Hadis

Hadis Badui Kedelapan: Ahlu Fatrah

*HADIS BADUI KEDELAPAN*

As-Suyuthi رحمه الله berkata:

“Kemudian kami mendapati bahwa hadis berikut diriwayatkan melalui hadis Sa‘d bin Abi Waqqash dengan lafaz yang serupa dengan riwayat Ma‘mar dari Tsabit dari Anas. Maka Al-Bazzar, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi meriwayatkannya melalui jalur Ibrahim bin Sa‘d, dari Az-Zuhri, dari ‘Amir bin Sa‘d, dari ayahnya, bahwa seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah ﷺ:

أن أعرابيا قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم أين أبي قال في النار قال فأين أبوك قال حيثما مررت بقبر كافر فبشره بالنار.

‘Di manakah ayahku?’ Beliau menjawab: ‘Di neraka.’ Ia bertanya lagi: ‘Lalu di manakah ayahmu?’ Beliau bersabda: ‘Di mana pun engkau melewati kuburan orang kafir, maka sampaikanlah kabar gembira kepadanya dengan neraka.’

Ini adalah sanad yang memenuhi syarat kedua syaikh (Al-Bukhari dan Muslim), sehingga wajib dijadikan pegangan lafaz ini dan didahulukan atas selainnya. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi menambahkan di bagian akhirnya: ‘Kemudian orang Badui itu masuk Islam, lalu berkata:

لقد كلفني رسول الله صلى الله عليه وسلم تعبا ما مررت بقبر كافر إلا بشرته بالنار”.

Sungguh Rasulullah ﷺ telah memberatkanku dengan suatu tugas; tidaklah aku melewati kuburan orang kafir kecuali aku menyampaikan kabar gembira kepadanya dengan neraka.’”

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami ‘Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas, bahwa ada seorang laki-laki berkata:

أن رجلا قال: يا رسول الله أين أبي قال: في النار، فلما قفى دعاه، فقال إن أبي وأباك في النار.

“Wahai Rasulullah, di manakah ayahku?” Beliau menjawab: “Di neraka.” Ketika orang itu berpaling, beliau memanggilnya kembali lalu bersabda: “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka.”

Hadis ini tidak hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim saja, tetapi juga diriwayatkan oleh sejumlah besar ahli hadis seperti Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi, Abu Ya‘la, Al-Bazzar, dan selain mereka. Hadis ini adalah hadis sahih sebagaimana ditegaskan oleh para ahli hadis. Hadis ini telah disahihkan oleh Muslim, Ibnu Hibban, Al-Jauzajani, Al-Baihaqi, Ibnu Katsir, Al-Albani, dan Al-Huwaini.

Saya berkata: Zahir dari metode As-Suyuthi menunjukkan bahwa beliau bermaksud bahwa hadis: “Di mana pun engkau melewati kuburan orang kafir maka sampaikanlah kabar gembira kepadanya dengan neraka” diriwayatkan dari Ma‘mar, dari Tsabit, dari Anas; dan juga diriwayatkan dari Az-Zuhri, dari ‘Amir bin Sa‘d, dari ayahnya. Adapun yang pertama, engkau telah mengetahui adanya kejanggalannya. Adapun yang kedua, maka aku berkata dengan memohon taufik dan keteguhan dari Allah:

Imam Ath-Thabrani berkata dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir (1/145/326): Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Nu‘aim Al-Wasithi, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa‘d, dari Az-Zuhri, dari ‘Amir bin Sa‘d, dari ayahnya (Sa‘d bin Abi Waqqash) رضي الله عنه, ia berkata:

جاء أعرابي إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال: إن أبي كان يصل الرحم وكان وكان فأين هو؟ قال: “في النار”، فكأن الأعرابي وجد من ذلك فقال: يا رسول الله فأين أبوك؟ قال: “حيث ما مررت بقبر كافر فبشره بالنار” قال: “فأسلم الأعرابي بعد فقال: لقد كلفني رسول الله صلى الله عليه و سلم تعبا ما مررت بقبر كافر إلا بشرته بالنار”.

