Keburukan Orang yang Bertobat Diubah Menjadi Kebaikan

Keburukan Orang yang Bertobat Diubah Menjadi Kebaikan
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا﴾
“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. al-Furqān: 70)
Jika seseorang telah bertobat, apa lagi yang lebih diharapkannya selain Allah mengubah keburukan-keburukannya menjadi kebaikan? Seluruh keburukan yang pernah dilakukannya pada masa lalu dapat berubah menjadi kebaikan dengan sebab tobatnya. Bukan hanya dosa-dosanya diampuni, bahkan keburukan tersebut dapat diubah menjadi kebaikan.
Namun, hal ini tidak berarti membuka pintu kejahatan atau mendorong manusia dengan mengatakan kepada mereka, “Berbuat dosalah! Perbanyaklah dosa, karena semuanya nanti akan berubah menjadi kebaikan.” Sama sekali tidak demikian!
Perubahan tersebut tidak akan diperoleh oleh orang-orang yang bermain-main dan melalaikan agama. Sekali-kali tidak, wahai saudara-saudaraku! Masalah ini memiliki syarat dan ketentuan. Agama bukan permainan dan bahan senda gurau.
Allah berfirman:
﴿إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا﴾
“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh.”
(QS. al-Furqān: 70)
Perhatikanlah syarat-syaratnya:
1. Bertobat.
2. Beriman.
3. Mengerjakan amal saleh.
Dalam ayat yang lain, Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى﴾
“Sesungguhnya Aku benar-benar Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, mengerjakan amal saleh, kemudian tetap berada di jalan yang benar.”
(QS. Ṭāhā: 82)
Setelah syarat-syarat tersebut terpenuhi, barulah keburukan-keburukannya diubah menjadi kebaikan.
Dua Makna Perubahan Keburukan Menjadi Kebaikan
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa perubahan keburukan menjadi kebaikan dapat dipahami dengan dua makna.
Pertama: perubahan sifat dan keadaan pelakunya
Maksudnya, Allah mengubah:
– Kesyirikan menjadi keimanan.
– Perzinaan menjadi penjagaan kehormatan dan kesucian.
– Kebohongan menjadi kejujuran.
– Pengkhianatan menjadi amanah.
– Kemaksiatan menjadi ketaatan.
Inilah salah satu makna firman Allah:
﴿يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ﴾
“Allah mengganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan-kebaikan.”
(QS. al-Furqān: 70)
Dahulu seseorang melakukan kesyirikan, kemudian setelah bertobat ia menjadi orang beriman. Dahulu ia berzina, kemudian setelah bertobat ia menjaga kehormatan. Dahulu ia berdusta, kemudian ia menjadi orang yang jujur. Dahulu ia berkhianat, kemudian ia berubah menjadi orang yang amanah.
Kedua: catatan keburukan diubah menjadi kebaikan pada Hari Kiamat
Makna lainnya ialah keburukan-keburukan yang mereka lakukan di dunia benar-benar diganti dengan kebaikan pada Hari Kiamat.
Perubahan ini bisa sedikit dan bisa pula banyak. Seseorang mungkin mempunyai satu juta keburukan, lalu keburukan tersebut diganti dengan kebaikan yang sama jumlahnya, lebih sedikit, atau bahkan lebih banyak. Nilai dan kualitas kebaikannya pun mungkin lebih besar, lebih sedikit, atau sebanding dengan keburukan tersebut.
Semua itu bergantung pada kejujuran tobat, keistiqamahan seseorang, serta amal-amal saleh yang dilakukannya setelah meninggalkan perbuatan-perbuatan keji tersebut.
Tobat manusia tidaklah sama. Ada orang yang bertobat dengan hati yang benar-benar hancur, penuh penyesalan, ketakutan, pengagungan kepada Allah, dan tekad kuat untuk memperbaiki diri. Ada pula yang tobatnya lemah. Karena itu, balasan yang mereka peroleh pun tidak sama.
Keinginan untuk Menghapus Masa Lalu
Keinginan agar masa lalu yang buruk dihapuskan merupakan perasaan yang dialami oleh banyak orang yang hendak bertobat.
Banyak pemuda, orang tua, dan kaum perempuan yang telah Allah berikan hidayah datang dan berkata:
“Aku ingin memperoleh hidayah. Namun, bagaimana dengan dosa-dosaku pada masa lalu? Apakah semuanya akan dihapus atau tidak? Ini merupakan persoalan besar yang sangat mengusikku. Aku ingin mengetahui apakah masa laluku dapat dihapus. Aku masih merasa cemas terhadap masa lalu. Aku masih mengingat berbagai perbuatan keji yang pernah kulakukan. Apa yang akan terjadi terhadap diriku?”
Keadaan jiwa seperti ini pernah dialami oleh sahabat mulia ‘Amr bin al-‘Āṣ رضي الله عنه.
Beliau berkata:
«لَمَّا جَعَلَ اللَّهُ الْإِسْلَامَ فِي قَلْبِي، أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ، فَقُلْتُ: ابْسُطْ يَمِينَكَ فَلْأُبَايِعْكَ، فَبَسَطَ يَمِينَهُ، قَالَ: فَقَبَضْتُ يَدِي. قَالَ: مَا لَكَ يَا عَمْرُو؟ قَالَ: قُلْتُ: أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِطَ. قَالَ: تَشْتَرِطُ بِمَاذَا؟ قُلْتُ: أَنْ يُغْفَرَ لِي. قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا، وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟»
“Ketika Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, aku mendatangi Nabi ﷺ. Aku berkata, ‘Ulurkan tangan kananmu agar aku berbaiat kepadamu.’ Beliau pun mengulurkan tangan kanannya, tetapi aku menarik tanganku.
