Ebook

Buku: Jejak Nabi di Bulan Ramadan

Downlod Pdfnya Klik

النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ

Jejak Nabi

di Bulan Ramadan

Oleh:

Dr. Abdul Hakim Al-Anis

Departemen Riset

www.alukah.net

Daftar isi

Daftar isi i

Kata Pengantar 2

Pengantar Cetakan Keempat 5

Pendahuluan 9

Ramadan Pertama (Tahun Ke-2 H) 13

Ramadan Kedua (Tahun ke-3 H) 30

Ramadan Ketiga (Tahun Ke-4 H) 33

Ramadan Keempat (Tahun Ke-5 H) 36

Ramadan Kelima (Tahun Ke-6 H) 44

Ramadan Keenam (Tahun Ke-7 H) 48

Ramadan Ketujuh (Tahun Ke-8 H) 64

Ramadan Kedelapan (Tahun Ke-9 H) 71

Ramadan Kesembilan (Tahun Ke-10 H) 88

Di Antara Petunjuk Nabi di Bulan Ramadan 96

Penutup 111

Daftar Pustaka 114

Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:

Departemen Urusan Islam dan Amal Sosial Dubai – Departemen Riset, dengan bangga mempersembahkan terbitan terbarunya yang berjudul: “An-Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam fii Ramadhan”[1] (Jejak Nabi di Bulan Ramadan) kepada para pembaca sekalian, baik dari kalangan peneliti, cendekiawan, maupun mereka yang haus akan ilmu pengetahuan.

Buku yang kaya akan manfaat meski disajikan secara ringkas ini hadir mengiringi hembusan semerbak bulan suci Ramadan, untuk menemani kita dalam perjalanan yang menyenangkan bersama Nabi di bulan-bulan Ramadan. Perjalanan ini dimulai dari tahun kedua Hijriah di mana puasa mulai diwajibkan, hingga Ramadan terakhir yang dihabiskan oleh Nabi di dunia ini, yaitu Ramadan tahun kesepuluh Hijriah.

Dengan demikian, beliau telah melalui sembilan kali bulan Ramadan di mana puasa telah diwajibkan. Buku ini menelusurinya dengan investigasi yang akurat, serta senantiasa berusaha menghubungkan berbagai peristiwa dan memberikan pandangan mengenai hal-hal yang mungkin rancu (samar), guna menyajikan gambaran yang dekat tentang kehidupan Nabi dalam suasana yang mulia ini: suasana bulan puasa.

Pencapaian ilmiah ini mendorong kami untuk menyampaikan rasa terima kasih dan doa yang sebesar-besarnya kepada keluarga Al Maktum—semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga mereka—yang mencintai ilmu dan para penuntutnya, serta mendukung isu-isu keislaman dan kebudayaan Arab dengan penuh dedikasi dan keberanian. Di garda terdepan adalah Yang Mulia Sheikh Mohammed bin Rashid bin Sa’id Alu Maktum, Wakil Presiden Negara, Perdana Menteri, dan Penguasa Dubai, yang telah membangun masyarakat berpengetahuan, mensponsori penelitian ilmiah, serta mendorong para cendekiawan dan pelajar.

Kami memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa, agar memberikan manfaat melalui karya ini, mengaruniakan kepada kami taufik dan kelurusan langkah, serta memberikan petunjuk agar dapat terus berkontribusi di jalan keunggulan yang dicita-citakan.

Akhir dari doa kami adalah segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, dan semoga Allah mencurahkan shalawat kepada Nabi yang ummi (tidak membaca dan menulis) sekaligus penutup para nabi, junjungan kita Nabi Muhammad, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

Direktur Departemen Riset

Dr. Saif bin Rashid Al-Jabri

Pengantar Cetakan Keempat

Segala puji bagi Allah dengan pujian orang-orang yang bersyukur. Sebaik-baik shalawat dan salam yang paling sempurna semoga tercurah kepada pemilik sirah (perjalanan hidup) yang harum, cemerlang, dan bercahaya, junjungan kita Nabi Muhammad , sang pemberi petunjuk lagi terpercaya. Juga kepada keluarga beliau yang suci, para sahabatnya yang baik, para tabi’in, serta siapa saja yang mengikuti mereka dengan kebaikan, petunjuk, dan ketakwaan hingga hari kiamat. Amma ba’du:

Sesungguhnya di antara waktu-waktu jernih yang indah adalah waktu yang dihabiskan seseorang bersama sirah Nabi yang mulia dan Rasul yang agung, dalam keadaan membaca, merenung, mengambil pelajaran, dan menyucikan jiwa. Saya berharap buku ini mendapatkan bagian dari hal tersebut, dan menjadi jalan untuk mencapai salah satu dari tujuan-tujuan yang diharapkan ini.

Asal mula buku ini adalah sebuah ceramah yang Allah Azza wa Jalla berikan taufik kepada saya untuk mempersiapkan dan menyampaikannya—dalam rangka menyambut bulan Ramadan tahun 1417 H—di Majelis Budaya Dr. Rasyid Al-Ubaidi, yang rutin diadakan di perpustakaan Syekh Hamdi Al-A’zhami di daerah Al-A’zhamiyah, Baghdad, pada setiap Rabu malam.

Kemudian saya meninjaunya kembali dan menyusunnya menjadi sebuah buku yang diterbitkan oleh Dar Al-Buhuts (Lembaga Riset) untuk Studi Islam dan Penghidupan Kembali Turats di Dubai pada tahun 1424 H – 2003 M.

Selanjutnya, cetakan keduanya diterbitkan oleh Departemen Urusan Islam dan Amal Sosial Dubai pada tahun 1428 H – 2007 M.

Kemudian cetakan ketiganya terbit pada tahun 1430 H – 2009 M oleh Departemen Urusan Islam dan Pusat Kebudayaan Islam Putri Haya binti Al-Hussein di Dubai.

Termasuk di antara nikmat Allah adalah besarnya antusiasme (masyarakat) untuk membacanya, serta memanfaatkannya dalam berbagai khotbah, kajian, dan nasihat-nasihat Ramadan.

Gagasan-gagasan yang ada di dalam buku ini telah diterima dengan baik, terutama upaya penanggalan sejarah (kronologi) terhadap tindakan-tindakan dan keadaan-keadaan Nabi yang sebelumnya belum pernah dicatat waktu sejarahnya.

Saya merasa senang dan bahagia dapat menuliskan kata-kata ini di hadapan cetakan keempat, seraya memohon kepada Allah Azza wa Jalla keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan, serta penerimaan (amal) di dunia dan akhirat.

Saya masih berharap dapat menemukan kelapangan waktu yang pas dan kesiapan mental yang layak terhadap tema ini, guna memperluas pembahasan di dalam buku ini dan merumuskannya dengan gaya bahasa yang lebih luas agar sesuai untuk kalangan pembaca umum.

Begitu pula, saya masih menantikan partisipasi para peneliti dalam topik ini dan sumbangsih pemikiran mereka pada beberapa masalah yang diangkat dalam buku ini; dengan harapan dapat terus meningkatkan kualitasnya dan menyempurnakan pembahasannya.

Sangat memungkinkan pula untuk menerapkan metode (penulisan) ini untuk menulis tentang sisi-sisi lain dari kehidupan dan pemahaman tentang Nabi .

Sebagai penutup saya katakan (dalam bait syair):

إِنْ أَرَدْتَ الصَّفَاءَ بَعْضَ زَمَانٍ *** وَالضِّيَاءَ الْمَوْفُورَ فَوْقَ مَكَانِ

Jika engkau menginginkan kejernihan di suatu masa, dan cahaya berlimpah di atas suatu tempat.

وَأَرَدْتَ الْأَنْوَارَ تَغْمُرُ نَفْسًا *** وَتَفِيضُ السُّرُورَ فِي الْوِجْدَانِ

Dan engkau ingin cahaya-cahaya membanjiri jiwa, serta meluapkan kebahagiaan di dalam hati sanubari.

فَدَعِ الْهَمَّ سَاعَةً وَتَأَمَّلْ *** فِي حَيَاةِ (النَّبِيِّ فِي رَمَضَانِ)

Maka tinggalkanlah sejenak kesedihan dan renungkanlah perjalanan hidup (Nabi di bulan Ramadan).

Abdul Hakim Al-Anis

Dubai, 23 Jumadil Akhir 1433 H.

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi-Nya yang terpercaya, serta kepada keluarga beliau yang suci dan para sahabatnya yang terpilih. Amma ba’du:

Berikut ini adalah kilasan, pancaran cahaya, dan kabar-kabar dari kehidupan Nabi serta petunjuk beliau di bulan Ramadan yang penuh berkah. Adapun metode kerja saya dalam penyusunan ini mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Penelusuran Literatur: Saya menelusurinya—sejauh yang dimudahkan bagi saya saat ini—di dalam kitab-kitab Sirah dan Sunnah (hadis).
  2. Penyusunan Kronologis: Saya menyusunnya berdasarkan urutan waktu dari Ramadan pertama pada tahun kedua Hijriah hingga Ramadan kesembilan pada tahun kesepuluh Hijriah. Nabi sendiri telah melaksanakan puasa sebanyak sembilan kali bulan Ramadan.
  3. Investigasi Sejarah: Saya berijtihad (berusaha sungguh-sungguh) untuk mengetahui penanggalan peristiwa yang belum dicatat tanggal sejarahnya, dan saya mengemukakan beberapa pendapat mengenai hal tersebut. Metode seperti ini—ketika sebuah peristiwa dikaitkan dengan waktu dan tempatnya—akan membuat riwayat menjadi lebih jelas, membantu pemahaman agar lebih akurat dan lebih baik, serta memunculkan beberapa pertanyaan, sebagaimana yang akan Anda lihat—wahai pembaca—di sela-sela risalah ini. Jika saya benar, maka segala puji bagi Allah, dan jika saya keliru, maka saya memohon ampunan kepada-Nya Yang Maha Suci.

Saya berharap kepada siapa saja yang membaca buku ini untuk ikut berpartisipasi dalam melengkapi peristiwa-peristiwa yang ada. Sebab, ada beberapa bulan Ramadan di mana kita tidak mengetahui apa pun tentang kehidupan Nabi di dalamnya. Barangkali dengan menelaah lebih dalam di berbagai literatur dapat mengantarkan kita pada peristiwa-peristiwa lain yang mampu menutupi ruang kosong ini.

