Bagian 47: Pelajaran dan Hikmah Perang Badar (2)
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 47
Pelajaran dan Hikmah Perang Badar (2)
Dalam Perang Badar tampak sejumlah peristiwa yang menunjukkan prinsip loyalitas dan berlepas diri, serta menegaskan bahwa ikatan agama lebih kuat daripada ikatan persaudaraan dan nasab. Hal itu terlihat pada sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, dan pada sikap Mush‘ab bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu. Ketika seseorang menawan saudaranya, Mush‘ab berkata kepada sang penawan, “Peganglah tawananmu erat-erat, karena ibunya memiliki harta; mungkin ia akan menebusnya darimu.” Saudaranya berkata, “Wahai saudaraku, inikah pesanmu tentang diriku?” Mush‘ab menjawab, “Dia—yakni orang yang menawanmu—adalah saudaraku, bukan engkau.” Prinsip itu juga tampak dalam perkataan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu tentang para tawanan, “Menurutku, berikan si fulan—kerabat ‘Umar—kepadaku agar kupenggal lehernya; berikan ‘Aqil kepada ‘Ali agar ia memenggal lehernya; dan berikan si fulan—saudara Hamzah—kepada Hamzah agar ia memenggal lehernya. Dengan begitu, Allah mengetahui bahwa tidak ada kelembutan dalam hati kita terhadap kaum musyrik.”
Hal itu juga tampak dalam ketegasan Nabi ﷺ untuk mengambil tebusan secara penuh dari pamannya, Al-‘Abbas. Tidak boleh ada perlakuan istimewa atau basa-basi kepada siapa pun, siapa pun orangnya, apabila perkara itu menyangkut agama.