Idul Fitri: Momentum Tasamuh, Islah, dan Kebersihan Hati

Idul Fitri: Momentum Tasamuh, Islah, dan Kebersihan Hati
Mukadimah
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الرَّحَمَاتُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، جَعَلَ لِعِبَادِهِ مَوَاسِمَ لِلْخَيْرَاتِ، يَتَزَوَّدُونَ فِيهَا مِنَ الطَّاعَاتِ، وَيَتَطَهَّرُونَ مِنَ الذُّنُوبِ وَالسَّيِّئَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، إِمَامُ الْمُتَّقِينَ، وَقُدْوَةُ السَّالِكِينَ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ.
Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nya sempurnalah amal-amal shalih, dan dengan karunia-Nya turunlah berbagai rahmat. Aku memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya, serta bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dia telah menjadikan bagi hamba-hamba-Nya musim-musim kebaikan, agar mereka berbekal dengan berbagai ketaatan, dan membersihkan diri dari dosa serta kesalahan.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, imam orang-orang bertakwa dan teladan bagi orang-orang yang meniti jalan kebenaran. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarga dan para sahabatnya, serta kepada siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Amma ba’du,
Hari ini Jum’at 1 Syawal adalah hari Idul Fitri tahun 1447 H untuk Wilayah Timur tengah dan sekitarnya.
Pembaca yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ketahuilah bahwa di antara nikmat Allah yang paling agung adalah Dia telah mempertemukan kita dengan bulan Ramadan, bulan kebaikan dan keberkahan, bahkan bulan kebahagiaan bagi orang-orang beriman.
Bagaimana tidak, sementara Nabi ﷺ bersabda:
> «لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ»
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka kebahagiaan seorang mukmin di bulan Ramadan bukanlah kebahagiaan semu, tetapi kebahagiaan iman, kebahagiaan ketaatan, dan kebahagiaan kedekatan dengan Allah.
Kemudian Allah memuliakan kita dengan kesempatan menyempurnakan Ramadan, memberi taufik untuk berpuasa dan melaksanakan qiyam, lalu menjadikan di penghujungnya sebuah hari raya yang agung, yaitu hari ganjaran, hari kebahagiaan dan kegembiraan, hari di mana tampak makna penghambaan kepada Allah, dan terlihat bekas ketaatan pada hati dan anggota badan.
Sesungguhnya Idul Fitri bukan sekadar perayaan lahiriah atau kegembiraan semata, dan bukan pula hanya berkumpul untuk makan dan minum. Akan tetapi, ia adalah momentum agung untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan sesama, memperbarui makna persaudaraan iman, serta menghidupkan semangat toleransi dan saling memaafkan di antara kaum muslimin.
Betapa kita sangat membutuhkan pada hari yang penuh berkah ini untuk berhenti sejenak, bermuhasabah terhadap diri kita, meninjau kembali keadaan hati, membersihkannya dari kebencian dan kedengkian, serta menghiasinya dengan kejernihan dan kasih sayang, sebagai realisasi dari firman Allah:
﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ﴾
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”
(QS. Al Hujurat: 10)
Oleh karena itu, pada kesempatan ini kita akan membahas:
Idul Fitri: Momentum Tasamuh, Islah, dan Kebersihan Hati
Idulfitri datang kepada kita sebagai hari yang agung di antara hari-hari Allah. Pada hari ini kaum muslimin bergembira setelah menyempurnakan puasa Ramadan, menunaikan shalat tarawih dan qiyam, serta memanfaatkan bulan tersebut dengan berbagai ketaatan seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah.
Idulfitri adalah hari ganjaran, hari kebahagiaan karena telah menyelesaikan ibadah. Namun kebahagiaan ini bukan sekadar tampilan lahir, melainkan kebahagiaan hati yang bersih, yang dipenuhi cinta, kelapangan dada, dan sikap saling memaafkan.
Di antara nilai terbesar yang harus kita tanamkan pada hari yang mulia ini adalah tasamuh (toleransi) dan tashaluh (saling berdamai). Inilah inti ukhuwah iman yang Allah perintahkan:
> إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kalian dirahmati.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Persaudaraan dalam Islam bukan sekadar hubungan darah, tetapi hubungan hati yang dibangun di atas iman dan cinta, serta tumbuh dengan maaf dan kelapangan.
Teladan Nabi ﷺ dalam Memaafkan
Tasamuh adalah akhlak agung Nabi ﷺ. Beliau memaafkan kaumnya pada Fathu Makkah meski mereka dahulu menyakiti beliau, seraya bersabda:
> اذهبوا فأنتم الطلقاء
“Pergilah, kalian semua bebas.”
(Tidak memiliki sanad yang tetap (kuat), dan diriwayatkan oleh Ibnu Hisham dalam keadaan mu‘dhal, tapi maknanya benar).