Melalui karya ini, saya bermaksud untuk ikut andil dalam memuaskan dahaga jiwa-jiwa yang haus untuk mengetahui kehidupan Nabi secara menyeluruh maupun terperinci. Juga bagi mereka yang berharap dapat merasakan momen-momen mulia yang penuh berkah bersama beliau melalui perjalanan hidupnya yang harum dan membawa berkah.

Di antaranya adalah untuk mengetahui bagaimana beliau berpuasa dan berbuka, mendirikan shalat malam (qiyam), beri’tikaf dan beribadah, bepergian dan bermukim, menyambut utusan dan menyampaikan agama, serta menyebarkan Islam dan mendidik kaum muslimin. Serta bagaimana kehidupan beliau yang mulia, yang telah memenuhi dunia dengan cahaya dan kebahagiaan, keceriaan dan kegembiraan, serta menebarkan aroma harum yang membuka pintu-pintu hati, dan semerbak wangi yang menyapu karat-karat jiwa.

Semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada beliau, serta keberkahan dan pengagungan. Semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-baik balasan yang diberikan kepada seorang nabi atas umatnya, dan mengilhamkan kepada kita untuk berpegang teguh pada sunnah beliau, merenungi sirah-nya, serta beramal mengikuti manhaj dan jalan beliau.

Tidak diragukan lagi bahwa kembali kepada Sirah Nabawiyah dan merasakan kebersamaan dengan Nabi melaluinya adalah salah satu sarana terbaik yang dapat menambah tekad dan keteguhan, pandangan yang tajam, dan kabar gembira bagi seorang muslim, serta mengangkat derajatnya dalam perjalanan hidup melalui petunjuk dan keteladanan. Terutama pada hari ini, di mana kita menyaksikan berbagai kepanikan, ketakutan, dan kegelapan yang hendak menutupi hati, roh, dan jiwa.

Buku ini adalah embrio (cikal bakal) untuk sebuah karya besar yang saya harap diberikan taufik—atau ada orang lain yang diberikan taufik—untuk mewujudkannya. Buku ini disajikan secara ringkas dan padat, padahal di bawah setiap paragrafnya terdapat pembahasan yang panjang, mencakup kabar, nas (teks agama), komentar, pelajaran, dan ibrah (hikmah).

Jika ini adalah satu langkah di jalan tersebut, maka saya berharap akan ada langkah-langkah selanjutnya yang mengikuti. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan (Wallahul musta’an).

Abdul Hakim Al-Anis

 

Ramadan Pertama (Tahun Ke-2 H)

Adz-Dzahabi berkata dalam kitab “Al-Maghazi” dari Tarikh Al-Islam mengenai peristiwa-peristiwa pada tahun kedua:

«وَفِي رَمَضَانَ فَرَضَ اللَّهُ صَوْمَ رَمَضَانَ، وَنَسَخَ فَرِيضَةَ يَوْمِ عَاشُورَاءَ».

“Dan pada bulan Ramadan, Allah mewajibkan puasa Ramadan, dan me-nasakh (menghapus) kewajiban puasa pada hari Asyura.”[2]

Ibnu Katsir berkata: Ibnu Jarir berkata:

«وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ فُرِضَ – فِيمَا ذُكِرَ – صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَقَدْ قِيلَ: إِنَّهُ فُرِضَ فِي شَعْبَانَ مِنْهَا».

“Dan pada tahun ini diwajibkan—sebagaimana disebutkan—puasa bulan Ramadan, dan ada pula yang mengatakan: Sesungguhnya ia diwajibkan pada bulan Sya’ban di tahun tersebut.”[3]

Al-Ustadz Al-Umari berkata:

«أَمَّا الصَّوْمُ فَقَدْ كَانَتْ فَرْضِيَّتُهُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْ شَعْبَانَ مِنَ السَّنَةِ الثَّانِيَةِ مِنَ الْهِجْرَةِ».

“Adapun puasa, maka kewajibannya ditetapkan pada hari Senin, ketika Sya’ban telah berlalu dua malam, pada tahun kedua dari Hijriah.”[4]

Mengenai keadaan puasa:

Mu’adz bin Jabal bercerita kepada kita, ia berkata:

“Shalat telah dialihkan (mengalami fase) dalam tiga keadaan, dan puasa juga dialihkan dalam tiga keadaan… Adapun mengenai keadaan puasa, sesungguhnya Rasulullah ketika tiba di Madinah, beliau berpuasa tiga hari setiap bulannya, dan berpuasa Asyura.

1- Kemudian Allah mewajibkan puasa atas beliau, dan Allah Ta’ala menurunkan ayat:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu…” hingga firman-Nya:

﴿وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ﴾

“…Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” [Al-Baqarah: 183-184].

Maka (pada saat itu) siapa yang ingin berpuasa, ia berpuasa, dan siapa yang ingin memberi makan seorang miskin, maka hal itu sudah mencukupinya darinya (menggugurkan kewajibannya).

2- Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat yang lain:

﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ﴾

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an…” hingga firman-Nya:

﴿فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ﴾

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.” [Al-Baqarah: 185].

Maka Allah menetapkan kewajiban puasanya atas orang yang mukim (tidak bepergian) dan sehat, memberikan keringanan di dalamnya bagi orang yang sakit dan musafir, serta menetapkan fidyah (memberi makan) bagi orang lanjut usia yang tidak mampu berpuasa.[5] Inilah dua keadaan tersebut.

3- Mu’adz berkata: “Dahulu mereka (para sahabat) makan, minum, dan mendatangi istri-istri mereka selama mereka belum tidur. Namun, jika mereka telah tertidur, mereka pun menahannya (mulai berpuasa). Kemudian ada seorang pria dari kalangan Anshar yang bernama (Shirmah) yang bekerja dalam keadaan berpuasa hingga sore hari. Ia lalu mendatangi keluarganya, kemudian melaksanakan shalat Isya, lalu tertidur sehingga ia tidak makan dan tidak minum hingga pagi hari. Maka di pagi harinya ia tetap dalam keadaan berpuasa.

Rasulullah melihatnya dalam keadaan sangat kepayahan (kelelahan), lalu beliau bertanya: ‘Mengapa aku melihatmu dalam keadaan sangat kelelahan?’

Ia menjawab: ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku bekerja kemarin, lalu aku pulang pada waktunya, kemudian aku merebahkan diri dan tertidur. Maka di pagi harinya, aku dalam keadaan berpuasa.'”

Mu’adz berkata: “Umar pernah mencampuri istrinya setelah ia tertidur (lalu bangun). Kemudian ia mendatangi Nabi dan menceritakan hal itu kepada beliau, maka Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:

﴿أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ﴾

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu…” hingga firman-Nya:

﴿ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ﴾

“…kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” [Al-Baqarah: 187].”[6]

Jadi, Rasulullah memasuki Madinah pada bulan Rabiul Awal dan mulai berpuasa Asyura serta tiga hari setiap bulannya—dan pendapat yang rajih (kuat) adalah bahwa puasa Asyura waktu itu hukumnya wajib, sedangkan puasa tiga hari (setiap bulan) bersifat sunnah, dan tidak ada riwayat yang sahih mengenai kewajiban puasa sebelum Ramadan selain Asyura—hingga masuklah tahun kedua (yang perhitungannya dimulai dari bulan Muharram), lalu puasa Ramadan pun diwajibkan.

Puasa Ramadan telah melewati tiga keadaan yang telah dirincikan oleh Mu’adz tersebut, dan Rasulullah beserta kaum muslimin pun melaksanakannya.[7] Hanya saja, kita tidak mengetahui kapan kewajiban puasa ditetapkan bagi semua orang dan kapan nasakh (penghapusan) hukum memilih (antara puasa atau fidyah) itu terjadi. Sebagaimana kita juga tidak mengetahui kapan turunnya ayat:

﴿أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ﴾

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur…”

Kira-kira, apakah kedua keadaan ini terjadi pada Ramadan pertama atau pada Ramadan kedua?

Dan ada sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Ath-Thabari melalui jalur Al-Aufi—namun jalur ini lemah—teksnya berbunyi:

“Sesungguhnya Umar ketika sedang tidur, hawa nafsunya membujuknya lalu ia pun mencampuri istrinya. Setelah mandi, ia mulai menangis dan mencela dirinya sendiri. Kemudian ia mendatangi Rasulullah dan berkata: ‘Sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah dan kepadamu dari perbuatan diriku sendiri, karena nafsuku telah menghiasinya untukku. Apakah engkau menemukan keringanan bagiku?’

Beliau menjawab: ‘Engkau tidak pantas melakukan hal itu, wahai Umar.’

Ketika Umar telah sampai di rumahnya, beliau mengirim utusan kepadanya. Umar pun mendatanginya, lalu beliau memberinya keringanan (uzur) melalui sebuah ayat dari Al-Qur’an, dan Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk meletakkan ayat tersebut di pertengahan surah Al-Baqarah.”[8]

Riwayat ini—serta riwayat lain dari Al-Bara’[9]—mengisyaratkan adanya jeda waktu (keterlambatan) dalam turunnya ayat ini.

Bagaimanapun juga, itu adalah rukhshah (keringanan) bagi orang yang menahan diri dari makanan lalu ia sangat kelelahan yaitu (sahabat) Shirmah—terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai Nama aslinya,[10]—serta bagi orang yang mendekati (mencampuri) istrinya, yaitu Umar dan yang selainnya.

Telah disebutkan di dalam ayat tersebut:

﴿وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ﴾

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”

Dan lafaz: ﴿مِنَ الْفَجْرِ﴾ turun secara menyendiri setelah ayat tersebut. Dua syekh (Bukhari dan Muslim) telah meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d, ia berkata:

“Diturunkan ayat: ﴿وَكُلُوا وَاشْرَبُوا﴾ namun belum turun lafaz ﴿مِنَ الْفَجْرِ﴾. Saat itu, jika para pria ingin berpuasa, salah seorang dari mereka mengikatkan benang putih dan benang hitam di kakinya, dan ia terus makan hingga penglihatannya terhadap kedua benang itu menjadi jelas. Maka Allah menurunkan setelah itu lafaz ﴿مِنَ الْفَجْرِ﴾, sehingga mereka pun mengetahui bahwa yang dimaksud adalah (perbedaan) antara malam dan siang.”[11]

Ibnu Athiyyah berkata: “Diriwayatkan bahwa jarak antara kedua ujung masa tersebut adalah satu tahun, dari Ramadan ke Ramadan, di mana penjelasan tersebut ditunda hingga waktu dibutuhkannya.”[12]

Dan Al-Qurthubi Al-Muhaddits (wafat: 656 H) berkata: “Diriwayatkan bahwa jarak antara keduanya adalah satu tahun.”[13]

Ibnu Hajar berkata: “Namun keduanya tidak menjelaskan sanad (sandaran)-nya.”[14]

Pada bulan Ramadan ini, Nabi beri’tikaf di sepuluh malam pertama:

Ath-Thabarani meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Ummu Salamah, ia berkata:

«اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ أَوَّلَ سَنَةٍ الْعَشْرَ الْأُوَلَ، ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْوُسْطَى، ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ، وَقَالَ: إِنِّي رَأَيْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيهَا، فَأُنْسِيتُهَا. فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ يَعْتَكِفُ فِيهِنَّ حَتَّى تُوُفِّيَ».

