Motivasi Islami

Kunci-Kunci Khusyuk Dalam Salat (15)

Kunci-Kunci Khusyuk Dalam Salat (15)

Kunci-kunci khusyuk dalam salat

Ada beberapa kunci yang membantu orang yang salat untuk meraih kekhusyukan dalam salatnya, yaitu:

1. Iman yang jujur kepada Allah Ta’ala.

Sesungguhnya iman seorang hamba kepada Allah dan pengetahuannya tentang-Nya melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya merupakan salah satu sebab terbesar lahirnya kekhusyukan. Hal ini karena Allah berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ

Artinya: “Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya”. QS. Al Mu’minun: 1-2.

Maka Allah menyebutkan iman terlebih dahulu, lalu mengikutkannya dengan kekhusyukan. Iman menumbuhkan rasa takut dalam diri seorang hamba, menganugerahinya kekhusyukan dan ketenangan serta melimpahkan kepadanya kenikmatan dan ketentraman yang tidak ada bandingnya dan ketenangan jiwa yang tidak dapat digambarkan.

Adapun orang yang belum merasakan keimanan dan hatinya belum terpaut dengan hakikat keberadaan Allah serta tidak merasakan keutamaan dan hidayah-Nya, maka ia akan terus berada dalam kebingungan, tidak melihat (kebenaran), tidak menyadari nikmat Allah atasnya. Orang yang demikian itu jauh dari kekhusyukan, serta jauh dari ketenangan dan ketentraman.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Sesungguhnya apa yang ada di dalam hati berupa pengetahuan tentang Allah, kecintaan kepada-Nya, rasa takutnya kepada-Nya, harapan kepada-Nya, ketulusan beragama untuk-Nya, mempercayai semua kabar dari-Nya dan yang lain-lain, semuanya itu berbeda-beda pada setiap manusia dan bertingkat-tingkat dengan perbedaan yang sangat besar. Hal itu semakin kuat seiring bertambahnya pengetahuan seorang hamba tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, keagungan-Nya, perenungan kepadanya dalam ibadah, serta keterikatan hati dan kesibukan dengannya. Sampai ia benar-benar menyadari bahwa ia sangat membutuhkan Allah, bahkan kebutuhannya kepada-Nya lebih besar daripada kebutuhannya kepada makan dan minum. Karena tidak ada kebaikan baginya sampai ia menjadikan Allah satu-satu sembahannya yang dengannya ia merasakan ketenangan dan ketentraman, menikmati zikir kepada-Nya, dan merasa lapang bersamanya. Dan semua itu tidak akan terwujud kecuali dengan pertolongan Allah. Dan jika dalam hati seorang hamba ada sembahan selain-Nya maka itu akan merusak dan membinasakannya yang tidak akan ada lagi kebaikan bersamanya, dan siapa saja yang tidak ditolong oleh Allah untuk memperbaiki keadaannya, maka ia tidak akan menjadi baik. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah, sebagaimana tidak ada tempat berlindung dan tidak ada keselamatan kecuali kepada-Nya…”[1].

2. Tadabbur Al Qur’an.

Allah memerintahkan untuk mentadabburi Al Qur’an, merenungi nasehat-nasehatnya serta pelajaran dan peringatan yang terkandung di dalamnya. Karena Al Qur’an adalah kehidupan bagi hati dan kebahagiannya. Allah telah menjelaskan bahwa tidak ada alasan untuk meninggalkan tadabbur Al Qur’an. Seandainya AL Qur’an ini diturunkan kepada gunung-gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk, terbelah, dan hancur karena takut kepada Allah. Allah berfirman:

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ

Artinya: “Seandainya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah”. QS. Al Hasyr: 21.

