Hadis Badui Ketujuh: Amalan yang Mengantarkan ke Surga dan Menjauhkan dari Neraka

HADIS BADUI KETUJUH
Pertanyaan seorang Badui: Amalan yang Mengantarkan ke Surga dan Menjauhkan dari Neraka
صحيح ابن حبان ٣٧٤: أَخْبَرَنَا النَّضْرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُبَارَكِ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْعِجْلِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُوسَى، عَنْ عِيسَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ طَلْحَةَ الْيَامِيِّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْسَجَةَ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي عَمَلاً يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ، قَالَ: لَئِنْ كُنْتَ أَقْصَرْتَ الْخُطْبَةَ، فَقَدْ أَعْرَضْتَ الْمَسْأَلَةَ: أَعْتِقِ النَّسَمَةَ، وَفُكَّ الرَّقَبَةَ، قَالَ: أَوَ لَيْسَتَا بِوَاحِدَةٍ؟ قَالَ: لاَ، عِتْقُ النَّسَمَةِ أَنْ تَفَرَّدَ بِعِتْقِهَا، وَفَكُّ الرَّقَبَةِ أَنْ تُعْطِي فِي ثَمَنِهَا، وَالْمِنْحَةُ الْوَكُوفُ وَالْفَيْءُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الْقَاطِعِ، فَإِنْ لَمْ تُطِقْ ذَاكَ، فَأَطْعِمِ الْجَائِعَ، وَاسْقِ الظَّمْآنَ، وَمُرْ بِالْمَعْرُوفِ، وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ، فَإِنْ لَمْ تُطِقْ ذَلِكَ، فَكُفَّ لِسَانَكَ إِلاَّ مِنْ خَيْرٍ.
Kitab Shahih Ibnu Hibban
Bab Bab Shahih Ibnu Hibban
Shahih Ibnu Hibban 374: An-Nadharu bin Muhammad bin Al Mubarak mengabarkan kepada kami, ia berkata Muhammad bin Utsman Al ‘Ijli menceritakan kepada kami, ia berkata, Ubaidillah bin Musa menceritakan kepada kami, dari Isa bin Abdurrahman, dari Thalhah Al Yami, dari Abdurrahman bin ‘Ausajah, dari Al Barra bin ‘Azib, ia berkata, “Seorang badui suatu ketika datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ajarilah aku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga. Beliau bersabda, “Jika kamu datang meski hanya sebentar saja pada saat khutbah tadi, maka sungguh kamu akan mendapati keluasan masalah itu: Bebaskanlah setiap binatang yang bernyawa, dan lepaskanlah (merdekakanlah) budak. ” Ia berkata, ‘Tidakkah keduanya itu sama?” Beliau menjawab, “Tidak. Membebaskan binatang yang bernyawa merupakan perkara yang terpisah dengan membebaskan budak. Melepaskan budak adalah kamu membayar harganya. Berikanlah harta fai ’ yang berlimpah atas keluarga yang terputus (hubungan silaturahimnya). Kemudian jika kamu tidak mampu melakukan semua itu, maka berilah makan orang yang sedang kelaparan, berilah minum orang yang sedang kehausan, ajaklah orang untuk berbuat baik, dan cegahlah kemungkaran. Bila kamu masih tidak mampu juga, maka jagalah lisanmu agar tidak bicara kecuali kebaikan.”
Takhrij hadis
Hadis al-Barā’ bin ‘Āzib ini diriwayatkan melalui ‘Īsā bin ‘Abdir-Raḥmān, dan banyak perawi besar meriwayatkannya darinya. Di antara jalur-jalur tersebut adalah:
1. Al-Faḍl bin Dukayn (Abū Nu‘aim)
Diriwayatkan oleh:
Ibn Abī Shaybah (al-Musnad), Abū ‘Ubayd (al-Khuṭab), ar-Ruyānī (al-Musnad),
aṭ-Ṭaḥāwī (Aḥkām al-Qur’ān, Mushkil al-Āthār),
al-Bayhaqī (al-Kubrā, al-Ādāb, asy-Syu‘ab),
al-Ḥākim (al-Mustadrak),
serta melalui jalur-jalur lain hingga bertemu pada Abū Nu‘aim al-Faḍl bin Dukayn → ‘Īsā bin ‘Abdir-Raḥmān.
