Tatsqif

Setiap Dari Kita Berada Di Sebuah Pos Penjagaan

كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا عَلَى ثَغْرٍ مِنْ ثُغُورِ الْإِسْلَامِ، لَا يُمْكِنُ أَنْ يَسُدَّهُ أَحَدٌ مَسَدَّهُ فِيهِ.

“Setiap dari kita berada di sebuah pos penjagaan! Yang tidak mungkin bisa tergantikan posisinya dengan orang lain”

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَىٰ نَهْجِهِ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ.

Waba’du

Sesungguhnya di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada umat ini adalah agama Islam yang sempurna. Agama yang tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga mengatur kehidupan, peran, dan tanggung jawab setiap manusia di dalamnya.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى﴾

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.”

(QS. Al-Mā’idah: 2)

Ayat ini menunjukkan bahwa agama ini dibangun di atas kerja sama dan saling melengkapi, bukan persaingan dan saling merendahkan.

Para sahabat Nabi ﷺ memahami hal ini dengan sangat baik. Setiap dari mereka memiliki peran yang berbeda, namun semuanya berkhidmat untuk agama yang sama.

Ada yang berjihad dengan pedangnya.

Ada yang berjihad dengan hartanya.

Ada yang berjihad dengan ilmunya.

Ada pula yang berjihad dengan lisannya.

Di antara kisah yang indah dalam hal ini adalah kisah Hassan bin Tsabit رضي الله عنه, penyair Rasulullah ﷺ, yang membela Islam dengan syairnya ketika kaum musyrikin menyerang Islam dengan propaganda dan ejekan.

Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Hassan:

«أَجِبْ عَنِّي، اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ»

“Jawablah (bantahlah mereka) untukku. Ya Allah, kuatkanlah dia dengan Ruhul Qudus.”

Hadis ini menunjukkan bahwa membela Islam tidak selalu dengan pedang, tetapi juga bisa dengan ilmu, tulisan, lisan, dan pemikiran.

Dari sinilah kita memahami sebuah pelajaran penting:

Setiap dari kita berada di sebuah pos penjagaan dalam agama ini.

Dan inilah yang akan kita bahas dalam kajian kita hari ini.

 عن أبي هريرة أنَّ عُمَرَ، مَرَّ بحَسَّانَ وَهو يُنْشِدُ الشِّعْرَ في المَسْجِدِ، فَلَحَظَ إلَيْهِ، فَقالَ: قدْ كُنْتُ أُنْشِدُ، وَفِيهِ مَن هو خَيْرٌ مِنْكَ، ثُمَّ التَفَتَ إلى أَبِي هُرَيْرَةَ، فَقالَ: أَنْشُدُكَ اللَّهَ أَسَمِعْتَ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يقولُ: أَجِبْ عَنِّي، اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ برُوحِ القُدُسِ؟ قالَ: اللَّهُمَّ نَعَمْ. وفي روايةٍ : أنَّ حَسَّانَ، قالَ في حَلْقَةٍ فيهم أَبُو هُرَيْرَةَ: أَنْشُدُكَ اللَّهَ يا أَبَا هُرَيْرَةَ أَسَمِعْتَ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ فَذَكَرَ مِثْلَهُ.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Umar pernah melewati Hassan bin Tsabit ketika ia sedang melantunkan syair di dalam masjid. Umar pun memandang kepadanya (seakan menegurnya).

Lalu Hassan berkata:

“Aku dahulu juga melantunkan syair di masjid, sementara di dalamnya ada orang yang lebih baik darimu.”

Kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah dan berkata:

“Aku memintamu demi Allah, apakah engkau pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Jawablah (bantahlah) untukku. Ya Allah, kuatkanlah dia dengan Ruhul Qudus (Jibril).’?”

Abu Hurairah menjawab:

“Ya, demi Allah, benar.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Hassan berkata di suatu majelis yang di dalamnya terdapat Abu Hurairah:

“Aku memintamu demi Allah wahai Abu Hurairah, apakah engkau pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda demikian?” Lalu ia menyebutkan hadis yang sama.

Status hadis: Sahih.

Perawi: Hassan bin Tsabit dan Abu Hurairah رضي الله عنهما

Muhaddits: Imam Muslim

Sumber: Ṣaḥīḥ Muslim no. 2485

Takhrij: Juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3212 dengan sedikit perbedaan lafaz.

Dalam hadis di atas diceritakan bahwa suatu hari ‘Umar bin Al-Khaththab melewati masjid, lalu ia melihat Hassan bin Tsabit sedang melantunkan syair di dalamnya. Umar pun menegurnya. Bukan karena ia mengharamkan syair, dan bukan pula karena merendahkan para penyair. Bagaimana mungkin, sementara ia sendiri pernah berkata:

«تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ»

“Pelajarilah bahasa Arab.”