Seorang Arab Badui datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: “Sesungguhnya ayahku dahulu menyambung silaturahim dan melakukan ini dan itu, maka di manakah ia?” Beliau menjawab: “Di neraka.” Maka seakan-akan orang Badui itu merasa berat mendengarnya, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, lalu di manakah ayahmu?” Beliau bersabda: “Di mana pun engkau melewati kuburan orang kafir, maka sampaikanlah kabar gembira kepadanya dengan neraka.” Ia berkata: “Kemudian orang Badui itu masuk Islam, lalu berkata: Sungguh Rasulullah ﷺ telah memberatkanku dengan suatu tugas; tidaklah aku melewati kuburan orang kafir kecuali aku menyampaikan kabar gembira kepadanya dengan neraka.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir (1/145/326), dan melalui jalurnya oleh Abu Nu‘aim dalam Ma‘rifat Ash-Shahabah (1/139), oleh Al-Bazzar dalam Musnad-nya (1/64–65), oleh Ibnu As-Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah (no. 596), dan melalui jalurnya oleh Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarah (3/204), serta oleh Ad-Daraquthni dalam Al-Ghara’ib Al-Afrad (1/128), oleh Al-Baihaqi dalam Dala’il An-Nubuwwah (1/191–192), dan oleh Qadhi Al-Maristan dalam Masyikhat-nya (no. 254), semuanya melalui jalur Ibrahim bin Sa‘d, dari Az-Zuhri, dengan sanad bersambung.

Al-Bazzar رحمه الله berkata:

“وهذا الحديث لا نعلم رواه إلا سعد، ولا علم رواه عن إبراهيم بن سعد إلا يزيد بن هارون”.

“Hadis ini tidak kami ketahui diriwayatkan kecuali oleh Sa‘d, dan tidak kami ketahui diriwayatkannya dari Ibrahim bin Sa‘d kecuali oleh Yazid bin Harun.”
Ad-Daraquthni رحمه الله berkata:

“تفرد به إبراهيم بن سعد عن الزهري عنه”.

“Ibrahim bin Sa‘d menyendiri dalam meriwayatkannya dari Az-Zuhri.”

Hadis ini disahihkan oleh Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi رحمه الله dan juga oleh Al-‘Allamah Al-Albani.

Saya berkata: Akan tetapi hadis ini memiliki ‘illat. Lalu apa masalahnya? Ia dinilai cacat karena irsal (terputus), sebab terjadi perbedaan dalam periwayatan dari Az-Zuhri:

– Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir (1/145/326) dan Abu Nu‘aim dalam Al-Ma‘rifah (1/139) meriwayatkannya melalui Muhammad bin Abi Nu‘aim Al-Wasithi; Al-Bazzar dalam Musnad-nya (1/64–65); Ibnu As-Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah (no. 596); dan Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarah (3/204) melalui Zaid bin Akhzam; dan Muhammad bin ‘Utsman bin Makhlad (riwayatnya hanya pada Al-Bazzar); mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun. Juga diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dalam Al-‘Ilal (4/334) melalui Al-Walid bin ‘Atha’ bin Al-Aghar; dan oleh Al-Baihaqi dalam Dala’il An-Nubuwwah (1/191–192) melalui Abu Nu‘aim Al-Fadhl bin Dukain.

Keempatnya (Al-Wasithi, Yazid bin Harun, Al-Aghar, dan Al-Fadhl bin Dukain) meriwayatkan dari Ibrahim bin Sa‘d, dari Az-Zuhri, dari ‘Amir bin Sa‘d, dari ayahnya, dengan sanad bersambung.

– Sedangkan Ibnu Majah meriwayatkannya dalam Sunan-nya (no. 1573) melalui Muhammad bin Isma‘il Al-Bakhtari, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, dari Ibrahim bin Sa‘d, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya, dengan lafaz yang sama dan sanad bersambung.

