Tatsqif

Mukjizat Al-Qur’an Al-Karim

Mukjizat Al-Qur’an Al-Karim (إعجاز القرآن الكريم)

Pendahuluan

Sunnatullah pada para nabi adalah bahwa setiap nabi dibekali dengan sebuah tanda atau mukjizat yang menjadi bukti kebenaran risalahnya. Hal ini karena seorang nabi secara fisik tidak berbeda dengan manusia lainnya.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ﴾
(QS. الكهف: 110)

Artinya:
“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa.”

Karena itu para ulama mengatakan:

ٱلْمُعْجِزَةُ قَرِينَةُ ٱلرِّسَالَةِ

“Mukjizat adalah bukti yang menyertai kenabian.”
Lihat: Mabāḥits fī I‘jāz al-Qur’ān karya Mustafa Muslim, hlm. 23.

Setiap nabi memiliki mukjizatnya masing-masing. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

« مَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُهُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ »
(رواه البخاري ومسلم)

Artinya:
“Tidak ada seorang nabi pun melainkan telah diberi mukjizat yang membuat manusia beriman kepadanya. Adapun yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Maka aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat.”
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Lafaz yang disebutkan di sini adalah riwayat Al-Bukhari no. 4696, dalam Kitāb Bad’ al-Waḥy (Bab: Bagaimana wahyu diturunkan), jilid 4, hlm. 1905.

Pertama: Pengertian Mukjizat

Kata الإعجاز dan المعجزة berasal dari kata عجز yang berarti kelemahan atau ketidakmampuan.

Adapun menurut istilah ulama syariat:

Mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa (di luar kebiasaan), disertai tantangan, tidak dapat ditandingi, dan Allah menampakkannya melalui para rasul-Nya.
Lihat: Mabāḥits fī I‘jāz al-Qur’ān karya Mustafa Muslim, hlm. 14.
Lihat juga: Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān karya As-Suyuthi, 4/3, dan Manāhil al-‘Irfān karya Az-Zarqani, 1/66.

Sunnatullah dalam mukjizat para nabi adalah bahwa mukjizat tersebut sesuai dengan hal yang terkenal pada masyarakatnya.

Contohnya:

Mukjizat Nabi Musa menyerupai hal yang tampak seperti sihir, karena sihir sangat terkenal di zamannya.

Mukjizat Nabi Isa menyerupai pengobatan karena ilmu kedokteran berkembang saat itu.

Mukjizat Nabi Shalih muncul dari lingkungan masyarakat gurun.

Sedangkan mukjizat terbesar Nabi Muhammad ﷺ adalah Al-Qur’an, yang sesuai dengan keahlian bangsa Arab dalam bahasa, kefasihan, dan sastra.

Bangsa Arab saat itu sangat membanggakan syair. Kedudukan sebuah kabilah bisa naik hanya dengan satu bait syair, atau jatuh karena sebuah syair celaan.

Karena itu Al-Qur’an menantang mereka berulang kali:

mendatangkan yang semisal Al-Qur’an,

atau sepuluh surah,

atau satu surah saja.

Namun mereka tidak mampu melakukannya.
Lihat: Mabāḥits fī I‘jāz al-Qur’ān karya Mustafa Muslim, hlm. 38.

Ketika mereka meminta mukjizat fisik kepada Nabi ﷺ, Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an sendiri sudah cukup sebagai mukjizat.

Allah berfirman:

﴿ وَقَالُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَاتٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ﴾
(QS. العنكبوت: 50-51)

Artinya:
“Mereka berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya mukjizat itu berada di sisi Allah, dan aku hanyalah pemberi peringatan yang jelas.’
Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam itu terdapat rahmat dan pelajaran bagi kaum yang beriman.”

Kedua: Bentuk-Bentuk Kemukjizatan Al-Qur’an

Secara umum, kemukjizatan Al-Qur’an dapat diringkas dalam empat aspek.

