan), huzn (kesedihan), dan ghamm (kegundahan).”

Ini semua adalah kondisi psikis.

Maka kegelisahan, kesedihan, dan kegundahan—yang merupakan penyakit kejiwaan—Allah ﷻ menjadikannya sebab untuk menghapus dosa sebagaimana penyakit fisik.

Dan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

( ما من مصيبة تصيب المسلم إلا كفر الله بها عنه حتى الشوكة يشاكها).

“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang Muslim kecuali Allah menghapus dengannya dosa-dosanya, bahkan duri yang menusuknya.”

(HR. Bukhari)

Dan Nabi ﷺ berkata kepada seorang sahabiyah bernama Ummu Al-‘Ala’ ketika ia sedang sakit:

( أبشري يا أم العلاء، فإن مرض المسلم يذهب الله به خطاياه كما تذهب النار خبث الذهب والفضة )

“Bergembiralah, wahai Ummu Al-‘Ala’. Sesungguhnya sakit yang menimpa seorang Muslim, Allah menghapuskan dengannya dosa-dosanya sebagaimana api membersihkan kotoran emas dan perak.”

(HR. Abu Dawud)

Kedua: “Mengangkat derajat:”

Di antara faidah dan buah dari kesabaran menghadapi penyakit adalah terangkatnya derajat seseorang. Terkadang seorang hamba memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah ‘azza wa jalla, namun ibadah dan amal saleh yang ia lakukan tidak cukup mengantarkannya untuk mencapai derajat tersebut. Maka Allah ‘azza wa jalla menguji dirinya dengan sebuah penyakit, lalu ia bersabar, sehingga ia pun dinaikkan ke derajat yang telah ditetapkan Allah baginya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

( إن العبد إذا سبقت له من الله منزلة لم يبلغها بعمله ابتلاه الله في جسده أو في ماله أو في ولده ثم صبره على ذلك حتى يبلغه المنزلة التي سبقت له من الله تعالى )

“Sesungguhnya seorang hamba, apabila Allah telah menetapkan baginya suatu kedudukan (yang tinggi) namun ia tidak mencapainya dengan amalnya, maka Allah mengujinya dalam tubuhnya, hartanya, atau anaknya. Kemudian Allah memberi taufik kepadanya untuk bersabar hingga ia mencapai kedudukan yang telah ditetapkan itu.”

— Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi ﷺ bersabda:

( ما من مسلم يشاك شوكة فما فوقها إلا كتب له بها درجة ومحيت عنه بها خطيئة )

“Tidaklah seorang Muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan Allah menetapkan baginya satu derajat (kebaikan) dan menghapus darinya satu kesalahan.”

— Diriwayatkan oleh Muslim.

An-Nawawi berkata:

( ما من مسلم يشاك شوكة فما فوقها إلا كتبت له بها درجة، ومحيت عنه بها خطيئة ) وفي رواية: ( وحط عنه بها )، وفي رواية: ( إلا كتب الله بها حسنة، أو حط عنه بها خطيئة ): في هذه الأحاديث بشارة عظيمة للمسلمين، فإنه قلما ينفك الواحد منهم ساعة من شيء من هذه الأمور، وفيه تكفير الخطايا بالأمراض والأسقام، ومصائب الدنيا وهمومها، وإن قلت مشقتها، وفيه رفع الدرجات بهذه الأمور، وزيادة الحسنات، وهذا هو الصحيح الذي عليه جماهير العلماء “.

“Ucapan Nabi ﷺ: ‘Tidaklah seorang Muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu melainkan dituliskan baginya satu derajat, dan dihapus darinya satu kesalahan.’

Dalam riwayat lain: ‘dan dikurangkan darinya karenanya’, dan dalam riwayat lain lagi: ‘kecuali Allah menulis baginya satu kebaikan atau menghapus darinya satu kesalahan’.

Dalam hadis-hadis ini terdapat kabar gembira yang sangat besar bagi kaum Muslimin, karena hampir tidak ada seorang pun dari mereka yang terlepas sesaat pun dari perkara-perkara semacam ini. Di dalamnya terdapat penegasan bahwa dosa-dosa dihapuskan melalui penyakit, gangguan, musibah dunia, dan berbagai kesedihan — meskipun kecil penderitaannya. Di dalamnya juga terdapat penjelasan bahwa derajat ditinggikan dan kebaikan ditambah melalui perkara-perkara tersebut.

Dan inilah pendapat yang benar menurut mayoritas ulama.”

Ketiga: Terus Mengalirnya Pahala dan Ganjaran

Apa saja amalan ketaatan dan ibadah yang biasa dilakukan oleh seseorang lalu ia terhalangi oleh sakit sehingga tidak mampu melakukannya, maka Allah ‘azza wa jalla dengan karunia-Nya tetap menuliskan pahala penuh untuknya seperti ketika ia sehat.