“Rasulullah beri’tikaf pada tahun pertama: (pada) sepuluh hari pertama, kemudian beliau beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahan, kemudian pada sepuluh hari terakhir. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya aku telah melihat Lailatul Qadar di dalamnya (sepuluh hari terakhir), lalu aku dibuat lupa akan (tanggal)-nya.’ Maka Rasulullah senantiasa beri’tikaf pada hari-hari tersebut (sepuluh hari terakhir) hingga beliau wafat.”[15]

Pada Ramadan ini pula terjadi Perang Badr Kubra pada tanggal (17):

Peristiwa-peristiwanya sudah masyhur dan banyak diketahui.[16]

Pada bulan ini juga, Ruqayyah binti Rasulullah wafat:

Saat itu, Utsman sedang merawatnya, dan Rasulullah menugaskannya untuk tinggal (merawatnya) sehingga ia tidak ikut menyaksikan (perang) Badr:

Ibnu Hajar berkata: “As-Sarraj menyebutkan dalam “Tarikh”-nya melalui jalur Hisyam bin Urwah dari ayahnya, ia berkata: ‘Utsman dan Usamah bin Zaid tidak ikut serta dalam Perang Badr. Ketika mereka sedang memakamkan Ruqayyah, Utsman mendengar suara takbir, lalu ia bertanya: Wahai Usamah, apa ini? Mereka pun melihat, ternyata itu adalah Zaid bin Haritsah yang menunggangi unta Rasulullah yang bernama Al-Jad’a’, membawa kabar gembira mengenai terbunuhnya kaum musyrikin pada hari Badr.'”[17]

Beliau (Ibnu Hajar) juga berkata: “Ibnu Sa’ad meriwayatkan melalui jalur Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran[18] dari Ibnu Abbas, ia berkata: ‘Ketika Ruqayyah wafat, Nabi bersabda: ‘Susullah pendahulu kita, Utsman bin Mazh’un.’

Para wanita pun menangisi Ruqayyah, lalu Umar bin Khattab datang dan mulai memukul (mencegah) mereka. Maka Nabi bersabda:

«مَهْمَا يَكُنْ مِنَ الْعَيْنِ وَمِنَ الْقَلْبِ فَمِنَ اللَّهِ وَالرَّحْمَةِ، وَمَهْمَا يَكُنْ مِنَ الْيَدِ وَاللِّسَانِ فَمِنَ الشَّيْطَانِ».

‘Apa pun yang berasal dari mata (air mata) dan dari hati, maka itu adalah dari Allah dan bentuk kasih sayang. Namun apa pun yang berasal dari tangan (memukul) dan lisan (meratap), maka itu berasal dari setan.’

Kemudian Fatimah duduk di tepi kuburan seraya menangis, lalu beliau (Nabi) mulai mengusap air mata dari matanya dengan ujung pakaian beliau.'”

Al-Waqidi berkata: “Ini adalah sebuah kekeliruan, barangkali yang dimaksud adalah putri beliau yang lain, karena hal yang valid adalah bahwa Ruqayyah wafat pada saat Perang Badr. Atau hal ini dipahami bahwa beliau (Nabi) mendatangi kuburannya setelah pulang dari Badr.”[19]

Pada bulan ini wafat pula Sa’ad bin Malik Al-Khazraji As-Sa’idi:

Ia adalah ayah dari Sahl bin Sa’d, yang mana ia telah bersiap-siap menuju Badr, namun wafat sebelumnya di bulan Ramadan.

Adz-Dzahabi berkata: “Maka dikatakan bahwa Nabi tetap menetapkan bagian ghanimahnya untuknya, dan mengembalikannya kepada ahli warisnya.”[20]

Pada bulan ini pula terjadi Sariyah (ekspedisi militer) Umair bin Adi Al-Khathmi:

Adz-Dzahabi berkata:

“Al-Waqidi menyebutkan bahwa Rasulullah mengutusnya ketika Ramadan tersisa lima hari, menuju (kediaman) Asma’ binti Marwan, dari Bani Umayyah bin Zaid. Wanita ini sering mencela Islam, memprovokasi orang-orang untuk melawan Nabi, dan menggubah syair (kebencian). Maka Umair mendatanginya pada malam hari lalu membunuhnya secara diam-diam.”[21]

Lihatlah rincian riwayat ini dalam kitab “Al-Maghazi” karya Al-Waqidi.[22][23]

Pada akhir Ramadan ini diwajibkan Zakat Fitrah:

Sebagaimana yang dikatakan oleh Adz-Dzahabi.[24]

Ibnu Katsir berkata: Ibnu Jarir berkata: “Dan pada tahun ini, manusia diperintahkan untuk menunaikan Zakat Fitrah. Dikatakan pula: Sesungguhnya Rasulullah berkhotbah kepada orang-orang sehari—atau dua hari—sebelum Idul Fitri, dan memerintahkan mereka melakukan hal tersebut.”[25]

Dan dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«صَوْمُ شَهْرِ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَلَا يُرْفَعُ إِلَّا بِزَكَاةِ الْفِطْرِ».

“Puasa bulan Ramadan itu tergantung antara langit dan bumi, dan tidak akan diangkat (diterima) kecuali dengan (menunaikan) Zakat Fitrah.”[26]

Pada awal bulan Syawal di tahun ini:

“Nabi melaksanakan shalat Id, dan keluar bersama orang-orang menuju mushalla (tanah lapang). Ini adalah shalat Id pertama yang beliau laksanakan. Mereka keluar di hadapan beliau dengan membawa tombak pendek—yang mana tombak itu adalah milik Az-Zubair yang dihadiahkan oleh An-Najasyi kepadanya—maka tombak itu selalu dibawa di hadapan Rasulullah pada hari-hari raya.”[27]

 

Ramadan Kedua (Tahun ke-3 H)

Nabi menghabiskannya di Madinah:

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh perkataan Ibnu Ishaq:

“Masa tinggal Rasulullah setelah kedatangannya dari Najran adalah pada bulan Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, dan bulan Ramadan. Kemudian kaum Quraisy menyerang beliau dalam Perang Uhud pada bulan Syawal tahun ketiga.”[28]

Pada bulan ini lahir Al-Hasan:

Adz-Dzahabi berkata: “Pada bulan Ramadan, lahirlah As-Sayyid Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma.”[29]

Kelahirannya terjadi pada pertengahan bulan Ramadan.[30]

 

Pada bulan ini pula Nabi menikah dengan Hafshah binti Umar.[31]

Beliau menikah dengan Zainab binti Khuzaimah:

Adz-Dzahabi berkata dalam peristiwa-peristiwa pada tahun keempat: “Pada tahun tersebut, Ummul Mukminin Zainab binti Khuzaimah wafat… Beliau dijuluki Ummul Masakin (Ibunya orang-orang miskin) karena kebaikannya kepada mereka.

Ia pertama kali menikah dengan Ath-Thufail bin Al-Harits bin Al-Muththalib bin Abdul Manaf, kemudian ia diceraikannya. Lalu ia dinikahi oleh saudara (Ath-Thufail), yaitu Ubaidah bin Al-Harits, yang kemudian gugur syahid pada hari (Perang) Badr. Setelah itu, Rasulullah menikahinya pada bulan Ramadan tahun ketiga. Menurut pendapat yang sahih, ia tinggal bersama beliau selama delapan bulan.

Dikatakan pula: Wafatnya terjadi pada akhir bulan Rabiul Akhir. Nabi menshalatinya dan memakamkannya di Baqi’. Saat itu usianya sekitar tiga puluh tahun, radhiyallahu ‘anha.”[32]

 

Ramadan Ketiga (Tahun Ke-4 H)

Perlu dilakukan penelusuran mengenai peristiwa-peristiwa pada bulan Ramadan di tahun ini.

Barangkali pada masa ini terjadi peristiwa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Ad-Darda’, ia berkata:

«خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ فِي يَوْمٍ حَارٍّ، حَتَّى يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلَّا مَا كَانَ مِنَ النَّبِيِّ وَابْنِ رَوَاحَةَ».

“Kami keluar bersama Nabi dalam salah satu perjalanan beliau pada hari yang panas, sampai-sampai seseorang meletakkan tangannya di atas kepalanya karena cuaca yang sangat panas. Dan tidak ada seorang pun di antara kami yang berpuasa, kecuali Nabi dan Ibnu Rawahah.”[33]

Dan dalam riwayat Muslim dari jalur Sa’id bin Abdul Aziz juga disebutkan:

«خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، فِي حَرٍّ شَدِيدٍ».

“Kami keluar bersama Rasulullah di bulan Ramadan, dalam cuaca panas yang sangat terik.”[34]

Aku (penulis) berkata: Hal ini karena Nabi pada tahun ketiga, kelima, keenam, dan ketujuh menghabiskan bulan Ramadan di Madinah. Dan hadis ini tidak mungkin diarahkan pada peristiwa (Perang) Badr karena Abu Ad-Darda’ pada saat itu belum masuk Islam, tidak pula diarahkan pada peristiwa Fathu Makkah (Penaklukan Makkah) karena Ibnu Rawahah telah gugur syahid di Mu’tah sebelum peristiwa tersebut.[35]

Meskipun hal yang masyhur (dikenal luas) adalah bahwa perjalanan (safar) Nabi di bulan Ramadan hanya terbatas pada Perang Badr dan Fathu Makkah. Wallahu a’lam.

Demikianlah. Dan Nabi telah melaksanakan puasa pada Ramadan tahun ini di mana beliau telah memiliki dua orang cucu dari putri beliau, Sayyidah Fatimah, yaitu: Al-Hasan dan Al-Husain. Hal ini karena Al-Husain lahir pada bulan Sya’ban di tahun ini—semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semua.