Dari jalur Abū ‘Ubayd diriwayatkan oleh Qiwām as-Sunnah; dari Abū Ṭāhir al-Faqīh diriwayatkan oleh al-Baghawī (Syarḥ as-Sunnah).
2. ‘Abdullāh bin al-Mubārak
Diriwayatkan oleh: al-Ḥusayn al-Marwazī (al-Birr wa aṣ-Ṣilah), Ibn Abī ad-Dunyā (aṣ-Ṣamt), al-Khallāl (al-Amr bil-Ma‘rūf), dan al-Khaṭṭābī (Gharīb al-Ḥadīth), semuanya kembali kepada ‘Abdullāh bin al-Mubārak → ‘Īsā bin ‘Abdir-Raḥmān.
3. Abū Dāwūd aṭ-Ṭayālisī
Diriwayatkan dalam Musnad Abī Dāwūd; dari jalurnya diriwayatkan pula oleh aṭ-Ṭaḥāwī, al-Khaṭīb, dan al-Bayhaqī.
4. Yaḥyā bin Ādam dan
5. Muḥammad bin ‘Abdullāh (Abū Aḥmad az-Zubayrī)
Diriwayatkan oleh Imām Aḥmad dalam Musnad; dari jalur Yaḥyā diriwayatkan oleh al-Kharā’iṭī (Makārim al-Akhlāq), dan dari Abū Aḥmad diriwayatkan oleh ad-Dāruquṭnī.
Faedah penting: ad-Dāruquṭnī menukil bahwa Sufyān ats-Tsawrī pernah menanyakan hadis ini kepada Abū Aḥmad az-Zubayrī, menunjukkan perhatian besar para imam terhadap hadis ini.
6. Mālik bin Ismā‘īl
Diriwayatkan oleh al-Bukhārī dalam al-Adab al-Mufrad.
7. ‘Ubaydah bin Ḥumayd
Diriwayatkan oleh ad-Dāruquṭnī dalam as-Sunan.
8. Muḥammad bin Sābiq
Diriwayatkan oleh ar-Ruyānī dalam al-Musnad.
9. ‘Ubaydullāh bin Mūsā
Diriwayatkan oleh Ibn Ḥibbān dalam aṣ-Ṣaḥīḥ.
10. Muḥammad bin Kathīr
Diriwayatkan oleh al-Baghawī dalam at-Tafsīr dan Syarḥ as-Sunnah.
11. ‘Abdul-Ḥamīd bin Ṣāliḥ
Diriwayatkan oleh ats-Tsa‘labī (al-Kasf wa al-Bayān); dari jalurnya juga diriwayatkan oleh Ibn al-Fākhar al-Aṣbahānī, al-Mizzī (Tahdhīb al-Kamāl), dan Ibn asy-Syajarī.
12. ‘Āṣim bin ‘Alī
Diriwayatkan oleh al-Qāḍī ‘Iyāḍ dalam al-Ghunyah melalui sanad panjang yang berujung pada ‘Āṣim bin ‘Alī → ‘Īsā bin ‘Abdir-Raḥmān.
Ringkasan/kesimpulan
Hadis al-Barā’ bin ‘Āzib ini berporos pada perawi ‘Īsā bin ‘Abdir-Raḥmān dan diriwayatkan oleh banyak imam besar melalui jalur-jalur yang beragam.
Banyaknya mutāba‘āt (penguat) dari perawi-perawi ternama menunjukkan ketersebaran dan kekuatan periwayatan hadis ini.
Hadis ini dihimpun dalam berbagai kitab besar: Musnad, Sunan, Shahih, Tafsir, dan kitab-kitab Adab dan Akhlak.
Perhatian para imam (bahkan Sufyān ats-Tsawrī menanyakannya) menegaskan nilai dan kedudukan hadis ini dalam bab amal sosial dan akhlak.
