Tatsqif

Jendela Akhirat

Jendela Akhirat!

Oleh: Sulaiman Al-Aboudi

Di antara hal yang paling menarik perhatian pada pandangan pertama bagi siapa saja yang membaca Kitabullah adalah betapa intensnya kehadiran pembahasan tentang “Hari Akhir” di dalam kitab yang agung ini. Siapa pun yang melirik firman Allah—meski hanya sekilas—pasti akan terpukau oleh kehadiran tema ini yang begitu padat, penjelasannya yang sangat rinci, serta gaya bahasanya yang begitu beragam.

Bahkan, seandainya ada yang bertanya: “Apakah tema terbesar yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an setelah keimanan kepada Allah Ta’ala dan mentauhidkan-Nya dalam ibadah?” Jawabannya tentu saja: Tema yang paling sering diulang setelah iman kepada Allah adalah iman kepada Hari Akhir, iman kepada segala hal yang terjadi setelah kematian, beserta detail-detail menakjubkan yang berkaitan dengan hari kebangkitan dan pengumpulan manusia.

Jejak Akhirat Sejak Lembar Pertama

Seorang pembaca Al-Qur’an, ketika membuka mushafnya dari halaman pertama dan matanya tertuju pada Surah Al-Fatihah, ia akan langsung menemukan isyarat tegas tentang Hari Akhir. Hal itu terdapat pada firman Allah Ta’ala:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Pemilik hari pembalasan.” (QS. Al-Fatihah: 4)

Dua dari enam rukun iman yang langsung disebutkan dalam surah teragung di dalam Al-Qur’an ini adalah: Iman kepada Allah dan Iman kepada Hari Akhir.

Kemudian, jika ia membalik halaman dan membaca sedikit lebih jauh, ia akan menemukan bahwa Al-Qur’an langsung membagi manusia ke dalam tiga golongan: Mukmin, Kafir, dan Munafik. Untuk setiap golongan, Al-Qur’an menyebutkan sifat-sifat utamanya.

1. Golongan Mukmin

Di antara sifat orang-orang beriman adalah:

يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

“Mereka yang beriman kepada yang ghaib.” (QS. Al-Baqarah: 3)

Ini mencakup segala hal yang ghaib, termasuk di dalamnya iman kepada Hari Akhir. Disebutkan pula tentang mereka:

يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ

“Mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu.” (QS. Al-Baqarah: 4)

Ini pun sejatinya telah mencakup keimanan kepada Hari Akhir. Namun, ayat-ayat tersebut tidak berhenti pada sekadar kandungan tersirat atau isyarat semata. Allah secara eksplisit dan khusus menyebutkan tentang iman kepada Hari Akhir melalui firman-Nya:

وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

“Dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 4)

Allah mengkhususkan penyebutannya—meskipun sudah termasuk dalam makna umum sebelumnya—karena agungnya kedudukan Hari Akhir dan besarnya pengaruh keyakinan ini terhadap perilaku serta pola pikir manusia. Yaqin (keyakinan) adalah ilmu yang pasti, yang tidak dicampuri keraguan sedikit pun. Jika keyakinan ini telah menetap di dalam jiwa, ia pasti akan membuahkan amal nyata.

2. Golongan Munafik

Adapun orang-orang munafik, sejak awal pembicaraan tentang mereka, Allah Ta’ala langsung menyingkap penyakit tersembunyi mereka: bahwa di lubuk hati terdalam, mereka sama sekali tidak mengimani Hari Akhir. Klaim keimanan mereka hanyalah kebohongan yang sekadar diucapkan di lisan. Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

“Dan di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,’ padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 8)

Ragam Cara Al-Qur’an Mengingatkan Hari Akhir

Ayat-ayat Al-Qur’an terus berjalan pada ritme ini, mengintensifkan penyebutan Hari Akhir melalui berbagai bentuk dan cara. Di antaranya:

* Memperbanyak penyebutan nama-nama dan sifat-sifat hari kiamat.

* Menegakkan argumen-argumen rasional (akal) tentang keniscayaan kebangkitan.

* Seringnya menyandingkan iman kepada Allah dengan iman kepada Hari Akhir.

* Mengaitkan amal perbuatan manusia di dunia dengan balasan di akhirat kelak.

* Menggunakan kata kerja bentuk lampau (seolah-olah sudah terjadi) saat menceritakan peristiwa kiamat, untuk menunjukkan kepastiannya, dan berbagai gaya bahasa lainnya.

