Ramadan 1447

Hakikat dan Makna Ibadah Puasa

Hakikat dan Makna Ibadah Puasa

Segala puji bagi Allah semata, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi pilihan-Nya, juga kepada keluarga dan para sahabatnya yang mulia. Amma ba‘d:

Sesungguhnya Allah telah memilih bulan Ramadan, memuliakannya dibanding bulan lainnya, serta menjadikannya memiliki keistimewaan yang agung dan keutamaan yang indah. Allah Ta‘ala berfirman:

( شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ).

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, serta penjelasan penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”

Tidak diragukan bahwa amal saleh pada waktu yang mulia ini dilipatgandakan dengan kelipatan yang besar.

Banyak orang mengira bahwa hakikat puasa hanyalah meninggalkan makan, minum, hubungan suami istri, dan berbagai kenikmatan yang sebelumnya dibolehkan sebelum puasa. Pemahaman mereka terbatas sehingga tidak menangkap hakikat puasa, tujuan, dan buah buahnya yang agung.

Kebiasaan dan rutinitas juga membuat banyak kaum Muslimin berpuasa dan menahan diri dari pembatal puasa tanpa merasakan makna mendekatkan diri kepada Allah dan beribadah kepada-Nya serta tanpa memahami hikmah di dalamnya.

Puasa adalah ibadah yang agung, sebuah rahasia antara hamba dan Tuhannya. Ia mengandung makna besar, rahasia mendalam, dan hikmah penting yang hanya disadari oleh hamba hamba yang Allah bukakan pemahaman bagi mereka. Ada yang mendapatkan banyak di antaranya, ada pula yang hanya memperoleh sebagian, sesuai cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati seorang mukmin. Berikut sebagian makna dan hikmahnya:

(1) Hakikat puasa bukan hanya meninggalkan kenikmatan fisik, tetapi juga meninggalkan semua yang haram dan dosa

Puasa hati dari bisikan dan syubhat, puasa pendengaran dan penglihatan dari kesalahan, puasa lisan dari keburukan, serta puasa kemaluan, perut, tangan, dan kaki dari maksiat dan dosa.

Jadi puasa adalah konsep yang luas yang mencakup puasa hati dan seluruh anggota tubuh dari hal hal yang haram, baik lahir maupun batin. Allah mengingatkan hamba dengan meninggalkan kenikmatan yang sebelumnya halal agar ia juga meninggalkan seluruh maksiat dan dosa. Jika seorang hamba dituntut meninggalkan sesuatu yang sebelumnya halal baginya sebelum bulan Ramadan, maka tentu lebih layak baginya meninggalkan hal hal haram yang dilarang sepanjang tahun.

Rasulullah ﷺ bersabda:

( من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس لله حاجه أن يدع طعامه وشرابه) رواه البخاري.

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta, mengamalkannya, dan kebodohan, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Umar رضي الله عنه berkata:

” ليس الصيام من الطعام والشراب وحده ولكنه من الكذب والباطل واللغو والحلف”.

“Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari dusta, kebatilan, perkataan sia sia, dan sumpah (yang tidak benar).”

(2) Allah memerintahkan kita meninggalkan makan, minum, dan kenikmatan bukan untuk menyiksa, tetapi untuk mewujudkan penghambaan dan kedekatan kepada-Nya

Juga untuk menumbuhkan rasa butuh dan kerendahan diri di hadapan-Nya. Ketika seorang hamba meninggalkan sesuatu yang ia cintai dan inginkan karena Allah, serta mendahulukan kecintaan kepada Allah di atas keinginannya, maka ia benar benar menjadi hamba Allah.

Semakin seorang hamba merendah dan merasa butuh kepada Allah, semakin sempurna pengabdiannya. Inilah makna penghambaan yang sejati, yaitu menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah, meninggalkan apa yang Dia haramkan, menahan diri dari apa yang Dia larang, dan mengambil apa yang Dia halalkan.

Allah Ta‘ala berfirman dalam hadis qudsi:

( يدع طعامه وشرابه وشهوته لأجلي) متفق عليه.