Beliau bertanya, ‘Ada apa denganmu, wahai ‘Amr?’
Aku menjawab, ‘Aku ingin mengajukan persyaratan.’
Beliau bertanya, ‘Apa persyaratanmu?’
Aku menjawab, ‘Agar aku diampuni.’
Beliau bersabda, ‘Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya, hijrah menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya, dan ibadah haji menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya?’”
(HR. Muslim no. 121)
‘Amr bin al-‘Āṣ رضي الله عنه ingin masuk Islam, tetapi pada saat yang sama ia menginginkan agar lembaran masa lalunya dihapus dan ditutup secara keseluruhan. Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa Islam menghapus segala dosa yang dilakukan sebelumnya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
﴿كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾
“Bagaimana Allah akan memberikan petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, padahal mereka telah mengakui bahwa Rasul itu benar dan bukti-bukti yang nyata telah sampai kepada mereka? Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang zalim.”
(QS. Āli ‘Imrān: 86)
Kemudian Allah memberikan pengecualian:
﴿إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾
“Kecuali orang-orang yang bertobat setelah itu dan memperbaiki diri. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Āli ‘Imrān: 89)
Jadi, persoalannya bukanlah seseorang bertobat sekarang, lalu beberapa menit atau beberapa hari kemudian kembali melakukan dosa dan meneruskannya. Ia tidak boleh mempermainkan tobat, menipu dirinya sendiri, dan merasa dapat memperlakukan ketentuan Allah sebagaimana sebagian orang mempermainkan anak-anak.
Tidak benar apabila seseorang berpikir:
“Sekarang aku melakukan dosa. Lima menit lagi aku bertobat. Setelah itu, aku mengulanginya kembali. Bukankah keburukan akan diubah menjadi kebaikan dan masa lalu akan dihapus?”
Pemikiran seperti ini bukanlah tobat yang benar. Tobat yang benar menuntut penyesalan, meninggalkan dosa, bertekad tidak mengulanginya, dan memperbaiki diri dengan amal saleh.
Orang yang Banyak Membunuh dan Berzina Pun Tidak Boleh Berputus Asa
Keinginan agar masa lalu dihapus secara keseluruhan juga digambarkan dalam hadis Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما:
«أَنَّ نَاسًا مِنْ أَهْلِ الشِّرْكِ كَانُوا قَدْ قَتَلُوا فَأَكْثَرُوا، وَزَنَوْا فَأَكْثَرُوا، فَأَتَوْا مُحَمَّدًا ﷺ، فَقَالُوا: إِنَّ الَّذِي تَقُولُ وَتَدْعُو إِلَيْهِ لَحَسَنٌ، لَوْ تُخْبِرُنَا أَنَّ لِمَا عَمِلْنَا كَفَّارَةً»
“Sesungguhnya beberapa orang musyrik dahulu telah banyak melakukan pembunuhan dan banyak melakukan perzinaan. Kemudian mereka mendatangi Nabi Muhammad ﷺ dan berkata, ‘Sesungguhnya ajaran yang engkau sampaikan dan engkau serukan sangatlah baik. Seandainya engkau dapat memberitahukan kepada kami bahwa perbuatan-perbuatan kami dahulu memiliki penghapus dosa.’”
Kemudian turunlah firman Allah Ta‘ala:
﴿وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا﴾
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain bersama Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa melakukan demikian, niscaya ia mendapat hukuman yang berat. Azab akan dilipatgandakan baginya pada Hari Kiamat dan ia kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka keburukan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. al-Furqān: 68–70)
Turun pula firman Allah Azza wa Jalla:
﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”
(QS. az-Zumar: 53; hadis sebab turunnya ayat diriwayatkan oleh al-Bukhārī no. 4810 dan Muslim no. 122)
Pelajaran Penting
Sebesar apa pun dosa masa lalu, janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah. Kesyirikan, pembunuhan, perzinaan, dan dosa-dosa besar lainnya dapat diampuni apabila pelakunya bertobat dengan benar sebelum meninggal dunia.
Namun, jangan pula seseorang merasa aman lalu sengaja melakukan dosa dengan alasan akan bertobat setelahnya. Tidak seorang pun mengetahui apakah ia masih diberi kesempatan untuk bertobat, apakah hatinya masih mudah menerima hidayah, dan apakah kematian tidak datang secara tiba-tiba.
Tobat yang benar bukan sekadar ucapan istigfar, melainkan harus memenuhi syarat-syarat berikut:
1. Ikhlas bertobat karena Allah.
2. Segera meninggalkan dosa.
3. Menyesali perbuatan yang telah dilakukan.
4. Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.
5. Mengembalikan hak manusia apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak mereka.
6. Memperbaiki diri dengan keimanan dan amal saleh.
7. Istiqamah di atas petunjuk hingga akhir kehidupan.
Barang siapa mewujudkan tobat seperti ini, tidak hanya diharapkan dosa-dosanya diampuni, tetapi keburukan-keburukannya pun dapat diubah oleh Allah menjadi kebaikan.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا﴾
“Barang siapa bertobat dan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya ia benar-benar kembali kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.”
(QS. al-Furqān: 71)



