Motivasi Islami

Kisah Masuk Islamnya Dhimad al-Azdī radhiyallahu ‘anhu 

Kisah Masuk Islamnya Dhimad al-Azdī radhiyallahu ‘anhu

Setelah berlalu beberapa tahun dari dakwah Nabi ﷺ kepada penduduk Makkah, di mana beliau menghadapi berbagai bentuk kesulitan, penolakan, dan gangguan dari mereka, Islam mulai tersebar, dan jumlah orang yang menerima Islam dari luar Makkah semakin bertambah dari hari ke hari.

Di antara mereka yang Allah bukakan hatinya untuk menerima Islam adalah Dhimad al-Azdī, yang datang ke Makkah dan mendengar apa yang dikatakan oleh kaum Quraisy tentang Nabi ﷺ, bahwa beliau adalah seorang penyair atau orang gila.

Maka ia pun mendatangi Rasulullah ﷺ dan menawarkan untuk meruqyah beliau. Ternyata, pertemuan itu menjadi sebab masuk Islamnya Dhamad رضي الله عنه.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas رضي الله عنهما, ia berkata:

Dhimad datang ke Makkah, dan dia berasal dari kabilah Azd Syanu’ah. Ia biasa meruqyah orang-orang yang terkena gangguan jin. Maka ia mendengar sebagian orang bodoh dari penduduk Makkah berkata: “Sesungguhnya Muhammad itu orang gila.” Lalu ia berkata: “Sekiranya aku bisa melihat orang itu, barangkali Allah menyembuhkannya melalui tanganku.”

Maka ia pun bertemu Rasulullah ﷺ dan berkata:

“Wahai Muhammad, aku biasa meruqyah orang yang terkena gangguan ini (gangguan jin), dan Allah menyembuhkan siapa yang Dia kehendaki melalui tanganku. Apakah engkau ingin aku ruqyah?”

Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

 “إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ…”

Artinya:

“Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barang siapa yang disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba‘du (selanjutnya)…”

Dhimad pun berkata, “Ulangilah perkataanmu itu.”

Maka Rasulullah ﷺ mengulanginya tiga kali.

Kemudian Dhimad berkata:

لقد سمعت قول الكهنة، وقول السحرة، وقول الشعراء، فما سمعت مثل كلماتك هؤلاء، ولقد بلغن ناعوس البحر(أي وسطه)، قال: فقال: هات يدك أبايعك على الإسلام، قال: فبايعه، فقال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ: وعلى قومك؟، قال: وعلى قومي .

“Demi Allah, aku telah mendengar ucapan para dukun, ucapan para penyihir, dan ucapan para penyair, namun aku belum pernah mendengar perkataan seperti perkataanmu ini. Sungguh, kata-katamu ini telah sampai ke dasar laut (yakni sangat dalam maknanya).”

Lalu ia berkata:

“Ulurkan tanganmu, aku berbaiat kepadamu untuk masuk Islam.”

Rasulullah ﷺ pun membaiatnya, kemudian bersabda:

“Apakah (engkau berbaiat) juga untuk kaummu?”

Ia menjawab: “Ya, untuk kaumku juga.”

Kemudian Rasulullah ﷺ mengutus satu pasukan kecil. Ketika mereka melewati kaumnya Dhimad, pemimpin pasukan itu bertanya:

“Apakah kalian mengambil sesuatu dari kaum ini?”

Seorang prajurit menjawab: “Aku mengambil satu bejana air wudhu dari mereka.”

Pemimpin itu berkata: “Kembalikanlah, karena mereka adalah kaum Dhimad.”

(HR. Muslim, dan al-muthahharah adalah bejana untuk bersuci.)

*Pelajaran dari Kisah Islamnya Dhamad رضي الله عنه*

1. Kesabaran dan Kelapangan Hati Nabi ﷺ

Ketika Dhimad menawarkan untuk meruqyah beliau dari “penyakit gila”, itu adalah ucapan yang dapat memancing amarah. Namun Nabi ﷺ menyambutnya dengan sabar dan tenang, tidak marah dan tidak tersinggung. Beliau ﷺ dikenal sangat lapang dada dan tidak tersulut emosi oleh gangguan atau kebodohan orang lain.

Sebagaimana disebutkan dalam syair:

رحابة الصدر فيه غير خافية من أجلها عظمت فيهم مكانته

“Rahmat dan kelapangan dadanya tak tersembunyi, karenanya kedudukan beliau menjadi agung di antara manusia.”

Begitu banyak riwayat yang menunjukkan kesabaran luar biasa beliau ﷺ. Beliau adalah manusia paling penyabar, yang memaafkan orang yang berbuat salah, menasihati dan mendoakannya hingga hatinya dipenuhi cahaya Islam.

Contohnya adalah ketika Abu Sufyan dibawa kepada Nabi ﷺ, meskipun ia dulu termasuk orang yang paling keras memusuhi beliau, Nabi ﷺ tetap berkata kepadanya:

( ويحك يا أبا سفيان، ألم يأن لك أن تعلم أن لا إله إلا الله ؟، قال : بأبي أنت وأمي، ما أحلمك وأكرمك وأوصلك ) رواه الطبراني .

