Ebook

Buku: Ringkasan Jejak Nabi ﷺ Di Bulan Ramadan

Download Pdfnya Klik

Daftar isi

Daftar isi i

Kata Pengantar 3

Ringkasan Jejak Nabi Di Bulan Ramadan 6

Ramadan Pertama (Tahun Ke-2 Hijriah) 6

Ramadan Kedua (Tahun Ke-3 Hijriah) 12

Ramadan Ketiga (Tahun Ke-4 Hijriah) 14

Ramadan Keempat (Tahun Ke-5 Hijriah) 16

Ramadan Kelima (Tahun Ke-6 Hijriah) 19

Ramadan Keenam (Tahun Ke-7 Hijriah) 21

Ramadan Ketujuh (Tahun Ke-8 Hijriah) 23

Ramadan Kedelapan (Tahun Ke-9 Hijriah) 25

Ramadan Kesembilan (Tahun Ke-10 Hijriah) 29

Petunjuk dan kebiasaan Nabi di bulan Ramadan 32

Penutup 36

Kata Pengantar

±

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam, yang telah mengaruniakan kepada kita bulan Ramadhan; bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada sebaik-baik teladan umat, junjungan kita Nabi Muhammad , beserta keluarga, para sahabat, dan siapa saja yang senantiasa istiqamah mengikuti jejak sunnah beliau hingga akhir zaman.

Amma ba’du:

Bulan Ramadhan bukanlah sekadar bulan untuk menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah agung untuk menempa ketakwaan. Dan tidak ada rujukan yang lebih sempurna dalam mengisi hari-hari mulia tersebut selain menelusuri bagaimana manusia terbaik, Rasulullah , menghabiskan bulan Ramadhan beliau.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Tim Markaz Inayah dengan penuh rasa syukur mempersembahkan ringkasan dari kitab “An-Nabi fi Ramadhan” (Jejak Nabi di Bulan Ramadhan)[1] karya Dr. Abdul Hakim Al-Anis yang sudah kami terjemahkan sebelumnya. Kitab aslinya merupakan sebuah karya sejarah yang luar biasa, memetakan secara kronologis sembilan bulan Ramadhan yang dilalui oleh Rasulullah semenjak puasa diwajibkan pada tahun kedua Hijriah, hingga Ramadhan terakhir beliau pada tahun kesepuluh Hijriah.

Mengingat padatnya aktivitas kaum muslimin dan tingginya antusiasme untuk mereguk ilmu di bulan suci ini, kami berinisiatif untuk menyusun ringkasan ini. Tujuannya adalah untuk menyarikan inti sari, peristiwa-peristiwa bersejarah yang monumental, serta keteladanan dan kebiasaan (hadyu) ibadah beliau secara padat, jelas, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Kami berharap, format ringkasan ini dapat menjadi bahan bacaan yang praktis, sekaligus materi edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kami menyadari bahwa upaya peringkasan ini tentu tidak dapat menggantikan keutamaan membaca karya aslinya secara utuh. Namun, ini adalah bentuk khidmat kami dalam memfasilitasi persebaran ilmu dan dakwah. Semoga ringkasan ini mampu menjadi jembatan yang menghubungkan hati kita dengan sirah Nabawiyah, menumbuhkan kecintaan yang lebih dalam kepada beliau , dan memotivasi kita untuk mengoptimalkan ibadah: baik itu puasa, qiyamul lail, tadarus Al-Qur’an, sedekah, maupun i’tikaf.

Akhir kata, kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan amal sederhana ini ikhlas semata-mata mengharap wajah-Nya. Semoga Allah menerima puasa dan seluruh amal ibadah kita, serta memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mendapatkan ampunan dan pembebasan dari api neraka.

Selamat membaca dan meneladani kemuliaan Ramadhan bersama sang utusan akhir zaman.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.

Tim Markaz Inayah www.markazinayah.com

Ramadhan 1447 H / Maret 2026 M

Ringkasan Jejak Nabi Di Bulan Ramadan

Ramadan Pertama (Tahun Ke-2 Hijriah)

Diwajibkannya Puasa Ramadan

Puasa Ramadan mulai diwajibkan pada hari Senin, dua malam setelah bulan Sya’ban pada tahun kedua Hijriah. Kewajiban puasa Ramadan ini me-nasakh (menghapus) kewajiban puasa sebelumnya yaitu pada hari Asyura.

Menurut Mu’adz bin Jabal, kewajiban puasa pada awalnya melewati tiga fase atau keadaan:

  • Fase Pertama:

Umat Islam diberi pilihan antara berpuasa atau membayar fidyah (memberi makan orang miskin) bagi yang mampu berpuasa, sebagaimana turunnya surat Al-Baqarah ayat 183-184.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu…” hingga firman-Nya:

﴿وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ﴾

“…Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” [Al-Baqarah: 183-184].

  • Fase Kedua:

Turun surat Al-Baqarah ayat 185 yang mewajibkan puasa secara mutlak bagi orang yang sehat dan mukim (tidak bepergian).

﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ﴾

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an…” hingga firman-Nya:

﴿فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ﴾

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.” [Al-Baqarah: 185].