 

Ramadan Keempat (Tahun Ke-5 H)

Pada awal bulan ini, Nabi kembali ke Madinah.

Pada bulan ini pula terjadi ujian (tragedi) Al-Ifk (berita bohong/fitnah):

Al-Ustadz Al-Umari berkata: “Pada hari Senin, ketika bulan Sya’ban telah berlalu dua malam pada tahun kelima Hijriah, Rasulullah keluar bersama pasukannya dari Madinah menuju perkampungan Bani Al-Musthaliq.

Inilah pendapat yang rajih (kuat), dan ini adalah pendapat Musa bin Uqbah yang sahih, yang ia riwayatkan dari Az-Zuhri dan dari Urwah, serta diikuti oleh Abu Ma’syar As-Sindi, Al-Waqidi, dan Ibnu Sa’ad. Sedangkan dari kalangan muta’akhkhirin (ulama belakangan) adalah Ibnul Qayyim dan Adh-Dhahabi.

Adapun Ibnu Ishaq berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Sya’ban tahun keenam. Namun, hal itu bertentangan dengan apa yang terdapat di dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim mengenai keikutsertaan Sa’ad bin Mu’adz dalam Perang Bani Al-Musthaliq, padahal ia telah gugur syahid dalam Perang Bani Quraizhah yang terjadi tepat setelah Perang Khandaq. Maka tidak mungkin Perang Bani Al-Musthaliq terjadi melainkan sebelum Perang Khandaq.”[36]

Kemudian beliau (Al-Umari) melanjutkan: “Dan Rasulullah kembali ke Madinah saat hilal bulan Ramadan (muncul) setelah beliau meninggalkannya selama sebulan kurang dua malam,” dan beliau merujuk pada kitab Al-Maghazi karya Al-Waqidi.[37]

Dalam peperangan ini—yang mana para ahli sejarah peperangan (Al-Maghazi) sepakat bahwa ia terjadi pada bulan Sya’ban, meskipun mereka berbeda pendapat mengenai tahunnya[38]—, awal mula peristiwa Al-Ifk terjadi dan dengan demikian terus berlanjut sepanjang bulan Ramadan. Dapat dipahami dari berbagai riwayat bahwa bara’ah[39] turun setelah sebulan, atau lebih, yakni pada bulan Syawal.

Hadis mengenai ujian (tragedi) ini sangat masyhur, dan terdapat di dalam riwayat Al-Bukhari serta yang lainnya secara panjang lebar dari hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, namun aku (penulis) tidak menemukan di dalamnya ada keterangan yang mengisyaratkan kepada bulan Ramadan![40]

Al-Umari berkata: “Dan tidaklah Rasulullah kembali ke Madinah melainkan Juwairiyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar mendatangi beliau untuk meminta bantuan guna membebaskan dirinya dari (status tawanan) Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas, karena ia jatuh ke dalam bagian ghanimah-nya. Ia telah membuat perjanjian tebusan (mukatabah) dengannya, dan ia pun menyebutkan kepada Rasulullah posisinya di tengah kaumnya. Maka beliau melunasi tebusannya dan menikahinya…”[41]

Jika kita mengetahui bahwa Rasulullah kembali ke Madinah pada saat hilal bulan Ramadan (muncul), kita dapat menyimpulkan bahwa kedatangan Juwairiyah—berdasarkan zhahir (tekstual) perkataan ini—terjadi pada saat itu, begitu pula dengan pernikahan beliau dengannya. Akan tetapi, hal ini bertentangan dengan fakta bahwa keluarga Nabi (Ahlul Bait) saat itu sedang disibukkan dengan ujian Al-Ifk. Maka bisa dipastikan—Wallahu a’lam—bahwa pernikahan tersebut terjadi sebelum kepulangan beliau, atau setelahnya pada waktu tertentu.

Pendapat pertama—yakni terjadi sebelum kepulangan— dikuatkan oleh riwayat dari Juwairiyah: “Rasulullah mendatangi kami ketika kami berada di Al-Muraisi’, lalu aku mendengar ayahku berkata: ‘Telah datang kepada kita sesuatu yang tidak sanggup kita hadapi’.

Ia (Juwairiyah) berkata: ‘Aku melihat orang-orang, kuda-kuda, serta perlengkapan perang yang tidak dapat aku gambarkan saking banyaknya.’ Namun, setelah aku masuk Islam dan dinikahi oleh Rasulullah lalu kami pulang, aku mulai memandang kaum muslimin, ternyata mereka tidak seperti yang aku lihat (sebelumnya), maka aku pun menyadari bahwa itu adalah rasa gentar (yang diturunkan) dari Allah…”[42]

Begitu pula, konteks riwayat dari Sayyidah Aisyah[43] menguatkan hal ini.

Barangkali pada Ramadan ini pula Nabi mengalihkan i’tikafnya ke sepuluh hari terakhir:

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah biasanya beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahan dari bulan Ramadan. Maka pada suatu tahun beliau beri’tikaf, hingga ketika tiba malam kedua puluh satu—yaitu malam di mana pada pagi harinya beliau keluar dari i’tikafnya—beliau bersabda:

«مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ، فَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا، وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ مِنْ صَبِيحَتِهَا، فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، وَالْتَمِسُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ».

“Barangsiapa yang telah beri’tikaf bersamaku, maka hendaklah ia beri’tikaf di sepuluh hari terakhir. Sungguh aku telah diperlihatkan malam ini (Lailatul Qadar), lalu aku dibuat lupa (akan tanggalnya), dan aku melihat diriku sujud di atas air dan lumpur pada pagi harinya. Maka carilah ia di sepuluh hari terakhir, dan carilah pada setiap malam ganjil.”

Maka langit pun turun hujan pada malam itu, dan masjid saat itu (atapnya) terbuat dari pelepah kurma (‘arisy), sehingga masjid pun bocor. Maka kedua mataku melihat Rasulullah , dan pada dahi beliau terdapat bekas air dan lumpur dari pagi hari (malam) kedua puluh satu.”[44]

Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha,

«أَنَّ النَّبِيَّ اعْتَكَفَ فِي أَوَّلِ سَنَةٍ الْعَشْرَ الْأُوَلَ، ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْوُسْطَى، ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ، وَقَالَ: إِنِّي رَأَيْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيهَا، فَأُنْسِيتُهَا. فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ يَعْتَكِفُ فِيهِنَّ حَتَّى تُوُفِّيَ».

“bahwa Nabi beri’tikaf pada tahun pertama: (pada) sepuluh hari pertama, kemudian beliau beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahan, kemudian beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir.

Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku telah melihat Lailatul Qadar di dalamnya (sepuluh hari terakhir), lalu aku dibuat lupa akan (tanggal)-nya.” Maka Rasulullah senantiasa beri’tikaf pada hari-hari tersebut hingga beliau wafat.”[45]

Dari gabungan kedua hadis ini, kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

  • Nabi beri’tikaf pada sepuluh hari pertama satu kali.
  • Beliau beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahan lebih dari sekali sehingga hal itu diketahui dari kebiasaan beliau. Hal ini ditunjukkan oleh perkataan Abu Sa’id Al-Khudri: “biasanya beliau beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahan dari bulan Ramadan”. Dan batas minimal suatu hal dapat diketahui sebagai kebiasaan adalah tiga kali. Dengan demikian, beliau beri’tikaf pada Ramadan kedua, ketiga, dan keempat di sepuluh hari pertengahan, dan pada (Ramadan) yang keempat ini barangkali beliau terus berlanjut beri’tikaf di sepuluh hari terakhir.
  • Pada bulan Ramadan ini, Nabi sedang bersedih akibat ujian Al-Ifk, dan hal ini bisa jadi menunjukkan beliau lebih memusatkan diri (beribadah) kepada Rabbnya dan mengasingkan diri dari manusia, lalu Allah Ta’ala menghibur beliau dengan Lailatul Qadar.[46] Wallahu Ta’ala a’lam.

 

Ramadan Kelima (Tahun Ke-6 H)

Nabi menghabiskannya di Madinah, dan tidak sahih riwayat yang menyatakan bahwa beliau keluar menuju Hudaibiyah pada bulan tersebut:

Ibnu Ishaq berkata: “Kemudian Rasulullah menetap di Madinah selama bulan Ramadan dan Syawal, lalu beliau keluar pada bulan Dzulqa’dah untuk melaksanakan umrah, tanpa bermaksud untuk berperang.”[47]

Adz-Dzahabi berkata dalam kisah Perang Hudaibiyah: “Rasulullah keluar menuju ke sana pada bulan Dzulqa’dah tahun keenam. Hal ini dikatakan oleh Nafi’, Qatadah, Az-Zuhri, Ibnu Ishaq, dan yang lainnya, serta Urwah dalam Al-Maghazi-nya riwayat Abu Al-Aswad.

Dan Ali bin Mus-hir menyendiri (tafarrud) dalam meriwayatkan dari Hisyam dan dari ayahnya, bahwa Rasulullah keluar menuju Hudaibiyah pada bulan Ramadan, sedangkan (peristiwa) Hudaibiyah terjadi pada bulan Syawal…”[48]

 

Telah masyhur (dikenal luas) bahwa beliau memohon hujan (istisqa’) untuk umatnya lebih dari sekali, dan di antaranya adalah shalat istisqa’ beliau di mushalla (tanah lapang) tempat shalat Id:

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bahwa Nabi keluar menuju mushalla, lalu beliau memohon hujan (istisqa’). Kemudian beliau menghadap kiblat, lalu membalikkan selendangnya, dan melaksanakan shalat dua rakaat.[49]

Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Hibban memberikan faedah (keterangan) bahwa keluarnya beliau ke mushalla untuk melaksanakan shalat istisqa’ terjadi pada [awal] bulan Ramadan tahun keenam Hijriah.”[50]

 

Pada Ramadan ini, Rasulullah mengutus Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu dalam sebuah sariyah (ekspedisi militer) menuju Lembah Al-Qura (Wadi Al-Qura).[51]

 

Pada bulan ini pula terjadi sariyah Abdullah bin Atik radhiyallahu ‘anhu menuju (tokoh Yahudi) Sallam bin Abi Al-Huqaiq, menurut pendapat Ibnu Sa’ad.[52]

 

Demikian pula sariyah Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu menuju Khaibar.[53]

 

Ramadan Keenam (Tahun Ke-7 H)

Ibnu Ishaq berkata: “Maka tatkala Rasulullah kembali ke Madinah dari Khaibar, beliau menetap di sana selama bulan Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadan, dan Syawal. Beliau mengutus (pasukan) di sela-sela bulan tersebut dari peperangan dan sariyah (ekspedisi militer) beliau .

