Konsultasi

Hukum Shalat Khafīfatain sebagai Pembuka Tarawih (Qiyāmul Lail di Awal Malam)

Nomor Fatwa: 88

Pertanyaan:

“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh ana izin bertanya ustadz, terkait shalat tarawih yg diawali dengan shalat khafifatain yang biasa disebut shalat (pembuka) pemanasan, apakah boleh dilakukan saat tarawih?

 Karna melihat dalilnya shalat khafifatain itu dipraktekkan ketika melakukan shalat tahajud sepertiga malam setelah tidur. Syukron baarokallaahufiikum wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”

Jawaban:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du:

Boleh, dan tidak ada larangan.

Penjelasan:

– Tarawih termasuk qiyāmul lail

– Tarawih pada hakikatnya adalah shalat malam juga, hanya saja dilakukan di awal malam dan berjamaah.

Dalil khafīfatain bersifat umum pada qiyam

Tidak terbatas hanya setelah tidur, tetapi pada permulaan shalat malam.

Tujuan khafīfatain

Pemanasan ibadah

Menghadirkan kekhusyukan

Meringankan permulaan qiyam

→ Maka secara makna, relevan juga untuk tarawih.

khafīfatain ini bisa dilakukan sendiri sebelum shalat tarawih yaitu shalat ba’diyah Isya dua rakaat, sama seperti khafīfatain Qabliyah Shubuh.

Termasuk petunjuk Nabi ﷺ adalah beliau memulai shalat malam dengan dua rakaat ringan (khafīfatain), dan beliau juga memerintahkan umatnya untuk melakukannya.

Diriwayatkan oleh Muslim (767) dari ‘Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:

“كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ، افْتَتَحَ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ”

“Rasulullah ﷺ apabila bangun di malam hari untuk shalat, beliau memulai shalatnya dengan dua rakaat ringan.”

Dan diriwayatkan oleh Muslim (768) dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ، فَلْيَفْتَتِحْ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ”

“Apabila salah seorang dari kalian bangun di malam hari, maka hendaklah ia memulai shalatnya dengan dua rakaat ringan.”

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarh Muslim:

” قولها كان رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا قام من الليل ليصلي افتتح صلاته بركعتين خفيفتين، وفي حديث أبي هريرة الأمر بذلك، هذا دليل على استحبابه لينشط بهما لما بعدهما” انتهى.

“Perkataan Aisyah bahwa Nabi ﷺ memulai shalat malam dengan dua rakaat ringan, dan dalam hadis Abu Hurairah terdapat perintah akan hal itu, menunjukkan bahwa hal ini dianjurkan agar menjadi pembuka yang membuat semangat untuk melanjutkan shalat setelahnya.”

As-Sindi berkata dalam Hasyiyah Al-Musnad:

“للمبادرة إلى إزالة عقدة الشيطان، أو ليحصل بهما الاستئناس بالصلاة، والله تعالى أعلم” انتهى.

“Tujuannya untuk segera menghilangkan ikatan setan (rasa berat dan malas), atau agar dengan dua rakaat itu seseorang merasa terbiasa dan nyaman dalam shalat.”

Hal ini tidak bertentangan dengan riwayat bahwa Nabi ﷺ:

“يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ”

“Beliau shalat empat rakaat, maka jangan engkau tanya tentang bagusnya dan panjangnya.”

Karena yang dimaksud di sini bukan dua rakaat ringan pembuka tersebut.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2013) dan Muslim (738) dari Abu Salamah bin Abdurrahman:

Bahwa ia bertanya kepada Aisyah رضي الله عنها:

Bagaimana shalat Rasulullah ﷺ di bulan Ramadan?

Ia menjawab:

“مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا”

“Beliau tidak pernah menambah di Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian empat rakaat lagi, lalu tiga rakaat.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (3/21):

 وأما ما رواه الزهري عن عروة عنها ، كما سيأتي في باب ما يقرأ في ركعتي الفجر بلفظ: ( كان يصلي بالليل ثلاث عشرة ركعة ، ثم يصلي إذا سمع النداء بالصبح ركعتين خفيفتين ) : فظاهره يخالف ما تقدم، فيحتمل أن تكون أضافت إلى صلاة الليل سنة العشاء، لكونه كان يصليها في بيته، أو : ما كان يفتتح به صلاة الليل، فقد ثبت عند مسلم من طريق سعد بن هشام عنها أنه كان يفتتحها بركعتين خفيفتين ، وهذا أرجح في نظري؛ لأن رواية أبي سلمة التي دلت على الحصر في إحدى عشرة ، جاء في صفتها عند المصنف وغيره: “يصلي أربعا ثم أربعا ثم ثلاثا” ، فدل على أنها لم تتعرض للركعتين الخفيفتين، وتعرضت لهما في رواية الزهري، والزيادة من الحافظ مقبولة ، وبهذا يجمع بين الروايات” انتهى.