Keringanan untuk tidak berpuasa (dan menggantinya di hari lain atau membayar fidyah) hanya diberikan kepada orang sakit, musafir, dan lansia yang tidak mampu.

  • Fase Ketiga:

Pada awalnya, umat Islam dilarang makan, minum, dan berhubungan suami-istri jika sudah tertidur di malam hari, dan puasa harus langsung dilanjutkan hingga keesokan harinya.

Setelah insiden kelelahan berat yang menimpa sahabat Shirmah yang tertidur sebelum makan, serta Umar bin Khattab yang mencampuri istrinya setelah bangun tidur, kemudian ia mendatangi Nabi dan menceritakan hal itu kepada beliau, maka Allah menurunkan surat Al-Baqarah ayat 187.

﴿أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ﴾

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu…” hingga firman-Nya:

﴿ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ﴾

“…kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” [Al-Baqarah: 187].”

Ayat ini memberikan keringanan yang menghalalkan makan, minum, dan bercampur dengan istri pada malam hari bulan puasa hingga terbit fajar. Lafaz “dari fajar” (minal fajr) kemudian diturunkan untuk memperjelas batas waktu menahan puasa.

Jadi, Rasulullah memasuki Madinah pada bulan Rabiul Awal dan mulai berpuasa Asyura serta tiga hari setiap bulannya—dan pendapat yang rajih (kuat) adalah bahwa puasa Asyura waktu itu hukumnya wajib, sedangkan puasa tiga hari (setiap bulan) bersifat sunnah, dan tidak ada riwayat yang sahih mengenai kewajiban puasa sebelum Ramadan selain Asyura—hingga masuklah tahun kedua, lalu puasa Ramadan pun diwajibkan.

2. I’tikaf Nabi

Pada tahun pertama ini, Nabi mencari Lailatul Qadar dengan beri’tikaf di sepuluh hari pertama, kemudian melanjutkannya ke sepuluh hari pertengahan, dan akhirnya ke sepuluh hari terakhir. Setelah mengetahui bahwa Lailatul Qadar ada di sepuluh hari terakhir, beliau terus merutinkan i’tikaf di sepuluh hari terakhir pada Ramadan tahun-tahun berikutnya hingga beliau wafat. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari Ummu Salamah.

3. Perang Badr Kubra

Perang besar pertama dalam sejarah Islam ini terjadi pada tanggal 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriah. Kaum muslimin dimenangkan oleh Allah pada perang ini, dan para pembesar Quraisy banyak yang terbunuh dan dikalahkan.

4. Wafatnya Keluarga dan Sahabat

  • Ruqayyah binti Rasulullah :

Putri Nabi wafat pada bulan ini. Beliau adalah istri dari Utsman bin Affan, yang waktu itu tidak ikut serta dalam Perang Badr karena ditugaskan oleh Nabi untuk merawat Ruqayyah yang sedang sakit.

  • Sa’ad bin Malik Al-Khazraji As-Sa’idi:

Ia adalah ayah dari Sahl bin Sa’d, yang meninggal di saat ia bersiap-siap menuju Perang Badr, namun wafat di bulan Ramadan sebelum perang terjadi. Nabi tetap memberikan bagian ghanimah kepadanya yang diserahkan kepada ahli warisnya.

5. Sariyah (Ekspedisi Militer) Umair bin Adi Al-Khathmi

Ketika Ramadan tersisa lima hari, Rasulullah mengutus Umair bin Adi untuk mengeksekusi Asma’ binti Marwan, seorang wanita yang sering mencela Islam, menggubah syair kebencian, dan memprovokasi orang-orang untuk melawan Nabi .

Namun ulama hadis seperti Imam Bukari, Ibnu Ma’in dan lainnya menjelaskan bahwa kisah ini tidak benar karena sanad dari riwayat tersebut batil, bahkan termasuk hadis palsu.

6. Diwajibkannya Zakat Fitrah

Pada akhir bulan Ramadan ini, tepatnya sehari atau dua hari menjelang Idul Fitri, umat Islam diperintahkan untuk menunaikan Zakat Fitrah. Zakat ini berfungsi untuk mengangkat atau menyempurnakan puasa yang pelaksanaannya masih “tergantung antara langit dan bumi”.

Dan dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«صَوْمُ شَهْرِ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَلَا يُرْفَعُ إِلَّا بِزَكَاةِ الْفِطْرِ».

“Puasa bulan Ramadan itu tergantung antara langit dan bumi, dan tidak akan diangkat (diterima) kecuali dengan (menunaikan) Zakat Fitrah.”[2]

7. Pelaksanaan Shalat Idul Fitri Pertama

Memasuki awal bulan Syawal di tahun ke-2 H, Nabi dan umat Islam keluar menuju mushalla (tanah lapang) untuk melaksanakan shalat Id pertama mereka, dengan membawa tombak pendek milik Az-Zubair (hadiah dari An-Najasyi) di hadapan Rasulullah .