Ini adalah akhlak mulia yang seharusnya menjadi syi’ar (slogan hidup) kita di hari raya.
Maka renungkan:
Bagaimana kita bergembira sementara hati penuh kebencian?
Bagaimana kita saling mengucapkan selamat, namun masih menyimpan permusuhan?
Dari Abu Ayyub Al-Anshari radliallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: :
«لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ»
“Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan (memutus hubungan dengan) saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya bertemu, lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai salam.”
(HR. Muslim no. 2560)
Hadis ini menunjukkan tercelanya seorang muslim yang memutus hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga malam, apabila hal itu tidak karena maslahat syar’i atau untuk menolak suatu mudarat.
Idul Fitri: Momentum Silaturahim
Hari raya bukan sekadar perayaan sosial, tetapi momentum memperbaiki hubungan:
Diriwayatkan oleh Bukhari (2067) dan Muslim (2557) dari Anas bin Malik radliallahu anhu berkata: aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.”
Makna “dilapangkan rezekinya”
Yaitu:
– banyaknya rezeki
– berkembangnya
– luasnya
– penuh berkah
– bertambah secara nyata
Makna “dipanjangkan umurnya”
– Kekuatan fisik
Dikatakan: maksudnya adalah diberi kekuatan dalam tubuh.
– Keberkahan umur
diberkahi umurnya
diberi taufik untuk ketaatan
waktunya diisi dengan amal bermanfaat
dijaga dari kesia-siaan
– Nama baik setelah wafat
Maksudnya:
dikenang dengan baik setelah meninggal
– Umur benar-benar ditambah (pendapat kuat)
Yaitu:
umur ditulis dengan syarat
jika menyambung silaturahim, Ini berarti penambahan umur secara hakiki.
Langkah Praktis Menyambut Idul Fitri dengan Hati Bersih
1. Memulai berjabat tangan dan mengucapkan salam
2. Mengunjungi kerabat dan tetangga
3. Meninggalkan permusuhan dan dendam
4. Membalas keburukan dengan kebaikan
Allah berfirman:
> ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
(فصلت: 34)
“Balaslah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan seakan-akan menjadi teman yang sangat setia.”
Disini menjadi jelas Faidah Sunnah Berbeda Jalan saat Pergi dan Pulang Shalat ‘Id
Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Jabir bin ‘Abdullah radliallahu anhu:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ
“Dahulu Nabi ﷺ apabila pada hari ‘Id, beliau menempuh jalan yang berbeda (antara pergi dan pulang).”
(HR. Bukhari no. 986)
Makna ringkas:
Saat berangkat ke tempat shalat ‘Id → melalui satu jalan
Saat pulang → melalui jalan lain
➡️ Ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang mengandung banyak hikmah, di antaranya:
1. memperbanyak pertemuan dengan kaum muslimin
2. menyebarkan salam
3. menampakkan syiar Islam
4. membuka kesempatan saling memaafkan di hari raya
5. Agar terjadi interaksi sosial yang lebih banyak
➡️ Dalam konteks Idul Fitri, ini sangat relevan:
1. saling berjabat tangan,
2. saling meminta maaf
3. menghalalkan kesalahan
Ini menjadikan hari ‘Id bukan hanya ibadah individual, tapi juga perbaikan hubungan sosial secara massif
Telah tetap dalam Shahih Bukhari bahwa pernah ditanyakan kepada Anas bin Malik radliallahu anhu:
أَنَّهُ قِيلَ لِأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: هَلْ كَانَتِ الْمُصَافَحَةُ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -؟ قَالَ: نَعَمْ.
“Apakah berjabat tangan (mushafahah) ada di kalangan para sahabat Rasulullah ﷺ?”
Beliau menjawab: “Ya.”
Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radliallahu anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا».
“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu saling berjabat tangan, kecuali diampuni keduanya sebelum mereka berpisah.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya).
Telah datang pula beberapa hadis yang saling menguatkan bahwa berjabat tangan menjadi sebab dihapuskannya dosa, sebagaimana gugurnya daun-daun pohon.
Seperti hadis:
«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْمُؤْمِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرِ».
“Sesungguhnya seorang mukmin apabila bertemu dengan mukmin lainnya, lalu memberi salam dan memegang tangannya kemudian berjabat tangan, maka berguguran dosa keduanya sebagaimana gugurnya daun-daun pohon.”
(Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Awsath dari Hudzaifah radliallahu anhu).
Dan dari Abu Hurairah radliallahu anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا صَافَحَ أَخَاهُ تَحَاتَّتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ».
“Sesungguhnya seorang muslim apabila berjabat tangan dengan saudaranya, maka berguguran dosa keduanya sebagaimana gugurnya daun-daun pohon.”