Saya berkata: Riwayat Muhammad bin Isma‘il ini adalah syadz (ganjil), karena menyelisihi Zaid bin Akhzam yang merupakan perawi tsiqah hafizh, dan Muhammad bin ‘Utsman bin Makhlad yang dinilai shaduq oleh Abu Hatim. Maka yang tampak, Muhammad meriwayatkannya mengikuti jalur umum namun ia keliru.

Dari sini dapat diketahui bahwa perkataan Al-Bushairi dalam Zawa’id Ibnu Majah yang menyatakan: “Sanadnya sahih” adalah tidak tepat.

– Ibrahim bin Sa‘d juga diselisihi oleh Ma‘mar bin Rasyid, yang meriwayatkannya dari Az-Zuhri secara mursal (terputus).

Riwayat ini dikeluarkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf (no. 19687) dari Ma‘mar, dari Az-Zuhri, ia berkata: Seorang Arab Badui datang … lalu menyebutkan hadis tersebut dengan lafaznya secara mursal.

Apabila hadis tersebut telah terbukti sah dari sisi sanad, maka perlu diketahui bahwa sebagian ulama menyebutkan adanya dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa ahlul fatrah (orang-orang yang hidup dan wafat sebelum diutusnya Rasul) akan diuji di akhirat, dan mereka tidak diazab karena keburukan yang mereka lakukan di dunia, karena Allah tidak mengazab manusia kecuali setelah adanya peringatan (risalah).

Mereka berdalil dengan sejumlah dalil, di antaranya firman Allah Ta‘ala:

وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا.{ سورة الإسراء15}.

“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”
(QS. Al-Isra’: 15)

Dan firman-Nya:

ولو أنا أهلكناهم بعذاب من قبله لقالوا ربنا لولا أرسلت إلينا رسولا فنتبع آياتك من قبل أن نذل ونخزى {سورة طـه134}

“Dan sekiranya Kami membinasakan mereka dengan suatu azab sebelum itu, niscaya mereka akan berkata: ‘Wahai Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan tercela?’” (QS. Thaha: 134)

Dan firman-Nya:

ولولا أن تصيبهم مصيبة بما قدمت أيديهم فيقولوا ربنا لولا أرسلت إلينا رسولا فنتبع آياتك ونكون من المؤمنين.{ سورة القصص47}

“Dan sekiranya mereka ditimpa suatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, lalu mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat-Mu dan termasuk orang-orang yang beriman?’”
(QS. Al-Qashash: 47)

Dan firman-Nya:

رسلا مبشرين ومنذرين لئلا يكون للناس على الله حجة بعد الرسل وكان الله عزيزا حكيما. { سورة النساء165}

“(Kami mengutus) para rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah diutusnya para rasul. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. An-Nisa’: 165)

Dan firman-Nya:

ذلك أن لم يكن ربك مهلك القرى بظلم وأهلها غافلون. {الأنعام131}

“Yang demikian itu adalah karena Rabbmu tidak membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya dalam keadaan lalai.”
(QS. Al-An‘am: 131)

Dan firman-Nya:

يا أهل الكتاب قد جاءكم رسولنا يبين لكم على فترة من الرسل أن تقولوا ما جاءنا من بشير ولا نذير فقد جاءكم بشير ونذير والله على كل شيء قدير.{ سورة المائدة19}

“Wahai Ahli Kitab, sungguh telah datang kepada kalian Rasul Kami, yang menjelaskan kepada kalian (agama Kami) setelah terputusnya para rasul, agar kalian tidak mengatakan: ‘Tidak datang kepada kami seorang pembawa kabar gembira dan tidak pula seorang pemberi peringatan.’ Maka sungguh telah datang kepada kalian seorang pembawa kabar gembira dan seorang pemberi peringatan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Ma’idah: 19)

Dan firman-Nya:

