Belajar Tawakal dari Burung: Berusaha dengan Sungguh-Sungguh, Bersandar Hanya kepada Allah
Tadabur Hadis dan Faedah dari Syarah Para Ulama
Daftar Isi Artikel
- Hadis tentang Tawakal dan Rezeki
-
Faedah-Faedah Hadis Berdasarkan Penjelasan Para Ulama
- 1. Tawakal Merupakan Salah Satu Amalan Hati yang Paling Agung
- 2. Tawakal Merupakan Sebab Agung Datangnya Rezeki
- 3. Tawakal yang Benar Tidak Bertentangan dengan Usaha
- 4. Burung Mengajarkan Tawakal yang Disertai Kesungguhan
- 5. Jangan Menggantungkan Hati kepada Sebab-Sebab Duniawi
- 6. Tawakal Menuntut Kejujuran dalam Mencari Rezeki
- 7. Tawakal Bukan Alasan untuk Bermalas-malasan
- 8. Tawakal Harus Menyertai Seluruh Urusan Agama dan Dunia
- 9. Buah Tawakal adalah Kerelaan terhadap Ketentuan Allah
- Meneladani Tawakal Burung dalam Kehidupan
- Penutup
Di antara sebab yang mendatangkan ketenangan hati seorang mukmin adalah keyakinan bahwa Allah Ta‘ala telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya. Tidak ada satu pun makhluk yang terlepas dari pengetahuan, kekuasaan, dan pemeliharaan-Nya. Namun, keyakinan tersebut bukan alasan untuk meninggalkan usaha dan berpangku tangan.
Islam mengajarkan keseimbangan antara kesungguhan dalam berikhtiar dan ketulusan hati dalam bertawakal. Tangan tetap bekerja, langkah terus bergerak, tetapi hati tidak menggantungkan harapannya kepada selain Allah.
Rasulullah ﷺ menjelaskan hakikat tersebut melalui perumpamaan yang sangat indah, yaitu kehidupan seekor burung yang setiap pagi keluar mencari makan.
Hadis tentang Tawakal dan Rezeki
Dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ سَمِعَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
«لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا».
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. at-Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ahmad no. 205. At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.)
Dalam hadis ini terdapat dua kata yang menggambarkan keadaan burung:
- خِمَاصًا (khimāṣan): keadaan perut kosong karena lapar.
- بِطَانًا (biṭānan): keadaan perut terisi atau kenyang.
Imam as-Sindi menjelaskan bahwa burung keluar pada awal siang dalam keadaan lapar, kemudian kembali pada penghujung hari dengan perut terisi. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa burung tetap melakukan usaha untuk memperoleh makanan.
(Hāsyiyah as-Sindī ‘alā Sunan Ibn Mājah, 2/541)
Faedah-Faedah Hadis Berdasarkan Penjelasan Para Ulama
1. Tawakal Merupakan Salah Satu Amalan Hati yang Paling Agung
Hakikat tawakal bukan sekadar ucapan bahwa Allah akan memberikan pertolongan. Tawakal merupakan keyakinan dan ketergantungan hati yang sungguh-sungguh kepada Allah dalam memperoleh kemaslahatan dan menolak kemudaratan.
Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan:
«وَحَقِيقَةُ التَّوَكُّلِ: هُوَ صِدْقُ اعْتِمَادِ الْقَلْبِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ».
“Hakikat tawakal adalah ketulusan hati dalam bersandar kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Beliau menerangkan bahwa ketergantungan tersebut mencakup seluruh urusan dunia dan akhirat, disertai keyakinan bahwa hanya Allah yang memberikan manfaat, menolak mudarat, memberi, dan menahan pemberian.
Dengan demikian, tawakal bukan hanya berkaitan dengan pekerjaan, perdagangan, atau penghasilan, melainkan juga mencakup ibadah, pendidikan, kesehatan, keluarga, dan keselamatan.
Seseorang yang benar-benar bertawakal akan memohon pertolongan Allah dalam seluruh urusannya, sekaligus menyadari bahwa kemampuan dan keberhasilan yang diperolehnya merupakan karunia dari-Nya.