Ramadan Kedua (Tahun Ke-3 Hijriah)

1. Nabi Menghabiskan Ramadan di Madinah

Pada Ramadan tahun ketiga ini, Nabi menetap dan menghabiskan waktunya di Madinah sebelum terjadinya Perang Uhud yang meletus pada bulan Syawal di tahun yang sama.

2. Kelahiran Al-Hasan bin Ali

Pada pertengahan bulan Ramadan ini, cucu pertama Nabi , yaitu As-Sayyid Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, lahir.

3. Pernikahan dengan Hafshah binti Umar

Pada bulan Ramadan ini pula, Nabi Muhammad melangsungkan pernikahan dengan Hafshah binti Umar.[3]

4. Pernikahan dengan Zainab binti Khuzaimah

Rasulullah menikah dengan Zainab binti Khuzaimah pada bulan Ramadan tahun ketiga. Beliau dijuluki Ummul Masakin (Ibunya orang-orang miskin) karena kebaikannya yang besar terhadap mereka.

Suami pertamanya adalah Ath-Thufail bin Al-Harits bin Al-Muththalib bin Abdul Manaf, kemudian ia diceraikannya. Lalu dinikahi oleh Ubaidah bin Al-Harits, yang syahid pada Perang Badr.

Beliau tinggal Bersama Nabi selama 8 bulan, kemudian wafat diusia sekitar tiga puluh tahun, radhiyallahu ‘anha.”[4]

Ramadan Ketiga (Tahun Ke-4 Hijriah)

1. Catatan Sejarah yang Memerlukan Penelusuran

Masih diperlukan penelusuran mendalam mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi secara spesifik pada bulan Ramadan di tahun keempat Hijriah ini.

2. Kemungkinan Terjadinya Perjalanan di Musim Panas yang Ekstrem

Diperkirakan bahwa pada Ramadan tahun ini mungkin terjadi sebuah perjalanan (safar) Nabi di cuaca yang sangat terik. Berdasarkan hadis riwayat Al-Bukhari dari Abu Ad-Darda’,

«خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ فِي يَوْمٍ حَارٍّ، حَتَّى يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلَّا مَا كَانَ مِنَ النَّبِيِّ وَابْنِ رَوَاحَةَ».

“Kami keluar bersama Nabi dalam salah satu perjalanan beliau pada hari yang panas, sampai-sampai seseorang meletakkan tangannya di atas kepalanya karena cuaca yang sangat panas. Dan tidak ada seorang pun di antara kami yang berpuasa, kecuali Nabi dan Ibnu Rawahah.”[5]

Meskipun hal yang masyhur (dikenal luas) adalah bahwa perjalanan (safar) Nabi di bulan Ramadan hanya terbatas pada Perang Badr dan Fathu Makkah.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa ini adalah safar beliau yang lainnya. Dan juga karena Nabi pada tahun ketiga, kelima, keenam, dan ketujuh menghabiskan bulan Ramadan di Madinah.

3. Kehadiran Dua Cucu Nabi

Pada saat melaksanakan puasa di Ramadan tahun ini, Nabi telah memiliki dua orang cucu dari putri beliau, Sayyidah Fatimah. Cucu kedua beliau, yaitu Al-Husain, lahir pada bulan Sya’ban di tahun ke-4 Hijriah ini.

Ramadan Keempat (Tahun Ke-5 Hijriah)

1. Nabi Muhammad Kembali ke Madinah

Pada awal bulan Ramadan ini, Nabi tiba kembali di Madinah setelah meninggalkannya selama hampir sebulan untuk memimpin pasukan dalam Perang Bani Al-Musthaliq (terjadi di bulan Sya’ban).

2. Berlanjutnya Tragedi (Ujian) Al-Ifk

Perang Bani Al-Musthaliq terjadi pada bulan Sya’ban, dan pada perjalanan pulang dari peperangan inilah awal mula peristiwa Al-Ifk (berita bohong/fitnah yang menimpa istri Nabi, Sayyidah Aisyah) terjadi.

Akibatnya, ujian dan penderitaan dari fitnah ini terus berlanjut dan membebani keluarga Nabi sepanjang bulan Ramadan. Wahyu pembebasan (bara’ah) Aisyah dari fitnah tersebut baru diturunkan oleh Allah setelah sebulan atau lebih, yakni pada bulan Syawal.

3. Pernikahan dengan Juwairiyah binti Al-Harits[6]

Juwairiyah adalah tawanan dari Perang Bani Al-Musthaliq yang mendatangi Nabi untuk meminta bantuan menebus dirinya. Nabi kemudian melunasi tebusan tersebut dan menikahinya.

Pernikahan ini kemungkinan besar terjadi sebelum rombongan tiba di Madinah (sebelum masuk Ramadan), karena selama Ramadan di Madinah, keluarga Nabi sedang disibukkan dan bersedih menghadapi tragedi Al-Ifk.

4. Peralihan I’tikaf ke Sepuluh Hari Terakhir

Kemungkinan besar pada Ramadan inilah Nabi mulai mengalihkan rutinitas i’tikaf beliau menjadi di sepuluh hari terakhir. Sebelumnya, beliau beri’tikaf di sepuluh hari pertengahan. Berdasarkan riwayat Abu Sa’id Al-Khudri, pada malam ke-21 Nabi meminta sahabat yang beri’tikaf bersamanya untuk melanjutkannya hingga akhir bulan.

«مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ، فَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا، وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ مِنْ صَبِيحَتِهَا، فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، وَالْتَمِسُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ».

“Barangsiapa yang telah beri’tikaf bersamaku, maka hendaklah ia beri’tikaf di sepuluh hari terakhir. Sungguh aku telah diperlihatkan malam ini (Lailatul Qadar), lalu aku dibuat lupa (akan tanggalnya), dan aku melihat diriku sujud di atas air dan lumpur pada pagi harinya. Maka carilah ia di sepuluh hari terakhir, dan carilah pada setiap malam ganjil.” [7]

Diisyaratkan bahwa karena Nabi sedang bersedih akibat ujian Al-Ifk pada bulan ini, beliau lebih banyak memusatkan diri beribadah dan mengasingkan diri, lalu Allah menghibur beliau dengan anugerah Lailatul Qadar.

Ramadan Kelima (Tahun Ke-6 Hijriah)

1. Nabi Muhammad Menghabiskan Ramadan di Madinah

Pada tahun keenam Hijriah ini, Nabi menetap dan menghabiskan bulan Ramadan di Madinah. Penulis menegaskan bahwa riwayat yang menyebutkan Nabi keluar menuju Hudaibiyah pada bulan Ramadan adalah tidak sahih, karena para ahli sejarah (seperti Ibnu Ishaq, Az-Zuhri, dan Qatadah) sepakat bahwa perjalanan ke Hudaibiyah terjadi pada bulan Dzulqa’dah atau Syawal.

2. Pelaksanaan Shalat Istisqa’ (Memohon Hujan)

Berdasarkan keterangan dari Ibnu Hibban, pada awal bulan Ramadan tahun ke-6 Hijriah ini, Nabi keluar menuju mushalla (tanah lapang tempat shalat Id) untuk melaksanakan shalat istisqa’. Beliau memohon hujan, menghadap kiblat, membalikkan selendangnya, dan melaksanakan shalat sebanyak dua rakaat.

3. Sariyah (Ekspedisi Militer) Zaid bin Haritsah

Pada Ramadan ini, Rasulullah mengutus sahabat Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu untuk memimpin sebuah ekspedisi militer menuju wilayah Lembah Al-Qura (Wadi Al-Qura).[8]

4. Sariyah Abdullah bin Atik

Menurut riwayat dari Ibnu Sa’ad, pada bulan ini juga terjadi ekspedisi militer yang dipimpin oleh Abdullah bin Atik radhiyallahu ‘anhu dengan target menuju (tokoh Yahudi) Sallam bin Abi Al-Huqaiq.[9]

5. Sariyah Abdullah bin Rawahah

Selain dua ekspedisi di atas, Nabi juga mengutus Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu dalam sebuah ekspedisi militer menuju wilayah Khaibar pada bulan Ramadan ini.[10]

Ramadan Keenam (Tahun Ke-7 Hijriah)

1. Menetap di Madinah setelah Penaklukan Khaibar

Setelah kembali ke Madinah dari Khaibar, Rasulullah menetap di sana selama beberapa bulan berturut-turut, termasuk pada bulan Ramadan.

Selama masa menetap ini, beliau menyelinginya dengan mengirimkan berbagai utusan peperangan dan sariyah (ekspedisi militer). Beliau baru keluar dari Madinah pada bulan Dzulqa’dah untuk melaksanakan Umrah Al-Qadha’.

2. Ramadan Pertama bagi Abu Hurairah

Ini adalah Ramadan pertama di mana sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berpuasa bersama Rasulullah .

Abu Hurairah meriwayatkan banyak hadis penting terkait puasa yang barangkali ia dengar pada tahun ini atau tahun-tahun setelahnya.

Di antara hadis-hadis tersebut mencakup keutamaan puasa sebagai perisai (junnah), dibukanya pintu-pintu surga dan dibelenggunya setan saat Ramadan tiba, keutamaan ibadah di Lailatul Qadar, larangan puasa wishal (menyambung puasa tanpa berbuka), hingga anjuran Allah yang sangat mencintai hamba-Nya yang menyegerakan berbuka puasa.

3. Pernikahan dengan Shafiyyah binti Huyayy dan Kunjungannya saat I’tikaf

Nabi menikah dengan Shafiyyah binti Huyayy (dari kalangan Yahudi Khaibar) pada tahun ini. Ada sebuah peristiwa masyhur di mana Shafiyyah menjenguk Nabi yang sedang beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.

Ketika Shafiyyah hendak pulang di malam hari, Nabi mengantarkannya. Saat dua orang sahabat Anshar lewat dan mempercepat langkah, Nabi meminta mereka melambat dan menjelaskan bahwa wanita tersebut adalah Shafiyyah, guna mencegah setan melemparkan prasangka buruk ke dalam hati mereka.

(Catatan penulis: Peristiwa kunjungan saat i’tikaf ini mungkin terjadi pada tahun ke-7 atau ke-10 Hijriah).