> “Celaka engkau wahai Abu Sufyan, tidakkah sudah waktunya engkau tahu bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah?”

Ia menjawab: “Demi ayah dan ibuku, alangkah sabar, mulia, dan baiknya engkau!”

(HR. ath-Thabarani)

2. Berkah “Khutbatul Hājah”

Dalam kisah ini, masuk Islamnya Dhimad bermula dari Khutbatul Hājah, yaitu khutbah yang diucapkan Nabi ﷺ sebelum memberi nasihat atau ceramah.

Khutbah ini berisi pujian kepada Allah, permohonan pertolongan dan ampunan kepada-Nya, pengakuan bahwa hidayah hanya di tangan Allah, serta dua kalimat syahadat yang menjadi inti agama dan kunci surga.

Nabi ﷺ sering membacanya dalam berbagai kesempatan dan mengajarkannya kepada para sahabat. Imam al-Albani bahkan menulis risalah khusus tentang khutbah ini karena banyaknya faidah yang dikandungnya.

3. Keindahan dan Keagungan Ucapan Nabi ﷺ

Di antara tanda-tanda kenabian beliau adalah keluasan makna dalam kalimat yang singkat. Rasulullah ﷺ diberi keistimewaan berupa jawāmi‘ al-kalim (ucapan yang singkat namun padat makna).

Dhimad رضي الله عنه mengakui hal ini ketika berkata:

“Aku telah mendengar ucapan para dukun, penyihir, dan penyair, tetapi belum pernah mendengar perkataan seperti ucapanmu ini. Sungguh, kata-katamu telah sampai ke dasar laut.”

Perkataan ini menunjukkan bahwa ucapan Nabi ﷺ memiliki keindahan, kekuatan makna, dan cahaya wahyu, berbeda jauh dari ucapan manusia biasa.

Allah Ta‘ala berfirman:

> { وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى • إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى }

“Dan dia (Muhammad) tidak berbicara dari hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.”

(QS. An-Najm: 3–4)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

فضلت على الأنبياء بست : أعطيت جوامع الكلم ، ونصرت بالرعب ، وأحلت لي الغنائم ، وجعلت لي الأرض طهورا ومسجدا ، وأرسلت إلى الخلق كافة، وختم بي النبيون ) رواه مسلم .

> “Aku dilebihkan atas para nabi dengan enam perkara: aku diberi jawāmi‘ al-kalim, ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan di hati musuh), dihalalkan bagiku harta rampasan perang, dijadikan bumi sebagai tempat sujud dan alat bersuci, aku diutus untuk seluruh manusia, dan kenabian ditutup denganku.” (HR. Muslim)

4. Hidayah Hanya di Tangan Allah

Allah Ta‘ala berfirman:

> { إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ }

“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. al-Qashash: 56)

Banyak orang kafir telah mendengar perkataan Nabi ﷺ, bahkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi mereka tetap tidak beriman. Namun Dhimad hanya mendengar beberapa kalimat dari Nabi ﷺ—yang bukan ayat Al-Qur’an—dan langsung beriman tanpa ragu sedikit pun.

Ini menunjukkan bahwa hidayah sepenuhnya di tangan Allah. Bahkan, dari fitnah dan kebohongan Quraisy terhadap Nabi ﷺ yang menuduh beliau gila, Allah jadikan hal itu sebagai sebab keislaman Dhimad dan kaumnya.

Sebagaimana firman Allah:

> { وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ }

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”

(QS. al-Baqarah: 216)

5. Adab dan Kecerdasan Dhimad رضي الله عنه

Dhimad menunjukkan adab tinggi terhadap Allah dan terhadap Rasulullah ﷺ.

Ia berkata:

“Barangkali Allah menyembuhkannya melalui tanganku.”

Ia tidak mengaku bisa menyembuhkan sendiri, melainkan menisbatkan kesembuhan kepada Allah semata, serta mengaitkannya dengan kehendak-Nya:

“Dan Allah menyembuhkan siapa yang Dia kehendaki melalui tanganku.”

Adab semacam ini lahir dari penghormatan mendalam kepada Allah, bahkan sebelum ia masuk Islam.

Sedangkan adabnya terhadap Rasulullah ﷺ tampak jelas: ia tidak pernah mengulang tuduhan yang diucapkan orang bodoh Makkah (penyair, dukun, atau orang gila). Ia hanya berkata dengan sopan:

> “Wahai Muhammad, aku biasa meruqyah orang yang terkena gangguan ini.”

Ia juga berbicara dengan lembut dan penuh tawaran, bukan perintah atau ejekan:

> “Apakah engkau ingin aku ruqyah?”

Demikian pula kecerdasannya terlihat ketika ia segera membandingkan dalam benaknya antara ucapan Nabi ﷺ dan ucapan para penyair, penyihir, serta dukun. Seketika ia sadar bahwa ucapan Nabi ﷺ berasal dari Allah, bukan dari manusia.

Maka Dhimad datang kepada Nabi ﷺ untuk mengobati beliau, tetapi keluar dari majelis itu dalam keadaan beriman, dan bukan hanya dirinya, seluruh kaumnya pun masuk Islam.

Mungkin sebab utama dari keislamannya adalah adabnya yang luhur terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button