(Ibnu Rajab, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, 2/497)
2. Tawakal Merupakan Sebab Agung Datangnya Rezeki
Ibnu Rajab rahimahullah menyatakan ketika menjelaskan hadis ini:
«هَذَا الْحَدِيثُ أَصْلٌ فِي التَّوَكُّلِ، وَأَنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الَّتِي يُسْتَجْلَبُ بِهَا الرِّزْقُ».
“Hadis ini merupakan landasan dalam pembahasan tawakal, dan tawakal termasuk sebab paling agung untuk mendatangkan rezeki.”
(Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, 2/496–497)
Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Ayat ini menunjukkan bahwa tawakal merupakan sebab diperolehnya kecukupan dan pertolongan Allah.
Akan tetapi, kecukupan yang Allah berikan tidak harus berupa kekayaan yang berlimpah. Seorang hamba dapat memperoleh kecukupan melalui kemudahan memenuhi kebutuhannya, keberkahan rezeki, pertolongan ketika menghadapi kesulitan, atau ketenangan dan kerelaan terhadap ketentuan Allah.
Karena itu, ukuran kesempurnaan tawakal tidak ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki seseorang.
3. Tawakal yang Benar Tidak Bertentangan dengan Usaha
Di antara kesalahan dalam memahami tawakal adalah menganggap bahwa meninggalkan pekerjaan dan menunggu datangnya rezeki merupakan bentuk kesempurnaan keimanan.
Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan:
«فَالسَّعْيُ فِي الْأَسْبَابِ بِالْجَوَارِحِ طَاعَةٌ لَهُ، وَالتَّوَكُّلُ بِالْقَلْبِ عَلَيْهِ إِيمَانٌ بِهِ».
“Berusaha melalui sebab-sebab dengan anggota badan merupakan ketaatan kepada Allah, sedangkan bertawakal kepada-Nya dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya.”
(Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, 2/498)
Penjelasan ini memberikan kaidah penting bahwa tawakal dan ikhtiar tidak saling bertentangan.
Seorang pedagang perlu membuka usahanya, seorang petani perlu menanam, seorang pelajar perlu belajar, dan seseorang yang membutuhkan pengobatan perlu menempuh upaya yang diperbolehkan syariat.
Setelah melakukan usaha dengan benar, hati tetap bergantung kepada Allah, bukan kepada kemampuan pribadi atau sarana yang digunakan.
Allah Ta‘ala berfirman:
فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu‘ah: 10)
Ayat tersebut menggabungkan usaha mencari karunia Allah dengan perintah memperbanyak zikir kepada-Nya.
4. Burung Mengajarkan Tawakal yang Disertai Kesungguhan
Perumpamaan burung dalam hadis ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam.
Burung tidak mengetahui secara pasti di mana makanan akan ditemukannya. Ia juga tidak memiliki jaminan dari makhluk lain bahwa kebutuhannya akan terpenuhi. Namun, setiap pagi ia keluar mencari rezeki yang telah Allah tetapkan.
Imam al-Baihaqi rahimahullah menjelaskan:
«لَيْسَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى الْقُعُودِ عَنِ الْكَسْبِ، بَلْ فِيهِ مَا يَدُلُّ عَلَى طَلَبِ الرِّزْقِ».
“Dalam hadis ini tidak terdapat petunjuk untuk berhenti bekerja. Sebaliknya, terdapat petunjuk agar mencari rezeki.”
Al-Baihaqi menegaskan bahwa burung keluar pada pagi hari justru untuk mencari makanan.
Penjelasan beliau dinukil oleh Imam as-Suyuthi dalam Qūt al-Mughtadzī ‘alā Jāmi‘ at-Tirmidzī (2/567).
Pelajaran penting dari perumpamaan ini adalah bahwa rezeki berasal dari Allah, sedangkan usaha merupakan salah satu jalan yang ditetapkan-Nya untuk memperolehnya.
Burung tidak sekadar menunggu makanan datang ke sarangnya. Ia keluar, bergerak, dan mencari. Demikian pula seorang mukmin semestinya bersungguh-sungguh dalam menjalankan usaha yang halal tanpa kehilangan keyakinan kepada Allah.
5. Jangan Menggantungkan Hati kepada Sebab-Sebab Duniawi
Seseorang dapat memiliki pekerjaan yang baik, penghasilan tetap, usaha yang berkembang, dan berbagai sarana yang menjanjikan. Semua itu merupakan nikmat yang patut disyukuri.
