Fikih dan Rahasia Puasa: Menyelami Inti Ibadah, Bukan Sekadar Menahan Lapar Dahaga

Fikih dan Rahasia Puasa: Menyelami Inti Ibadah, Bukan Sekadar Menahan Lapar Dahaga
Ustaz Usamah Maming, Lc., M.A. Hafizhahullah
Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai fikih dan rahasia puasa. Namun, fikih yang kita bahas di sini bukanlah hukum-hukum cabang fikih secara lahiriah semata. Kita akan menyelami fikih pada tingkatan yang lebih mendalam, yaitu fikih yang berkaitan erat dengan hati kita.
Ketahuilah, sejatinya puasa itu memiliki tiga tingkatan:
1. Puasa Orang Awam (Shaumul Umum)
Ini adalah tingkatan paling dasar, yaitu hanya sekadar menahan perut dan kemaluan dari memenuhi syahwatnya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
2. Puasa Orang Khusus (Shaumul Khusus)
Tingkatan ini lebih tinggi, yaitu tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan dari berbuat kesalahan dan dosa. Ini adalah puasanya orang-orang saleh.
3. Puasa Orang Sangat Khusus (Shaumu Khususil Khusus)
Ini adalah tingkatan tertinggi, derajatnya para nabi, siddiqin, dan orang-orang yang didekatkan kepada Allah (muqarrabin). Pada tingkat ini, puasa sejatinya adalah menahan hati dari pikiran-pikiran yang rendah, urusan duniawi, dan dari apa pun selain Allah Azza wa Jalla. Puasa pada tingkatan ini bahkan bisa “batal” secara batin apabila hati mulai memikirkan selain Allah dan hari akhir.
Hakikatnya adalah menghadapkan seluruh tekad hanya kepada Allah dan mengamalkan firman-Nya:
قُلِ اللّٰهُ ۙ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِيْ خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ
“Katakanlah, ‘Allah (yang menurunkannya),’ kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. Al-An’am: 91)
Memang, menargetkan puasa Khususul Khusus sangatlah sulit. Namun, setidaknya kita harus berusaha untuk naik kelas menyelesaikan tingkatan kedua, yaitu berhijrah dari puasa awam menuju puasa khusus.
6 Perkara Penyempurna Puasa Khusus
Kesempurnaan puasa khusus agar anggota badan terjaga dari dosa bergantung pada enam hal:
Pertama: Menahan Pandangan
Jangan biarkan mata melihat secara bebas kepada segala sesuatu yang tercela, tidak disukai, atau hal-hal yang dapat menyibukkan serta melalaikan hati dari mengingat Allah (seperti terlalu banyak scrolling gawai atau menonton hal tak berfaedah). Rasulullah Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ: الْكَذِبُ، وَالْغِيبَةُ، وَالنَّمِيمَةُ، وَالْيَمِينُ الْغَمُوسُ، وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ
“Lima perkara yang dapat merusak (pahala) orang yang berpuasa: dusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu, dan memandang dengan syahwat.”
(Syahwat di sini bermakna segala bentuk keinginan hati pada sesuatu yang tidak diridai Allah).
Kedua: Menjaga Lisan
Lisan harus dijaga dari ucapan sia-sia, dusta, ghibah, namimah, perkataan keji, kasar, permusuhan, hingga debat kusir. Biasakan lisan untuk diam, berzikir, dan membaca Al-Qur’an. Sufyan Ats-Tsauri dan Mujahid menegaskan bahwa ghibah dan dusta benar-benar merusak puasa. Rasulullah Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan janganlah bertindak bodoh. Jika ada orang yang memeranginya atau mencacinya, maka hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari & Muslim)
Terdapat pula sebuah riwayat (meskipun sanadnya lemah, kita bisa mengambil ibrah di dalamnya) tentang dua wanita yang hampir pingsan karena berpuasa. Nabi Muhammad ﷺ menyuruh mereka memuntahkan isi perutnya, dan keluarlah darah segar serta daging mentah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Kedua wanita ini berpuasa dari sesuatu yang Allah halalkan bagi mereka, tapi berbuka dengan sesuatu yang diharamkan. Mereka duduk bersama lalu saling menggunjing kehormatan orang lain. Itulah daging manusia yang mereka makan.”
Ketiga: Menahan Pendengaran
Segala sesuatu yang haram diucapkan, maka haram pula untuk didengarkan. Allah menyamakan orang yang gemar mendengar kebohongan dengan pemakan harta haram:
سَمَّٰعُونَ لِلۡكَذِبِ أَكَّٰلُونَ لِلسُّحۡتِ
“Mereka sangat suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” (QS. Al-Maidah: 42)
Jika kita diam saja saat mendengar ghibah, kita ikut berdosa. Allah berfirman:
إِنَّكُمۡ إِذًا مِّثۡلُهُمۡۗ
“Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS. An-Nisa: 140)
Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda:
الْمُغْتَابُ وَالْمُسْتَمِعُ شَرِيكَانِ فِي الْإِثْمِ
“Orang yang menggunjing dan orang yang mendengarkan berserikat dalam dosa.”
