Sirah Nabawiyah

Durus Minas Sirah – Perjanjian Hilf Al-Fudhul

Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah

حِلْفُ الْفُضُولِ

Perjanjian Hilf Al-Fudhul

اشْتَرَكَ النَّبِيُّ ﷺ فِي حِلْفِ الْفُضُولِ، وَكَانَ عُمْرُهُ حِينَها عِشْرِينَ سَنَةً.

Nabi Muhammad ﷺ turut serta dalam Perjanjian Hilf Al-Fudhul ketika beliau berusia dua puluh tahun.

وَكَانَ سَبَبُ هَذَا الْحِلْفِ أَنَّ رَجُلًا مِنْ زُبَيْدٍ، مِنَ الْيَمَنِ، قَدِمَ مَكَّةَ بِبِضَاعَةٍ، فَاشْتَرَاهَا مِنْهُ الْعَاصُ بْنُ وَائِلٍ وَكَانَ ذَا قَدْرٍ وَمَكَانَةٍ فِي مَكَّةَ، فَمَنَعَهُ حَقَّهُ، وَلَمْ يَجِدِ الزُّبَيْدِيُّ مَنْ يُنْصِفُهُ وَيَأْخُذُ لَهُ حَقَّهُ؛ فَصَعِدَ جَبَلَ أَبِي قُبَيْسٍ وَنَادَى بِمَظْلَمَتِهِ.

Sebab terbentuknya perjanjian ini adalah seorang laki-laki dari Zubaid, Yaman, datang ke Makkah dengan membawa barang dagangan. Barang itu dibeli oleh Al-‘Ash bin Wa’il, seorang yang memiliki kedudukan dan pengaruh di Makkah. Namun, ia tidak memberikan hak pedagang tersebut. Pedagang dari Zubaid itu tidak menemukan seorang pun yang bersedia membelanya dan mengembalikan haknya. Karena itu, ia naik ke Gunung Abu Qubais dan menyuarakan kezaliman yang dialaminya.

فَقَامَ الزُّبَيْرُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَقَالَ: «مَا لِهَذَا مَتْرَكٌ»، ثُمَّ اجْتَمَعَتْ هَاشِمٌ وَزُهْرَةُ وَتَيْمُ بْنُ مُرَّةَ فِي دَارِ ابْنِ جُدْعَانَ، فَتَحَالَفُوا وَتَعَاهَدُوا بِاللَّهِ لَيَكُونُنَّ يَدًا وَاحِدَةً مَعَ الْمَظْلُومِ عَلَى الظَّالِمِ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَيْهِ حَقُّهُ، وَتَعَاهَدُوا عَلَى أَلَّا يَجِدُوا بِمَكَّةَ مَظْلُومًا مِنْ أَهْلِهَا أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ مِمَّنْ دَخَلَهَا مِنْ سَائِرِ النَّاسِ إِلَّا قَامُوا مَعَهُ، وَكَانُوا عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ حَتَّى تُرَدَّ عَلَيْهِ مَظْلَمَتُهُ.

Az-Zubair bin Abdul Muththalib pun bangkit dan berkata, “Orang ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.” Kemudian, Bani Hasyim, Bani Zuhrah, dan Bani Taim bin Murrah berkumpul di rumah Ibnu Jud‘an. Mereka bersekutu dan berjanji atas nama Allah untuk bersatu membela orang yang dizalimi dalam menghadapi pelaku kezaliman hingga haknya dikembalikan. Mereka juga berjanji bahwa siapa pun yang mengalami kezaliman di Makkah, baik penduduknya maupun pendatang dari kalangan mana saja, akan mereka bela. Mereka akan menghadapi orang yang menzaliminya sampai hak yang dirampas dikembalikan.

ثُمَّ مَشَوْا إِلَى الْعَاصِ بْنِ وَائِلٍ فَانْتَزَعُوا مِنْهُ حَقَّ الزُّبَيْدِيِّ فَدَفَعُوهُ إِلَيْهِ.

Setelah itu, mereka mendatangi Al-‘Ash bin Wa’il, mengambil kembali hak pedagang dari Zubaid tersebut, lalu menyerahkannya kepadanya.

وَهَذَا الْحِلْفُ أَكْرَمُ وَأَشْرَفُ حِلْفٍ سُمِعَ بِهِ فِي الْعَرَبِ، قَالَ عَنْهُ الرَّسُولُ ﷺ: «لَقَدْ شَهِدْتُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا مَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهِ حُمْرَ النَّعَمِ، وَلَوْ أُدْعَى بِهِ فِي الْإِسْلَامِ لَأَجَبْتُ».

Perjanjian ini merupakan perjanjian paling mulia dan paling terhormat yang pernah dikenal di kalangan bangsa Arab. Mengenai perjanjian tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh, aku pernah menghadiri suatu perjanjian di rumah Abdullah bin Jud‘an. Aku tidak ingin menggantikan perjanjian itu dengan unta-unta merah yang berharga. Seandainya aku diajak untuk memenuhi perjanjian seperti itu pada masa Islam, niscaya aku akan memenuhinya.”

Sumber: Durūs min as-Sīrah (دروس من السيرة), pembahasan Hilf Al-Fudhul (حلف الفضول), halaman 15 kitab (halaman 16 berkas PDF). Harakat ditambahkan untuk membantu pembacaan dan uraian dibagi menjadi lima bagian tanpa mengubah isi pokok sumber.

Sayyid Syadly, Lc

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button