وهـذا كتاب أنزلناه مبارك فاتبعوه واتقوا لعلكم ترحمون*أن تقولوا إنما أنزل الكتاب على طآئفتين من قبلنا وإن كنا عن دراستهم لغافلين*أو تقولوا لو أنا أنزل علينا الكتاب لكنا أهدى منهم فقد جاءكم بينة من ربكم وهدى ورحمة فمن أظلم ممن كذب بآيات الله وصدف عنها سنجزي الذين يصدفون عن آياتنا سوء العذاب بما كانوا يصدفون{الأنعام:155-157}

“Dan inilah Kitab yang Kami turunkan yang penuh berkah, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kalian mendapat rahmat.
(Agar kalian tidak mengatakan): ‘Sesungguhnya Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan sebelum kami, dan kami lalai terhadap pelajaran mereka.’
Atau kalian mengatakan: ‘Sekiranya Kitab itu diturunkan kepada kami, niscaya kami lebih mendapat petunjuk daripada mereka.’ Maka sungguh telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Rabb kalian, petunjuk, dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan azab yang buruk karena mereka selalu berpaling.”
(QS. Al-An‘am: 155–157)

Dan firman-Nya:

وسيق الذين كفروا إلى جهنم زمرا حتى إذا جاؤوها فتحت أبوابها وقال لهم خزنتها ألم يأتكم رسل منكم يتلون عليكم آيات ربكم وينذرونكم لقاء يومكم هذا قالوا بلى ولكن حقت كلمة العذاب على الكافرين.{ سورة الزمر71}

“Dan orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam berkelompok-kelompok. Hingga apabila mereka sampai ke sana, pintu-pintunya dibukakan dan para penjaganya berkata kepada mereka: ‘Bukankah telah datang kepada kalian para rasul dari kalangan kalian sendiri yang membacakan ayat-ayat Rabb kalian dan memperingatkan kalian akan pertemuan dengan hari ini?’ Mereka menjawab: ‘Benar.’ Akan tetapi telah pasti ketetapan azab atas orang-orang kafir.”
(QS. Az-Zumar: 71)

Dan firman-Nya:

وللذين كفروا بربهم عذاب جهنم وبئس المصير *إذا ألقوا فيها سمعوا لها شهيقا وهي تفور*تكاد تميز من الغيظ كلما ألقي فيها فوج سألهم خزنتها ألم يأتكم نذير{ سورة الملك6-8}

“Dan bagi orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka, azab neraka Jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara menggelegak darinya, sedang neraka itu menyala-nyala.
Hampir-hampir neraka itu terpecah karena marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan orang, para penjaganya bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum datang kepada kalian seorang pemberi peringatan?’” (QS. Al-Mulk: 6–8)

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi رحمه الله lebih menguatkan dalil-dalil Al-Qur’an ini karena sifatnya qath‘i (pasti), sehingga didahulukan atas hadis-hadis ahad yang tampak bertentangan dengannya.

Beliau juga berdalil bahwa kaum Quraisy tidak didatangi seorang pemberi peringatan sebelumnya, dengan beberapa dalil, di antaranya firman Allah Ta‘ala:

لتنذر قوما ما أنذر آباؤهم فهم غافلون. {سورة يــس6}

“Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka dalam keadaan lalai.”
(QS. Yasin: 6)

Dan firman-Nya:

لتنذر قوما ما أتاهم من نذير من قبلك لعلهم يهتدون.{سورة السجدة3}

“Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang belum pernah didatangi seorang pemberi peringatan sebelum engkau, agar mereka mendapat petunjuk.”
(QS. As-Sajdah: 3)

Dan firman-Nya:

وما أرسلنا إليهم قبلك من نذير. {سورة سبأ44}

“Dan Kami tidak mengutus kepada mereka sebelum engkau seorang pemberi peringatan pun.”
(QS. Saba’: 44)

Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه الله menyebutkan bahwa dimungkinkan untuk mengompromikan dalil-dalil ini dengan hadis tersebut, yaitu dengan memahami bahwa Allah Ta‘ala telah memberitahukan kepada Nabi ﷺ bahwa kedua orang tersebut (ayah Nabi ﷺ dan ayah orang Badui) tidak akan beriman seandainya mereka diuji pada hari Kiamat, sehingga dengan demikian mereka berhak mendapatkan neraka.