Kemudian beliau keluar pada bulan Dzulqa’dah, pada bulan di mana kaum musyrikin pernah menghalangi beliau, untuk melaksanakan Umrah Al-Qadha’, sebagai ganti dari umrah beliau yang pernah mereka halangi.”[54]

 

Ramadan keenam ini adalah Ramadan pertama yang Abu Hurairah berpuasa bersama Rasulullah :

Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Abu Hurairah[55],

1– Rasulullah , beliau bersabda:

«الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ — مَرَّتَيْنِ — وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا».

“Puasa itu adalah perisai (junnah), maka janganlah berkata kotor (rafats) dan janganlah berbuat jahil (bodoh). Dan jika ada seseorang yang memeranginya atau mencelanya, maka hendaklah ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’ -dua kali-. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada wangi kasturi. Ia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya demi Aku.[56] Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya,[57] dan satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.”[58]

Dan dalam lafaz lain:

«قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : قَالَ اللَّهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ. لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ».

“Rasulullah bersabda: Allah berfirman: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa pada suatu hari, maka janganlah ia berkata kotor dan janganlah berteriak-teriak (berbuat gaduh). Jika ada seseorang yang mencelanya atau memeranginya, maka hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang sedang berpuasa’. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada wangi kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang membuatnya bergembira: apabila ia berbuka ia bergembira, dan apabila ia bertemu dengan Rabbnya ia bergembira dengan puasanya.”[59]

Maka barangkali Abu Hurairah mendengarnya pada tahun ini atau tahun-tahun setelahnya.

2- Demikian pula ia meriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:

«إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ».

“Apabila datang bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka.”[60]

3- Dan beliau bersabda:

«إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ».

“Apabila telah masuk bulan Ramadan, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu Jahannam ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”[61]

At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim menambahkan:

«وَنَادَى مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ هَلُمَّ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ».

“Dan seorang penyeru akan menyeru: ‘Wahai pencari kebaikan, kemarilah! Dan wahai pencari keburukan, tahanlah dirimu!'”[62]

4- Demikian pula diriwayatkan darinya bahwa beliau bersabda:

«مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ».

“Barangsiapa yang mendirikan shalat pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala (ihtisaban), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”[63]

5- Dan ia berkata: Nabi Allah bersabda seraya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya:

«قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتُرِضَ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ، تُفَتَّحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ».

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan atas kalian puasanya. Di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahim ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”[64]

6- Dan beliau bersabda:

«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ».

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (zur) dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh pada (amalannya) meninggalkan makanan dan minumannya.”[65]

7 – Dan beliau bersabda:

«لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ».

“Janganlah salah seorang dari kalian mendahului Ramadan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali bagi seseorang yang terbiasa berpuasa dengan puasa tertentu, maka hendaklah ia berpuasa pada hari itu.”[66]

8- Dan beliau bersabda:

«إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ».

“Jika ia lupa lalu makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang telah memberinya makan dan minum.”[67]

9- Dan ia (Abu Hurairah) berkata:

«بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ. قَالَ: مَالُكَ؟ قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ : هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟ قَالَ: لَا. قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مَسْكِينًا؟ قَالَ: لَا. قَالَ: فَمَكَثَ النَّبِيُّ ، فَبَيْنَمَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ — وَالْعَرَقُ: الْمُكْتَلُ — قَالَ: أَيْنَ السَّائِلُ؟ قَالَ: أَنَا. قَالَ: خُذْ هَذَا فَتَصَدَّقْ بِهِ. فَقَالَ الرَّجُلُ: عَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَبَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ — أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي. فَضَحِكَ النَّبِيُّ حَتَّى بَدَتْ أَنِيَابُهُ ثُمَّ قَالَ: أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ».

Ketika kami sedang duduk-duduk di sisi Nabi , tiba-tiba datanglah seorang pria lalu berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah binasa!” Beliau bertanya: “Ada apa denganmu?” Ia menjawab: “Aku telah mencampuri istriku padahal aku sedang berpuasa.” Maka Rasulullah bersabda: “Apakah engkau memiliki seorang budak untuk dimerdekakan?” Ia menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Ia menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Apakah engkau memiliki (makanan) untuk memberi makan enam puluh orang miskin?” Ia menjawab: “Tidak.”

Ia (Abu Hurairah) berkata: Maka Nabi terdiam sejenak. Ketika kami dalam keadaan seperti itu, Nabi dibawakan sebuah ‘araq yang berisi kurma —‘araq adalah keranjang—. Beliau bersabda: “Mana orang yang bertanya tadi?” Ia menjawab: “Saya.” Beliau bersabda: “Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya.” Pria itu berkata: “Apakah kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada di antara dua bebatuan hitam ini—maksudnya dua daerah berbatu (Al-Harrah)—penghuni rumah yang lebih miskin daripada penghuni rumahku.”

Maka Nabi tertawa hingga terlihat gigi taringnya, kemudian beliau bersabda: “Berikanlah makanan itu kepada keluargamu.”[68]

10- Dan ia berkata:

«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ عَنِ الْوِصَالِ فِي الصَّوْمِ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ: إِنَّكَ تُوَاصِلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَأَيُّكُمْ مِثْلِي؟ إِنِّي أَبِيتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي. فَلَمَّا أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا عَنِ الْوِصَالِ وَاصَلَ بِهِمْ يَوْمًا ثُمَّ يَوْمًا، ثُمَّ رَأَوُا الْهِلَالَ قَالَ: لَوْ تَأَخَّرَ لَزِدْتُكُمْ. كَالْتَنْكِيلِ لَهُمْ حِينَ أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا». وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى: «فَاكْلِفُوا مِنَ الْعَمَلِ مَا تَطِيقُونَ».

“Rasulullah melarang puasa wishal (menyambung puasa tanpa berbuka). Lalu seorang pria dari kaum muslimin berkata kepada beliau: ‘Sesungguhnya engkau melakukan wishal, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: ‘Dan siapakah di antara kalian yang sepertiku? Sesungguhnya di malam hari Rabbku memberiku makan dan minum.’ Ketika mereka enggan untuk berhenti dari puasa wishal, beliau pun menyambung puasa bersama mereka sehari, kemudian sehari lagi. Kemudian mereka melihat hilal, lalu beliau bersabda: ‘Seandainya (hilalnya) tertunda, niscaya aku akan menambahnya untuk kalian.’ Sebagai bentuk hukuman (teguran) bagi mereka karena mereka enggan untuk berhenti.”

Dan dalam riwayat lain: “Maka bebankanlah atas diri kalian amalan yang kalian mampu.”[69]

11- Dan ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

«شَهْرُ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةُ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ».

“Bulan kesabaran (Ramadan) dan tiga hari dari setiap bulan adalah puasa sepanjang masa (dahr).”[70]

12- Dan ia berkata: Rasulullah bersabda:

«اغْزُوا تَغْنَمُوا، وَصُومُوا تَصِحُّوا، وَسَافِرُوا تَسْتَغْنُوا».

“Berperanglah, niscaya kalian akan mendapat ghanimah; berpuasalah, niscaya kalian akan sehat; dan bepergianlah, niscaya kalian akan berkecukupan.”[71]

13- Dan ia berkata: Rasulullah bersabda:

«كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِئَةِ ضِعْفٍ — قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ — إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي…».

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya hingga tujuh ratus kali lipat -Allah Azza wa Jalla berfirman- kecuali puasa, karena sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwatnya dan makanannya demi Aku…”[72]

Ibnu Majah menambahkan setelah sabdanya ‘tujuh ratus kali lipat’:

«إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ».

“Hingga batas yang dikehendaki Allah.”[73]

14- Dan darinya (Abu Hurairah), bahwa Rasulullah bersabda:

«قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّ أَحَبَّ عِبَادِي إِلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا».

“Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Sesungguhnya hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah yang paling menyegerakan berbuka.'”[74]

 

Pada tahun ini, Nabi menikah dengan Shafiyyah binti Huyayy (dari kalangan Yahudi Khaibar):

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ali bin Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Shafiyyah istri Nabi mengabarkan kepadanya bahwa ia pernah datang kepada Rasulullah untuk mengunjungi beliau yang sedang beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Ia pun berbincang-bincang dengan beliau sesaat, kemudian ia bangkit untuk pulang. Maka Nabi pun bangkit bersamanya untuk mengantarkannya pulang,[75] hingga ketika ia sampai di pintu masjid di dekat pintu (rumah) Ummu Salamah, lewatlah dua orang pria dari kalangan Anshar. Keduanya lalu mengucapkan salam kepada Rasulullah .

Maka Nabi bersabda kepada keduanya: “Perlahanlah kalian berdua (jangan terburu-buru), sesungguhnya ia adalah Shafiyyah binti Huyayy.” Keduanya berkata: “Maha Suci Allah, wahai Rasulullah!” dan hal itu terasa berat bagi keduanya. Maka Nabi bersabda:

«إِنَّ الشَّيْطَانَ يَبْلُغُ مِنْ ابْنِ آدَمَ مَبْلَغَ الدَّمِ، وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يُقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا».

“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri anak Adam melalui aliran darah, dan sungguh aku khawatir ia akan melemparkan sesuatu (prasangka buruk) ke dalam hati kalian berdua.”[76]

Maka barangkali ia (Shafiyyah) mengunjungi beliau pada tahun ini atau pada tahun kesepuluh. Adapun pada tahun kedelapan, Nabi sedang berada dalam peperangan Fathu Makkah. Sedangkan pada tahun kesembilan, pendapat yang lebih kuat bagiku adalah beliau tidak melaksanakan i’tikaf pada bulan Ramadan di tahun tersebut.

