Hukum Najis Anjing: Apakah Hanya Air Liurnya atau Seluruh Tubuhnya?

Nomor Fatwa: 97
Pertanyaan:
Apakah yg najis pada anjing itu hanya liur nya atau seluruh badan nya najis
Jawaban:
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarga dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:
Jumhur ulama berpendapat bahwa anjing itu najis pada seluruh bagian tubuhnya. Sedangkan mazhab Hanafiyah dalam pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa yang najis hanyalah air liurnya, sementara badannya suci. Adapun mazhab Malikiyah berpendapat bahwa air liur dan badan anjing keduanya suci.
Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur. Imam An-Nawawi berkata dalam Al-Majmu‘:
مَذْهَبُنَا أَنَّ الْكِلَابَ كُلَّهَا نَجِسَةٌ، الْمُعَلَّمُ وَغَيْرُهُ، الصَّغِيرُ وَالْكَبِيرُ، وَبِهِ قَالَ الْأَوْزَاعِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ وَأَبُو ثَوْرٍ وَأَبُو عُبَيْدٍ. وَقَالَ الزُّهْرِيُّ وَمَالِكٌ وَدَاوُدُ: هُوَ طَاهِرٌ، وَإِنَّمَا يَجِبُ غَسْلُ الْإِنَاءِ مِنْ وُلُوغِهِ تَعَبُّدًا، وَحُكِيَ هَذَا عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَعُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ. وَاحْتَجُّوا لَهُمْ بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ﴾، وَلَمْ يُذْكَرْ غَسْلُ مَوْضِعِ إِمْسَاكِهَا، وَبِحَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «كَانَتِ الْكِلَابُ تُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ فِي زَمَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ»؛ ذَكَرَهُ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ، فَقَالَ: وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ شَبِيبٍ: حَدَّثَنَا أَبِي إِلَى آخِرِ الْإِسْنَادِ وَالْمَتْنِ، وَأَحْمَدُ هَذَا شَيْخُهُ، وَمِثْلُ هَذِهِ الْعِبَارَةِ مَحْمُولٌ عَلَى الِاتِّصَالِ، وَأَنَّ الْبُخَارِيَّ رَوَاهُ عَنْهُ، كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ عِنْدَ أَهْلِ هَذَا الْفَنِّ، وَذَلِكَ وَاضِحٌ فِي عُلُومِ الْحَدِيثِ. وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُ هَذَا الْحَدِيثَ مُتَّصِلًا، وَقَالَ فِيهِ: «وَكَانَتِ الْكِلَابُ تُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ، فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ».
وَاحْتَجَّ أَصْحَابُنَا بِحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُرِقْهُ، ثُمَّ لِيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ»؛ رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَيْضًا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ»؛ رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: «طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِيهِ أَنْ يُغْسَلَ سَبْعَ مَرَّاتٍ».
وَالدَّلَالَةُ مِنَ الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ ظَاهِرَةٌ؛ لِأَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ نَجِسًا لَمَا أُمِرَ بِإِرَاقَتِهِ، لِأَنَّهُ يَكُونُ حِينَئِذٍ إِتْلَافَ مَالٍ، وَقَدْ نُهِينَا عَنْ إِضَاعَةِ الْمَالِ. وَالدَّلَالَةُ مِنَ الْحَدِيثِ الثَّانِي ظَاهِرَةٌ أَيْضًا؛ فَإِنَّ الطَّهَارَةَ تَكُونُ مِنْ حَدَثٍ أَوْ نَجَسٍ، وَقَدْ تَعَذَّرَ الْحَمْلُ هُنَا عَلَى طَهَارَةِ الْحَدَثِ، فَتَعَيَّنَتْ طَهَارَةُ النَّجَسِ.
وَأَجَابَ أَصْحَابُنَا عَنْ احْتِجَاجِهِمْ بِالْآيَةِ بِأَنَّ لَنَا خِلَافًا مَعْرُوفًا فِي أَنَّهُ هَلْ يَجِبُ غَسْلُ مَا أَصَابَهُ الْكَلْبُ أَمْ لَا، فَإِنْ لَمْ نُوجِبْهُ فَهُوَ مَعْفُوٌّ لِلْحَاجَةِ وَالْمَشَقَّةِ فِي غَسْلِهِ، بِخِلَافِ الْإِنَاءِ. وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ الْبَيْهَقِيُّ مُجِيبًا عَنْهُ: أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى نَجَاسَةِ بَوْلِ الْكَلْبِ، وَوُجُوبِ الرَّشِّ عَلَى بَوْلِ الصَّبِيِّ، فَالْكَلْبُ أَوْلَى. قَالَ: فَكَانَ حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ قَبْلَ الْأَمْرِ بِالْغَسْلِ مِنْ وُلُوغِ الْكَلْبِ، أَوْ أَنَّ بَوْلَهَا خَفِيَ مَكَانُهُ، فَمَنْ تَيَقَّنَهُ لَزِمَهُ غَسْلُهُ. انتهى.