Maka begitu pula hati-hati yang bercahaya yang menerima AL Qur’an dengan penuh pengagungan dan rasa takut, akan merasakan pengaruh yang sangat kuat darinya. Kulit-kulit mereka bergetar, jiwa-jiwa menjadi tenang dan hati-hati merasa tenteram dan lapang. Allah berfirman:

اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍ

Artinya: “Allah telah menurunkan perkataan yang terbaik, (yaitu) Kitab (Al-Qur’an) yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Oleh karena itu, kulit orang yang takut kepada Tuhannya gemetar. Kemudian, kulit dan hati mereka menjadi lunak ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dibiarkan sesat oleh Allah tidak ada yang dapat memberi petunjuk”. QS. Az Zumar: 23.

Kemudian air mata pun mengalir karena pengaruh yang mendalam. Ungkapan kata-kata tidak cukup untuk menggambarkan apa yang ada di hati mereka berupa rasa takut. Jika air mata telah berbicara, maka ia menjadi penjelas dari pengaruh ini yang menumbuhkan ketentraman dan ketenangan. Allah berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهٖٓ اِذَا يُتْلٰى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ سُجَّدًاۙ وَّيَقُوْلُوْنَ سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُوْلًا وَيَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا ۩

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah (dengan) bersujud. Mereka berkata, “Mahasuci Tuhan kami. Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti terlaksana.” Mereka menyungkurkan wajah seraya menangis dan ia (Al-Qur’an) menambah kekhusyukan mereka”. QS. Al Isra : 107 – 109.

3. Memperbanyak zikir kepada Allah.

Sesungguhnya zikir kepada Allah mewariskan kebahagiaan bagi orang beriman, kebahagiaan yang tidak diketahui kecuali oleh mereka yang hati-hatinya telah bercampur dengan manisnya iman, lalu terhubung dengan zikir kepada Allah.

Zikir dan tasbih kepada Allah adalah ketenangan yang memenuhi hati. Oleh karena itu, seorang hamba merasakan iman mengalir dalam dirinya sebagai akibat dari zikir kepada Allah. Allah berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram”. QS. Ar Ra’ad: 28.

Wahai saudaraku sesama Muslim, jadikanlah hatimu selalu dipenuhi dengan zikir kepada Tuhanmu. Ketahuilah bahwa zikir memiliki manfaat yang sangat banyak, bahkan tidak terhitung. Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah telah menguraikannya dalam sebuah pembahasan yang sangat berharga dan menarik, dalam kitabnya yang bermanfaat Al-Waabil ash-Shayyib[2].

4. Mujahadah.

Yaitu dengan menyadari bahwa engkau berada dalam peperangan melawan musuh yang selalu ada dan licik, yang senantiasa mengintaimu dan menunggu kesempatan. Maka berhati-hatilah agar tidak melemah di hadapannya walau sesaat. Usahakan engkau mempersiapkan dirimu sebelum masuk ke dalam salat: janganlah engkau memulai salat kecuali dengan jiwa yang kuat, terkumpul, dan hati yang hadir. Jika engkau telah masuk ke dalam salat, jangan menyerah kepadanya (setan) di tengah atau di akhir salat. Bahkan engkau harus terus melawan setan hingga di akhir salatmu, karena setan berusaha mengacaukan pikiran agar orang yang salat tidak memahami apa pun dari salatnya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Utsman bin Abil ‘Ash radiallahu ‘anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah, setan telah menghalangiku dari salat dan bacaanku, ia membuatnya rancu bagiku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah setan yang disebut Khanzab. Jika engkau merasakannya, berlindunglah kepada Allah darinya dan ludahlah ringan ke sebelah kiri tiga kali”. Utsman berkata: “Aku pun melakukannya, maka Allah pun menghilangkannya dariku[3].

Maka hendaklah orang yang salat terus berjuang dan bersungguh-sungguh. Jika ia tidak khusyuk dalam salat ini, hendaklah ia bertekad untuk khusyuk pada salat berikutnya. Jika kekhusyukannya masih sedikit, maka teruskan pada salat setelahnya, dan seterusnya. Hendaklah ia terus melawan setan tanpa merasa jemu dengan panjangnya perjuangan.

