Fatawa Umum

Apa hukum berdo’a di dalam sholat saat sujud dan sebelum salam menggunakan bahasa daerah atau bahasa Indonesia?

Pertanyaan

احسن الله اليكم وبارك فيكم
Ustazd , izin bertanya Apa hukum berdo’a di dalam sholat saat sujud dan sebelum salam menggunakan bahasa daerah atau bahasa Indonesia ?
جزاكم الله خيرا و كتب الله اجركم

Ringkasan Jawaban:

Diperbolehkan berdoa dengan bahasa selain Arab dalam salat bagi orang yang bahasanya bukan Arab, terutama bila sulit baginya untuk belajar bahasa Arab.

Ia boleh berdoa dengan permintaan apa pun yang mengandung kebaikan dunia dan akhirat, dan tidak disyaratkan bahwa doa itu harus berasal dari nash (mā’tsūr).

Jawaban Lengkap

Segala puji bagi Allah, salawat dan salam atas Rasulullah, amma ba‘d:

Pertama:

Masalah berdoa dengan bahasa selain Arab dalam salat merupakan perkara yang diperselisihkan di antara para ulama.

Sebagian mengharamkan, sebagian memakruhkan, dan sebagian membolehkan bagi yang tidak mampu (berbahasa Arab).

Pendapat para ulama fikih dalam masalah ini:

Dalam Al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah (11/172) disebutkan:

Tentang doa dengan bahasa selain Arab dalam salat:

المنقول عن الحنفية في الدعاء بغير العربية : الكراهة؛ لأن عمر رضي الله تعالى عنه نهى عن رطانة الأعاجم، والرطانة كما في القاموس: الكلام بالأعجمية. وظاهر التعليل: أن الدعاء بغير العربية خلاف الأولى، وأن الكراهة فيه تنزيهية .

ولا يبعد أن يكون الدعاء بالعجمية مكروها تحريما في الصلاة، وتنزيها خارجها.

وذهب المالكية إلى أنه يحرم الدعاء بغير العربية – على ما نقل ابن عابدين عن القرافي – معللا باشتماله على ما ينافي التعظيم، وقيد اللقاني كلام القرافي بالأعجمية المجهولة المدلول، أخذا من تعليله، وهو اشتمالها على ما ينافي جلال الربوبية.

وأما إذا علم مدلولها فيجوز استعمالها مطلقا في الصلاة وغيرها؛ لقوله تعالى: وعلم آدم الأسماء كلها ، وقوله تعالى: وما أرسلنا من رسول إلا بلسان قومه ، وهذا ما صرح به الدسوقي أيضا.

وقد فصل الشافعية الكلام فقالوا: الدعاء في الصلاة إما أن يكون مأثورا أو غير مأثور.

أما الدعاء المأثور ففيه ثلاثة أوجه:

أصحها، ويوافقه ما ذهب إليه الحنابلة: أنه يجوز بغير العربية للعاجز عنها، ولا يجوز للقادر، فإن فعل بطلت صلاته.

والثاني: يجوز لمن يحسن العربية وغيره.

والثالث: لا يجوز لواحد منهما ، لعدم الضرورة إليه.

وأما الدعاء غير المأثور في الصلاة، فلا يجوز اختراعه والإتيان به بالعجمية قولا واحدا.

وأما سائر الأذكار كالتشهد الأول والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فيه، والقنوت، والتسبيح في الركوع والسجود، وتكبيرات الانتقالات، فعلى القول بجواز الدعاء بالأعجمية : تجوز بالأولى .

وإلا ففي جوازها للعاجز أوجه:

أصحها: الجواز. والثاني: لا. والثالث: يجوز فيما يجبر بسجود السهو” انتهى.

Mazhab Hanafiyah:

Mereka memakruhkannya, karena Umar رضي الله عنه melarang rāṭānah al-a‘ājim (ucapan dalam bahasa non-Arab).