Mazhab kami (Syafi‘iyyah) berpendapat bahwa semua anjing itu najis, baik yang terlatih maupun yang tidak, baik yang kecil maupun yang besar. Ini juga merupakan pendapat Al-Auza‘i, Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan Abu ‘Ubaid.
Sedangkan Az-Zuhri, Malik, dan Dawud berpendapat bahwa anjing itu suci, dan kewajiban mencuci bejana karena jilatan anjing hanyalah bentuk ibadah (ta‘abbudi). Pendapat ini juga diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri dan ‘Urwah bin Az-Zubair.
Mereka berdalil dengan firman Allah Ta‘ala:
“Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untuk kalian,”
dan tidak disebutkan kewajiban mencuci bagian yang disentuhnya.
Juga dengan hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:
“Dahulu anjing-anjing keluar masuk di masjid pada zaman Rasulullah ﷺ, dan mereka tidak memercikkan apa pun dari hal itu.”
(HR. Bukhari dalam Shahih-nya).
Al-Bukhari menyebutkan hadis ini dengan sanadnya melalui Ahmad bin Syabib, dari ayahnya, hingga akhir sanad dan matan. Ahmad ini adalah guru Al-Bukhari, dan ungkapan seperti ini menunjukkan sanadnya bersambung, sebagaimana dikenal dalam ilmu hadis.
Al-Baihaqi dan selainnya meriwayatkan hadis ini secara bersambung dengan lafaz:
“Anjing-anjing keluar masuk di masjid dan mereka tidak memercikkan apa pun dari hal itu.”
Adapun ulama kami berdalil dengan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila anjing menjilat bejana salah seorang dari kalian, maka hendaklah ia menumpahkannya, lalu mencucinya tujuh kali.”
(HR. Muslim).
Dan dalam riwayat lain:
“Sucinya bejana salah seorang dari kalian jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, yang pertama dengan tanah.”
Dalam riwayat lain juga:
“Sucinya bejana salah seorang dari kalian jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali.”
Dalil dari hadis pertama sangat jelas, karena jika tidak najis, tentu tidak diperintahkan untuk membuang isinya, karena itu termasuk menyia-nyiakan harta, padahal kita dilarang menyia-nyiakan harta.
Dalil dari hadis kedua juga jelas, karena kata “suci” digunakan untuk menghilangkan hadas atau najis. Dan di sini tidak mungkin dimaksud hadas, sehingga yang dimaksud adalah najis.
Adapun jawaban terhadap dalil mereka dari ayat, maka terdapat perbedaan pendapat apakah wajib mencuci sesuatu yang terkena anjing atau tidak. Jika tidak diwajibkan, maka itu dimaafkan karena kebutuhan dan kesulitan, berbeda dengan bejana.
Adapun jawaban terhadap hadis Ibnu Umar, maka Al-Baihaqi menjawab bahwa kaum muslimin sepakat bahwa kencing anjing itu najis, dan wajib dibersihkan, sehingga anjing lebih utama demikian.
Beliau berkata: hadis Ibnu Umar tersebut terjadi sebelum adanya perintah mencuci karena jilatan anjing, atau karena najisnya tidak terlihat di tempatnya. Maka siapa yang meyakini adanya najis tersebut, wajib mencucinya.
Selesai.
Ibnu Daqiq Al-‘Id berkata dalam Ihkam Al-Ahkam:
فِيهِ مَسَائِلُ. الْأُولَى: الْأَمْرُ بِالْغَسْلِ ظَاهِرٌ فِي تَنْجِيسِ الْإِنَاءِ. وَأَقْوَى مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ فِي الدَّلَالَةِ عَلَى ذَلِكَ: الرِّوَايَةُ الصَّحِيحَةُ، وَهِيَ قَوْلُهُ ﷺ: «طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ، إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ: أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعًا»، فَإِنَّ لَفْظَةَ «طُهُور» تُسْتَعْمَلُ إِمَّا عَنِ الْحَدَثِ، أَوْ عَنِ الْخَبَثِ، وَلَا حَدَثَ عَلَى الْإِنَاءِ بِالضَّرُورَةِ، فَتَعَيَّنَ الْخَبَثُ.