Penjelasan hadis
Orang-orang dahulu biasa bertanya kepada Nabi ﷺ tentang segala jalan kebaikan dan apa saja yang dapat mengantarkan ke surga. Nabi ﷺ pun mengajarkan dan membimbing mereka. Dalam hal ini terdapat bimbingan dan pendidikan bagi seluruh umat.
Dalam hadis ini, Al-Bara’ bin ‘Azib رضي الله عنه berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata: ‘Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dapat mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka.’”
Maksudnya: ajarkanlah kepadaku suatu amalan yang pasti, yang menjadi sebab aku masuk surga sejak awal, dan aku termasuk orang-orang yang selamat serta dijauhkan dari neraka. Maka Nabi ﷺ bersabda:
“Jika engkau telah meringkas ucapanmu, sungguh engkau telah mengajukan permintaan yang besar.”
Ini termasuk ungkapan Nabi ﷺ yang sangat fasih dan indah. Maknanya: meskipun engkau mengungkapkannya dengan kata-kata yang singkat, namun yang engkau minta adalah perkara yang agung.
Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan amalan yang dapat memasukkan ke surga dengan sabdanya:
“Bebaskanlah satu jiwa (عِتقُ النَّسَمة).”
Yang dimaksud dengan jiwa di sini adalah budak laki-laki atau perempuan. Makna membebaskannya adalah memerdekakannya dari perbudakan, yaitu dengan membelinya dari pemiliknya lalu membebaskannya.
Dan sabdanya:
“Dan lepaskanlah satu leher (فَكُّ الرَّقبة).”
Yaitu membayar harta yang dapat membebaskan seseorang dari utang, gadai, tawanan, atau perbudakan. Seakan-akan ia terikat dan terpenjara sampai harta tersebut dibayarkan.
Orang itu berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah keduanya sama?”
Ini adalah pertanyaan untuk menghilangkan kebingungan yang ada padanya: apakah memerdekakan dan melepaskan itu bermakna sama?
Maka Nabi ﷺ bersabda: “Tidak.”
Beliau menjelaskan perbedaan antara keduanya:
“Memerdekakan satu jiwa adalah engkau memerdekakannya secara sendiri,”
yaitu engkau sendirian menanggung seluruh biaya pembebasannya dari hartamu.
“Sedangkan melepaskan satu leher adalah engkau membantu dalam harganya,”
yaitu engkau ikut berpartisipasi dalam pembebasannya.
Dan sabdanya:
“Dan pemberian hewan yang banyak susunya (المِنحةُ الوَكوف).”
Yakni pemberian. Yang dimaksud di sini adalah unta, kambing, atau hewan perah, yang diberikan pemiliknya kepada orang lain agar ia dapat mengambil manfaat dari susunya dan bulunya selama hewan itu masih menghasilkan susu, lalu dikembalikan kepada pemiliknya ketika susunya telah kering.
Makna al-wakūf adalah: banyak susunya.
Dan sabdanya:
“Dan kebaikan (الفيء) kepada kerabat yang zalim,”
Yaitu berbuat lembut dan kembali berbuat baik kepada kerabat yang berbuat zalim kepadamu, seperti dengan memutus silaturahmi dan semisalnya.
Kemudian beliau bersabda:
“Jika engkau tidak mampu,”
yakni jika engkau tidak sanggup melakukan sesuatu dari amalan-amalan yang telah disebutkan,
“Maka tahanlah lisanmu kecuali dari kebaikan.”
Artinya: cegahlah lisanmu dari berkata buruk, dan cukupkan dengan berkata baik. Di dalamnya terdapat isyarat bahwa ini adalah tingkatan iman yang paling lemah.
Dalam hadis ini terdapat beberapa pelajaran:
1. Anjuran bagi seorang Muslim untuk mencari dan menelusuri sebab-sebab keselamatan di dunia dan akhirat dengan bertanya tentangnya.
2. Penjelasan tentang keutamaan memerdekakan budak dan membebaskan mereka.
3. Penjelasan keutamaan membebaskan seseorang dari ikatan utang, tawanan, atau perbudakan.
4. Penjelasan keutamaan memberi dan bersedekah dari hasil susu hewan.
5. Penjelasan keutamaan menahan lisan dari keburukan dan menggunakannya untuk kebaikan.
Semoga bermanfaat.