5. Mengagungkan kedudukan salat.

Dzul Nun rahimahullah berkata saat menggambarkan orang yang khusyuk dalam salat:

“Seandainya engkau melihat salah seorang dari mereka ketika berdiri untuk salat dan membaca, lalu ketika ia berdiri di mihrabnya dan memulai membaca firman Tuhannya, terlintas di hatinya bahwa kedudukan itu adalah kedudukan di mana manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam, niscaya hatinya akan bergetar dan akalnya terdiam”[4].

Orang yang diberi taufik adalah yang bersikeras melawan setan dan berjihad melawannya. Ketika seorang hamba berdiri dalam salat di posisi ini, setan akan memeranginya untuk melemahkan rasa agung kedudukan tersebut dalam dirinya, agar ia tidak melihat perbedaan antara kedudukan ini dengan kedudukan lainnya.

Jika engkau memahami hal ini, maka jelas bagimu bahwa dengan berdirimu itu engkau sedang mendekatkan diri kepada Tuhanmu, Pemilik keagungan, kemuliaan, dan kebesaran. Pantaskah engkau mendekat kepada-Nya dengan salat yang kosong dan tanpa kekhusyukan?

Maka ketahuilah -semoga Allah menjagamu- agungnya kedudukan ini agar engkau salat dengan salatnya orang-orang yang khusyuk, dan menyadari keagungan Dzat yang di hadapan-Nya engkau berdiri, semoga itu menjadi pendorong kuat bagimu untuk melaksanakannya dengan penuh ketundukan. Allah berfirman:

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ

Artinya: “(Apakah orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (azab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima Pelajaran”. QS. Az Zumar: 9.

6. Merasakan lezatnya ibadah dalam salat.

Bermunajat kepada Allah dalam salat adalah keindahan terbesar dalam kehidupan, sebuah kenikmatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah merasakannya. Seorang mukmin merasakan manisnya iman ketika ia berdiri dalam salat dengan tunduk, tenang batinnya, lapang jiwanya, dan hati yang hancur karena takut kepada Allah.

Ia hidup pada saat-saat itu di hadapan Rabbnya dan naik dalam derajat iman. Karena itu, imam para orang-orang yang khusyuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Bilal, tenangkanlah kami dengan salat”[5]. Salat adalah ketenangan abadi bagi jiwa-jiwa yang tenteram dan yakin kepada Rabbnya, serta beriman kepada akhiratnya, karena ia bermunajat kepada Dzat yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kelezatan yang dirasakan oleh orang-orang khusyuk dalam salat inilah yang dimaksud oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika berkata: “Sesungguhnya di dunia ini ada surga, barang siapa tidak memasukinya, ia tidak akan masuk surga akhirat”[6].

Kami tidak menyangka seorang Muslim yang telah menemukan kelezatan ini akan menyia-nyiakannya atau meremehkan usaha untuk meraihnya. Kelezatan salat ini akan semakin kuat seiring kuatnya cinta kepada Allah, dan melemah seiring lemahnya cinta tersebut. Maka bangkitlah dengan tekad yang jujur, kesungguhan dalam mujahadah, dan keikhlasan niat, agar engkau meraih kekhusyukan dalam salat. Inilah kelezatan yang jika tidak engkau rasakan di dunia, engkau akan menyesal di akhirat.

7. Tenang dan tidak tergesa-gesa dalam salat.

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- jika engkau termasuk orang yang menginginkan rasa takut dan khusyuk, serta ingin menambahkannya, bahwa melaksanakan salat dengan tenang dan perlahan merupakan inti dari kekhusyukan. Tergesa-gesa dalam salat sering kali menjadi sebab hilangnya kekhusyukan.

Diriwayatkan dari Abu Mas‘ud al-Badri radiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidak sah salat seseorang yang tidak menegakkan punggungnya dalam rukuk dan sujud”[7].

Dalam hadis Abu Hurairah radiallahu ‘anhu tentang orang yang salatnya buruk, ketika ia salat tanpa ketenangan dan ketundukan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Kembalilah dan salatlah, karena engkau belum salat”. Beliau mengulanginya tiga kali[8].