 

Pada Ramadan ini terjadi sariyah (ekspedisi militer) Ghalib bin Abdullah Al-Laitsi menuju Al-Maifa’ah.[77]

 

Ramadan Ketujuh (Tahun Ke-8 H): (Fathu Makkah)

Pada awal bulan ini, Nabi mengutus sebuah sariyah (ekspedisi militer) menuju Bathn Idham… di bawah pimpinan Abu Qatadah bin Rib’i Al-Anshari, dengan membawa delapan orang laki-laki… agar ada yang menyangka bahwa Rasulullah sedang menuju ke arah sana, dan agar berita (mengenai tujuan sebenarnya) menjadi tersamarkan dengan hal itu.[78]

Dan beliau mengutus Hisyam bin Al-‘Ash As-Sahmi dalam sebuah sariyah.[79]

Kemudian berlanjutlah perjalanan menuju Makkah:

Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas: “Beliau—yakni Nabi —keluar ketika sepuluh hari telah berlalu dari bulan Ramadan. Maka Rasulullah berpuasa, dan orang-orang pun ikut berpuasa bersamanya, hingga ketika beliau berada di Al-Kadid, di antara ‘Usfan dan Amaj, beliau berbuka puasa.”[80]

Kemudian ia (Ibnu Ishaq) berkata: “Dan penaklukan Makkah (Fathu Makkah) terjadi ketika tersisa sepuluh malam dari bulan Ramadan tahun kedelapan.”[81]

Adz-Dzahabi berkata: Sa’id bin Abdul Aziz berkata dari ‘Athiyyah bin Qais, dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata: “Kami keluar untuk Perang Fathu Makkah ketika dua malam telah berlalu dari bulan Ramadan dalam keadaan berpuasa. Ketika kami sampai di Al-Kadid, Rasulullah memerintahkan kami untuk berbuka puasa.”[82]

Kemudian beliau (Adz-Dzahabi) berkata: “Az-Zuhri berkata: Maka Rasulullah tiba di Makkah pada pagi hari di tanggal tiga belas malam yang telah berlalu dari bulan Ramadan…”[83]

Dan di sana terdapat pendapat lain[84]—yakni menurut At-Turmanini[85]—bahwa peristiwa itu terjadi pada (tanggal 10) Ramadan, dan ini adalah sebuah kekeliruan (waham).

Di antara peristiwa-peristiwa di perjalanan:

1 – Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan dan beliau dalam keadaan berpuasa. Ketika matahari telah terbenam, beliau bersabda kepada salah seorang dari kaum tersebut: “Wahai Fulan, bangunlah dan adukkanlah minuman untuk kami.”[86]

Pria itu menjawab: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika engkau menunggu hingga sore hari (langit lebih gelap)?”

Beliau bersabda: “Turunlah dan adukkanlah minuman untuk kami.”

Pria itu berkata lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika engkau menunggu hingga sore hari?”

Beliau bersabda: “Turunlah dan adukkanlah minuman untuk kami.”

Pria itu berkata: “Sesungguhnya hari (terang) masih ada di atasmu.”

Beliau bersabda: “Turunlah dan adukkanlah minuman untuk kami.”

Maka pria itu pun turun lalu mengadukkan minuman untuk mereka. Nabi kemudian meminumnya, lalu bersabda: “Apabila kalian melihat malam telah datang dari arah sini, maka orang yang berpuasa sudah waktunya berbuka.”[87]

Ibnu Hajar berkata: “Perjalanan ini tampaknya adalah perjalanan Perang Fathu Makkah, dan hal ini dikuatkan oleh riwayat Husyaim dari Asy-Syaibani dalam riwayat Muslim dengan lafaz: ‘Kami pernah bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan di bulan Ramadan.’”[88]

Dan telah disebutkan sebelumnya bahwa perjalanan beliau di bulan Ramadan hanya terbatas pada Perang Badr dan Perang Fathu Makkah. Jika telah valid bahwa Ibnu Abi Aufa tidak ikut menyaksikan Perang Badr, maka sudah pasti itu adalah Perang Fathu Makkah.”[89]

2 – Dan Malik meriwayatkan di dalam Al-Muwaththa’ melalui jalur Abu Bakr bin Abdurrahman dari seorang laki-laki dari kalangan sahabat, ia berkata:

“Aku melihat Rasulullah di Al-‘Arj menuangkan air ke atas kepalanya karena kehausan atau karena cuaca panas… Kemudian ketika Rasulullah tiba di Al-Kadid, beliau meminta dibawakan sebuah cawan lalu meminumnya, maka orang-orang pun ikut berbuka puasa.”[90]

Dan peristiwa-peristiwa seputar Fathu Makkah sudah diketahui dan masyhur, begitu pula hari-hari di mana Nabi bermukim di Makkah,[91] maka aku tidak akan memaparkannya (di sini).

 

Pada bulan ini:

Nabi mengutus Sa’ad bin Zaid Al-Asyhali untuk menghancurkan (berhala) Manat ketika tersisa enam hari dari bulan tersebut.[92]

Beliau mengutus Khalid bin Al-Walid untuk menghancurkan (berhala) Al-‘Uzza ketika tersisa lima hari dari bulan tersebut.[93]

Beliau juga mengutus ‘Amr bin Al-Ash untuk menghancurkan (berhala) Suwa’,[94] dalam tiga sariyah (ekspedisi militer).

 

Ramadan Kedelapan (Tahun Ke-9 H): (Tahun Utusan/Wufud)

Pada bulan ini, utusan (wafd) dari Bani Tsaqif berada di Madinah:[95]

Ibnu Ishaq berkata: “Rasulullah tiba di Madinah sepulang dari Perang Tabuk pada bulan Ramadan, dan pada bulan tersebut utusan dari Bani Tsaqif datang menemui beliau.”[96]

Ibnu Ishaq berkata: Telah menceritakan kepadaku Isa bin Abdullah bin ‘Athiyyah bin Sufyan bin Rabi’ah Ats-Tsaqafi dari salah seorang utusan mereka, ia berkata: “Bilal dahulu biasa mendatangi kami semenjak kami masuk Islam dan ikut berpuasa bersama Rasulullah pada sisa bulan Ramadan. Ia membawakan makanan berbuka dan sahur dari sisi Rasulullah .

Ketika ia membawakan kami makan sahur, kami berkata kepadanya: ‘Sungguh kami melihat bahwa fajar telah terbit’. Maka ia menjawab: ‘Aku baru saja meninggalkan Rasulullah yang sedang makan sahur, karena (sunnahnya) mengakhirkan sahur’.

Kemudian ia membawakan kami makanan berbuka, lalu kami berkata: ‘Kami belum melihat matahari tenggelam sepenuhnya’. Maka ia menjawab: ‘Aku tidak mendatangi kalian melainkan setelah Rasulullah makan (berbuka), lalu beliau meletakkan tangannya di dalam bejana kayu (jafnah) kemudian menyuapkan makanan darinya’.”[97]

Abu Dawud telah meriwayatkan di dalam kitab Sunan-nya dengan sanadnya dari Aus bin Hudzaifah, sebuah hadis yang memuat gambaran mengenai pertemuan Rasulullah dengan utusan Bani Tsaqif.

Aus berkata: “Kami mendatangi Rasulullah dalam rombongan utusan Bani Tsaqif.”

Ia berkata: “Maka kaum Al-Ahlaf singgah di (rumah) Al-Mughirah bin Syu’bah, sedangkan Rasulullah menempatkan Bani Malik di sebuah kemah (qubbah) milik beliau.” —Musaddad berkata: “Dan Aus termasuk dalam rombongan utusan Bani Tsaqif yang mendatangi Rasulullah .”—

Ia (Aus) berkata: “Setiap malam setelah (shalat) Isya, beliau mendatangi kami lalu berbincang-bincang dengan kami.” —Abu Sa’id berkata: “Sambil berdiri di atas kedua kakinya, hingga beliau memindahkan tumpuan dari satu kaki ke kaki lainnya karena lamanya berdiri.”— “Dan hal yang paling sering beliau ceritakan kepada kami adalah mengenai perlakuan yang beliau terima dari kaumnya, Quraisy. Kemudian beliau bersabda: ‘Namun tidaklah sama. Dahulu kami adalah orang-orang yang tertindas dan dihinakan —Musaddad berkata: ‘Di Makkah’—, namun tatkala kami keluar menuju Madinah, terjadilah peperangan yang silih berganti antara kami dengan mereka: kami mengalahkan mereka, dan (terkadang) mereka mengalahkan kami.’

Kemudian pada suatu malam, beliau datang terlambat dari waktu biasanya beliau mendatangi kami. Maka kami pun berkata: ‘Engkau datang terlambat kepada kami malam ini.’ Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya telah tiba kepadaku waktu bagian (wirid/hizb) untuk membaca Al-Qur’anku, maka aku tidak suka untuk datang sebelum aku menyelesaikannya’.[98]

Aus berkata: “Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah : ‘Bagaimana kalian membagi Al-Qur’an (untuk dibaca)?’ Mereka menjawab: ‘(Kami membaginya) tiga (surah), lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas, dan hizb surah-surah Al-Mufashshal (surah-surah pendek) dikhususkan tersendiri’.”[99]

Dari Utsman bin Abi Al-Ash—dan ia telah masuk Islam di Madinah dalam rombongan utusan Bani Tsaqif[100]radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

«الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ، كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ».

“Puasa adalah perisai dari api neraka, sebagaimana perisai salah seorang dari kalian (untuk melindunginya) dari peperangan.”

Dan aku mendengar Rasulullah bersabda:

«صِيَامٌ حَسَنٌ: ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ».

“Puasa yang baik adalah: tiga hari dari setiap bulan.”[101]

Tampak bagiku bahwa penundaan i’tikaf Nabi ke bulan Syawal terjadi pada bulan Ramadan ini:

Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Rasulullah biasanya beri’tikaf pada setiap bulan Ramadan. Apabila beliau telah selesai melaksanakan shalat Subuh, beliau masuk ke tempat di mana beliau beri’tikaf.

Ia (perawi) berkata: Lalu Aisyah meminta izin kepada beliau untuk ikut beri’tikaf, maka beliau pun mengizinkannya, lalu Aisyah mendirikan sebuah kemah di sana. Hafshah mendengar hal itu, lalu ia pun mendirikan kemah. Zainab juga mendengarnya, lalu ia mendirikan kemah yang lain.