Adapun riwayat Az-Zuhri dari ‘Urwah dari ‘Aisyah رضي الله عنها, sebagaimana akan datang dalam bab bacaan pada dua rakaat fajar, dengan lafaz:

“Beliau biasa shalat malam sebanyak tiga belas rakaat, kemudian jika mendengar azan Subuh, beliau shalat dua rakaat ringan,”

Maka secara zahir tampak bertentangan dengan riwayat sebelumnya. Namun kemungkinan maknanya adalah bahwa beliau memasukkan dalam hitungan shalat malam itu sunnah Isya, karena beliau biasa mengerjakannya di rumah. Atau yang dimaksud adalah dua rakaat pembuka yang beliau gunakan untuk memulai shalat malam.

Telah tetap dalam riwayat Muslim melalui jalur Sa‘d bin Hisyam dari ‘Aisyah bahwa beliau memulai shalat malam dengan dua rakaat ringan. Dan ini lebih kuat menurutku.

Karena riwayat Abu Salamah yang menunjukkan pembatasan pada sebelas rakaat, dalam penjelasannya disebutkan: “Beliau shalat empat rakaat, kemudian empat rakaat, lalu tiga rakaat,” maka ini menunjukkan bahwa riwayat tersebut tidak menyebut dua rakaat ringan pembuka, sedangkan riwayat Az-Zuhri menyebutkannya.

Dan tambahan dari perawi yang terpercaya itu diterima. Dengan demikian, seluruh riwayat dapat dipadukan.

Selesai.

Dalam Aunul Ma‘bud (4/144) disebutkan:

” والجمع بين روايات عائشة -رضي اللَّه عنها- المختلفة في حكايتها لصلاته -صلى اللَّه عليه وسلم- أنها ثلاث عشرة تارةً، وأنها إحدى عشرة أخرى، بأنها ضَمّت هاتين الركعتين، فقالت: ثلاث عشرة، ولم تضمهما، فقالت: إحدى عشرة، ولا منافاة بين هذين الحديثين، وبين قولها في صفة صلاته -صلى اللَّه عليه وسلم-: “صلى أربعًا، فلا تسأل عن حسنهنّ وطولهنّ”؛ لأن المراد: صلى أربعًا بعد هاتين الركعتين” انتهى.

Menggabungkan riwayat-riwayat ‘Aisyah رضي الله عنها yang berbeda dalam menggambarkan shalat Nabi ﷺ, yaitu bahwa kadang beliau menyebutnya tiga belas rakaat dan kadang sebelas rakaat, adalah dengan memahami bahwa beliau memasukkan dua rakaat ringan tersebut, sehingga disebut tiga belas rakaat. Dan ketika tidak memasukkannya, maka disebut sebelas rakaat.

Tidak ada pertentangan antara kedua hadis tersebut, juga tidak bertentangan dengan ucapannya dalam menggambarkan shalat Nabi ﷺ:

“Beliau shalat empat rakaat, maka jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya.”

Karena yang dimaksud adalah beliau shalat empat rakaat setelah dua rakaat ringan tersebut.

Selesai.

Dan diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarh Ma‘ani Al-Atsar (1/280) dari Aisyah رضي الله عنها:

“كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ، افْتَتَحَ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ، ثُمَّ صَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ أَوْتَرَ”

“Rasulullah ﷺ jika bangun malam, beliau memulai dengan dua rakaat ringan, kemudian shalat delapan rakaat, lalu witir.”

Juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1170):

“كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً”

“Rasulullah ﷺ shalat malam tiga belas rakaat.”

Ini mencakup dua rakaat ringan, delapan rakaat, dan witir.

Kesimpulan:

Memulai shalat malam dengan dua rakaat ringan adalah sunnah yang tetap dari perbuatan dan perintah Nabi ﷺ. Perbedaan jumlah rakaat dalam riwayat Aisyah bukan pertentangan, tetapi karena terkadang dua rakaat pembuka tersebut dihitung dan terkadang tidak.

Semua hadis ini sahih dan tidak saling bertentangan. Tambahan dari perawi yang tsiqah (terpercaya) dapat diterima.

Wallahu a‘lam.

Tim Fatwa Markaz Inayah

Tim Fatwa Markaz Inayah adalah Asatidzah Kandidat Magister dan Doktor Universitas Arab Saudi Hafizhahumullah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button