“Ia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku.”
(Muttafaq ‘alaih)

Karena itu, penghambaan menjadi sempurna dalam keadaan kerendahan dan kebutuhan kepada Allah, di antaranya:

1. Dalam berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah. Allah mencintai hamba yang bersungguh sungguh dalam doa.
2. Dalam sujud dan merendahkan anggota tubuh yang paling mulia, karena keadaan paling dekat seorang hamba kepada Tuhannya adalah saat sujud.
3. Dalam menyembelih dan menumpahkan darah karena Allah, karena tidak ada sesuatu yang lebih dicintai-Nya daripada darah yang ditumpahkan karena-Nya.

(3) Dengan puasa, seorang hamba dilatih bersabar

Ia belajar sabar dalam ketaatan kepada Allah dan sabar meninggalkan maksiat. Jika ia terus membiasakan meninggalkan kenikmatan demi ketaatan kepada Allah, bersabar mengharap pahala dan ridha-Nya, maka hal itu akan memberinya kekuatan untuk menanggung beban ibadah, kekuatan meninggalkan maksiat, serta kekuatan meninggalkan kebiasaan dan akhlak yang tidak dicintai Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

( وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ )

“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya hal itu berat kecuali bagi orang orang yang khusyuk.”

Mujahid dan yang lainnya menafsirkan sabar dalam ayat ini sebagai puasa. Karena itu bulan Ramadan disebut bulan kesabaran. Dalam hadis disebutkan:

(الصوم نصف الصبر).

“Puasa adalah setengah dari kesabaran.”

(4) Dalam puasa seorang hamba dari berbagai kenikmatan di bulan Ramadan tampak makna agung, yaitu bahwa hamba sangat membutuhkan Tuhannya, dan bahwa ia adalah milik yang diatur di bawah kekuasaan Tuannya. Ia tidak memiliki kekuasaan apa pun. Bumi adalah milik-Nya, para hamba adalah milik-Nya, perintah adalah milik-Nya, dan semuanya berada di bawah kekuasaan dan penundukan-Nya.

Seorang hamba menahan diri sepanjang hari dari apa yang Allah haramkan baginya, dan tidak berbuka sampai Allah mengizinkannya dengan terbenamnya matahari. Jika ia melanggar, ia menjadi durhaka kepada Allah. Ia tidak boleh memanfaatkan rezeki, bumi, atau harta kecuali dalam apa yang Allah halalkan dan izinkan baginya. Ini menunjukkan bahwa kefakiran dan kebutuhan selalu melekat pada hamba, sedangkan Allah Mahakaya secara mutlak. Allah Ta‘ala berfirman:

( يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ ).

“Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, Dia dapat memusnahkan kalian dan mendatangkan makhluk yang baru.”

(5) Dalam puasa seorang hamba, syahwatnya melemah dan pengaruh setan terhadap dirinya berkurang, bahkan bisa hilang sama sekali, sementara iman hamba menjadi kuat. Karena itu ketika seseorang berpuasa, ia menjauh dari syahwat, mendekat kepada ketaatan, dan selamat dari berbagai syubhat. Dengan demikian, ia mampu melepaskan diri dari kekuasaan setan dan kuat melawannya.

Dalam hadis sahih disebutkan:

‏(‏إن الشيطان يجري من ابن آدم مجرى الدم‏)‏‏.

“Sesungguhnya setan mengalir pada diri anak Adam seperti aliran darah.”

Nabi ﷺ juga membimbing pemuda yang memiliki dorongan syahwat tetapi belum mampu menikah agar berpuasa, supaya syahwatnya mereda dan terjaga dari fitnah. Rasulullah ﷺ bersabda:

(يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء) متفق عليه.

“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu menikah hendaklah ia menikah. Dan siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu menjadi perisai baginya.”
(Muttafaq ‘alaih)

(6) Pada bulan puasa, dengan banyaknya ibadah dan amalan sunnah, seorang hamba bersungguh sungguh dalam ketaatan. Ketika ia sibuk dengan puasa, qiyam, membaca Al Qur’an, berzikir, dan berbuat baik, ia menjadi termasuk ahli ibadah, terbiasa dengan ketaatan, dan tumbuh dalam dirinya kesiapan jiwa serta semangat untuk mendekat dan beribadah kepada Allah. Ini makna yang sangat halus.

Karena itu Rasulullah ﷺ lebih bersungguh sungguh dalam ibadah pada bulan Ramadan dibanding bulan lainnya. Ketika sepuluh hari terakhir tiba, beliau mengencangkan ikat pinggangnya (lebih giat beribadah), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.