4. Sariyah (Ekspedisi Militer) Ghalib bin Abdullah Al-Laitsi

Pada bulan Ramadan ini, Rasulullah mengutus sebuah ekspedisi militer yang dipimpin oleh Ghalib bin Abdullah Al-Laitsi menuju daerah Al-Maifa’ah.[11]

Ramadan Ketujuh (Tahun Ke-8 Hijriah): Fathu Makkah (Penaklukan Makkah)

1. Ekspedisi (Sariyah) Pengelabuan

Pada awal bulan Ramadan, Nabi Muhammad mengutus Abu Qatadah bin Rib’i Al-Anshari bersama delapan orang laki-laki menuju daerah Bathn Idham.

Ekspedisi ini bertujuan untuk menyamarkan pergerakan pasukan agar orang-orang menyangka Nabi akan menuju ke arah tersebut, sekaligus menutupi rencana penaklukan Makkah. Beliau juga mengutus Hisyam bin Al-‘Ash As-Sahmi dalam sariyah lainnya.

2. Perjalanan Fathu Makkah dan Berbuka Puasa di Tengah Jalan

Nabi keluar dari Madinah menuju Makkah pada tanggal 10 Ramadan (atau tanggal 2 menurut riwayat lain). Beliau dan para sahabat pada awalnya melakukan perjalanan dalam keadaan berpuasa.

Namun, karena cuaca yang sangat panas, beliau sempat menuangkan air ke atas kepalanya di daerah Al-‘Arj. Ketika tiba di Al-Kadid (sebuah tempat antara ‘Usfan dan Amaj), Nabi meminta segelas air lalu meminumnya untuk membatalkan puasa, dan memerintahkan orang-orang untuk ikut berbuka.

3. Kisah Menyegerakan Berbuka Puasa

Dalam perjalanan ini, terdapat peristiwa di mana Nabi meminta sahabat Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu untuk mengadukkan minuman (sawiq) segera setelah matahari terbenam.

Sahabat tersebut sempat meminta Nabi untuk menunggu karena hari dirasa masih cukup terang (sore hari). Namun, Nabi tetap memerintahkannya turun dan mengaduk minuman, seraya mengajarkan bahwa apabila malam telah terlihat datang dari arah timur, maka itulah waktu berbuka bagi orang yang berpuasa.

4. Penghancuran Berhala-Berhala Besar

Setelah Makkah berhasil ditaklukkan, pada hari-hari terakhir bulan Ramadan ini Nabi mengutus tiga rombongan sariyah secara terpisah untuk menghancurkan berhala-berhala utama kaum musyrikin:

  • Sa’ad bin Zaid Al-Asyhali diutus untuk menghancurkan berhala Manat saat Ramadan tersisa enam hari.
  • Khalid bin Al-Walid diutus untuk menghancurkan berhala Al-‘Uzza saat Ramadan tersisa lima hari.
  • ‘Amr bin Al-Ash diutus untuk menghancurkan berhala Suwa’.

Ramadan Kedelapan (Tahun Ke-9 Hijriah): Tahun Utusan (Wufud)

1. Kedatangan Utusan Bani Tsaqif

Nabi tiba kembali di Madinah sepulang dari Perang Tabuk pada bulan Ramadan, dan pada bulan tersebut utusan dari Bani Tsaqif datang menemui beliau. Bilal ditugaskan membawakan makanan berbuka dan sahur untuk mereka dari sisi Rasulullah .

Setiap malam setelah shalat Isya, Nabi mendatangi kemah mereka untuk berbincang-bincang sambil berdiri hingga beliau memindahkan tumpuan kakinya bergantian karena lamanya berdiri. Pernah suatu malam beliau datang terlambat karena harus menyelesaikan wirid/hizb bacaan Al-Qur’an beliau terlebih dahulu.[12]

2. Penundaan I’tikaf Nabi ke Bulan Syawal

Penulis menyimpulkan bahwa peristiwa penundaan i’tikaf Nabi kemungkinan besar terjadi pada Ramadan ini. Kisahnya bermula ketika Aisyah meminta izin ikut beri’tikaf dan mendirikan kemah di dalam masjid, yang kemudian diikuti oleh Hafshah dan Zainab.

Melihat kemah-kemah tersebut, Nabi memerintahkan agar dibongkar karena mempertanyakan niat kebaikan mereka, lalu beliau membatalkan i’tikafnya di bulan Ramadan tersebut dan menggantinya pada sepuluh hari terakhir bulan Syawal.

Penulis menganalisis pembatalan ini terjadi karena Nabi sedang sangat sibuk melayani dan mendidik utusan Bani Tsaqif yang baru masuk Islam. Selain itu, keberadaan kemah istri-istrinya akan mempersempit ruang masjid yang saat itu sedang dipenuhi oleh para utusan.

3. Kedatangan Berbagai Utusan Lainnya

Selain Bani Tsaqif, bulan ini juga diwarnai kedatangan utusan dari Bani Sa’ad Hudzaim, suku Ad-Dariyyin, kabilah Fazarah (yang sempat meminta shalat istisqa’ lalu Nabi berdoa memohon hujan hingga turun hujan), serta kedatangan utusan dari Bani Murrah.

