Durus Minas Sirah – Peralihan Kiblat
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 39
Peralihan Kiblat
Ketika berada di Makkah, Nabi ﷺ menghadap Baitulmaqdis dalam salatnya, dengan Ka‘bah berada di antara beliau dan Baitulmaqdis. Setelah berhijrah ke Madinah, beliau tetap menghadap ke arah Baitulmaqdis dalam salat. Kaum muslimin pun melakukan hal itu selama enam belas bulan. Nabi ﷺ sangat ingin menghadap Ka‘bah dalam salat, kiblat Nabi Ibrahim عليه السلام, dan berbeda dari orang-orang Yahudi yang mengira kaum muslimin mengikuti kiblat mereka. Rasulullah ﷺ memohon kepada Allah agar kiblat beliau dialihkan ke Ka‘bah. Allah mengabulkan keinginan Nabi-Nya ﷺ, lalu menurunkan firman-Nya: “Sungguh, Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit. Maka, sungguh, Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arahnya. Sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka.” (QS. Al-Baqarah: 144)
Salat pertama yang dikerjakan Rasulullah ﷺ setelah pemindahan kiblat adalah salat Zuhur di Bani Salimah. Kemudian, beliau mengerjakan salat Asar di Masjid Nabawi. Peralihan kiblat dari Baitulmaqdis ke Ka‘bah membuat orang-orang Yahudi gelisah. Mereka bersama para penyebar kabar bohong dari kalangan munafik mulai menyebarkan propaganda yang meragukan kebenaran agama ini dan keabsahan salat kaum muslimin sebelumnya. Sebagian kaum muslimin khawatir bahwa salat mereka yang dahulu menghadap Baitulmaqdis tidak sah. Maka, Allah menurunkan firman-Nya: “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143)