وَحَمَلَ مَالِكٌ هَذَا الْأَمْرَ عَلَى التَّعَبُّدِ؛ لِاعْتِقَادِهِ طَهَارَةَ الْمَاءِ وَالْإِنَاءِ، وَرُبَّمَا رَجَّحَهُ أَصْحَابُهُ بِذِكْرِ هَذَا الْعَدَدِ الْمَخْصُوصِ، وَهُوَ السَّبْعُ؛ لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ لِلنَّجَاسَةِ لَاكْتُفِيَ بِمَا دُونَ السَّبْعِ، فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ أَغْلَظَ مِنْ نَجَاسَةِ الْعَذِرَةِ، وَقَدِ اكْتُفِيَ فِيهَا بِمَا دُونَ السَّبْعِ
وَالْحَمْلُ عَلَى التَّنْجِيسِ أَوْلَى؛ لِأَنَّهُ مَتَى دَارَ الْحُكْمُ بَيْنَ كَوْنِهِ تَعَبُّدًا، أَوْ مَعْقُولَ الْمَعْنَى، كَانَ حَمْلُهُ عَلَى كَوْنِهِ مَعْقُولَ الْمَعْنَى أَوْلَى؛ لِنُدْرَةِ التَّعَبُّدِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْأَحْكَامِ الْمَعْقُولَةِ الْمَعْنَى.
وَأَمَّا كَوْنُهُ لَا يَكُونُ أَغْلَظَ مِنْ نَجَاسَةِ الْعَذِرَةِ، فَمَمْنُوعٌ عِنْدَ الْقَائِلِ بِنَجَاسَتِهِ، نَعَمْ لَيْسَ بِأَقْذَرَ مِنَ الْعَذِرَةِ، وَلَكِنْ لَا يَتَوَقَّفُ التَّغْلِيظُ عَلَى زِيَادَةِ الِاسْتِقْذَارِ.
وَأَيْضًا فَإِذَا كَانَ أَصْلُ الْمَعْنَى مَعْقُولًا قُلْنَا بِهِ، وَإِذَا وَقَعَ فِي التَّفَاصِيلِ مَا لَمْ يُعْقَلْ مَعْنَاهُ فِي التَّفْصِيلِ، لَمْ يَنْقُصْ لِأَجْلِهِ التَّأْصِيلُ، وَلِذَلِكَ نَظَائِرُ فِي الشَّرِيعَةِ، فَلَوْ لَمْ تَظْهَرْ زِيَادَةُ التَّغْلِيظِ فِي النَّجَاسَةِ، لَكُنَّا نَقْتَصِرُ فِي التَّعَبُّدِ عَلَى الْعَدَدِ، وَنَمْشِي فِي أَصْلِ الْمَعْنَى عَلَى مَعْقُولِيَّةِ الْمَعْنَى.
Di dalamnya terdapat beberapa pembahasan:
Pertama: Perintah untuk mencuci menunjukkan secara jelas bahwa bejana itu menjadi najis. Bahkan dalil yang lebih kuat dari hadis ini dalam menunjukkan hal tersebut adalah riwayat yang sahih, yaitu sabda Nabi ﷺ:
“Sucinya bejana salah seorang dari kalian jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali.”
Karena lafaz “ṭahūr (suci)” digunakan untuk menghilangkan hadas atau najis. Dan pada bejana tidak mungkin ada hadas, maka pasti yang dimaksud adalah najis.
Imam Malik memahami perintah ini sebagai ibadah (ta‘abbudi), karena beliau berpendapat bahwa air dan bejana itu suci. Sebagian pengikutnya menguatkan pendapat ini dengan alasan adanya penentuan jumlah tertentu, yaitu tujuh kali. Karena jika itu disebabkan najis, maka cukup dengan kurang dari tujuh kali, sebab tidak lebih berat daripada najis kotoran manusia, yang cukup dibersihkan dengan kurang dari itu.
Namun, memahami bahwa itu karena najis lebih kuat. Karena jika suatu hukum berada antara makna ibadah murni atau memiliki makna rasional, maka membawanya kepada makna rasional lebih utama, karena hukum ta‘abbudi itu lebih jarang dibandingkan hukum yang bisa dipahami maknanya.
Adapun anggapan bahwa najis anjing tidak lebih berat dari najis kotoran manusia, maka ini tidak diterima menurut yang berpendapat najisnya anjing. Memang tidak lebih kotor, tetapi tingkat beratnya hukum tidak harus bergantung pada tingkat kejijikan.
Selain itu, jika makna asalnya dapat dipahami, maka kita menetapkannya. Dan jika dalam rincian terdapat hal yang tidak dipahami maknanya, maka itu tidak mengurangi prinsip dasarnya. Hal seperti ini memiliki banyak contoh dalam syariat.
Seandainya tidak tampak adanya tambahan penekanan dalam najis ini, maka kita cukup menjalankan sisi ibadahnya pada jumlah (tujuh kali), dan tetap memahami bahwa asal hukumnya memiliki makna yang rasional.
Selesai.
Kesimpulannya, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa anjing itu najis, dan seluruh bagian tubuhnya juga najis. Wajib membersihkan pakaian, badan, atau tempat dari apa saja yang terkena air liurnya atau badannya yang basah.
Wallahu a‘lam.
