Ebook

Buku: Nasehat Berharga Menyambut Datangnya Bulan Ramadan

Download Pdfnya Klik

Nasehat Berharga Menyambut Datangnya Bulan Ramadan

Syaikh ‘Abdus Salām asy-Syuwai‘ir حفظه الله

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, kepada keluarga dan para sahabatnya, dengan salam yang banyak hingga hari kiamat. Amma ba‘du.

Ini adalah sebuah kata nasihat yang aku harap tidak akan terlalu panjang, insya Allah, yang sesuai dengan dekatnya kedatangan bulan Ramadan. Karena tinggal beberapa hari saja, lalu masuklah kepada kita bulan yang mulia ini.

Telah diriwayatkan dari Anas bahwa Nabi ﷺ dahulu memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan datangnya bulan Ramadan. Beliau bersabda:

«قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ كَرِيمٌ»

“Telah menaungi kalian bulan yang mulia.”

Lahiriah hadis Anas menunjukkan bahwa beliau mengucapkan perkataan ini sebelum masuknya bulan Ramadan, untuk mengingatkan mereka tentang keutamaan bulan tersebut dan mengingatkan mereka akan amal-amal di dalamnya.

Seorang muslim pada hari-hari seperti ini, sebelum masuk Ramadan, hendaknya mempersiapkan diri dengan dua perkara pokok.

Pertama: Berniat dan Bertekad untuk Taat

Hendaknya ia berniat dan berazam untuk melakukan ketaatan. Imam Ahmad Ç pernah berkata kepada putranya ‘Abdullah ketika putranya berkata, “Wahai ayahku, berilah aku wasiat.”

Maka beliau berkata:

“Wahai anakku, niatkanlah kebaikan. Karena engkau akan senantiasa dalam kebaikan selama engkau meniatkan kebaikan.”

Ibnu Muflih ketika menukil perkataan Imam Ahmad berkata: “Betapa agung wasiat ini dari seorang ayah yang penuh kasih kepada anaknya; ia menghimpun kebaikan dunia dan akhirat.”

Seseorang hendaknya meniatkan kebaikan dan bertekad melakukannya. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa niat seorang mukmin lebih sampai (lebih besar nilainya) daripada amalnya.

Apabila seseorang berniat melakukan amal saleh, lalu terhalang oleh sakit, kelemahan, kesibukan, atau halangan lainnya, maka Allah tetap memberinya pahala atas niatnya meskipun ia belum melakukannya.

Telah sah dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

«إِذَا مَرِضَ العَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مَا كَانَ يَعْمَلُ صَحِيحًا مُقِيمًا»

“Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka dituliskan baginya pahala seperti yang biasa ia lakukan ketika sehat dan mukim.” (HR. al-Bukhari).

Dan beliau ﷺ bersabda:

«مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ، وَمَنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ»

“Barang siapa berniat melakukan satu kebaikan lalu tidak melakukannya, maka dituliskan baginya satu kebaikan. Dan barang siapa berniat lalu melakukannya, maka dituliskan baginya sepuluh kebaikan.”

Ini termasuk rahmat Allah kepada umat yang lemah badannya dan pendek umurnya. Umur umat ini pendek dibandingkan umat-umat terdahulu. Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun:

﴿فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا﴾

“Maka ia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabūt: 14).

Bahkan disebutkan bahwa umur beliau mencapai 1050 tahun (jika riwayat itu sah). Maka seorang hamba hendaknya meniatkan kebaikan, karena sekadar niat yang sungguh-sungguh sudah diberi pahala jika terhalang dari pelaksanaannya.

Namun niat ini harus disertai perkara kedua.

Kedua: Mengetahui Apa yang Hendak Diniatkan

Tidak semua perkara boleh diniatkan, tetapi yang diniatkan adalah perkara yang disyariatkan. Maka seorang muslim, khususnya menjelang bulan mulia ini, hendaknya mengetahui apa yang disyariatkan dalam bulan Ramadan, agar ia bisa mempelajari hukumnya, melaksanakannya dengan benar, dan meniatkannya dengan tepat.