(HR. Al-Bazzar)
Disarankan untuk merujuk kitab At-Targhib wat-Tarhib karya Al-Hafizh Al-Mundziri karena sangat bermanfaat.
Maka Mushafahah (berjabat tangan) dalam Islam bukan sekadar adat, tapi amalan sunnah
Ia menjadi sebab:
diampuni dosa
gugurnya kesalahan
bersihnya hati.
➡️ Sangat tepat diamalkan pada hari ‘Id sebagai:
– Sarana saling memaafkan
– Menghalalkan kesalahan
– Menghidupkan ukhuwah.
– Segera Saling Menghalalkan kesalahan di dunia ini sebelum di akhirat
Hadis Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ».
“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik terkait kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia meminta dihalalkan darinya hari ini, sebelum datang hari yang tidak ada dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal shalih, maka akan diambil darinya sesuai kadar kezalimannya. Jika ia tidak memiliki kebaikan, maka akan diambil dari dosa saudaranya lalu dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa siapa yang tidak meminta dihalalkan dari kezaliman terhadap saudaranya, maka tanggungan itu akan tetap melekat sampai hari kiamat, sehingga orang yang dizalimi akan mengambil dari pahala pelakunya.
Telah diketahui bahwa di antara syarat taubat, jika dosa berkaitan dengan hak manusia, adalah mengembalikan hak tersebut kepada mereka dan meminta dihalalkan dari kezaliman itu.
Jika seseorang hanya bertaubat antara dirinya dengan Allah, maka kezaliman terhadap manusia tetap tersisa.
Jika seseorang tidak mengetahui keberadaan orang yang dizalimi, maka wajib baginya mengeluarkan harta senilai hak tersebut, lalu menjadikannya sedekah atas nama orang yang dizalimi, dengan harapan Allah mengampuninya dan meridhakan orang yang dizalimi.
Dan wajib bagi keluarga orang yang telah meninggal untuk mengeluarkan hak-hak yang diketahui dari harta peninggalannya sebelum dibagikan, karena melunasi hutang orang yang meninggal didahulukan daripada hak para ahli waris.
Makna praktis:
1. Jangan menunda minta maaf
2. Jangan menunggu Id berikutnya
3. Gunakan momen ‘Id sekarang sebagai titik nol hubungan sesama manusia, dan membuka kembali lembaran baru, putih yabg tidak ternodai dosa.
Penutup
Idul Fitri tidak akan sempurna kecuali:
– Hati bersih
– Hubungan kembali baik
– Dendam dihapus
– Ukhuwah diperbaiki
Mari kita jadikan hari raya ini:
– Bukan hanya hari bahagia
– Tetapi juga hari islah (perbaikan hati dan hubungan sosial)
> اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْفَائِزِينَ بِرَحْمَتِكَ، وَالْعُتَقَاءِ مِنَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ أَعِدْهُ عَلَيْنَا أَعْوَامًا عَدِيدَةً وَأَزْمِنَةً مَدِيدَةً، وَنَحْنُ فِي صِحَّةٍ وَإِيمَانٍ وَأَمْنٍ وَإِسْلَامٍ.
Ya Allah, terimalah puasa dan qiyam kami, terimalah amal-amal shalih kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang beruntung dengan rahmat-Mu serta orang-orang yang dibebaskan dari neraka.
Ya Allah, kembalikan hari ini kepada kami di tahun-tahun mendatang dalam keadaan sehat, iman, keamanan, dan Islam.
> اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا عِيدَ رَحْمَةٍ وَمَغْفِرَةٍ وَعِتْقٍ مِنَ النَّارِ، وَلَا تَجْعَلْهُ عِيدَ شَقَاءٍ وَلَا حِرْمَانٍ.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.
Ya Allah, jadikan hari raya kami ini sebagai hari penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari neraka, dan jangan Engkau jadikan sebagai hari kesengsaraan dan kerugian.
Ya Allah, satukan hati kami, perbaiki hubungan di antara kami, dan tunjukkan kami jalan keselamatan.
> اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَحَابِّينَ فِيكَ، الْمُتَسَامِحِينَ فِيكَ، الْمُتَزَاوِرِينَ فِيكَ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَعْمَالِنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى.
Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, guru-guru kami, dan siapa saja yang memiliki hak atas kami. Jadikan kami termasuk orang-orang yang saling mencintai karena-Mu, saling memaafkan karena-Mu, dan saling mengunjungi karena-Mu.
Ya Allah, berkahilah umur dan amal kami, dan tutuplah hidup kami dengan kebaikan.
> تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، وَصَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
Semoga Allah menerima amal kami dan kalian, serta setiap tahun kalian dalam kebaikan.
Semoga Allah menerima amal kita semua, menjadikan kita termasuk أهل العفو والمغفرة، dan mengumpulkan hati kita di atas cinta dan ketaatan.
Semoga bermanfaat