(7) Dalam puasa, rasa lapar dan haus membuat seorang hamba merasakan kebutuhan kaum fakir dan miskin yang kekurangan, merasakan penderitaan dan kesulitan mereka. Jika ia menahan kenikmatan di bulan Ramadan atas pilihannya sendiri, padahal ia mampu hidup dalam kelapangan, maka orang fakir terhalang dari kenikmatan sepanjang tahun tanpa pilihan.

Ketika seorang hamba menyadari hal ini, ia terdorong untuk memberi, berbuat baik kepada orang yang susah, memperhatikan keadaan mereka, dan memenuhi kebutuhan mereka. Ia menjadi penyayang, penuh belas kasihan, dan lembut hatinya. Inilah derajat berbuat ihsan kepada sesama.

Allah Ta‘ala berfirman:

( وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ).

“Berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang orang yang berbuat baik.”

(كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل).

Karena itu Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan beliau paling dermawan pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya.
(HR. Bukhari)

Syariat juga mendorong kaum beriman untuk berbuat baik pada bulan ini. Rasulullah ﷺ bersabda:

( من فطر صائماً كان له مثل أجره غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيء ) رواه النسائي.

“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.”
(HR. An Nasai)

(8) Dalam puasa seorang hamba dengan meninggalkan berbagai kenikmatan, tampak makna besar dan hikmah agung dalam jiwa seorang mukmin, yaitu meninggalkan kemewahan, meninggalkan kebiasaan mengikuti syahwat, tidak berlebihan dalam hal yang mubah, membiasakan hidup sederhana, dan merasakan dekatnya perpisahan dari dunia.

Inilah maqam zuhud yang ditempuh oleh orang orang beriman yang sempurna. Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling zuhud, dan para shiddiqin serta orang orang saleh bersikap zuhud terhadap gemerlap dan perhiasan dunia sepanjang tahun. Ketika Ramadan datang, mereka tidak merasakan kesulitan seperti yang dirasakan orang lain dan tidak merasa kehilangan banyak hal.

Aisyah رضي الله عنها menggambarkan kehidupan Nabi ﷺ:

(إنا كنا آل محمد ليمر بنا الهلال ما نوقد ناراً، إنما هما الأسودان التمر والماء) رواه البخاري ومسلم.

“Kami keluarga Muhammad, terkadang satu bulan berlalu tanpa menyalakan api. Makanan kami hanyalah dua yang hitam: kurma dan air.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak pantas bagi seorang mukmin menjalani hidup seperti orang yang hidup bermewah mewah, sombong, dan mengikuti hawa nafsu. Makna zuhud juga tampak dalam banyak ibadah agung lainnya, seperti melepaskan pakaian biasa dalam ibadah haji dan semisalnya.

(9) Dalam puasa, pikiran menjadi jernih, hati menjadi lembut, jiwa menjadi tunduk, dan seorang hamba menjadi khusyuk serta dekat kepada Allah. Ketika ia mengingat Allah, ia merasakan kedekatan-Nya. Ketika berdoa, ia berdoa dengan keyakinan dan prasangka baik terhadap janji-Nya.

Hubungan hamba dengan kalam Tuhannya semakin kuat pada bulan ini. Allah membukakan baginya pemahaman dalam membaca Al-Qur’an yang tidak ia peroleh pada waktu lain. Jika ia membaca dalam keadaan berpuasa, ia menemukan suasana yang agung untuk tadabbur, memahami, dan merenungkan maknanya. Hatinya pun khusyuk, jiwanya terpengaruh, dan ia bersungguh sungguh untuk mengkhatamkannya.

Karena itu Rasulullah ﷺ sangat memberi perhatian kepada Al-Qur’an di bulan Ramadan. Malaikat Jibril عليه السلام menelaah Al-Qur’an bersama beliau setiap malam. Para salaf saleh jika Ramadan tiba, meninggalkan kesibukan lain dan menyibukkan diri dengan tilawah Al-Qur’an. Mereka memiliki kisah kisah indah dan keadaan yang menakjubkan dalam hal itu.