Silakan merujuk Tafsir Ibnu Katsir, Adhwa’ Al-Bayan, dan kitab Daf‘u Iham Al-Idhthirab ‘an Ayat Al-Kitab, yang keduanya karya Syaikh Asy-Syinqithi. Anda akan menemukan dalam kitab-kitab tersebut banyak faedah yang berharga terkait pembahasan ini.

*Di sisi lain sebagian ulama mengatakan tidak ada pertentangan antara ayat dan hadis di atas*

Tidak ada pertentangan antara ayat dan hadis. Penjelasannya adalah bahwa firman Allah Ta‘ala:

( وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا ) الإسراء/15.

“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”
(QS. Al-Isra’: 15)

dan firman-Nya yang semakna:

( كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ * قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ ) الملك/ 8 ، 9 .

“Setiap kali dilemparkan ke dalamnya suatu golongan, para penjaganya bertanya kepada mereka: ‘Bukankah telah datang kepada kalian seorang pemberi peringatan?’ Mereka menjawab: ‘Benar, telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, tetapi kami mendustakannya dan berkata: Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kalian hanyalah dalam kesesatan yang besar.’”
(QS. Al-Mulk: 8–9)

menunjukkan bahwa Allah tidak mengazab siapa pun kecuali setelah tegaknya hujjah atas dirinya, yaitu dengan diutusnya seorang rasul dari Allah Ta‘ala kepadanya.

Maka siapa yang telah diutus kepadanya seorang rasul, atau telah sampai kepadanya risalah seorang rasul, sungguh hujjah telah tegak atasnya. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

(وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ) الأنعام/19 .

“Dan telah diwahyukan kepadaku Al-Qur’an ini agar aku memberi peringatan dengan-Nya kepada kalian dan kepada siapa pun yang sampai kepadanya.”
(QS. Al-An‘am: 19)

Adapun ahlul fatrah, yaitu orang-orang yang tidak sampai kepada mereka risalah seorang rasul, maka pendapat yang paling sahih tentang mereka adalah bahwa mereka akan diuji pada hari Kiamat.

Adapun hadis, maka Muslim meriwayatkan (no. 203) dari Anas رضي الله عنه:

” أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: ( فِي النَّارِ )، فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: (إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ) ” .

“Bahwa ada seorang laki-laki berkata: ‘Wahai Rasulullah, di manakah ayahku?’ Beliau menjawab: ‘Di neraka.’ Ketika orang itu berpaling, beliau memanggilnya kembali lalu bersabda: ‘Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka.’”

Dan Muslim meriwayatkan (no. 976) dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

(اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يَأْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا، فَأَذِنَ لِي).

“Aku meminta izin kepada Rabbku untuk memohonkan ampun bagi ibuku, namun Dia tidak mengizinkanku. Dan aku meminta izin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengizinkanku.”

Dua hadis ini menunjukkan bahwa kedua orang tua Nabi ﷺ berada di neraka.

Para ulama berkata: hal itu karena risalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam telah sampai kepada mereka, sehingga mereka bukan termasuk ahlul fatrah yang akan diuji.

An-Nawawi رحمه الله berkata dalam Syarh Muslim (3/79):

” فيه : أن من مات على الكفر فهو في النار ولا تنفعه قرابة المقربين.

وفيه : أن من مات في الفترة ، على ما كانت عليه العرب من عبادة الأوثان : فهو من أهل النار.

وليس هذا مؤاخذة قبل بلوغ الدعوة ؛ فإن هؤلاء كانت قد بلغتهم دعوة إبراهيم وغيره من الأنبياء، صلوات الله تعالى وسلامه عليهم.

