Ramadan 1447

Menghidupkan Malam Ramadan: Keutamaan Qiyamul Lail, Tarawih, dan Tahajud

Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kepada kita sehingga dapat kembali berkumpul di majelis ilmu, meski jarak memisahkan—bahkan ribuan kilometer—terutama saudara-saudari yang mengikuti dari Indonesia. Dengan nikmat teknologi, majelis ilmu bisa dihadiri dari mana pun. Namun nikmat ini harus kita syukuri dengan benar: ujung jari bisa menjadi jalan menuju surga jika dipakai untuk menuntut ilmu, membaca Al-Qur’an, zikir, dan dakwah; namun bisa pula menjadi pintu maksiat jika dipakai untuk hal yang dimurkai Allah. Semoga Allah melindungi kita semua.

Ramadan sebentar lagi akan kita masuki. Kita memohon kepada Allah kesehatan, keberkahan, dan taufik agar dipertemukan dengan Ramadan. Apa yang tahun lalu kurang dari target ibadah kita, semoga tahun ini bisa kita perbaiki dan raih dengan lebih maksimal.

Tema Penting Menjelang Ramadan: Qiyamul Lail

Di antara amalan yang sangat perlu dipersiapkan sebelum Ramadan adalah menghidupkan malam (qiyamul lail). Bila di luar Ramadan kita sering berat mengerjakannya, maka Ramadan adalah momentum terbaik. Karena jika bukan di Ramadan, kapan lagi? Sebab Ramadan adalah bulan yang pintu-pintu kebaikan terbuka lebar.

Nabi ﷺ menyampaikan bahwa di bulan Ramadan pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Maknanya: peluang beramal dan bertaubat terbentang luas. Maka jangan sampai kesempatan ini berlalu tanpa kita maksimalkan ibadah di dalamnya.

Qiyamul Lail dan Perintah Allah kepada Nabi ﷺ
Qiyamul lail bukan ibadah biasa. Ia adalah ibadah yang Allah perintahkan bahkan kepada Rasul-Nya ﷺ, manusia yang paling dicintai Allah. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ۝ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا﴾

“Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) pada malam hari kecuali sedikit.” (QS. Al-Muzzammil: 1–2).

Jika Nabi ﷺ yang sudah dijamin kedudukannya masih diperintah menghidupkan malam, maka bagaimana dengan kita yang penuh kekurangan?

Rahasia Besar Sepertiga Malam Terakhir
Di antara dalil paling agung tentang keutamaan qiyamul lail adalah hadis tentang turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Rasulullah ﷺ bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟

“Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya? Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya?’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini adalah momen kedekatan yang sangat istimewa: Allah memanggil hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang. Banyak masalah hidup, kegundahan, beban, dan kesempitan hati—sering kali akar masalahnya karena kita jauh dari Allah. Di sepertiga malam terakhir, hati lebih mudah ikhlas, lebih mudah tunduk, dan lebih jujur dalam munajat.

Jangan Ragu dengan Doa: Allah Mengijabah dengan Cara Terbaik

Sebagian orang berdoa agar dilunasi hutang, dimudahkan urusan, disehatkan, disembuhkan—namun belum melihat hasilnya. Jangan buru-buru su’uzhan kepada Allah. Bukan berarti doa ditolak. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa doa seorang Muslim tidak sia-sia; Allah mengijabah dengan salah satu dari beberapa bentuk: bisa disegerakan, disimpan sebagai pahala, atau diganti dengan yang lebih baik dan lebih maslahat.

Keutamaan Ibadah di Waktu Manusia Lalai

Waktu yang paling utama sering justru saat manusia banyak lalai: menjelang maghrib di hari Jumat, waktu-waktu fitnah dan kelengahan, dan terutama malam hari saat kebanyakan manusia tidur. Qiyamul lail adalah bukti cinta kepada Allah: ketika kasur empuk dan bantal nyaman ditinggalkan demi wudhu dan sujud.