Dari Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

( إذا مرض العبد أو سافر، كتب الله تعالى له من الأجر مثل ما كان يعمل صحيحا مقيما ).

“Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, Allah Ta‘ala tetap menulis baginya pahala seperti apa yang biasa ia lakukan ketika ia sehat dan menetap.”

— Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani.

Keempat: Masuk Surga

Di antara penyakit-penyakit tertentu, Allah menjadikannya sebab seseorang masuk surga. Surga telah dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci (makarih), dan penyakit jelas termasuk di dalamnya.

Nabi ﷺ mengabarkan dari Rabb-nya ‘azza wa jalla bahwa orang yang diuji dengan hilangnya kedua matanya lalu ia bersabar, Allah akan menggantinya dengan surga:

( إن الله قال: إذا ابتليت عبدي بحبيبتيه (عينيه) فصبر، عوضته منهما الجنة )

“Sesungguhnya Allah berfirman: Jika Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya (hingga hilang pandangannya) lalu ia bersabar, maka Aku menggantinya dengan surga.”

— Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Dan Nabi ﷺ memberi kabar gembira dengan surga kepada seorang wanita berkulit hitam yang menderita penyakit ayan (epilepsi).

Dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, ia berkata:

Ibnu Abbas berkata kepadaku:

( ألا أريك امرأة من أهل الجنة؟، قلت بلى، قال: هذه المرأة السوداء، أتت النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قالت: إني أصرع، وإني أتكشف، فادع الله لي، قال: إن شئت صبرت ولك الجنة، وإن شئت دعوت الله أن يعافيك، قالت: أصبر، قالت: فإني أتكشف، فادع الله أن لا أتكشف فدعا لها )

“Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penghuni surga?”

Aku menjawab: “Tentu.”

Ia berkata:

“Wanita berkulit hitam ini datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: ‘Aku terkena ayan, dan (tatkala kambuh) auratku tersingkap. Maka doakanlah Allah agar menyembuhkanku.’

Nabi ﷺ bersabda:

‘Jika engkau mau, bersabarlah dan bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu.’

Wanita itu berkata:

‘Aku akan bersabar. Tetapi auratku tersingkap, maka doakanlah kepada Allah agar tidak tersingkap.’

Maka Nabi ﷺ berdoa untuknya.”

— Diriwayatkan oleh Muslim.

Wanita itu tetap mengalami ayan, tetapi auratnya tidak lagi tersingkap, menunjukkan betapa besar keinginannya menjaga kehormatan sekaligus mengejar pahala — radhiyallahu ‘anha.

Syair

قد ينعم الله بالبلوى وإن عظمت

ويبتلي الله بعض القوم بالنعم

“Terkadang Allah memberi nikmat melalui musibah, meskipun tampak berat;

Dan Allah menguji sebagian manusia dengan nikmat.”

Faedah: Memohon kepada Allah agar diberi ampunan dan keselamatan

Keselamatan (al-‘āfiyah) bagi seorang mukmin jauh lebih baik daripada ujian dan penyakit. Karena itu tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk menginginkan datangnya penyakit, sebab bisa jadi ia akan diuji dengan sesuatu yang tidak sanggup ia tanggung, dan mungkin ia tidak mampu bersabar atasnya. Akhirnya ia justru membenci takdir Allah, dan boleh jadi—na‘ūdzu billāh—ujian itu menyeretnya kepada kekafiran.

Maka dari itu, Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita agar senantiasa memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:

“Rasulullah ﷺ tidak pernah memasuki pagi atau petang melainkan beliau berdoa dengan kata-kata berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ، وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan berilah ketenteraman pada rasa takutku. Jagalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan dari atasku. Ya Allah, aku berlindung dengan keagungan-Mu agar aku tidak disergap dari bawahku.”

— Diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Dan termasuk doa Nabi ﷺ yang terkenal adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَسَيِّئِ الْأَسْقَامِ

 ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang (barash), kegilaan, kusta, dan dari penyakit-penyakit yang buruk.’ (HR. Tirmidzi).

Dan (beliau juga berdoa):

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ، وَالْأَعْمَالِ، وَالْأَهْوَاءِ، وَالْأَدْوَاءِ (الأمْرَاضِ)

 ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak yang buruk, perbuatan yang buruk, hawa nafsu yang buruk, dan penyakit-penyakit (yang membahayakan).’ (HR. Hakim).

Dan telah sah dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

( سلوا الله اليقين والعافية، فما أوتي أحد شيئا بعد اليقين خيرا من العافية، فسلوهما الله )

‘Mintalah kepada Allah yakin dan kesehatan, karena tidaklah seorang diberi sesuatu setelah keyakinan yang lebih baik daripada kesehatan. Maka mintalah keduanya kepada Allah.’ (HR. Ahmad).