4. Puasa ‘Adi bin Hatim

Sahabat ‘Adi bin Hatim berpuasa bersama Rasulullah pada Ramadan ini. Ia memiliki kisah menarik saat keliru memahami firman Allah tentang batas waktu sahur

﴿حَتَّى يَتَبَيَّنَ لكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ﴾

“hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam”.

Ia benar-benar meletakkan tali (pengikat unta) hitam dan putih di bawah bantalnya. Nabi kemudian meluruskan pemahamannya bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah pergantian antara gelapnya malam dan terangnya siang. ‘Adi juga bersaksi tentang benarnya janji Nabi bahwa kelak umat Islam akan menaklukkan perbendaharaan kekayaan (Raja) Kisra bin Hurmuz.

5. Keislaman Watsilah bin Al-Asqa’ dan Mukjizat Makanan

Pada tahun ini, Watsilah bin Al-Asqa’ masuk Islam dan bergabung dengan Ahlush Shuffah (para sahabat miskin yang tinggal di pelataran masjid). Ia mengisahkan suatu malam di bulan Ramadan di mana mereka sama sekali tidak mendapat kiriman makanan untuk berbuka hingga dua malam berturut-turut.

Ketika dilaporkan kepada Nabi , beliau mengecek ke rumah semua istrinya namun tak satupun memiliki persediaan makanan. Nabi kemudian mengumpulkan mereka dan berdoa memohon karunia Allah.

«اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ، فَإِنَّهُمَا بِيَدِكَ لَا يَمْلِكُهُمَا أَحَدٌ غَيْرُكَ».

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dari karunia-Mu dan rahmat-Mu, karena sesungguhnya keduanya berada di Tangan-Mu, tidak ada seorang pun yang memilikinya selain-Mu.”

Tidak lama berselang, seseorang datang membawa kambing panggang dan roti yang mengenyangkan mereka semua, sebagai bentuk terkabulnya doa Rasulullah .

Ramadan Kesembilan (Tahun Ke-10 Hijriah): Ramadan terakhir

1. Analisis Mengenai Wafatnya Ibrahim (Putra Nabi )

Mayoritas ahli sejarah menyebutkan bahwa putra Nabi , Ibrahim, wafat pada tahun ke-10 Hijriah, namun mereka berbeda pendapat apakah di bulan Rabiul Awal, Ramadan, atau Dzulhijjah.

Berdasarkan penelitian ilmu falak oleh Mahmud Pasha Al-Falaki, gerhana matahari yang bertepatan dengan hari wafatnya Ibrahim terjadi pada 29 Syawal 10 H (27 Januari 632 M).

Dari perhitungan ini, penulis menyimpulkan bahwa pada bulan Ramadan tahun ke-10 H ini, Ibrahim masih hidup dan Nabi masih merasakan kebahagiaan bersamanya.

2. Sariyah (Ekspedisi Militer) Ali bin Abi Thalib

Pada bulan Ramadan ini, terjadi sariyah atau ekspedisi militer kedua yang dipimpin oleh Ali radhiyallahu ‘anhu menuju wilayah Yaman.[13]

3. Kedatangan Utusan Bani Ghassan dan Jarir bin Abdullah

Pada bulan ini, Madinah menerima kedatangan utusan dari Bani Ghassan yang terdiri dari tiga orang laki-laki. Selain itu, kedatangan sahabat Jarir bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu juga terjadi pada bulan ini (menurut riwayat Muhammad bin Umar Al-Aslami).

4. Pelaksanaan I’tikaf Selama 20 Hari

Biasanya, Nabi beri’tikaf selama sepuluh hari pada setiap bulan Ramadan. Namun, pada tahun wafatnya ini, beliau memperpanjang masa i’tikafnya menjadi dua puluh hari penuh.

«كَانَ النَّبِيُّ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشَرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا».

“Nabi biasanya beri’tikaf pada setiap bulan Ramadan selama sepuluh hari. Maka tatkala tiba tahun di mana beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.”[14]

5. Penyetoran Al-Qur’an Sebanyak Dua Kali

Malaikat Jibril selalu menemui Nabi setiap malam di bulan Ramadan untuk menyimak bacaan Al-Qur’an beliau. Jika pada tahun-tahun sebelumnya Al-Qur’an disetorkan dan diulang sekali dalam setahun, maka pada Ramadan terakhir ini Al-Qur’an disetorkan (diperdengarkan) kepada Jibril sebanyak dua kali.

6. Puncak Kedermawanan dan Pembebasan Tawanan

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa Nabi adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin memuncak di bulan Ramadan saat bertemu Jibril, bahkan digambarkan lebih dermawan daripada “angin yang berhembus kencang”.

Selain itu, Ibnu Abbas juga mencatat kebiasaan Nabi bahwa apabila bulan Ramadan telah tiba, beliau selalu membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta.

Petunjuk dan Kebiasaan Nabi di Bulan Ramadan

1. Menyegerakan Berbuka Puasa

Nabi tidak pernah melaksanakan shalat Maghrib sebelum berbuka puasa terlebih dahulu, meskipun hanya dengan meminum seteguk air.