Tatkala Rasulullah selesai melaksanakan shalat Subuh, beliau melihat ada empat kemah, lalu beliau bertanya: “Apa ini?” Maka beliau pun diberitahu mengenai urusan mereka (istri-istrinya). Beliau bersabda: “Apa yang mendorong mereka melakukan ini? Apakah kebaikan (yang mereka cari)? Bongkarlah, agar aku tidak melihatnya lagi.” Maka kemah-kemah itu pun dibongkar, lalu beliau tidak beri’tikaf pada bulan Ramadan (itu), hingga akhirnya beliau beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Syawal.”[102]

Adapun hal-hal yang mendorongku untuk menyimpulkan hal ini adalah sebagai berikut:

1- Ibnu Al-‘Arabi berkata dalam menjelaskan alasan i’tikaf Nabi selama dua puluh hari pada bulan Ramadan terakhir beliau:

“Ada kemungkinan bahwa alasannya adalah karena tatkala beliau meninggalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir akibat kejadian dengan istri-istri beliau, dan menggantinya dengan beri’tikaf sepuluh hari di bulan Syawal, maka beliau beri’tikaf pada tahun berikutnya selama dua puluh hari, guna benar-benar mewujudkan qadha’ (pengganti) untuk sepuluh hari bulan Ramadan.”[103]

Dengan demikian, peristiwa beliau meninggalkan i’tikaf (di bulan Ramadan) terjadi pada Ramadan kedelapan ini.[104]

2- Bahwa Nabi saat itu sedang sibuk melayani utusan Bani Tsaqif, menyeru mereka kepada Islam, kemudian setelah mereka memeluk Islam beliau mengajari mereka agama, dan mengambil hati mereka.

Perkataan Aus bin Hudzaifah: “Setiap malam setelah (shalat) Isya, beliau mendatangi kami lalu berbincang-bincang dengan kami sambil berdiri di atas kedua kakinya, hingga beliau memindahkan tumpuan dari satu kaki ke kaki lainnya karena lamanya berdiri…” barangkali mengisyaratkan bahwa beliau tidak sedang melaksanakan i’tikaf. Karena jika beliau sedang i’tikaf, beliau akan memusatkan diri sepenuhnya untuk beribadah. “Jika telah masuk sepuluh hari terakhir (Ramadan), beliau mengencangkan kain sarungnya (menjauhi istri/fokus ibadah), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”

3- Dan terlintas di benakku, bisa jadi alasan beliau memerintahkan agar kemah-kemah yang didirikan oleh istri-istrinya (Ummahatul Mukminin) untuk dibongkar, karena saat itu masjid sedang sibuk dipenuhi oleh para utusan tersebut (dan mungkin juga oleh utusan lainnya, karena ini adalah Tahun Utusan). Keberadaan kemah-kemah itu akan mempersempit ruang bagi orang-orang yang shalat, beri’tikaf, maupun para utusan yang datang.

 

Pada bulan Ramadan ini juga terjadi:

Kedatangan utusan Bani Sa’ad Hudzaim.[105]

Serta kedatangan utusan dari suku Ad-Dariyyin,[106] dan utusan kabilah Fazarah serta permintaan mereka untuk memohon hujan (istisqa’), disusul dengan doa Nabi dan turunnya hujan,[107] serta kedatangan utusan Bani Murrah.[108]

 

Pada Ramadan kedelapan ini pula ‘Adi bin Hatim berpuasa bersama Rasulullah :

Al-Bukhari meriwayatkan darinya, ia berkata: “Tatkala turun ayat:

﴿حَتَّى يَتَبَيَّنَ لكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ﴾

(hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam),

Aku mengambil sebuah tali (pengikat unta) berwarna hitam dan sebuah tali berwarna putih, lalu aku meletakkannya di bawah bantalku. Di malam hari aku terus melihat ke arah keduanya, namun warnanya tidak tampak jelas bagiku. Pada pagi harinya aku mendatangi Rasulullah dan menceritakan hal itu kepada beliau, maka beliau pun bersabda:

«إِنَّمَا ذَٰلِكَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ».

“Sesungguhnya yang dimaksud dengan itu adalah gelapnya malam dan terangnya siang.”[109]

Ibnu Hajar berkata: “Perkataannya ‘Tatkala turun…’, secara tekstual (zhahir) menunjukkan bahwa ‘Adi hadir pada saat ayat ini diturunkan, dan hal ini mengkonsekuensikan bahwa ia telah masuk Islam sejak awal. Padahal kenyataannya tidaklah demikian, karena turunnya kewajiban puasa terjadi lebih dahulu pada awal-awal tahun Hijriah. Sedangkan masuk Islamnya ‘Adi terjadi pada tahun kesembilan atau kesepuluh sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan para ahli Maghazi lainnya.[110] Maka ada dua kemungkinan penafsiran: bisa dikatakan bahwa ayat yang terdapat di dalam hadis bab ini tertunda penurunannya dari (waktu) turunnya kewajiban puasa, namun hal ini sangatlah jauh (lemah); atau perkataan ‘Adi ini ditakwilkan bahwa maksud dari ucapannya ‘Tatkala turun’ adalah ‘tatkala ayat itu dibacakan kepadaku pada saat aku masuk Islam’, atau ‘tatkala berita turunnya ayat itu sampai kepadaku’, atau dalam konteks kalimat tersebut ada bagian yang dibuang (mahdzuf) yang kira-kira maknanya adalah: tatkala ayat tersebut turun, lalu aku datang dan memeluk Islam kemudian aku mempelajari syariat-syariat, (maka) aku pun mengambil (tali)…”[111]

Ahmad telah meriwayatkan[112] hadisnya melalui jalur Mujalid dengan lafaz:

“Rasulullah mengajariku tentang shalat dan puasa. Beliau bersabda: ‘Shalatlah begini, dan berpuasalah begini. Apabila matahari telah terbenam, maka makanlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam.’

Ia (‘Adi) berkata: Lalu aku mengambil dua utas benang… hingga akhir hadis.”[113]

Dan di antara kejadian yang dialami oleh ‘Adi bin Hatim bersama Rasulullah pada pertemuan-pertemuan pertama (mereka), kami menyebutkan hal berikut:

Ahmad, Al-Baghawi dalam Mu’jam-nya, serta yang lainnya, meriwayatkan melalui jalur Abu Ubaidah bin Hudzaifah, ia berkata: Aku pernah menceritakan mengenai hadis ‘Adi bin Hatim, lalu aku berkata:

“‘Adi ini berada di daerah Kufah”. Lalu aku mendatanginya, dan ia pun bercerita: “Tatkala Nabi diutus, aku sangat membencinya dengan kebencian yang mendalam. Maka aku pun pergi hingga aku berada di wilayah bumi yang paling jauh yang berbatasan dengan Romawi. Namun (ternyata) aku mendapati tempatku itu lebih aku benci daripada rasa benciku kepada beliau. Maka aku pun berkata (dalam hati): ‘Seandainya aku mendatangi beliau; jika ia adalah seorang pendusta, hal itu tidak akan samar (tersembunyi) bagiku, namun jika ia adalah orang yang jujur, maka aku akan mengikutinya’. Maka aku pun berangkat. Ketika aku tiba di Madinah, orang-orang memperhatikan (kehadiran)-ku seraya berkata: “‘Adi bin Hatim!”

Lalu aku mendatangi beliau, dan beliau pun bersabda kepadaku: “Wahai ‘Adi, masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat.”

Aku menjawab: “Sesungguhnya aku telah memiliki agama.”

Beliau bersabda: “Aku lebih mengetahui perihal agamamu daripada dirimu sendiri. Bukankah engkau adalah pemimpin kaummu?”

Aku menjawab: “Benar.”

Beliau bersabda: “Bukankah engkau biasa mengambil al-mirba’ (seperempat hasil rampasan perang)?”

Aku menjawab: “Benar.”

Beliau bersabda: “Sesungguhnya hal itu tidak dihalalkan bagimu dalam agamamu.” Kemudian beliau bersabda: “Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Aku menduga bahwa yang mencegahmu (untuk masuk Islam) hanyalah karena engkau melihat sedikitnya pengikut yang berada di sekitarku, dan engkau melihat semua orang bersatu padu memusuhi kami.” Beliau bertanya: “Apakah engkau pernah datang ke Al-Hirah?”

Aku menjawab: “Aku belum pernah mendatanginya, namun aku mengetahui di mana tempatnya.”

Beliau bersabda: “Hampir tiba masanya, seorang wanita yang mengendarai sekedup unta (dha’inah) akan keluar (berjalan) dari sana tanpa perlindungan siapa pun hingga ia melakukan thawaf di Ka’bah. Dan sungguh perbendaharaan kekayaan (Raja) Kisra bin Hurmuz akan ditaklukkan untuk kita.”

Aku pun bertanya keheranan: “Kisra bin Hurmuz?!”

Beliau menjawab: “Benar. Dan harta benda akan melimpah ruah, hingga seseorang akan merasa kebingungan mencari siapa orang yang mau menerima sedekahnya.”

‘Adi berkata: “Maka aku pun telah melihat dua di antaranya: (mengenai perjalanan aman) wanita pengendara sekedup tersebut, dan aku sendiri adalah orang yang berada dalam barisan pasukan kuda pertama yang menyerbu perbendaharaan kekayaan Kisra. Dan aku bersumpah demi Allah, sungguh perkara yang ketiga (melimpahnya harta) pasti akan terjadi.”[114]

 

Pada tahun ini Watsilah bin Al-Asqa’ masuk Islam,

Ia termasuk golongan Ahlush Shuffah (sahabat-sahabat miskin yang tinggal di pelataran masjid):

Dan ia bercerita: “Bulan Ramadan telah tiba dan kami sedang berada di Shuffah, maka kami pun berpuasa. Ketika tiba waktu berbuka puasa, setiap orang dari kami didatangi oleh seseorang, lalu ia membawanya pergi dan memberinya makan malam.

Lalu datanglah suatu malam di mana tidak ada seorang pun yang mendatangi kami, sehingga kami berada di pagi hari dalam keadaan (menyambung) puasa. Kemudian datang pula malam berikutnya, dan tetap tidak ada seorang pun yang mendatangi kami.

Maka kami pun beranjak menuju Rasulullah lalu mengabarkan kepada beliau mengenai keadaan kami. Maka beliau mengutus seseorang menemui setiap istri-istrinya untuk menanyakan: Apakah ada sesuatu (makanan) di sisinya? Ternyata tidak ada seorang istri pun yang dari mereka melainkan ia mengirim balasan (kepada Nabi) dengan bersumpah: ‘Tidak ada makanan sedikit pun di rumahnya pada malam itu untuk dimakan oleh makhluk hidup (manusia)’.

Maka Rasulullah bersabda kepada mereka: ‘Berkumpullah kalian’. Kemudian Rasulullah berdoa, seraya memohon:

«اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ، فَإِنَّهُمَا بِيَدِكَ لَا يَمْلِكُهُمَا أَحَدٌ غَيْرُكَ».

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dari karunia-Mu dan rahmat-Mu, karena sesungguhnya keduanya berada di Tangan-Mu, tidak ada seorang pun yang memilikinya selain-Mu.”