Puasa memiliki dimensi ruhani yang agung dan keadaan iman yang mendalam dalam jiwa seorang mukmin, sehingga ia merasakan manisnya iman, lezatnya ibadah, kenikmatan bermunajat kepada Sang Pencipta, keterikatan kepada-Nya, dan tertuju hatinya hanya kepada-Nya.

(10) Dalam puasa terdapat penghapusan kesalahan, pembersihan dosa, pengampunan, serta peningkatan derajat dan kedudukan. Rasulullah ﷺ bersabda:

(من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه) متفق عليه.

“Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni baginya dosa dosanya yang telah lalu.”
(Muttafaq ‘alaih)

Beliau juga bersabda:

( الصلوات الخمس ، والجمعة إلى الجمعة ، ورمضان إلى رمضان ، مكفرات لما بينهن إذا اجتنبت الكبائر ) رواه مسلم.

“Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dan dari Ramadan ke Ramadan berikutnya, adalah penghapus dosa di antara keduanya jika dosa dosa besar dijauhi.”
(HR. Muslim)

Allah juga membebaskan hamba hamba-Nya dari neraka pada bulan puasa. Nabi ﷺ bersabda:

( وينادي مناد : يا باغي الخير أقبل ، ويا باغي الشر أقصر ، ولله عتقاء من النار وذلك كل ليلة ) رواه الترمذي.

“Seorang penyeru berseru: wahai pencari kebaikan, datanglah; wahai pencari keburukan, berhentilah. Dan Allah memiliki hamba hamba yang dibebaskan dari neraka setiap malam.”
(HR. Tirmidzi)

Karena manusia sepanjang tahun sering lalai, banyak melakukan dosa, kurang dalam ibadah, dan sibuk mengumpulkan dunia, maka Allah menjadikan bulan puasa sebagai kesempatan memperbarui janji dengan-Nya, mengampuni dosa, membangunkan dari kelalaian, menguatkan tekad dalam ketaatan, serta membebaskan diri dari perbudakan dunia.

Semua makna, hikmah, dan rahasia ini termasuk dalam firman Allah Ta‘ala:

( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ).

“Wahai orang orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
Semua itu adalah berbagai bentuk dan jalan menuju takwa.

Sungguh disayangkan, makna makna ini hilang dari banyak orang yang berpuasa, sehingga puasa terasa berat bagi mereka. Mereka tampak jengkel, dan melakukan hal hal yang mengurangi pahala seperti perkataan sia sia, celaan, ghibah, dan adu domba. Siang hari dihabiskan dengan tidur, malam hari dengan begadang tanpa manfaat.

Jika seorang hamba menyadari hikmah puasa dan mengharap pahala darinya, puasa akan menjadi ibadah yang paling mudah dan paling manis baginya. Ia akan merasakan kelezatannya dan memperbanyaknya, sebagaimana Rasulullah ﷺ sering berpuasa.

Aisyah رضي الله عنها berkata:

( كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر ) رواه مسلم.

“Rasulullah ﷺ berpuasa hingga kami mengira beliau tidak akan berbuka.”
(HR. Muslim)

Ibadah agung ini, yaitu ibadah kesabaran, hanya diberikan kepada orang beriman yang sempurna yang Allah bukakan jalan baginya. Itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Siapa yang banyak berpuasa dan dikenal dengan puasanya, Allah akan memasukkannya pada hari kiamat melalui pintu Ar-Rayyan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

(إن في الجنة بابا يقال له الريان يدخل منه الصائمون يوم القيامة لا يدخل منه أحد غيرهم يقال أين الصائمون فيقومون لا يدخل منه أحد غيرهم فإذا دخلوا أغلق فلم يدخل منه أحدا) متفق عليه.

“Sesungguhnya di surga ada pintu yang disebut Ar-Rayyan. Orang orang yang berpuasa akan masuk darinya pada hari kiamat, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk darinya. Akan dikatakan: di mana orang orang yang berpuasa? Mereka pun berdiri. Tidak seorang pun selain mereka yang masuk darinya. Jika mereka telah masuk, pintu itu ditutup dan tidak ada lagi yang masuk darinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Biasanya orang yang jiwanya tunduk melalui puasa dan terus menjaganya akan menjadi sangat bertakwa dan berhati hati dari apa yang Allah haramkan. Dan orang yang diberi taufik adalah orang yang Allah beri taufik.
Semoga bermanfaat

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button