Keluarga

Pernikahan Adalah Nikmat Yang Sangat Agung

PERNIKAHAN ADALAH NIKMAT YANG SANGAT AGUNG

Nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya sangatlah banyak dan tidak terhitung jumlahnya. Allah Ta‘ālā berfirman:

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

Di antara sekian banyak nikmat tersebut, pernikahan merupakan salah satu nikmat yang sangat agung. Allah Ta‘ālā berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kalian pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian memperoleh ketenangan darinya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan sekadar ikatan sosial, melainkan bagian dari tanda kebesaran Allah. Di dalamnya terdapat bukti kasih sayang, hikmah, dan perhatian Allah kepada hamba-Nya. Allah menanamkan cinta dan kasih sayang antara suami dan istri, suatu ikatan yang tidak ditemukan pada hubungan lainnya. Tidak ada kedekatan antarmanusia yang lebih kuat daripada hubungan suami istri.

Allah juga menjelaskan tujuan utama pernikahan, yaitu menghadirkan ketenangan. Dalam firman-Nya:

“…agar kalian memperoleh ketenangan darinya.”

Dan dalam ayat lain:

“Dialah yang menciptakan kalian dari satu jiwa, lalu darinya Dia menciptakan pasangannya agar ia merasa tenteram kepadanya.” (QS. Al-A‘raf: 189)

Kata sakinah (ketenangan) mencakup makna ketenteraman, rasa aman, kedamaian, dan kenyamanan. Semua ini merupakan anugerah yang Allah hadirkan dalam pernikahan. Ketenangan tersebut juga mencerminkan kedekatan yang sangat erat antara suami dan istri. Allah menggambarkannya dengan sangat indah:

“Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Pakaian adalah sesuatu yang paling dekat dengan tubuh manusia. Dari kedekatan inilah tumbuh cinta dan kasih sayang, sehingga pasangan suami istri dapat hidup dalam ketenteraman dan kebahagiaan, meskipun tidak jarang diwarnai perbedaan dan perselisihan.

Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan besarnya keutamaan pernikahan. Tentang seorang laki-laki yang dianugerahi istri salehah, beliau bersabda:

“Barang siapa diberi oleh Allah seorang istri yang salehah, maka sungguh Allah telah menolongnya dalam setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada setengah yang lainnya.”
(HR. Thabrani dan Hakim; hasan)

Istri yang salehah adalah penolong terbaik bagi suami, baik dalam urusan dunia, pendidikan anak, maupun dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.

Di antara ciri wanita salehah, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan ketika dipandang, taat ketika diperintah, dan tidak menyelisihi suaminya pada dirinya maupun hartanya dalam hal yang tidak disukai.”
(HR. Ahmad dan An-Nasa’i; hasan)

Dalam hadis lain, beliau bersabda:

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang wanita-wanita penghuni surga? Yaitu wanita yang penuh kasih, penyayang terhadap keluarga, dan selalu kembali kepada suaminya; apabila ia menyakiti atau tersakiti, ia datang memegang tangan suaminya lalu berkata: Demi Allah, aku tidak akan tidur hingga engkau ridha.”
(HR. An-Nasa’i; hasan)

Sejarah kehidupan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga menunjukkan betapa besar peran wanita salehah. Ketika wahyu pertama turun di Gua Hira dan beliau diliputi rasa takut, beliau segera kembali kepada Khadijah raḍiyallāhu ‘anhā. Ia menenangkan, menguatkan, dan menghibur beliau dengan penuh kasih.

Demikian pula pada peristiwa Hudaibiyah, ketika para sahabat lambat melaksanakan perintah tahallul, Nabi meminta pendapat Ummu Salamah raḍiyallāhu ‘anhā. Nasihat beliau menjadi solusi yang menenangkan dan diikuti oleh para sahabat.

Banyak sunnah Nabi yang sampai kepada umat melalui para istri beliau, karena merekalah yang paling mengetahui kehidupan beliau di dalam rumah tangga. Bahkan, wafatnya Rasulullah di pangkuan ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā menunjukkan betapa agung kedudukan seorang istri dalam kehidupan suami.

Sebaliknya, suami yang saleh juga merupakan nikmat besar bagi seorang wanita. Suami dan anak termasuk rezeki yang dianugerahkan Allah, dan setiap rezeki seharusnya disyukuri, bukan diingkari. Siapa yang bersyukur, niscaya akan diberkahi kehidupannya.

Seorang wanita juga dapat meraih kedekatan dengan Allah melalui ketaatan kepada suaminya. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila seorang wanita menjaga salat lima waktunya, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.”
(HR. Ahmad)

Empat amalan ini menjadi sebab kemuliaan besar di sisi Allah.

Dalam hadis lain, Nabi bersabda kepada seorang wanita:

“Perhatikanlah bagaimana kedudukanmu terhadapnya, karena sesungguhnya ia adalah surgamu atau nerakamu.”
(HR. Ahmad)

Dari seluruh penjelasan ini, tampak jelas bahwa pernikahan adalah nikmat besar dari Allah, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu, nikmat ini harus disyukuri dengan hati, lisan, dan amal.

Salah satu bentuk syukur adalah dengan menunaikan hak dan kewajiban masing-masing pasangan. Semua itu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung

Muh Huud I Wima, Lc.

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button