Dan diriwayatkan dari Anas radiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itulah salatnya orang munafik: ia duduk menunggu matahari, hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk setan, ia berdiri lalu mematuk (salat) empat rakaat, ia tidak mengingat Allah di dalamnya kecuali sedikit”[9].

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Jika khusyuk dalam salat itu wajib, dan ia mengandung ketenangan dan khusyuk, maka siapa yang mematuk seperti patukan burung gagak, ia tidak khusyuk dalam sujudnya. Siapa yang tidak tenang, ia tidak diam. Siapa yang tidak diam, ia tidak khusyuk dalam rukuk dan sujudnya. Dan siapa yang tidak khusyuk, maka ia berdosa dan bermaksiat”[10].

8. Muhasabah (introspeksi diri).

Yaitu senantiasa menghisab diri dan mencelanya atas perbuatan dan ucapan yang tidak semestinya yang dilakukan seorang Muslim siang dan malam. Semoga teguran ini menjadi dorongan kuat bagi lurusnya jiwa. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. QS. Al Hasy: 18.

Termasuk kelurusan jiwa adalah meneladani salat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pemimpin orang-orang yang khusyuk, “karena beliau salat hingga terdengar dari dadanya suara seperti bunyi periuk mendidih karena tangisan”[11], dan itulah buah dari kekhusyukan beliau.

Maka hisablah dirimu, wahai saudaraku, dan luruskanlah ia di atas jalan petunjuk. Umar bin al-Khaththab radiallahu ‘anhu berkata:

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan berhiaslah untuk hari diperlihatkan (amal)”[12].

Salah satu pintu muhasabah terbesar adalah muhasabah seorang Muslim terhadap salatnya, yang merupakan tiang agama. Muhasabah terhadap salat, rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, dan sunnah-sunnahnya adalah tanda taufik dan sebab keselamatan.

9. Melepaskan diri dari dunia saat salat.

Salah satu penghalang terbesar kekhusyukan adalah keterikatan kepada dunia.

Kebanyakan dari kita -kecuali yang dirahmati Allah- ketika berdiri dalam salat, pikiran kita tidak lepas dari dunia dan kesenangannya yang fana. Kita salat sementara hati tenggelam dalam lautan dunia dan lumpurnya yang kotor.

Sungguh mengherankan! Kita dipanggil untuk salat, untuk berdiri di hadapan Rabb langit dan bumi, dengan panggilan yang agung ini, namun kita berpaling darinya.

Mengherankan pula bagaimana Tuhan kita memanggil kita untuk salat, untuk bermunajat dan menyendiri bersama-Nya, lalu kita melupakannya dan sibuk dengan dunia dan perhiasannya yang hina dan fana.

Seluruh waktu -atau sebagian besarnya- kita berikan untuk dunia. Lalu bagaimana kita kikir terhadap beberapa saat untuk menyendiri di hadapan Rabb kita, yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu?.

Ketahuilah wahai saudaraku, jika engkau mengosongkan hatimu dari dunia dan kesenangannya, memohon pertolongan kepada Rabbmu, dan mengambil sebab-sebab kekhusyukan, niscaya engkau akan khusyuk dalam salatmu dan menemukan kelezatan munajat. Maka bersungguh-sungguhlah dan jangan lemah -Semoga Allah selalu bersamamu-.

10. Tidak banyak bergerak dalam salat kecuali karena kebutuhan:

Banyak bergerak dalam salat memalingkan seseorang dari kekhusyukan, menyibukkannya dari tadabbur, dan melemahkan kehadiran hati.

Diamnya anggota badan termasuk faktor terbesar yang membantu hadirnya hati dan melahirkan kekhusyukan.

Jabir bin Samurah radiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami dan bersabda:

“Mengapa aku melihat kalian mengangkat tangan seperti ekor kuda yang liar? Tenanglah dalam salat”[13].

Syaikhul Islam berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan ketenangan dalam salat, dan ini mencakup ketenangan dalam seluruh bagian salat”[14].

11. Bersegera datang ke masjid.

Semakin awal seseorang datang ke masjid ketika mendengar panggilan azan, semakin besar bantuannya untuk khusyuk.