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra (2/28), oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jāmi‘ Bayān Al-‘Ilm wa Faḍlih (2/1132), dan oleh Abu ‘Awanah dalam Mustakhraj-nya (5/232). Sanadnya sahih, dan para perawinya terpercaya (tsiqah).

Namun tegurannya itu adalah untuk meninggikan kedudukan masjid dan memuliakannya, agar tidak diucapkan di dalamnya kecuali Al-Qur’an yang mulia dan hadis Nabi.

Akan tetapi Hassan bin Tsabit berkata kepadanya:

قدْ كُنْتُ أُنْشِدُ، وَفِيهِ مَن هو خَيْرٌ مِنْكَ، ثُمَّ التَفَتَ إلى أَبِي هُرَيْرَةَ

“Wahai Amirul Mukminin, dahulu aku juga melantunkan syair di masjid, sementara di dalamnya ada orang yang lebih baik darimu.”

Kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah dan berkata:

أَنْشُدُكَ اللَّهَ أَسَمِعْتَ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يقولُ: أَجِبْ عَنِّي، اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ برُوحِ القُدُسِ؟

“Wahai Abu Hurairah, bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah ﷺ berkata kepadaku:

‘Wahai Hassan, jawablah (bantahlah) untukku. Ya Allah, kuatkanlah dia dengan Ruhul Qudus.’?”

Abu Hurairah menjawab:

اللَّهُمَّ نَعَمْ.

 “Ya.”

Maka Umar pun pergi dan membiarkannya.

Atsar ini menunjukkan keutamaan Khalifah Umar bin al Khatab radliallahu anhu, Sebab keutamaan bukanlah seseorang selalu benar, tetapi keutamaan itu adalah ketika ia berhenti di hadapan kebenaran ketika jelas baginya bahwa ia telah keliru.

أَجِبْ عَنِّي

“Jawablah untukku!”

Di sinilah inti pembicaraan.

Agama ini yang suatu hari membutuhkan pedang Khalid ketika peperangan berkecamuk, juga membutuhkan syair Hassan ketika pertempuran pemikiran memanas.

Khalid tidak mungkin menutup posisi Hassan, dan Hassan tidak mungkin menutup posisi Khalid.

Allah telah menempatkan setiap dari kita pada sebuah pos penjagaan (tsaghr), dan ia harus menjaga pos itu dengan seluruh kemampuan yang ia miliki, tanpa meremehkan pos yang dijaganya, dan tanpa merasa posnya lebih penting daripada pos-pos yang lain.

Harta Utsman bin Affan pada saat Perang Tabuk (Jaisyul ‘Usrah) lebih penting daripada bacaan Ubay bin Ka‘b. Namun ketika pengumpulan mushaf Al-Qur’an, bacaan Ubay bin Ka‘b lebih penting daripada harta Utsman, pedang Khalid, dan syair Hassan.

Maka jadilah singa ketika tiba giliranmu.

Pedang Ali bin Abi Thalib ketika menghadapi Marhab dalam peperangan sebanding dengan harta Abu Bakar yang digunakan untuk memerdekakan Bilal.

Pedang Ali tidak mungkin membebaskan seorang budak Muslim dari belenggunya, sebagaimana harta Abu Bakar tidak mungkin membunuh Marhab.

Agama ini menjadi sempurna karena saling melengkapi di antara para pengikutnya, bukan karena persaingan dan saling mengunggulkan.

Keadaan Islam Hari Ini

Demikian pula keadaan Islam hari ini.

Banyak pos penjagaan, dan setiap dari kita berada pada sebuah pos.

Seorang ibu di rumahnya berada pada pos, karena membentuk generasi lelaki adalah tugas yang agung.

Seorang guru di kelasnya berada pada pos, karena umat yang bodoh akan dipimpin dan tidak akan memimpin.

Seorang mujahid berada pada pos yang tidak dapat digantikan oleh imam masjid.

Dan imam masjid berada pada pos yang tidak dapat digantikan oleh seorang pedagang kaya.

Namun pos seorang pedagang kaya dengan sedekah, infak, dan membantu manusia tidaklah kurang penting dibandingkan peran seorang mujahid yang mengorbankan darahnya, ataupun imam masjid yang membimbing manusia menuju Allah.

Lihatlah di mana Allah menempatkanmu.

Itulah posmu yang harus engkau jaga dan perjuangkan.

Apabila setiap orang menjalankan perannya, maka umat ini akan kembali meraih kejayaannya.