1. Kemukjizatan Bahasa (الإعجاز البياني)

Yang dimaksud adalah keindahan dan kesempurnaan susunan bahasa Al-Qur’an.

Seandainya satu kata dari Al-Qur’an dihilangkan lalu seluruh ahli bahasa Arab berkumpul untuk menggantinya dengan kata lain yang setara, mereka tidak akan mampu melakukannya.

Kata-kata Al-Qur’an memiliki:

ketepatan makna

keindahan lafaz

keserasian susunan

hubungan yang sempurna antara satu kata dengan kata lainnya

Seperti rangkaian mutiara yang sangat indah.

Gaya bahasa Al-Qur’an menggabungkan:

keagungan

kelembutan

keindahan

ketepatan makna
Lihat: Tsalāthu Rasā’il fī I‘jāz al-Qur’ān, risalah Al-Khattabi berjudul Bayān I‘jāz al-Qur’ān, hlm. 26.

Gaya bahasa Al-Qur’an telah mencapai puncak kefasihan dan keindahan retorika dalam berbagai bidang dan tema yang dibahas oleh Al-Qur’an. Fenomena ini berlaku pada seluruh surah Al-Qur’an, baik yang diturunkan pada periode Makkiyah maupun periode Madaniyah, dan tidak terdapat perbedaan ataupun pertentangan dalam gaya bahasa Al-Qur’an tersebut.

Allah berfirman:

﴿ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا ﴾
(QS. النساء: 82)

Artinya:
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.”

Di antara contoh kemukjizatan bahasa Al-Qur’an (الإعجاز البياني) dalam bentuk keindahan ringkasan ungkapan (الإيجاز) adalah firman Allah:

﴿ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ ﴾

“Dan Kami mewahyukan kepada ibu Musa: Susuilah dia. Apabila engkau khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai, dan janganlah engkau takut dan jangan pula bersedih hati. Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan Kami akan menjadikannya salah seorang rasul.” (QS. القصص: 7)

Faedah balaghah ayat ini
Para ulama menjelaskan bahwa dalam satu ayat ini terdapat:
2 perintah: أَرْضِعِيهِ ، فَأَلْقِيهِ
2 larangan: لَا تَخَافِي ، لَا تَحْزَنِي
2 kabar gembira: إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ ، وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
Ini termasuk contoh keindahan dan keajaiban susunan bahasa Al-Qur’an (الإعجاز البياني).
lihat buku Mabāḥits fī I‘jāz al-Qur’ān, hlm. 117 dan seterusnya.

2. Kemukjizatan Ilmiah (الإعجاز العلمي)

Yang dimaksud adalah isyarat-isyarat ilmiah dalam Al-Qur’an yang menunjukkan kebesaran Allah dalam penciptaan alam semesta.

Al-Qur’an menyebut banyak fenomena tentang:

langit dan alam semesta

gunung

sungai

tumbuhan

hewan

manusia

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, manusia terus menemukan fakta yang telah diisyaratkan oleh Al-Qur’an sebelumnya.

Allah berfirman:

﴿ سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ﴾
(QS. فصلت: 53)

Artinya:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru alam dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Tidakkah cukup bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Fakta-fakta ilmiah ini mustahil berasal dari seorang manusia yang ummi dan hidup di lingkungan yang tidak mengenal ilmu pengetahuan luas.

Allah berfirman:

﴿ قُلْ أَنْزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا ﴾
(QS. الفرقان: 6)

Artinya:
“Katakanlah: Al-Qur’an itu diturunkan oleh Dia yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Di antara contoh kemukjizatan ilmiah Al-Qur’an (الإعجاز العلمي) adalah firman Allah:

﴿ بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ ﴾

(QS. القيامة: 4)

“Bahkan Kami mampu menyusun kembali ujung-ujung jari (sidik jarinya) dengan sempurna.”
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mampu membangkitkan manusia secara sempurna, bahkan sampai pada bagian ujung jari yang sangat kecil dan detail.

yang mengisyaratkan keunikan sidik jari manusia dalam identifikasi individu.