Istilah Penting: Qiyamul Lail, Tarawih, dan Tahajud
Agar tidak rancu, berikut ringkasannya:

Qiyamul lail

Menghidupkan malam dengan ibadah: shalat, zikir, tilawah, doa, tadabbur, dan ketaatan lainnya. Puncaknya: sepertiga malam terakhir.

Tarawih

Bagian dari qiyamul lail yang dilakukan khusus pada malam-malam Ramadan, umumnya setelah shalat Isya. Dinamakan “tarawih” karena para sahabat dahulu beristirahat (tarwihah) di sela-sela rakaat, sebab shalatnya panjang.

Tahajud

Shalat malam yang dikerjakan setelah tidur terlebih dahulu. Jadi tahajud juga bagian dari qiyamul lail, hanya istilahnya khusus untuk shalat setelah tidur.

Teladan Nabi ﷺ dan Para Sahabat dalam Qiyamul Lail
Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ menghidupkan malam hingga bengkak kedua kakinya karena panjangnya berdiri dalam shalat. Ini menunjukkan betapa qiyamul lail adalah ibadah yang amat dicintai beliau.

Para sahabat pun demikian: Umar radhiallahu ‘anhu menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya menjelang sahur. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahkan membagi malam di rumahnya: sepertiga untuk dirinya, sepertiga untuk keluarganya, dan sepertiga untuk pembantunya—agar rumah itu tidak kosong dari shalat sepanjang malam.

Dalam perjalanan pun mereka menjaga qiyamul lail. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah shalat malam dalam safar, bahkan ada yang shalat di atas kendaraan sesuai kemampuan, menunjukkan semangat menghidupkan malam tidak terputus karena kondisi.

Jumlah Rakaat Tarawih: Luas dan Jangan Jadi Sumber Perpecahan

Pembahasan rakaat sering muncul tiap tahun: 11 atau 13 rakaat (seperti banyak riwayat dari shalat malam Nabi ﷺ), atau 20 rakaat (yang masyhur dipraktikkan di masa Umar radhiallahu ‘anhu bersama kaum Muslimin). Intinya: perkara ini memiliki keluasan. Ada yang mengejar bacaan panjang meski rakaat sedikit, ada yang nyaman rakaat lebih banyak dengan bacaan lebih ringan.

Yang penting: qiyamul lailnya hidup, hati hadir, dan konsisten selama Ramadan.

Keutamaan Shalat Bersama Imam Sampai Selesai
Di antara motivasi besar agar kita semangat tarawih adalah sabda Nabi ﷺ (maknanya): siapa yang shalat bersama imam sampai imam selesai, dicatat baginya pahala qiyamul lail semalam penuh. Ini dorongan agar kita tidak mudah pulang di tengah, dan memaksimalkan kesempatan pahala.

Bolehkah Tarawih di Atas Kendaraan Saat Safar?

Jika seseorang safar di malam Ramadan—misalnya di bus atau pesawat—maka pada prinsipnya ia bisa melakukan shalat sunnah malam sesuai kemampuan di atas kendaraan (menghadap kiblat semampunya saat takbiratul ihram, lalu mengikuti arah kendaraan bila sulit, menurut perincian fikih yang dikenal). Ini termasuk cara agar kesempatan qiyamul lail tidak hilang karena perjalanan.

Jadikan Ramadan Titik Balik

Qiyamul lail adalah kesempatan besar untuk dekat dengan Allah: waktu doa paling mustajab, waktu taubat, waktu memperbaiki diri. Target minimal yang realistis: bangun 10 menit sebelum Subuh untuk wudhu, dua rakaat, lalu berdoa dan istighfar dengan sungguh-sungguh. Siapa yang jujur mengetuk pintu Allah, tidak akan pulang dengan tangan kosong.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk sampai ke Ramadan, mengisinya dengan tarawih, tahajud, tilawah, zikir, dan amal saleh, serta menerima seluruh ibadah kita.

Imran Bukhari Ibrahim, Lc., M.H.

Mahasiswa S3 King Saud University, Fakultas Tarbiyah, Jurusan Dirasat Islamiyah, Prodi Fiqih dan Ushul Fiqih

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button