Abu Hurairah radiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Seandainya manusia mengetahui pahala azan dan saf pertama, lalu mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan undian, niscaya mereka akan mengundinya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala bersegera, niscaya mereka akan berlomba-lomba kepadanya”[15].

Dalam hadis Ubay bin Ka‘b radiallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah salat Subuh bersama kami, lalu beliau bertanya:

“Apakah si fulan hadir?” Mereka menjawab: “Tidak”, Beliau bertanya lagi: “Apakah si fulan hadir?” Mereka menjawab: “Tidak”.

Beliau bersabda: “Sesungguhnya dua salat ini (Subuh dan Isya) adalah salat yang paling berat bagi orang-orang munafik. Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada padanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak. Dan sesungguhnya saf pertama itu seperti saf para malaikat. Seandainya kalian mengetahui keutamaannya, niscaya kalian akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya”[16].

Makna “seperti saf para malaikat” adalah dalam kedekatan mereka kepada Allah dan jauhnya mereka dari setan[17].

Ath-Thibi rahimahullah berkata: “Saf pertama diserupakan dengan saf malaikat dalam kedekatan mereka kepada imam, sebagaimana malaikat dekat kepada Allah”[18].

Maka jagalah sunnah ini, wahai saudaraku. Bandingkan dua orang: yang satu datang ke salat dari majelis sia-sia dan obrolan dunia, dan yang lain datang setelah mempersiapkan hatinya sebelumnya serta mengosongkannya dari dunia. Yang kedua lebih dekat kepada kekhusyukan dan keadaannya lebih baik daripada yang pertama.

12. Tidak salat saat makanan telah dihidangkan atau ketika menahan buang hajat.

Telah datang larangan salat dalam dua keadaan ini, karena hati tidak hadir sehingga kekhusyukan -yang merupakan inti salat- hilang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidak ada salat ketika makanan telah dihidangkan, dan tidak pula ketika menahan dua kotoran (kencing dan buang air besar)”[19].

Imam Nawawi rahimahullah berkata setelah menyebutkan hadis ini dan hadis-hadis lain semakna:

Hadis-hadis ini menunjukkan makruhnya salat ketika makanan telah dihidangkan dan seseorang ingin memakannya, karena hal itu menyibukkan hati dan menghilangkan kesempurnaan kekhusyukan. Demikian pula makruh salat ketika menahan buang air kecil atau besar, dan hal-hal lain yang sejenis yang menyibukkan hati dan menghilangkan kekhusyukan.

Kemakruhan ini berlaku menurut mayoritas ulama jika waktu salat masih lapang. Namun jika waktu sempit sehingga jika ia makan atau bersuci waktu salat akan habis, maka ia salat dalam keadaan tersebut demi menjaga kehormatan waktu, dan tidak boleh menunda salat[20].

Inilah pokok-pokok kunci yang membantu terwujudnya kekhusyukan dalam salat. Semakin banyak seorang yang salat mengambil bagian dari kunci-kunci ini, semakin terkumpul baginya kekhusyukan dan kehadiran hati yang tidak didapatkan oleh orang lain.

Orang yang paling khusyuk dalam salat adalah mereka yang menghimpun seluruh kunci ini dan bersungguh-sungguh untuk merealisasikannya serta mengamalkannya.

  1. . Kumpulan fatwa Syaikhul Islam (22/606).
  2. . Lihat buku tersebut (Hal 84), karena beliau menyebutkan bahwa zikir memiliki lebih dari seratus manfaat, dan beliau merinci tujuh puluh tiga di antaranya. Karena pentingnya manfaat-manfaat tersebut, kami kutipkan sebagian di antaranya:

    Zikir mengusir setan, menekannya, dan melemahkannya.

    Zikir mendatangkan keridaan Allah Yang Maha Pengasih.

    Zikir menghilangkan kesedihan dan kegundahan dari hati.

    Zikir menguatkan hati dan badan, serta menerangi wajah dan hati.

    Zikir menumbuhkan sikap inabah, yaitu kembali kepada Allah.