Urutan makanan berbuka beliau adalah mendahulukan kurma basah (ruthab); jika tidak mendapatinya, beliau berbuka dengan kurma kering (tamr); dan jika tidak ada, beliau meminum beberapa teguk air.

Beliau juga berdoa saat berbuka dengan mengucapkan:

“Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala insya Allah Ta’ala”.

2. Menganjurkan Makan Sahur

Nabi sangat menganjurkan umatnya untuk makan sahur dengan menyeru para sahabat, “Kemarilah menuju hidangan pagi yang penuh berkah”.

Beliau menjelaskan bahwa hidangan sahur adalah keberkahan yang Allah berikan sehingga tidak pantas untuk ditinggalkan.

Beliau terkadang makan sahur bersama para sahabat dan mengakhirkan waktunya, dengan jarak antara azan Subuh dan makan sahur kira-kira seukuran waktu membaca 50 ayat Al-Qur’an.

3. Tetap Berpuasa Meski Mendapati Fajar dalam Keadaan Junub

Apabila beliau mendapati waktu fajar (Subuh) dalam keadaan junub setelah mencampuri istrinya di malam hari, beliau mandi setelah fajar terbit dan tetap melanjutkan puasanya. Selain itu, beliau terkadang mencium istrinya ketika sedang berpuasa.

4. Memperbanyak Shalat Malam (Qiyam)

Nabi sering mendirikan shalat malam sendirian, tetapi terkadang beberapa sahabat ikut bermakmum kepada beliau. Beliau pernah melaksanakan shalat malam (Tarawih) berjamaah di masjid selama beberapa malam berturut-turut.

Namun pada malam keempat, beliau sengaja tidak keluar memimpin shalat berjamaah karena khawatir shalat tersebut akan difardhukan (diwajibkan) kepada umatnya sehingga mereka tidak sanggup melaksanakannya.

Saat shalat malam sendirian, beliau kerap memanjangkan bacaan (seperti membaca surah Al-Baqarah, Ali ‘Imran, dan An-Nisa’ sekaligus), serta melakukan ruku’ dan sujud yang durasinya nyaris sama panjang dengan berdirinya.

5. Bersungguh-sungguh Ibadah di 10 Malam Terakhir

Meskipun beliau selalu beribadah di sepanjang Ramadan, kesungguhan beliau semakin memuncak pada sepuluh malam terakhir.

Apabila memasuki sepuluh malam terakhir, Nabi “mengencangkan kain sarungnya” (fokus beribadah dan menjauhi istri), menghidupkan malam-malamnya dengan ketaatan, serta senantiasa membangunkan keluarganya agar ikut beribadah.

6. Mengingatkan Sahabat akan Keutamaan Bulan Ramadan

Beliau senantiasa mempersiapkan mental para sahabat dalam menyambut Ramadan dengan menjelaskan bahwa ini adalah bulan penuh rahmat, penghapusan dosa, dan bulan di mana doa sangat mustajab.

Akan tetapi, beliau juga memberi peringatan keras bahwa orang yang sangat celaka adalah mereka yang menjumpai bulan Ramadan namun dosa-dosanya tidak mendapatkan ampunan dari Allah.

7. Menganjurkan Berbagi Makanan Berbuka

Sebagai bentuk saling mengasihi dan menanggung beban sesama, Nabi memotivasi umatnya untuk memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa.

«مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ».

“Barangsiapa yang memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala sepertinya, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.”[15]

8. Memotivasi Pelaksanaan Umrah di Bulan Ramadan

Petunjuk beliau yang lain adalah anjuran kuat untuk melaksanakan ibadah umrah di bulan suci ini. Nabi memberitahukan bahwa melaksanakan umrah di bulan Ramadan memiliki keutamaan yang setara dengan ibadah haji bersama beliau.

Penutup

Kesimpulan mengenai jejak Nabi di bulan Ramadan sekaligus pesan introspeksi (muhasabah) yang mendalam bagi umat Islam:

1. Rangkuman Ibadah Nabi di Bulan Ramadan

Bulan-bulan Ramadan yang dilalui Nabi selalu dipenuhi dengan ibadah yang berlipat ganda, mencakup puasa, qiyam (shalat malam), i’tikaf, tilawah Al-Qur’an, jihad di jalan Allah, dakwah, hingga penyebaran hukum-hukum agama.

Dapat diperhatikan pula bahwa frekuensi perjalanan (safar) beliau di bulan Ramadan terbilang sedikit, hal ini seolah menunjukkan bahwa beliau memusatkan diri sepenuhnya pada ibadah puasa dan shalat malam, kendati perjalanan yang beliau lakukan sejatinya bernilai jihad di jalan Allah.

2. Introspeksi (Muhasabah) Diri

Mari kita merenungkan posisi kita saat ini dibandingkan dengan keteladanan Nabi ; tentang bagaimana kita menghabiskan hari-hari dan malam-malam Ramadan, serta bagian (keberuntungan) apa yang berhasil kita raih.