Namun, seorang mukmin tidak boleh meyakini bahwa keberhasilan dan keselamatannya sepenuhnya berada di tangan sarana tersebut.
Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa manusia terkadang terlalu bergantung kepada sebab-sebab lahiriah hingga hatinya merasa tenang hanya karena memiliki sarana tersebut.
Beliau menerangkan bahwa apabila seseorang benar-benar menyandarkan hatinya kepada Allah, niscaya Allah dapat mendatangkan rezeki melalui sebab yang sederhana, sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung melalui kegiatan keluar dan kembali mencari makan.
(Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, 2/502)
Oleh sebab itu, bekerja keras merupakan perkara yang baik, tetapi merasa bahwa semua keberhasilan hanya berasal dari kecerdasan dan kemampuan pribadi merupakan kekeliruan.
Sebab harus ditempuh, tetapi hati tidak boleh diperbudak oleh sebab.
Ketika usaha memperoleh keberhasilan, seorang mukmin bersyukur. Ketika hasilnya belum sesuai harapan, ia tetap bersabar, mengevaluasi ikhtiarnya, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.
6. Tawakal Menuntut Kejujuran dalam Mencari Rezeki
Di antara faedah penting yang disebutkan oleh Imam al-Baihaqi adalah bahwa kekurangan tawakal dapat mendorong manusia terlalu mengandalkan kekuatan dan kecakapannya sendiri hingga melakukan perbuatan yang dilarang.
Beliau mengingatkan tentang orang-orang yang mengandalkan kekuatan pribadi, kemudian menempuh kebohongan, kecurangan, dan perilaku yang tidak jujur.
Sikap semacam itu bertentangan dengan hakikat tawakal.
(Dikutip dalam Qūt al-Mughtadzī, 2/567)
Seseorang yang meyakini bahwa Allah adalah pemberi rezeki seharusnya tidak menjadikan ketakutan kehilangan penghasilan sebagai alasan untuk melakukan kezaliman.
Ia tidak perlu menipu pembeli, mengurangi timbangan, melanggar amanah, atau mengambil hak orang lain demi mendapatkan keuntungan.
Bertawakal bukan berarti bebas dari rasa khawatir, tetapi keyakinan kepada Allah seharusnya membimbing seseorang agar tetap memilih jalan yang halal ketika menghadapi kesulitan ekonomi.
Rezeki yang dicari melalui ketaatan lebih patut diharapkan keberkahannya daripada keuntungan yang diperoleh melalui kemaksiatan.
7. Tawakal Bukan Alasan untuk Bermalas-malasan
Ibnu Rajab rahimahullah menukil sebuah atsar dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu tentang sekelompok orang yang mengaku sebagai orang-orang yang bertawakal.
Umar menegur mereka dan menjelaskan bahwa orang yang bertawakal adalah orang yang menaburkan benihnya di bumi kemudian bertawakal kepada Allah.
Atsar ini dinukil dalam pembahasan hubungan antara tawakal dan usaha pada Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam (2/507).
Maknanya sangat jelas: seorang petani tidak cukup hanya berdoa agar tanamannya tumbuh. Ia juga perlu menyiapkan lahan, menabur benih, dan melakukan perawatan sesuai kemampuannya.
Demikian pula orang yang memiliki kewajiban menafkahi keluarganya tidak sepatutnya meninggalkan usaha yang mampu dilakukannya dengan alasan bertawakal.
Tawakal yang benar justru mendorong seseorang menggunakan kemampuan yang Allah karuniakan dengan penuh tanggung jawab.
Adapun meninggalkan sebab yang wajib ditempuh hingga membahayakan diri atau menelantarkan kewajiban tidak dapat dijadikan sebagai ukuran kesempurnaan tawakal.
8. Tawakal Harus Menyertai Seluruh Urusan Agama dan Dunia
Hakikat tawakal tidak terbatas pada usaha mendapatkan penghasilan.
Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa seorang hamba juga harus bertawakal kepada Allah dalam melaksanakan ketaatan, menghindari kemaksiatan, dan memperoleh keselamatan di akhirat.