Sebuah Kisah

Suatu ketika istri seorang raja sakit. Para dokter menyarankan agar ia mandi setiap hari dengan susu.

Raja pun bertanya-tanya bagaimana mungkin mengisi bak mandi dengan susu setiap hari.

Menterinya mengusulkan agar setiap penggembala di kerajaan membawa satu ember susu pada malam hari dan menuangkannya ke dalam bak itu. Dengan begitu masalah akan selesai.

Namun setiap penggembala berkata dalam hatinya:

“Kalau aku menuangkan ember air saja, pasti akan bercampur dengan susu orang lain dan raja tidak akan mengetahuinya.”

Keesokan paginya, raja mendapati bak itu penuh dengan air.

Tidak ada seorang pun yang memulai dari dirinya sendiri.

Setiap orang menunggu orang lain melakukan tugasnya.

Dan itulah, secara singkat, keadaan kita hari ini.

Dua Sebab Kegagalan Suatu Program

1. Ketika Penanggung Jawab Meninggalkan Tugasnya

(seperti para pemanah pada Perang Uhud)

Salah satu sebab kegagalan adalah ketika seseorang yang diberi amanah meninggalkan pos atau tugas yang telah dipercayakan kepadanya.

Peristiwa ini terjadi pada Perang Uhud, ketika sebagian pemanah meninggalkan posisi yang telah diperintahkan oleh Nabi ﷺ untuk mereka jaga. Akibatnya, pasukan kaum muslimin mengalami kekacauan.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الْآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾

(QS. آل عمران: 152)

“Sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya, hingga ketika kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu serta mendurhakai perintah (Rasul) setelah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada yang menginginkan dunia dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian. Dan sungguh Allah telah memaafkan kalian. Allah memiliki karunia atas orang-orang beriman.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kegagalan dapat terjadi karena meninggalkan amanah dan tidak disiplin dalam menjalankan tugas.

2. Ketika Penanggung Jawab Tidak Maksimal dalam Menjalankan Tugasnya

Sebab kedua adalah ketika seseorang memang berada pada posnya, namun tidak melaksanakan tugas dengan kesungguhan dan keikhlasan.

Rasulullah ﷺ menggambarkan sifat seorang mukmin yang ideal dalam hadis berikut:

«طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَشْعَثُ رَأْسُهُ مُغْبَرَّةٌ قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ»

(HR. البخاري رقم 2887)

“Berbahagialah seorang hamba yang memegang tali kekang kudanya di jalan Allah, rambutnya kusut dan kakinya berdebu. Jika ia ditempatkan dalam penjagaan, maka ia benar-benar menjaga; dan jika ia ditempatkan di barisan belakang, maka ia benar-benar berada di barisan belakang. Jika ia meminta izin tidak diberi izin, dan jika ia memberi syafaat tidak diterima.”

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang mukmin yang baik adalah orang yang menjalankan tugasnya dengan penuh kesungguhan, meskipun tugas itu tidak terlihat besar di mata manusia.

Dengan demikian, kegagalan suatu program biasanya terjadi karena dua hal utama:

1. Meninggalkan amanah dan posisi yang telah ditugaskan.

2. Tidak maksimal dan tidak sungguh-sungguh dalam menjalankan tugas tersebut.

Sebaliknya, keberhasilan akan terwujud ketika setiap orang menjaga posnya dengan amanah, disiplin, dan penuh tanggung jawab.

Penutup

Dari pembahasan ini kita memahami sebuah pelajaran besar: agama ini berdiri dengan berbagai peran yang saling melengkapi.

Tidak semua orang harus menjadi ulama.

Tidak semua orang harus menjadi mujahid.

Tidak semua orang harus menjadi pedagang.

Tidak semua orang harus menjadi penulis.

Namun setiap orang harus menjaga pos yang Allah berikan kepadanya.

Seorang ibu menjaga posnya di rumah dengan mendidik anak-anaknya.

Seorang guru menjaga posnya di kelas dengan mengajarkan ilmu.

Seorang dai menjaga posnya dengan menyampaikan dakwah.

Seorang pedagang menjaga posnya dengan hartanya dan sedekahnya.

Karena itu Nabi ﷺ bersabda:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maka hendaknya setiap kita bertanya kepada dirinya:

Di mana Allah menempatkanku?

Apa pos yang harus aku jaga dalam agama ini?

Jika setiap orang menjalankan perannya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, maka umat ini akan kembali kuat sebagaimana dahulu.

Jangan sampai kita seperti kisah para penggembala yang masing-masing berharap orang lain yang melakukan tugasnya.

Mulailah dari diri kita sendiri.

Jagalah pos yang Allah amanahkan kepada kita.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang membela agama-Nya dengan apa yang kita mampu.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button