Dan firman Allah:

﴿ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ ۚ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ ﴾

“Dia menciptakan kalian dari satu jiwa, kemudian dari jiwa itu Dia menciptakan pasangannya. Dan Dia menurunkan untuk kalian dari hewan ternak delapan pasangan. Dia menciptakan kalian dalam perut ibu kalian kejadian demi kejadian di dalam tiga kegelapan.
Itulah Allah Tuhan kalian, milik-Nyalah segala kerajaan. Tidak ada tuhan selain Dia, maka bagaimana kalian bisa dipalingkan (dari menyembah-Nya)?”
(QS. الزمر: 6)
yang mengisyaratkan tiga lapisan kegelapan yang mengelilingi janin dalam rahim.
Untuk contoh-contoh lain tentang kemukjizatan ilmiah, lihat buku Mabāḥits fī I‘jāz al-Qur’ān, hlm. 157 dan seterusnya.

3. Kemukjizatan Syariat (الإعجاز التشريعي)

Al-Qur’an membawa sistem kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan:

1. Allah
2. dirinya sendiri
3. masyarakat

Di dalamnya terdapat:

aqidah

hukum syariat

akhlak

Al-Qur’an menggambarkan aqidah seperti akar pohon yang kuat, sedangkan amal dan akhlak seperti buahnya.

Allah berfirman:

﴿ أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ
أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا
وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ﴾
(QS. إبراهيم: 24-25)

Artinya:
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik: akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.
Pohon itu memberikan buahnya setiap waktu dengan izin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia agar mereka mengambil pelajaran.”

Kemukjizatan Syariat dalam Al-Qur’an

Sejarah tidak pernah mencatat bahwa ada seorang pemikir atau reformis yang mampu membawa sistem hukum yang lengkap yang mengatur seluruh urusan sebuah negara atau masyarakat, betapapun luas ilmu dan hikmah yang dimilikinya.

Memang sejarah mencatat beberapa tokoh yang membuat sistem hukum, tetapi peraturan mereka sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang terbatas dan budaya mereka, sehingga banyak menimbulkan kritik dan penolakan. Bahkan perjalanan sejarah menunjukkan kegagalannya, seperti hukum yang dibuat oleh para legislator Yunani dan Romawi, serta penguasa Babilonia seperti Hammurabi, dan lainnya.

Al-Mu‘jizah al-Kubrá li-Muḥammad karya Abu Zahrah, hlm. 455.

Sebaliknya, syariat ilahi dalam Al-Qur’an datang untuk mengatur seluruh bidang kehidupan. Ia membangun sebuah masyarakat yang bersandar kepada petunjuk Allah, sehingga tercapai kebahagiaan, kemuliaan, dan ketenteraman dalam bentuk yang paling nyata.

Setiap kali kaum Muslimin menerapkan manhaj ilahi ini, mereka akan bertambah kemuliaan dan kebahagiaan. Sebaliknya, setiap kali mereka menjauhinya, mereka akan tertimpa kehinaan, kelemahan, dan kesengsaraan.

Mustahil seorang manusia yang ummi dapat membawa petunjuk yang menyeluruh dan objektif seperti ini dalam seluruh urusan kehidupan. Hal itu menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad ﷺ menerima Al-Qur’an dari Pencipta langit dan bumi.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ ﴾
(QS. النمل: 6)

Artinya:
“Dan sungguh, engkau benar-benar menerima Al-Qur’an dari (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Lihat ayat-ayat yang berkaitan dengan hubungan internasional dalam Surah Al-Anfāl dan At-Taubah, ayat-ayat yang berkaitan dengan ekonomi dalam Surah Al-Baqarah dan Al-Ḥasyr, serta ayat-ayat tentang hukum waris dalam Surah An-Nisā’, dan lainnya.