Keempat: Menahan Anggota Badan Lainnya
Tahanlah tangan dan kaki dari perbuatan tercela, serta tahanlah perut dari perkara syubhat ketika berbuka. Tidak ada gunanya menahan diri dari yang halal di siang hari, tapi berbuka dengan yang haram. Hal ini bagaikan membangun istana namun menghancurkan sebuah kota. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.” (HR. Ibnu Majah)
Ulama menafsirkan hadis ini merujuk pada tiga hal: orang yang berbuka dengan harta haram, orang yang puasa makanan halal tapi memakan daging manusia (ghibah), dan orang yang badannya puasa tapi anggota tubuhnya tetap berbuat dosa.
Kelima: Tidak Makan Berlebihan Saat Berbuka
Tidak ada wadah yang lebih dibenci oleh Allah daripada perut yang penuh dengan makanan halal. Tujuan puasa adalah mematahkan hawa nafsu. Jika seseorang berpuasa penuh seharian, lalu saat magrib ia “mengqada” makan siang dan makan malamnya sekaligus hingga kenyang, maka syahwatnya justru akan bangkit lebih kuat.
Jangan perbanyak tidur di siang hari agar kita bisa merasakan lapar dan haus yang melembutkan hati. Di malam hari, sisakan sedikit rasa lapar agar kita mudah melaksanakan salat tahajud, tidak diganggu setan, dan mata hati kita terbuka untuk melihat rahasia kerajaan Allah, termasuk menyambut malam Lailatul Qadar:
إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)
Siapa yang perut dan tekadnya dipenuhi syahwat, tabir Lailatul Qadar tidak akan terbuka untuknya.
Keenam: Hati Antara Khauf (Takut) dan Raja’ (Harap)
Setelah berbuka, hati seorang hamba harus berada di antara rasa harap pahalanya diterima, sekaligus takut puasanya ditolak.
Hasan Al-Basri pernah melewati sekelompok orang yang tertawa terbahak-bahak di bulan puasa, lalu beliau berkata: “Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadan sebagai arena perlombaan. Ada kaum yang mendahului dan menang, ada yang tertinggal dan merugi. Saya sungguh heran pada orang yang masih bisa tertawa dan bermain pada hari di mana orang-orang jelas-jelas ada yang kalah.”
Ahnaf bin Qais, seorang ulama besar, saat di masa tuanya ditanya mengapa ia tetap berpuasa padahal puasa membuatnya semakin lemah. Ia menjawab indah: “Aku mempersiapkan ini untuk perjalanan yang panjang. Bersabar atas ketaatan kepada Allah lebih ringan bagiku daripada bersabar atas azab-Nya.”
Rahasia di Balik Sah dan Diterimanya Puasa
Jika ada yang bertanya: “Seseorang puasanya menahan makan, minum, dan syahwat, tapi lisannya tetap ghibah. Para ahli fikih mengatakan puasanya sah?”
Tugas ahli fikih menetapkan hukum standar lahiriah bagi orang awam. Namun bagi para Ulama Rabbani, “sah” artinya “diterima dan mencapai tujuan ibadah”. Tujuan utama puasa adalah meneladani sifat Allah As-Shamad (Maha Menguasai dan tidak bergantung pada apa pun termasuk hawa nafsu) serta menyerupai para malaikat yang menahan syahwatnya.
Manusia memiliki kedudukan di atas hewan karena dibekali akal untuk menundukkan nafsu. Namun, derajat kita di bawah malaikat karena nafsu masih menyertai kita. Jika syahwat ditundukkan, kita naik mendekati malaikat. Jika dituruti, kita turun menyamai tak berakal.
Tubuh boleh berpuasa, tapi pastikan hati dan akal juga ikut berpuasa. Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan:
الصَّوْمُ أَمَانَةٌ فَلْيَحْفَظْ أَحَدُكُمْ أَمَانَتَهُ
“Sesungguhnya puasa itu adalah amanah, maka hendaklah salah seorang dari kalian menjaga amanahnya.”
Beliau kemudian membaca firman Allah:
۞ إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58)
Lalu beliau menunjuk ke mata dan telinganya seraya menegaskan bahwa penglihatan adalah amanah dan pendengaran adalah amanah.
Setiap ibadah memiliki dua sisi: lahiriah (kulit) dan batiniah (inti). Kini pilihannya ada di tangan kita; apakah kita ingin menjadi golongan yang hanya puas menjilat “kulit” puasa yang berupa lapar dan dahaga saja, ataukah kita ingin menyelam ke dalam lautan “inti” puasa untuk menggapai rida Allah Azza wa Jalla?
Semoga Allah mengaruniakan kita kemampuan untuk menyelami puasa yang hakiki. Wallahu a’lam bish-shawab.
Wasallallahu ala Nabiyina Muhammadin wa ala alihi washahbihi wasallam. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