وقوله صلى الله عليه وسلم: (إن أبي وأباك في النار) هو من حسن العشرة ، للتسلية بالاشتراك في المصيبة. ومعنى: (قَفَّى): ولى قَفَاه ، منصرفا” انتهى.

“Di dalamnya terdapat dalil bahwa siapa yang mati di atas kekafiran, maka ia di neraka, dan hubungan kekerabatan dengan orang-orang terdekat tidak bermanfaat baginya.

Di dalamnya juga terdapat dalil bahwa siapa yang mati pada masa fatrah dalam keadaan seperti orang-orang Arab dahulu yang menyembah berhala, maka ia termasuk penghuni neraka.

Hal ini bukanlah pengazaban sebelum sampainya dakwah, karena kepada mereka telah sampai dakwah Nabi Ibrahim dan para nabi selainnya—shalawat dan salam Allah atas mereka.

Ucapan Nabi ﷺ: ‘Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka’ termasuk akhlak pergaulan yang baik, untuk menghibur dengan berbagi musibah. Makna ‘قَفَّى’ adalah berpaling, yaitu pergi meninggalkan.” Selesai.

Syaikh Ibnu Baz رحمه الله pernah ditanya:

” نعلم أن من كان من أهل الجاهلية، أي: قبل مبعث النبي صلى الله عليه وسلم، فهو من أهل الفترة، وسؤالي عن حكم أهل الفترة ، لأنني سمعت حديثا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: أنه جاءه رجل فقال: أين أبي؟ فقال في النار فذهب الرجل يبكي فناداه فقال له إن: أبي وأباك في النار فهل هذا الحديث صحيح؟ أفيدونا أفادكم الله؟

فأجاب: الصحيح من أقوال العلماء أن أهل الفترة يمتحنون يوم القيامة، ويؤمرون ، فإن أجابوا وأطاعوا : دخلوا الجنة، وإن عصوا دخلوا النار .

وجاء في هذا عدة أحاديث عن أبي هريرة رضي الله عنه، وعن الأسود بن سريع التميمي، وعن جماعة، كلها تدل على أنهم يمتحنون يوم القيامة، ويخرج لهم عنق من النار، ويؤمرون بالدخول فيه، فمن أجاب صار عليه بردا وسلاما، ومن أبى التف عليه وأخذه وصار إلى النار، نعوذ بالله من ذلك.

فالمقصود : أنهم يمتحنون ، فمن أجاب وقبل ما طلب منه وامتثل دخل الجنة، ومن أبى دخل النار، وهذا هو أحسن ما قيل في أهل الفترة.

وأما حديث: إن أبي وأباك في النار : فهو حديث صحيح ، رواه مسلم في صحيحه: أن رجلا قال: يا رسول الله أين أبي؟ قال في النار فلما ولى دعاه وقال له إن أبي وأباك في النار. واحتج العلماء بهذا : على أن أبا النبي صلى الله عليه وسلم كان ممن بلغته الدعوة ، وقامت عليه الحجة، فلهذا قال: في النار، ولو أنه كان من أهل الفترة لم يقل له النبي صلى الله عليه وسلم هذا الكلام في حقه .

وهكذا لما استأذن ربه أن يستغفر لأمه نهي عن ذلك، ولكنه أذن له أن يزورها، ولم يؤذن له في الاستغفار لها .

فهذا يدل على أنهما بلغتهما الدعوة، وأنهما ماتا على دين الجاهلية، وعلى دين الكفر، وهذا هو الأصل في الكفار أنهم في النار، إلا من كان لم تبلغه الدعوة ، أعني دعوة الرسل عليهم الصلاة والسلام ؛ فهذا هو صاحب الفترة .

فمن كان في علم الله أنه لم تبلغه الدعوة ، والله سبحانه وتعالى أحكم الحاكمين ، وهو الحكم العدل، فيمتحنه يوم القيامة.