4. Kemukjizatan Berita Gaib dalam Al-Qur’an

(الإعجاز الغيبي)

Yang dimaksud dengan aspek ini adalah berita-berita gaib yang disebutkan dalam Al-Qur’an, baik yang berkaitan dengan:

1. masa lalu
2. masa Nabi ﷺ
3. masa depan

1. Berita Gaib tentang Masa Lampau

Seperti:

awal penciptaan langit dan bumi

penciptaan manusia

kisah umat-umat terdahulu bersama para nabi

berbagai peristiwa yang tidak mungkin diketahui kecuali melalui wahyu

Allah berfirman:

﴿ تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ ۖ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَٰذَا فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ ﴾
(QS. هود: 49)

Artinya:
“Itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu. Engkau tidak mengetahuinya, dan tidak pula kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

2. Berita Gaib pada Masa Nabi ﷺ

Yaitu peristiwa yang terjadi pada zaman Nabi ﷺ tetapi beliau tidak menyaksikannya secara langsung, kemudian Al-Qur’an memberitahukannya.

Contohnya adalah tipu daya orang-orang Yahudi dan kaum munafik yang mereka lakukan secara tersembunyi.

Allah berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ ﴾
(QS. المائدة: 41)

Artinya:
“Wahai Rasul, janganlah engkau bersedih hati karena orang-orang yang bersegera dalam kekafiran, yaitu orang-orang yang berkata ‘kami beriman’ dengan mulut mereka, padahal hati mereka tidak beriman, dan juga dari kalangan orang Yahudi yang suka mendengar kebohongan…”

Demikian pula ayat yang menyingkap hakikat kaum munafik.

Allah berfirman:

﴿ وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا ﴾
(QS. الأحزاب: 12)

Artinya:
“Dan ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami kecuali tipu daya.’”

3. Berita Gaib tentang Masa Depan

Berita gaib tentang masa depan dalam Al-Qur’an terbagi menjadi beberapa bagian.

a. Yang terjadi pada masa Nabi ﷺ

Contohnya firman Allah:

﴿ سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ ﴾
(QS. القمر: 45)

Artinya:
“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan berpaling ke belakang.”

Demikian juga firman Allah tentang kekalahan dan kemenangan Romawi:

﴿ الم
غُلِبَتِ الرُّومُ
فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ
فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ
بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ ﴾
(QS. الروم: 1-5)

b. Yang terjadi setelah wafatnya Nabi ﷺ

Allah berfirman:

﴿ قُلْ لِلْمُخَلَّفِينَ مِنَ الْأَعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ إِلَىٰ قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ ﴾
(QS. الفتح: 16)

Artinya:
“Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal itu: kalian akan diajak memerangi suatu kaum yang memiliki kekuatan besar, kalian memerangi mereka atau mereka masuk Islam.”

Allah juga berfirman:

﴿ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ﴾
(QS. النور: 55)

Artinya:
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal saleh bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”

c. Yang akan terjadi di masa depan

Seperti peristiwa menjelang hari kiamat.

Allah berfirman:

﴿ وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ﴾
(QS. القيامة: 9)

Artinya:
“Dan matahari serta bulan dikumpulkan.”

Dan firman-Nya:

﴿ إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ
وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ ﴾
(QS. الانفطار: 1-2)

Artinya:
“Apabila langit terbelah dan apabila bintang-bintang berserakan.”

Termasuk juga keluarnya Ya’juj dan Ma’juj sebelum hari kiamat.

Kesimpulan Makna Kemukjizatan Gaib

Berita-berita gaib yang disebutkan dalam Al-Qur’an, baik yang berkaitan dengan:

masa lalu
masa Nabi ﷺ
masa depan

mustahil disampaikan oleh seorang manusia yang berakal sehat, kecuali jika ia benar-benar bersandar kepada wahyu dari Allah.

Berita gaib yang sesuai dengan berita yang ada pada Ahli Kitab tentang masa lalu, serta berita tentang masa depan yang benar-benar terjadi, merupakan bukti yang jelas bahwa Rasulullah ﷺ menerima Al-Qur’an dari Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān karya Az-Zarqani, 2/269.

Semoga bermanfaat

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button