Mengingat Ramadan adalah “Penghulu segala bulan” dan merupakan musim ketaatan yang sangat agung kepada Allah, maka sudah sepantasnya kita tidak menyia-nyiakan kesempatan dan pundi-pundi pahala di dalamnya.

3. Ancaman bagi yang Menyia-nyiakan Ramadan

Kita dianjurkan untuk terus merenungi dan mengulang-ulang sabda Rasulullah :

“Celakalah bagi orang yang menjumpai Ramadan namun ia tidak diampuni. Jika ia tidak diampuni di dalamnya, lantas kapan lagi?”.

Kemudian apalag artinya hari raya bagi seseorang yang mendapati Idulfitri tetapi ia tidak melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan.

4. Peringatan akan Kematian

Marilah kita untuk memandang sekeliling dan menyadari kefanaan dunia; betapa banyak saudara, teman, kekasih, atau sahabat yang kemarin masih bersama kita, namun hari ini telah tiada. Dan kita semua kelak pasti akan menyusul mereka, maka hendaknya kita segera membulatkan tekad dan bersiap-siap.

5. Pesan Akhir: Pilihan Menuju Surga atau Neraka

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa berusaha menjadi muslim yang sejati, yang perilakunya membuat bumi merasa bahagia atas keberadaan kita di atasnya. Bulan Ramadan adalah salah satu jalan terdekat untuk mewujudkan hal tersebut.

Pada akhirnya, pilihan kehidupan sepenuhnya ada di tangan kita, karena tempat berpulang kelak hanyalah satu di antara dua tempat, tidak ada pilihan ketiga: Surga atau Neraka!

  1. Dowload E-Book: https://t.me/markaz_inayah/2232
  2. Diriwayatkan oleh Abu Hafsh Ibnu Syahin dalam Fadha’il Ramadan, dan beliau berkata: Hadis gharib (asing) dengan sanad yang jayyid (baik). At-Targhib wa At-Tarhib (2/150).
  3. Ketika beliau berumur sekitar 20 tahun.
  4. Al-Maghazi (2/255). Lihat pula mengenainya: Al-Isabah (4/315). (Kebanyakan riwayat menyebutkan bahwa beliau menikahi Hafshah di bulan Sya’ban. Pent-).
  5. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum (Kitab Puasa)—dan beliau tidak menyebutkan babnya—(4/182).
  6. Umur beliau sekitar 15 tahun.
  7. Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-I’tikaf: Bab Al-I’tikaf fi Al-‘Asyr Al-Awakhir… (4/271).
  8. Terjadi di bulan Rajab, tahun 6 Hijriyah. Tujuan ekspedisi ini adalah untuk memerangi kabilah Bani Fazarah, yang merupakan kabilah ‘Uyna bin Hisn, yang sebelumnya menyerang Madinah tiga bulan sebelumnya.
  9. Sallam bin Abi Al-Huqaiq termasuk tokoh yang memusuhi Nabi dan menghasut kabilah-kabilah untuk memerangi kaum Muslimin.
  10. Setelah penaklukan Khaibar (7 H), Nabi membiarkan penduduk Yahudi tetap mengelola kebun mereka dengan sistem bagi hasil, dan Abdullah bin Rawahah sering diutus untuk menaksir hasil panen agar pembagian adil.
  11. Dalam ekspedisi inilah terjadi peristiwa di mana sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu membunuh Nahik bin Mirdas yang telah mengucapkan kalimat tauhid “La ilaha illallah”, sehingga Nabi menegurnya dengan keras seraya bersabda, “Mengapa engkau tidak membelah hatinya agar engkau tahu apakah ia jujur atau berdusta?”.
  12. Barangkali yang dimaksud oleh Nabi adalah beliau sedang menyetorkan bacaan Al-Qur’annya kepada Jibril, karena beliau menerimanya (tadarus) pada setiap malam bulan Ramadan lalu menyetorkan Al-Qur’an kepadanya sebagaimana penjelasan yang akan datang.
  13. Tujuannya utama adalah mengajak suku‑suku Yaman kepada Islam, bukan peperangan semata.
  14. Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-I’tikaf: Bab Al-I’tikaf fi Al-‘Asyr Al-Ausath min Ramadan (4/284-285).
  15. Al-Mundziri berkata: Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi [nomor (804)], An-Nasa’i [dalam Al-Kubra nomor (3317)], Ibnu Majah [nomor (1746)], Ibnu Khuzaimah [nomor (2064)] dan Ibnu Hibban [nomor (3429)] dalam shahih keduanya. At-Tirmidzi berkata: “(Ini adalah) hadis sahih…” Dan lafaz Ibnu Khuzaimah serta An-Nasa’i adalah: “Barangsiapa yang membekali orang yang berperang, atau membekali orang yang berhaji, atau menjaga keluarganya yang ditinggalkan, atau memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” At-Targhib (2/145).

Tim Ilmiah Markaz Inayah

Markazinayah.com adalah website dakwah yg dikelola oleh Indonesian Community Care Center Riyadh, KSA. Isi dari website ini adalah kontribusi dari beberapa mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan di beberapa universitas di Arab Saudi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button