Motivasi Islami

Syakban Datang, Tutup Toko, Sibuk Interaksi Al-Quran

وَكَانَ عَمْرُو بْنُ قَيْسٍ الْمَلَائِيُّ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ أَغْلَقَ حَانُوتَهُ وَتَفَرَّغَ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

Dahulu ‘Amr bin Qais al-Malā’ī apabila masuk bulan Sya‘ban menutup tokonya dan menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an. (Lathaiful Ma’arif)

Penjelasan:

Perilaku ‘Amr bin Qais al-Malā’ī rahimahullāh, menutup tokonya ketika masuk bulan Sya‘ban dan mengkhususkan diri untuk membaca Al-Qur’an, menunjukkan tingkat kesadaran spiritual yang sangat tinggi di kalangan para salaf. Tindakan ini bukan sekadar sikap individual, tetapi mencerminkan sebuah paradigma hidup di mana ibadah dan hubungan dengan Allah didahulukan di atas urusan dunia, terutama ketika datang waktu-waktu yang memiliki keutamaan khusus.

Menutup toko pada bulan Sya‘ban menunjukkan bahwa bagi ‘Amr bin Qais, perdagangan dan aktivitas ekonomi bukan tujuan utama hidup, melainkan sarana untuk bertahan hidup. Ketika datang momen-momen yang memiliki nilai ibadah yang besar, ia berani mengorbankan keuntungan materi demi meraih keuntungan ukhrawi. Ini adalah bentuk zuhud yang mendalam: dunia berada di tangannya, bukan di hatinya.

Sikap ini juga mencerminkan pemahaman yang matang tentang prioritas dalam agama. Banyak manusia sibuk mengejar rezeki sepanjang tahun, tetapi lupa bahwa rezeki sejati datang dari Allah. ‘Amr bin Qais memahami bahwa dengan mendekatkan diri kepada Allah melalui Al-Qur’an, pintu keberkahan justru akan terbuka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Tindakan “menutup toko” juga mengandung makna simbolis yang sangat kuat. Seolah-olah ia menutup pintu-pintu dunia sementara waktu, agar pintu hatinya terbuka lebar untuk menerima cahaya Al-Qur’an. Ini adalah bentuk uzlah (mengasingkan diri) yang terpuji, bukan untuk melarikan diri dari masyarakat, tetapi untuk membersihkan jiwa dan memperbarui keimanan.

Fokusnya kepada “qirā’ah al-Qur’ān” menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah pusat kehidupan spiritual para salaf. Bagi mereka, Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan ritual, tetapi sumber kehidupan, petunjuk, dan obat bagi hati. Dengan menyibukkan diri dengannya, mereka sedang menyirami hati mereka sebelum memasuki Ramadan, bulan di mana Al-Qur’an diturunkan.

Jika kita kaitkan dengan hikmah bulan Sya‘ban, tindakan ‘Amr bin Qais selaras dengan pemahaman bahwa Sya‘ban adalah bulan persiapan. Sebagaimana tubuh dilatih dengan puasa, hati dilatih dengan tilawah. Dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an di Sya‘ban, ia mempersiapkan dirinya untuk memasuki Ramadan dengan hati yang hidup dan jiwa yang lembut.

Dari sisi pendidikan spiritual, sikap ini mengajarkan bahwa ibadah membutuhkan fokus dan pengorbanan. Tidak mungkin seseorang mencapai kekhusyukan yang tinggi jika hatinya terus terikat pada kesibukan dunia. Dengan mengurangi aktivitas duniawi, ‘Amr bin Qais memberi ruang bagi hatinya untuk tenggelam dalam makna-makna Al-Qur’an.

Selain itu, perilaku ini menunjukkan kedisiplinan ibadah yang luar biasa. Ia tidak menunggu datangnya Ramadan untuk mulai serius dengan Al-Qur’an, tetapi memulainya sejak Sya‘ban. Ini mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan ibadah di Ramadan sangat bergantung pada bagaimana kita mempersiapkan diri sebelumnya.

Dari sudut pandang sosial, tindakan ini juga memberi teladan bagi masyarakat sekitarnya. Ketika orang melihat seorang pedagang menutup tokonya demi Al-Qur’an, hal itu menjadi dakwah praktis yang lebih kuat daripada ribuan kata. Ia mengajarkan bahwa ibadah lebih berharga daripada keuntungan materi.

Namun, perlu dipahami bahwa menutup toko bukanlah tuntutan syariat bagi setiap muslim. Yang dituntut adalah ruh dan makna di balik tindakan tersebut, yaitu memprioritaskan Allah dan Al-Qur’an, bukan bentuk lahiriahnya. Setiap orang bisa meneladani sikap ini sesuai kemampuannya dan kondisinya.

Bagi orang yang bekerja, teladan ini bisa diwujudkan dengan mengatur waktu lebih baik di Sya‘ban: mengurangi hiburan, memperbanyak tilawah, memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an, dan menyiapkan hati untuk Ramadan. Bukan harus meninggalkan pekerjaan, tetapi mengubah orientasi hati.

Secara lebih dalam, sikap ‘Amr bin Qais menunjukkan bahwa hubungan dengan Al-Qur’an bukan hubungan musiman, tetapi menjadi pusat hidupnya. Sya‘ban hanyalah momentum untuk semakin menguatkan apa yang sudah menjadi kebiasaan dalam kesehariannya.

Jika kita bandingkan dengan kondisi banyak kaum muslimin hari ini, terlihat jurang yang sangat jauh. Banyak yang justru semakin sibuk dengan dunia menjelang Ramadan, sementara para salaf justru semakin meninggalkan dunia. Ini menjadi cermin bagi kita untuk mengevaluasi prioritas hidup.

Pada akhirnya, kisah ‘Amr bin Qais al-Malā’ī mengajarkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi teman hidup, cahaya hati, dan bekal menuju akhirat. Siapa yang memuliakan Al-Qur’an, niscaya Allah akan memuliakannya.

Kesimpulannya, tindakan beliau adalah teladan agung tentang bagaimana seorang mukmin mempersiapkan diri menyambut bulan ibadah terbesar. Dengan menutup toko dan membuka mushaf, ia menunjukkan bahwa harta bisa ditinggalkan, tetapi Al-Qur’an tidak boleh ditinggalkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk meneladani semangat para salaf dalam memuliakan Sya‘ban sebagai bulan persiapan, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai teman setia dalam setiap musim kehidupan kita.

Sayyid Syadly, Lc

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button