Dan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

( ما من رجل رأى مبتلى، فقال (ولا يسمع المريض): الحمد لله الذي عافاني مما ابتلاك به، وفضلني على كثير ممن خلق تفضيلا، إلا لم يصبه ذلك البلاء كائنا ما كان ).

‘Tidaklah seseorang melihat orang yang terkena musibah (sakit atau cacat), lalu ia membaca—tanpa didengar oleh orang yang sedang sakit itu—:

 الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا

Alhamdulillahilladzī ‘āfānī mimmabtalāka bihī, wa fadhdhalanī ‘alā katsīrin mimman khalaqa tafdhīlā

(Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang menimpamu, dan telah memuliakanku di atas banyak makhluk lainnya dengan pemuliaan), melainkan ia tidak akan tertimpa musibah tersebut, apa pun bentuknya.’ (HR. Tirmidzi).”

Dengan pahala yang besar dan tingginya derajat bagi orang yang bersabar atas penyakitnya, maka sunnah Nabi ﷺ mengajarkan agar seorang Muslim tidak berharap sakit dan tidak mendoakan sakit untuk dirinya sendiri.

Dari Anas رضي الله عنه, beliau berkata:

( أن رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ عاد (زار) رجلا من المسلمين قد خفت (ضعف من شدة المرض)، فصار مثل الفرخ، فقال له رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ: هل كنت تدعو الله بشيء أو تسأله إياه؟، قال: نعم، كنت أقول: اللهم ما كنت معاقبي به في الآخرة، فعجله لي في الدنيا، فقال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ: سبحان الله! لا تطيقه ولا تستطيعه، أفلا قلت: اللهم آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة، وقنا عذاب النار؟، قال: فدعا الله به، فشفاه الله ).

“Bahwa Rasulullah ﷺ mengunjungi seorang Muslim yang kondisinya sangat lemah karena penyakit, sehingga tubuhnya menjadi kurus seperti anak ayam. Nabi ﷺ bertanya kepadanya: ‘Apakah kamu pernah memohon sesuatu kepada Allah atau meminta sesuatu?’ Dia menjawab: ‘Ya, saya biasa berkata: “Ya Allah, apa pun yang seharusnya Engkau hukumkan untukku di akhirat, percepatlah di dunia.”’ Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Subhanallah! Itu tidak sanggup kamu tanggung dan tidak mungkin bisa kamu jalani. Mengapa tidak kamu katakan: “Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa api neraka?”’ Kemudian dia mendoakannya, dan Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim)

Hal ini serupa dengan sabda Nabi ﷺ:

 ( يا أيها الناس ! لا تتمنوا لقاء العدو، واسألوا الله العافية، فإذا لقيتموهم فاصبروا، واعلموا أن الجنة تحت ظلال السيوف ).

“Wahai manusia! Janganlah kalian berharap bertemu musuh, tetapi mintalah keselamatan dari Allah. Apabila kalian bertemu mereka, bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga berada di bawah naungan pedang.” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi berkata:

” نهى عن تمني لقاء العدو لما فيه من صورة الإعجاب والاتكال على النفس والوثوق بالقوة وهو نوع بغي … وقد كثرت الأحاديث في الأمر بسؤال العافية، وهي من الألفاظ العامة المتناولة لدفع جميع المكروهات في البدن والباطن، في الدين والدنيا والآخرة، اللهم إني أسألك العافية العامة لي ولأحبائي ولجميع المسلمين ” .

“Beliau melarang berharap bertemu musuh karena hal itu menimbulkan rasa bangga, bergantung pada diri sendiri, dan mengandalkan kekuatan sendiri, yang merupakan salah satu bentuk kesalahan… Dan banyak hadits yang menganjurkan untuk meminta keselamatan dan kesehatan (‘al-‘āfiyah’), yang merupakan istilah umum untuk menolak segala hal yang tidak disukai baik bagi jasmani maupun batin, dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Misalnya: ‘Ya Allah, aku memohon keselamatan dan kesehatan yang menyeluruh untuk diriku, orang-orang yang kucintai, dan seluruh kaum Muslimin.’”

Penyakit termasuk sunnatullah dan takdir-Nya; tidak ada seorang pun yang terbebas darinya atau selamat darinya. Penyakit berbeda-beda antara orang yang satu dengan yang lain, dan antara satu jenis penyakit dengan penyakit lainnya. Seorang Muslim hanya diwajibkan bersabar atas apa yang menimpanya, menaruh di hadapannya pahala yang besar bagi orang yang bersabar atas penyakitnya, mencari pengobatan melalui cara-cara yang dibenarkan syariat, dan selalu memohon kepada Allah agar diberikan ampunan dan keselamatan (al-‘āfiyah).

Wallāhu a‘lam

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button