أما من بلغته دعوة الرسل في حياته، كدعوة إبراهيم وموسى وعيسى، وعرف الحق، ثم بقي على الشرك بالله : فهذا ممن بلغتهم الدعوة، فيكون من أهل النار; لأنه عصى واستكبر عن اتباع الحق، والله جل وعلا أعلم” انتهى

“Kami mengetahui bahwa orang-orang pada masa jahiliyah, yakni sebelum diutusnya Nabi ﷺ, termasuk ahlul fatrah. Pertanyaan saya tentang hukum ahlul fatrah, karena saya mendengar hadis bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: ‘Di manakah ayahku?’ Beliau menjawab: ‘Di neraka.’ Lalu orang itu pergi sambil menangis, kemudian beliau memanggilnya dan bersabda: ‘Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka.’ Apakah hadis ini sahih?”

Beliau menjawab:

“Pendapat yang benar di kalangan ulama adalah bahwa ahlul fatrah akan diuji pada hari Kiamat dan diperintah. Jika mereka menjawab dan taat, mereka masuk surga; jika mereka durhaka, mereka masuk neraka.
Telah datang beberapa hadis tentang hal ini dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Al-Aswad bin Sari‘ At-Tamimi, dan dari beberapa sahabat lainnya, semuanya menunjukkan bahwa mereka akan diuji pada hari Kiamat. Akan dikeluarkan bagi mereka leher (api) dari neraka dan mereka diperintahkan untuk masuk ke dalamnya. Siapa yang taat, maka api itu menjadi dingin dan keselamatan baginya; siapa yang menolak, api itu akan melilitnya dan menyeretnya ke neraka—kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

Kesimpulannya: mereka akan diuji. Siapa yang taat dan menerima perintah itu serta melaksanakannya, masuk surga; dan siapa yang menolak, masuk neraka. Inilah pendapat terbaik tentang ahlul fatrah.

Adapun hadis: ‘Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka,’ maka itu adalah hadis sahih, diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya. Para ulama berdalil dengan hadis ini bahwa ayah Nabi ﷺ termasuk orang yang telah sampai kepadanya dakwah dan hujjah telah tegak atasnya. Karena itu beliau bersabda: ‘Di neraka.’ Seandainya beliau termasuk ahlul fatrah, tentu Nabi ﷺ tidak akan mengatakan hal itu tentangnya.

Demikian pula ketika beliau meminta izin kepada Rabbnya untuk memohonkan ampun bagi ibunya, beliau dilarang; namun beliau diizinkan untuk menziarahi kuburnya, dan tidak diizinkan untuk memohonkan ampun baginya.

Ini menunjukkan bahwa dakwah telah sampai kepada keduanya, dan bahwa keduanya wafat di atas agama jahiliyah dan kekafiran. Hukum asal orang-orang kafir adalah di neraka, kecuali orang yang tidak sampai kepadanya dakwah—yakni dakwah para rasul ‘alaihimush shalah wat salam—maka dialah ahlul fatrah.

Siapa yang dalam ilmu Allah belum sampai kepadanya dakwah—dan Allah سبحانه وتعالى adalah seadil-adil Hakim—maka ia akan diuji pada hari Kiamat.

Adapun siapa yang telah sampai kepadanya dakwah para rasul dalam hidupnya, seperti dakwah Ibrahim, Musa, dan Isa, mengetahui kebenaran, namun tetap berada di atas kesyirikan kepada Allah, maka ia termasuk orang yang telah sampai kepadanya dakwah dan menjadi penghuni neraka; karena ia bermaksiat dan sombong dari mengikuti kebenaran. Allah جل وعلا Maha Mengetahui.”

Selesai dari Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb (hlm. 119).

Tidak boleh mengklaim adanya pertentangan antara Al-Qur’an dan hadis, dan tidak boleh mencela kesahihan hadis hanya karena dugaan adanya pertentangan. Wajib merujuk kepada para ulama untuk mengetahui yang benar dari yang lainnya.

Wallāhu a‘lam
Semoga bermanfaat.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button