Makna larangan ini adalah lebih utama berdoa dengan Arab, dan makruhnya bersifat tanzīh (tidak haram).

Namun tidak menutup kemungkinan bahwa doa dalam bahasa asing di dalam salat bisa makruh tahrīm, sedangkan di luar salat hanya makruh tanzīh.

Mazhab Malikiyah:

Mereka berpendapat haram berdoa dengan bahasa selain Arab, sebagaimana dinukil Ibn ‘Ābidīn dari al-Qarāfī.

Alasannya karena hal itu bisa mengandung ungkapan yang tidak pantas bagi keagungan Allah.
Namun al-Laqānī memberi batasan bahwa larangan ini hanya berlaku jika bahasa itu tidak dipahami maknanya.

Jika maknanya diketahui, maka boleh digunakan baik di dalam maupun di luar salat, berdasarkan firman Allah:

وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاءَ كُلَّهَا

“Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya.” (QS. Al-Baqarah: 31)
dan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun kecuali dengan bahasa kaumnya.” (QS. Ibrahim: 4)

Mazhab Syafi‘iyah: Mereka merinci:

Jika doa itu مأثور (berasal dari hadis):

Ada tiga pendapat:

1. Yang paling kuat (ashah) — dan ini juga pendapat Hanabilah — adalah:

Boleh berdoa dengan bahasa non-Arab bagi yang tidak mampu, namun tidak boleh bagi yang mampu, dan jika dilakukan maka salatnya batal.

2. Pendapat kedua: Boleh bagi yang bisa dan yang tidak bisa bahasa Arab.

3. Pendapat ketiga: Tidak boleh bagi keduanya, karena tidak ada kebutuhan mendesak.

Jika doa itu غير مأثور (bukan dari hadis):

Maka tidak boleh membuat doa baru dalam bahasa asing di dalam salat, menurut kesepakatan mereka.

Adapun dzikir lain seperti tasyahhud, shalawat, qunut, tasbih dalam rukuk dan sujud, serta takbir perpindahan, maka menurut pendapat yang membolehkan doa dengan bahasa asing — semuanya lebih boleh lagi.

Namun bagi yang tidak bisa bahasa Arab, ada tiga pendapat:

Yang paling kuat: boleh, kemudian ada yang mengatakan tidak, dan yang ketiga: boleh jika kesalahannya bisa ditebus dengan sujud sahwi. Selesai.

Kedua:

Seseorang boleh berdoa dengan doa yang tidak mā’tsūr, baik dengan bahasa sehari-hari (ʿāmiyyah) maupun bahasa asing, baik di luar salat maupun di dalam salat (jika tidak mampu berbahasa Arab),
selama isinya tidak mengandung dosa, permusuhan, atau pemutusan silaturahmi.

Tidak diragukan bahwa doa yang bersumber dari Nabi ﷺ lebih utama, tetapi boleh pula berdoa dengan doa pribadi, memohon kebaikan dunia dan akhirat, atau perlindungan dari keburukan — karena doa adalah ibadah yang luas dan tidak terbatas hanya pada lafaz tertentu.

Kunci dari doa adalah kehadiran hati dan ketulusan dalam bermunajat kepada Allah,
dengan bahasa apa pun karena Allah mendengar segala suara, mengetahui seluruh bahasa,
dan tidak ada sesuatu pun di bumi dan langit yang luput dari-Nya.

Ucapan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah رحمه الله:

” وأمَّا مَن دعا الله مخلصاً له الدين بدعاءٍ جائزٍ: سمعه الله وأجاب دعاه ، سواء كان معرباً أو ملحوناً …

بل ينبغي للداعي ، إذا لم يكن عادته الإعراب : ألا يتكلف الإعراب . قال بعض السلف : إذا جاء الإعراب ذهب الخشوع

وهذا كما يكره تكلف السجع في الدعاء ، فإذا وقع بغير تكلفٍ : فلا بأس به .

فإنَّ أصل الدعاء مِن القلب ، واللسان تابعٌ للقلب ، ومَن جعل همَّته في الدعاء تقويم لسانه ، أضعف توجه قلبه .

