Sebelum Ramadan Tiba

قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ الْحَنْبَلِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: “وَلَمَّا كَانَ شَعْبَانُ كَالْمُقَدِّمَةِ لِرَمَضَانَ، شُرِعَ فِيهِ مَا يُشْرَعُ فِي رَمَضَانَ مِنَ الصِّيَامِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ؛ لِيَحْصُلَ التَّأَهُّبُ لِتَلَقِّي رَمَضَانَ، وَتَرْتَاضَ النُّفُوسُ بِذَلِكَ عَلَى طَاعَةِ الرَّحْمَنِ”
“Karena bulan Sya‘ban merupakan seperti pendahuluan bagi bulan Ramadan, maka disyariatkan di dalamnya amalan-amalan yang disyariatkan di bulan Ramadan berupa puasa dan membaca Al-Qur’an; agar terwujud persiapan untuk menyambut Ramadan, dan jiwa-jiwa terbiasa dengan ketaatan kepada Allah Yang Maha Pengasih.” (Lathaiful Ma’arif)
Penjelasan:
Pernyataan ini menunjukkan bahwa bulan Sya‘ban memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai “jembatan spiritual” menuju Ramadan. Ia bukan sekadar bulan biasa di antara Rajab dan Ramadan, tetapi merupakan masa persiapan (tamḥīd) dan latihan sebelum memasuki bulan ibadah yang agung. Oleh karena itu, syariat menganjurkan amalan-amalan yang serupa dengan Ramadan, terutama puasa dan tilawah Al-Qur’an, agar seorang hamba tidak memasuki Ramadan secara mendadak tanpa kesiapan.
Makna “disyariatkan di dalamnya apa yang disyariatkan di Ramadan” bukan berarti hukum Sya‘ban sama persis dengan Ramadan, tetapi menunjukkan keserupaan dalam jenis amalannya. Di Ramadan puasa bersifat wajib, sedangkan di Sya‘ban ia bersifat sunnah; di Ramadan bacaan Al-Qur’an sangat ditekankan, dan di Sya‘ban hal yang sama dianjurkan sebagai latihan. Dengan demikian, Sya‘ban berfungsi sebagai bulan pembiasaan dan pemanasan ruhani sebelum ibadah yang lebih berat di Ramadan.
Tujuan utama dari pensyariatan ini adalah “liyaḥṣula at-ta’ahhub” agar tercapai kesiapan lahir dan batin untuk menyambut Ramadan. Kesiapan ini mencakup kesiapan fisik (terbiasa berpuasa), kesiapan hati (terbiasa khusyuk dan zikir), serta kesiapan ilmu (memahami adab-adab ibadah). Orang yang telah melatih dirinya di Sya‘ban akan memasuki Ramadan dengan lebih tenang, fokus, dan bersemangat.
Ibn Rajab juga menekankan aspek tarbiyah jiwa: “wa tartāḍa an-nufūs” agar jiwa-jiwa terlatih. Nafsu manusia cenderung malas dan lalai, sehingga perlu dilatih secara bertahap. Sya‘ban menjadi “madrasah latihan” sebelum “musim panen” di Ramadan. Dengan latihan ini, ketaatan kepada Allah bukan lagi terasa berat, tetapi menjadi kebiasaan yang manis dan menenangkan.
Juga mengajarkan bahwa kesuksesan ibadah di Ramadan sangat berkaitan dengan bagaimana seseorang memanfaatkan Sya‘ban. Siapa yang menghidupkan Sya‘ban dengan puasa, tilawah, dan ketaatan, insya Allah akan meraih Ramadan dengan hati yang siap, jiwa yang terlatih, dan amal yang lebih berkualitas.



