Hadis

Faedah – Faedah dari Hadis Abu Umair (Bag.1)

Faedah – Faedah dari Hadis Abu Umair

(Fawāʾid Ḥadīṡ Abī ʿUmair)

Karya

Imam Abu al-Abbas Ahmad bin Abu Ahmad ath-Thabari Al-Baghdadi Asy-Syafi’i dikenal dengan julukan Ibnu al-Qash (wafat tahun 335 H)

Alih Bahasa:

Sadnanto Tarnya Sarngi

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Wahai Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kesabaran

Telah mengabarkan kepada kami guru kami Imam Hafiz Allamah Syihabuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Muzhaffar bin Abu Muhammad an-Nabulsi – semoga Allah memanjangkan usianya – melalui pembacaan saya di hadapannya pada hari Selasa tanggal 23 Jumadilakhir tahun 746 H. Ia berkata:

Telah mengabarkan kepada kami Imam Hafiz Zainuddin Abu Muhammad Abdullah bin Marwan bin Abdullah bin Fairuz al-Fariqi asy-Syafi‘i – semoga Allah merahmatinya – dengan ijazah. Ia berkata dan begitu pula orang lain, telah mengabarkan kepada kami Syekh Imam Hafiz Taqiyuddin Abu Amr Utsman bin Abdurrahman Ibnu Shalah dengan ijazah, telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Umar bin Abu Bakr al-Maqdisi melalui pembacaanku di hadapannya pada tahun 601 H di kota Mosul, telah mengabarkan kepada kami Hafiz Abu Said al-Khalil bin Abu ar-Raja’ bin Abu al-Fath ar-Rarani, telah mengabarkan kepada kami Hafiz Abu Abdullah Muhammad bin Abdil Wahid ad-Daqqaq, telah mengabarkan kepadaku Syekh al-Khatib Abu al-Fath Abdurrazzaq bin Hassan bin Said bin Hassan bin Muhammad al-Mani‘i al-Makhzumi melalui pembacaanku kepadanya sebanyak tiga kali, aku berkata kepadanya: Telah mengabarkan kepada kalian Syekh Abu Mas‘ud Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Abdulaziz al-Bajali ketika ia datang kepada kalian, telah menceritakan kepada kami Al-Qadhi Abu Muhammad al-Hasan bin Muhammad bin Musa bin Sandulah, telah menceritakan kepada kami Abu Ali az-Zajjaji, telah menceritakan kepada kami Abu al-Abbas Ahmad bin Abu Ahmad ath-Thabari, ia berkata:

Adapun kisah Abu Umair, maka aku akan menyebutkan riwayat-riwayatnya dan beberapa hukum dan faidah yang berkaitan dengan fikih, hadis, dan berbagai macam hikmah yang terkandung di dalamnya, agar orang yang mencela ahli hadis, tahu bahwa mereka (ahli hadis) justru lebih berhak dipuji, dan diam (dari mencela mereka) lebih pantas untuk dilakukan.

Sebab di dalam kisah itu terdapat enam puluh (hukum dan faidah) fikih, akan kami – insya Allah, dengan bantuan dan taufik Allah – sebutkan penjelasan dan perinciannya:

  1. Telah mengabarkan kepada kami Abu Khalifah bin al-Hubab al-Jumahi, telah menceritakan kepada kami Abu al-Walid ath-Thayalisi, telah menceritakan kepada kami Syu‘bah, dari Abu at-Tayyah, dari Anas bin Malik; bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepada seorang adik laki-laki (Anas) yang masih kecil:Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair (burung kecil itu)?
  2. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah al-Hadhrami dan Abu Ya‘la Ahmad bin Ali al-Mawshili, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr bin Jabalah al-Bashri, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Marwan, dari Hisyam, dari Muhammad, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam biasa mendatangi kami dan bergaul bersama kami, di antara kami ada seorang anak kecil yang dipanggil Abu Umair. Maka beliau bersabda: “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair?”
  3. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ghannam al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Waki‘, dari Syu‘bah, dari Abu at-Tayyah adh-Dhuba‘i, ia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik berkata: Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam biasa bergaul dengan kami, kami menghamparkan untuk beliau selembar tikar, lalu beliau salat di atasnya, kemudian berkata kepada saudaraku: “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair?
  4. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ahmad al-Khuza‘i, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Abu Umar al-Adani, telah menceritakan kepada kami Marwan bin Muawiyah al-Fazari, dari Humaid, dari Anas bin Malik, ia berkata: Ada seorang anak kecil putra dari Abu Thalhah yang kunyahnya (julukannya) adalah Abu Umair, apabila Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Ummu Sulaim, beliau suka bergurau dengannya. Suatu ketika beliau masuk dan mendapati anak itu sedang bersedih, beliau bertanya: “Mengapa Abu Umair bersedih?” Mereka menjawab: Wahai Rasulullah, burung kecilnya yang biasa diajak bermain telah mati, maka Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pun berkata: “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair?” Anas berkata: Aku tidak pernah menyentuh sesuatu pun baik kain wol maupun sutra, yang lebih lembut daripada telapak tangan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.
  5. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ali al-Mawshili, telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Abdullah, dari Humaid, dari Anas bin Malik: Bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam biasa mendatangi Ummu Sulaim, dan apabila berjalan beliau bertumpu, beliau pernah tidur di atas kasurnya – kemudian ia menyebutkan hadis tersebut secara panjang -.

Sadnanto. BA. MA

Kandidat Doktor Ulumul Hadis Universitas Islam Madinah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button