Beliau menerangkan bahwa amal ketaatan tetap wajib dikerjakan dengan memohon pertolongan Allah, sebab seorang hamba tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.
(Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, 2/499)
Seseorang yang ingin istiqamah dalam salat perlu berusaha menjaga waktunya sekaligus memohon taufik kepada Allah. Orang yang ingin menuntut ilmu perlu menghadiri majelis, membaca, dan mengulang pelajaran sambil memohon ilmu yang bermanfaat.
Demikian pula seseorang yang ingin meninggalkan kemaksiatan perlu menjauhi sebab-sebab yang mengantarkannya kepada dosa, disertai permohonan agar Allah menjaga hatinya.
Dengan demikian, tawakal merupakan bekal seorang mukmin dalam seluruh perjalanan hidupnya, bukan hanya ketika membutuhkan rezeki.
9. Buah Tawakal adalah Kerelaan terhadap Ketentuan Allah
Salah satu buah tawakal adalah hati yang semakin mampu menerima ketentuan Allah setelah melakukan usaha yang dibenarkan.
Ibnu Rajab rahimahullah menyatakan:
«وَاعْلَمْ أَنَّ ثَمَرَةَ التَّوَكُّلِ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ».
“Ketahuilah bahwa buah tawakal adalah kerelaan terhadap ketetapan Allah.”
Beliau menjelaskan bahwa orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah dan menerima apa yang Allah tetapkan serta pilihkan baginya telah merealisasikan tawakal.
(Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, 2/508)
Kerelaan ini bukan berarti seseorang tidak boleh bersedih ketika mengalami kesulitan, tidak boleh mencari pengobatan ketika sakit, atau tidak perlu memperbaiki usaha yang gagal.
Yang dimaksud adalah hatinya tidak terus-menerus menentang ketentuan Allah. Ia tetap menjalankan sebab-sebab yang diperbolehkan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Dengan sikap demikian, seorang mukmin dapat menghadapi keberhasilan tanpa kesombongan dan menerima kegagalan tanpa kehilangan harapan.
Meneladani Tawakal Burung dalam Kehidupan
Seekor burung mengawali paginya tanpa mengetahui secara pasti makanan yang akan diperolehnya. Namun, ia tidak menjadikan ketidaktahuan tersebut sebagai alasan untuk berhenti bergerak.
Perumpamaan ini mengajarkan beberapa sikap yang patut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari: memulai aktivitas dengan memohon pertolongan Allah, bersungguh-sungguh menjalankan usaha yang halal, menjaga kejujuran, tidak menggantungkan hati pada manusia, dan bersabar ketika hasil belum sesuai dengan harapan.
Hadis ini juga tidak boleh dipahami sebagai jaminan bahwa setiap orang yang bertawakal pasti menjadi kaya atau tidak akan mengalami kesulitan ekonomi. Rezeki dan kecukupan berada dalam ketentuan Allah. Kesempurnaan tawakal terletak pada benar dan tulusnya ketergantungan hati kepada-Nya, disertai usaha sesuai tuntunan syariat.
Bahkan, terkadang seseorang telah melakukan berbagai usaha, tetapi rezekinya belum seluas yang diharapkan. Keadaan demikian tidak serta-merta membuktikan lemahnya tawakal orang tersebut, sebab keadaan rezeki setiap hamba ditentukan Allah dengan hikmah-Nya.
Penutup
Hadis tentang burung merupakan pelajaran yang indah tentang hubungan antara keimanan, ikhtiar, dan ketergantungan hati kepada Allah.
Burung mengajarkan bahwa usaha harus dilakukan, sedangkan Allah adalah tempat bergantung. Ia keluar dalam keadaan lapar dan kembali setelah memperoleh rezeki yang Allah karuniakan.
Demikianlah kehidupan seorang mukmin: bekerja dengan penuh kesungguhan, menjaga kehalalan usahanya, memohon pertolongan Allah dalam setiap langkah, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya.
Tawakal bukan meninggalkan usaha, melainkan menjalankan usaha dengan hati yang sepenuhnya bersandar kepada Allah.
Semoga Allah Ta‘ala mengaruniakan hati yang benar-benar bertawakal, melapangkan rezeki yang halal dan penuh keberkahan, serta menjadikan setiap ikhtiar sebagai jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.