    Zikir mendatangkan kedekatan dengan Allah; sebanding dengan banyaknya zikir kepada Allah, demikian pula kedekatannya dengan-Nya, dan sebanding dengan kelalaiannya, demikian pula jauhnya dari-Nya.

    Zikir menjadi sebab Allah mengingat hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya:

    فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ تَكْفُرُوْنِ

    Artinya: “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu”. QS. Al Baqarah: 152.

    seandainya zikir tidak memiliki keutamaan selain ini saja, niscaya itu sudah cukup sebagai keutamaan dan kemuliaan.

    Zikir adalah cahaya bagi orang yang berzikir di dunia, cahaya di kuburnya, dan cahaya pada hari kebangkitannya, yang berjalan di hadapannya di atas shirath; tidak ada yang menerangi hati dan kubur seperti zikir kepada Allah.

    Dalam hati terdapat kekerasan yang tidak dapat dilunakkan kecuali dengan zikir kepada Allah; maka hendaklah seorang hamba mengobati kerasnya hatinya dengan zikir.

    Zikir menghidupkan hati. Diriwayatkan dari Syaikhul Islam rahimahullah bahwa beliau berkata: “Zikir bagi hati seperti air bagi ikan; bagaimana keadaan ikan jika ia berpisah dari air?”

  3. . HR. Muslim (4/1728) No. 2203.
  4. . Disebutkan oleh Abu Nuaim dalam bukunya Hilyatul Aulia (9/339).
  5. . HR. Ahmad (5/364), Abu Daud (7/339) No. 4986. Disahihkan oleh al Mundziri di dalam Mukhtasar sunan Abi Daud (3/365), dan juga al Iraqi di dalam Takhrij Hadis-Hadis Ihya Hal. 195.
  6. . Dinukil oleh Ibnul Qayyim sebagaimana dalam al mustadrak terhadap Majmu’ Fatawa (1/153).
  7. . HR. Abu Daud (1/226) No. 855, Tirmidzi (2/51) No. 265, An Nasaai (1/353) No. 1027, Ibnu Majah (1/282) No. 870. Tirmidzi berkata: “Hasan Sahih”, disahihkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Khulasatu al ahkam (1/395).
  8. . HR. Bukhari (1/152) No. 757, Muslim (1/297) No. 397.
  9. . HR. Muslim (1/434) No. 622.
  10. . Majmu’ Fatawa (22/558).
  11. . HR. Ahmad (26/238) No.16312, Abu Daud (1/238) No. 904, Tirmidzi dalam Syamaail No. 305, Nasaai (3/13) melalui jalur Tsabit dari Mutarrif dari ayahnya radiallahu ‘anhu ia berkata: … Lalu ia menyebutkan hadis di atas.

    Sanad hadis ini sahih, sebagaimana disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam sahihnya (2/53) dan juga Ibnu Hibban di dalam sahihnya (3/30), dan Nawawi dalam kitabnya al Khulasah (1/497), Ibnu Hajar berkata di dalam Fathul Baari (2/348): “Sanadnya kuat”.

  12. . HR. Ibnu Abi Syaibah dalam musannafnya (7/96) No. 34459, disebutkan oleh Abu Nuaim dalam kitabnya Hilyatu Aulia (1/52).
  13. . HR. Muslim (1/322) No. 430. Imam Nawawi berkata dalam syarah hadis ini (4/154): “Di dalamnya terdapat perintah untuk tenang dalam salat dan khusyuk serta kesungguhan dalam mengerjakannya”.
  14. . Fatawa (22/561).
  15. . HR. Bukhari (2/955) No. 2543, Muslim (1/325) No. 437.
  16. . HR. Abu Daud (1/416) No. 554, Sanadnya hasan.
  17. . Lihat: ‘Aun al Ma’bud (2/182).
  18. . Syarah Misykah Al Masaabih (4/1132).
  19. . HR. Muslim (1/393) No. 560 dari hadis Aisyah.
  20. . Syarah Nawawi Sahih Muslim (5/46).

Darul Idam, Lc., M.A.

Kandidat Doktor Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button