1. Puasa Ramadan

Amalan pertama adalah kewajiban berpuasa Ramadan. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ﴾

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Dan Allah berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Ini menunjukkan bahwa puasa Ramadan wajib atas setiap mukallaf yang mampu.

2. Qiyāmul-Lail (Shalat Malam)

Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Barang siapa menegakkan (shalat malam di bulan) Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dan beliau bersabda:

«مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَّدَمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Barang siapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Termasuk minimal yang bisa diraih seorang muslim adalah menjaga shalat Isya dan Subuh berjamaah. Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ شَهِدَ الْفَجْرَ فَكَأَنَّمَا قَامَ اللَّيْلَ كُلَّهُ»

“Barang siapa menghadiri shalat Isya, seakan-akan ia telah shalat setengah malam. Dan barang siapa menghadiri shalat Subuh, seakan-akan ia telah shalat seluruh malam.” (HR. Muslim).

3. Membaca Al-Qur’an

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ﴾

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda (antara yang benar dan batil).” (QS. Al-Baqarah: 185).

Nabi ﷺ setiap Ramadan didatangi Jibril untuk memuroja‘ah Al-Qur’an bersama beliau. Pada tahun wafatnya, beliau mengulanginya dua kali. Para ulama mengambil faedah bahwa dianjurkan mengkhatamkan Al-Qur’an minimal sekali dalam Ramadan.

4. Memakmurkan Masjid

Para sahabat dahulu berkata, “Apabila masuk Ramadan, kami menetap di masjid untuk menjaga puasa kami.”

Termasuk di dalamnya i‘tikaf. Disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Unais meminta kepada Nabi ﷺ agar diberi satu malam khusus untuk datang ke masjid karena ia tinggal di pedalaman. Maka beliau mengarahkannya ke malam ke-23. Ia pun mendatangi masjid malam itu hingga fajar.

Nabi ﷺ sendiri beri‘tikaf sepuluh hari terakhir Ramadan.

5. Banyak Bersedekah

Ibnu ‘Abbas berkata:

“Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan beliau paling dermawan pada bulan Ramadan ketika Jibril datang menemuinya.” (HR. al-Bukhari).

Termasuk di dalamnya zakat. Dan termasuk sedekah yang utama adalah memberi makan.

Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ»

“Barang siapa memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang itu.”

6. Menjaga Lisan

Seorang muslim hendaknya menjaga lisannya dari mencaci, mencela, dan ghibah. Nabi ﷺ bersabda:

«فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ»

“Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, maka hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Maka seorang muslim menjaga lisannya siang dan malam Ramadan.

Di hari-hari seperti ini, hendaknya kita meniatkan kebaikan dan mempelajari hukumnya. Jika telah belajar dan berniat sungguh-sungguh, lalu terhalang oleh safar, sakit, atau kesibukan, maka Allah dengan rahmat dan karunia-Nya akan memberinya pahala sesuai niatnya yang tulus.

Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Rabb ‘Arsy yang mulia, agar Dia menganugerahkan kepada kita semua hidayah dan ketakwaan, ilmu yang bermanfaat, dan hati yang khusyuk.

Semoga Allah meridhai kita dan kedua orang tua kita, mengampuni dosa-dosa kita, menutup aib-aib kita, dan memaafkan kesalahan kita.

Semoga Allah memahamkan kita dalam agama, mengingatkan kita dari Al-Qur’an apa yang kita lupa, dan mengajarkan kepada kita apa yang belum kita ketahui.

Semoga Allah menjaga negeri kita dari segala keburukan dan fitnah, menjaga keamanan dan keimanan di dalamnya, melanggengkan kesejahteraannya, serta memberi taufik dan keberkahan kepada para pemimpin kita.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.[1]

Sumber: https://youtu.be/8YepbgC9O8M?si=FNDXIf1qpdUObXP4

Tim Ilmiah Markaz Inayah

Markazinayah.com adalah website dakwah yg dikelola oleh Indonesian Community Care Center Riyadh, KSA. Isi dari website ini adalah kontribusi dari beberapa mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan di beberapa universitas di Arab Saudi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button