Sumpah Sang Nabi Atas Perintah Ilahi

Di antara bentuk penegasan Al-Qur’an yang sangat menakjubkan adalah: Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersumpah di dalam Kitab-Nya atas kebenaran, kepastian, dan terjadinya hari kebangkitan. Allah berfirman dalam tiga tempat (dan tidak ada tempat keempat untuk tema serupa di dalam Al-Qur’an):

Pertama:

وَيَسْتَنْبِئُونَكَ أَحَقٌّ هُوَ ۖ قُلْ إِي وَرَبِّي إِنَّهُ لَحَقٌّ

“Dan mereka menanyakan kepadamu: ‘Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?’ Katakanlah: ‘Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah benar’.” (QS. Yunus: 53)

Kedua:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ ۖ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ

“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Hari kiamat itu tidak akan datang kepada kami’. Katakanlah: ‘Pasti datang, demi Tuhanku, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu’.” (QS. Saba’: 3)

Ketiga:

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ

“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’.” (QS. At-Taghabun: 7)

Bahaya Pudarnya Iman Kepada Akhirat

Al-Qur’an mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa ketiadaan iman kepada Hari Akhir adalah salah satu penyebab utama condongnya hati kepada pemikiran-pemikiran rusak yang bertentangan dengan syariat langit. Allah Ta’ala berfirman:

وَلِتَصْغَىٰ إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُقْتَرِفُونَ

“Dan agar hati orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya, dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 113)

Gemerlap narasi-narasi menyesatkan yang bertentangan dengan kebenaran ini, hanya akan diminati dan digandrungi oleh mereka yang tidak beriman kepada akhirat. Sebaliknya, sejauh mana seseorang mengimani kampung akhirat, menghadirkan maknanya, dan meyakininya, sejauh itu pula ia akan menemukan benteng pertahanan di dalam dirinya dari berbagai pemikiran yang menyimpang.

Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa tidak beriman kepada Hari Akhir adalah penyebab dihiasinya perbuatan buruk sehingga terlihat baik:

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan.” (QS. An-Naml: 4)

Siapa yang tidak beriman kepada akhirat, ia akan dikepung oleh kebingungan dari segala penjuru, mata hatinya menjadi buta, dan konsep-konsep kebenaran di dalam kesadarannya menjadi terbalik. Sejatinya, iman kepada Hari Akhir adalah kompas bagi pikiran dan pelindung bagi perilaku.

Kesempurnaan Al-Qur’an

Sebagaimana yang Anda lihat, pembicaraan tentang iman kepada Hari Akhir bukanlah sisipan yang numpang lewat di dalam Kitabullah. Ia adalah narasi yang intens, bersambung, dan tidak terputus. Penjelasan rinci ini adalah keistimewaan mutlak Al-Qur’an dibandingkan dengan kitab-kitab samawi lainnya. Penjelasan mendetail ini pulalah yang akan mewariskan keyakinan utuh bagi siapa saja yang mentadaburinya.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Tidak disebutkan dalam Taurat, Injil, dan Zabur suatu jenis kabar pun tentang Allah, para malaikat-Nya, dan tentang Hari Akhir, melainkan Al-Qur’an telah menyampaikannya dengan cara yang paling sempurna, dan (bahkan) mengabarkan hal-hal yang tidak ada dalam kitab-kitab tersebut.”

Penutup: Cahaya yang Menyembuhkan

Ada cahaya terang benderang yang menyinari jiwa manusia sebagai buah dari keimanan kepada Hari Akhir dan keyakinan terhadap fakta-fakta Al-Qur’an terkait kebangkitan setelah kematian. Barangsiapa meyakininya, hatinya akan bercahaya. Hal itu akan mewariskan niat yang lurus, amal yang saleh, dan pemikiran tajam yang melampaui sekadar gemerlapnya retorika.

Keimanan ini menjadi obat penawar bagi segala kesedihannya, serta menjadi pendorong baginya untuk memaafkan, mengampuni, dan berlapang dada, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ ۖ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

“Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS. Al-Hijr: 85)

Pada akhirnya, akhirat adalah penyempurnaan dari makna-makna yang masih kurang di dunia, penuntasan atas peristiwa-peristiwa yang belum usai, serta tempat kita menyaksikan secara langsung liputan keadilan Ilahi yang Maha Menyeluruh dan Sempurna!

Ya, demi Rabbku, sungguh ia adalah kebenaran yang tak terbantahkan!

Rusmin Nuryadin, Lc.

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button