ولهذا يدعو المضطر بقلبه دعاء يفتح عليه ، لا يحضره قبل ذلك ، وهذا أمرٌ يجده كلُّ مؤمنٍ في قلبه .

والدعاء يجوز بالعربيَّة ، وبغير العربيَّة .

والله سبحانه يعلم قصد الداعي ومراده ، وإن لم يقوِّم لسانه ؛ فإنه يعلم ضجيج الأصوات ، باختلاف اللغات ، على تنوع الحاجات” انتهى

“Barang siapa berdoa kepada Allah dengan ikhlas dan doa yang dibenarkan, maka Allah akan mendengarnya dan mengabulkannya, baik ia berdoa dengan bahasa Arab atau tidak.

Bahkan, jika seseorang tidak biasa berbicara dalam bahasa Arab, maka sebaiknya ia tidak memaksakan diri untuk berbahasa Arab, karena sebagian salaf berkata: ‘Apabila seseorang sibuk memperbaiki bahasa doanya, maka hilanglah kekhusyukannya.’

Begitu pula dengan doa yang disusun indah (bersajak) — jika tanpa dibuat-buat tidak apa-apa,
tetapi jika dipaksakan maka makruh.

Hakikat doa adalah dari hati, sedangkan lidah hanya mengikuti hati.

Siapa yang sibuk meluruskan lidahnya, maka perhatian hatinya menjadi lemah.

Maka seorang yang terdesak (al-muḍṭarr) berdoa dengan hatinya dengan doa yang bahkan tidak terpikir sebelumnya, dan ini dirasakan oleh setiap mukmin dalam dirinya.

Karenanya, doa boleh dalam bahasa Arab maupun selainnya, dan Allah mengetahui maksud dan isi hati hamba, meskipun lisannya tidak fasih.

Allah mendengar riuhnya suara dari berbagai bahasa dan kebutuhan, dan semuanya tidak samar bagi-Nya.” (Majmū‘ al-Fatāwā, 2/424)

Dalil kebolehan berdoa dengan doa yang tidak mā’tsūr dalam salat:

Sabda Nabi ﷺ:

“ثم يتخيّر من المسألة ما شاء”

“Kemudian ia boleh memilih permintaan (doa) apa saja yang ia kehendaki.”

Dalam riwayat lain:

“ثم يتخيّر من الدعاء أعجبه إليه فيدعو”

“Kemudian ia memilih doa yang paling ia sukai lalu berdoa.” (HR. al-Bukhari no. 835, Muslim no. 402)

Hadis ini berbicara tentang doa sebelum salam dalam salat.

Penjelasan Syaikh Ibn Bāz رحمه الله:

” والأحاديث في هذا المعنى كثيرة ، وهي تدل على شرعية الدعاء في هذه المواضع بما أحبه المسلم من الدعاء سواء كان يتعلق بالآخرة أو يتعلق بمصالحه الدنيوية ، بشرط ألا يكون في دعائه إثم ولا قطيعة رحم ، والأفضل أن يكثر من الدعاء المأثور عن النبي صلى الله عليه وسلم ” انتهى

“Banyak hadis yang menunjukkan disyariatkannya berdoa dalam salat dengan doa apa pun yang diinginkan, baik urusan akhirat maupun dunia, selama tidak mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi, dan yang terbaik adalah memperbanyak doa yang bersumber dari Nabi ﷺ.” (Fatāwā Ibn Bāz, 11/172)

Kesimpulan Akhir:

✅ Boleh berdoa dengan bahasa selain Arab dalam salat, bagi orang yang bahasanya bukan Arab,
terutama bila sulit baginya mempelajari bahasa Arab.

✅ Ia boleh berdoa dengan permintaan apa saja dari kebaikan dunia dan akhirat,
dan tidak disyaratkan harus dari doa yang mā’tsūr.

🔹 Wallahu A’lam

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button