Ketika berangkat, kaum muslimin hanya memiliki tujuh puluh ekor unta yang mereka tunggangi secara bergantian. Rasulullah ﷺ, ‘Ali bin Abi Thalib, dan Abu Lubabah bergantian menaiki satu ekor unta. Keduanya ingin mengutamakan beliau untuk terus menaikinya, tetapi beliau bersabda, “Kalian berdua tidak lebih kuat dariku, dan aku tidak lebih membutuhkan pahala daripada kalian berdua.” Rasulullah ﷺ memberikan teladan nyata tentang kerendahan hati dan kesediaan menanggung kesulitan bersama orang-orang yang dipimpinnya.
Nabi ﷺ juga memberikan teladan luar biasa dalam pengorbanan ketika mengajukan orang-orang terdekat beliau untuk menghadapi lawan dalam duel, yaitu ‘Ubaidah bin Al-Harits, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, dan ‘Ali bin Abi Thalib.
Nabi ﷺ dapat memperkirakan jumlah pasukan Quraisy dari keterangan dua orang tawanan sebelum perang. Beliau bertanya tentang jumlah mereka, tetapi keduanya menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau bertanya, “Berapa ekor unta yang mereka sembelih setiap hari?” Keduanya menjawab, “Kadang sembilan ekor dan kadang sepuluh ekor.” Beliau pun menyimpulkan, “Jumlah mereka antara sembilan ratus dan seribu orang.”
Perhatian Rasulullah ﷺ terhadap keadaan pasukannya juga tampak jelas. Beliau memaklumi ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu karena istrinya sedang sakit. Beliau juga memaklumi Hudzaifah bin Al-Yaman dan ayahnya karena keduanya menepati perjanjian yang telah mereka buat untuk tidak ikut memerangi kaum kafir Quraisy.
Di tengah berlangsungnya perang, Ruqayyah, putri Rasulullah ﷺ sekaligus istri ‘Utsman bin ‘Affan, wafat. Setelah perang, Rasulullah ﷺ menikahkan ‘Utsman dengan putri beliau yang kedua, Ummu Kultsum. Karena menikahi dua putri Nabi ﷺ, ‘Utsman dijuluki Dzun Nurain, “pemilik dua cahaya.”