Maka tidak lama berselang, datanglah seseorang yang meminta izin (untuk masuk), dan ternyata ia membawakan seekor kambing panggang beserta beberapa potong roti. Rasulullah pun memerintahkan agar hidangan itu disajikan, lalu diletakkan di hadapan kami. Kami pun makan hingga merasa kenyang. Kemudian Rasulullah bersabda kepada kami:

«إِنَّا سَأَلْنَا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ، وَقَدْ ذَخَرَ لَنَا عِنْدَهُ رَحْمَتَهُ».

“Sesungguhnya kita telah memohon kepada Allah dari karunia-Nya dan rahmat-Nya, dan sungguh Dia telah menyimpan untuk kita rahmat-Nya di sisi-Nya.”[115]

 

Ramadan Kesembilan (Tahun Ke-10 H): (Ini yang Terakhir)

Pada tahun ini, Ibrahim putra Nabi wafat:

Ibnu Hajar berkata: “Mayoritas ahli Sirah menyebutkan bahwa ia wafat pada tahun kesepuluh dari Hijriah:

Ada yang mengatakan: Pada bulan Rabiul Awal.

Ada pula yang mengatakan: Pada bulan Ramadan.

Dan ada yang mengatakan: Pada bulan Dzulhijjah.

Namun mayoritas berpendapat bahwa peristiwa itu[116] terjadi pada tanggal sepuluh di bulan tersebut.

Ada yang mengatakan: Pada tanggal empat.

Dan ada pula yang mengatakan: Pada tanggal empat belas.

Dan tidak ada satupun riwayat yang sahih alam hal ini jika didasarkan pada pendapat (bulan) Dzulhijjah, karena Nabi pada saat itu sedang berada di Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Padahal telah valid bahwa beliau menyaksikan sendiri kewafatannya dan peristiwa itu terjadi di Madinah tanpa ada perselisihan pendapat. Ya, memang ada yang mengatakan bahwa ia wafat pada tahun kesembilan, jika hal ini terbukti maka itu bisa dibenarkan.

An-Nawawi memastikan bahwa hal itu terjadi pada tahun Hudaibiyah (tahun keenam), namun hal ini dibantah bahwa beliau pada saat itu beliau sedang berada di Hudaibiyah dan baru kembali dari sana pada akhir bulannya…”[117]

Aku (penulis) berkata: Hal yang sudah masyhur adalah bahwa matahari mengalami gerhana pada hari wafatnya Ibrahim.

Mahmud Pasha Al-Falaki telah melakukan penelitian (tahqiq) dalam bukunya yang berjudul “Nata’ij Al-Afham fi Taqwim Al-‘Arab qabla Al-Islam wa fi Tahqiq Mawlidihi wa Umrihi ‘Alaihis Shalatu was Salam” (Hasil Pemahaman mengenai Penanggalan Arab sebelum Islam serta Investigasi Kelahiran dan Usia Beliau ), bahwa gerhana matahari di Madinah terjadi pada pukul (8) lewat (30) menit setelah tengah malam pada tanggal (27) Januari tahun (632 M).

Ia berkata: “Berdasarkan hal tersebut, maka hari kedua puluh sembilan dari bulan Syawal tahun kesepuluh Hijriah bertepatan dengan tanggal dua puluh tujuh Januari tahun (632 M).”[118]

Berdasarkan hal ini, maka pada bulan Ramadan ini Ibrahim masih hidup, dan kita dapat membayangkan betapa bahagia dan gembiranya Nabi dengan keberadaannya.

 

Pada bulan RamadhaJn ini terjadi sariyah (ekspedisi militer) Ali radhiyallahu ‘anhu yang kedua menuju Yaman[119]

 

Pada bulan ini datang utusan dari Bani Ghassan, mereka terdiri dari tiga orang laki-laki.[120]

Pada bulan ini pula kedatangan Jarir bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, menurut pendapat Muhammad bin Umar Al-Aslami.[121]

 

Pada bulan ini Nabi beri’tikaf selama dua puluh hari:

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشَرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا».

“Nabi biasanya beri’tikaf pada setiap bulan Ramadan selama sepuluh hari. Maka tatkala tiba tahun di mana beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.”[122]

Dan dalam hadis Ibnu Majah dari Abu Hurairah, ia berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشَرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا، وَكَانَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ عُرِضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ».

“Nabi biasanya beri’tikaf pada setiap tahun selama sepuluh hari. Maka tatkala tiba tahun di mana beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari. Dan biasanya Al-Qur’an disetorkan (diperdengarkan dan diulang) kepada beliau setiap tahun sekali. Maka tatkala tiba tahun di mana beliau wafat, Al-Qur’an disetorkan kepada beliau sebanyak dua kali.”[123]

Mengenai hal ini, Ibnu Abbas berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَتَلَقَّاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ، يُعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ ﷺ الْقُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ».

“Nabi adalah manusia yang paling dermawan dalam kebaikan. Dan beliau menjadi lebih dermawan lagi ketika di bulan Ramadan saat Jibril menemui beliau. Dan Jibril ‘alaihis salam biasa menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadan hingga bulan itu berakhir,[124] Nabi menyetorkan bacaan Al-Qur’an kepadanya. Apabila Jibril ‘alaihis salam menemui beliau, maka beliau lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus kencang.” (HR. Al-Bukhari).[125]

Ibnu Abbas juga berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ أَطْلَقَ كُلَّ أَسِيرٍ، وَأَعْطَى كُلَّ سَائِلٍ».

“Apabila telah masuk bulan Ramadan, Rasulullah biasa membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta.”.[126]

 

Setelah perjalanan yang penuh berkah bersama peristiwa-peristiwa kehidupan Nabi di bulan Ramadan ini—baik peristiwa yang penanggalannya secara tegas (nash) telah disebutkan, maupun yang aku ijtihadkan untuk mengetahui penanggalannya melalui dalil dan kemungkinan—kita akan beralih pada pembahasan tentang sebagian dari keadaan-keadaan beliau secara umum.

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar mendekatkan kita dengan Nabi serta (memberikan taufik agar kita dapat) meneladani beliau baik dalam hal puasa, qiyam (shalat malam), maupun perilaku:

Di Antara Petunjuk Nabi di Bulan Ramadan

1- Beliau biasa berbuka puasa sebelum melaksanakan shalat (Maghrib), dan beliau berbuka dengan kurma basah (ruthab) jika mendapatinya. Jika tidak ada, maka dengan kurma kering (tamr). Jika tidak ada pula, maka dengan beberapa teguk air.

Disebutkan dari beliau bahwa beliau biasa mengucapkan doa saat berbuka:

«اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ».

“Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka, maka terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “

Namun riwayat ini tidak tsabit (tidak sahih).

Diriwayatkan pula dari beliau bahwa beliau mengucapkan:

«اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ».

“Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”

Hal ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Mu’adz bin Zuhrah bahwa telah sampai kepadanya bahwa Nabi biasa mengucapkan doa tersebut [maka hadis ini adalah mursal].

Diriwayatkan pula dari Nabi bahwa beliau biasa membaca doa ketika berbuka:

«ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى».

“Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala insya Allah Ta’ala.”

Hal ini disebutkan oleh Abu Dawud dari hadis Al-Husain bin Waqid, dari Marwan bin Salim Al-Muqaffa’, dari Ibnu Umar.[127]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

«مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ قَطُّ صَلَّى صَلَاةَ الْمَغْرِبِ حَتَّى يُفْطِرَ، وَلَوْ عَلَى شَرْبَةٍ مِنْ مَاءٍ».

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah melaksanakan shalat Maghrib sama sekali hingga beliau berbuka puasa, meskipun hanya dengan seteguk air.”[128]

2- Di antara petunjuk Nabi adalah ketika beliau mendapati waktu fajar (Subuh) dalam keadaan junub dari istrinya, lalu beliau mandi setelah fajar dan berpuasa.

Beliau juga biasa mencium sebagian istrinya padahal beliau sedang berpuasa di bulan Ramadan. Dan ciuman bagi orang yang berpuasa diserupakan dengan berkumur-kumur menggunakan air.[129]

3- Tampak bahwa beliau—terkadang—makan sahur bersama para sahabatnya:

Al-Bukhari meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami makan sahur bersama Nabi kemudian beliau bangkit untuk melaksanakan shalat.”

Anas bertanya: “Berapa jarak waktu antara azan dan sahur?”

Zaid menjawab: “Kira-kira (seukuran membaca) lima puluh ayat.”[130]

Abdullah bin Al-Harits meriwayatkan dari seorang pria yang termasuk sahabat Nabi , ia berkata: “Aku menemui Nabi ketika beliau sedang makan sahur, lalu beliau bersabda:

«إِنَّهَا بَرَكَةٌ أَعْطَاكُمُ اللَّهُ إِيَّاهَا فَلَا تَدَعُوهَا».

‘Sesungguhnya ia adalah keberkahan yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah kalian meninggalkannya’.[131]

Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah menyeru untuk makan sahur di bulan Ramadan, dan beliau bersabda:

«هَلُمُّوا إِلَى الْغَدَاءِ الْمُبَارَكِ».

“Kemarilah menuju hidangan pagi yang penuh berkah.”[132]

4- Beliau sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, terutama pada sepuluh malam terakhir:

Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ».

“Apabila Nabi memasuki sepuluh (malam terakhir), beliau mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”[133]

5- Beliau sering shalat malam sendirian:

Al-Bukhari meriwayatkan dari Urwah bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah keluar pada suatu malam di pertengahan malam, lalu beliau shalat di masjid, dan beberapa orang pria ikut shalat mengikuti shalat beliau.

Pada pagi harinya, orang-orang pun memperbincangkan hal itu, sehingga berkumpullah orang yang lebih banyak dari mereka. Beliau lalu shalat dan mereka pun shalat bersamanya. Pada pagi harinya, orang-orang kembali memperbincangkannya, sehingga penghuni masjid bertambah banyak pada malam ketiga. Rasulullah keluar lalu shalat dan mereka pun shalat mengikuti beliau.

Tatkala tiba malam keempat, masjid tidak lagi mampu menampung jamaahnya, hingga beliau (baru) keluar untuk shalat Subuh. Setelah selesai shalat Fajar (Subuh), beliau menghadap kepada orang-orang, lalu mengucapkan syahadat, kemudian bersabda:

«أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ، وَلَكِنْ خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا».

“Amma ba’du, sesungguhnya kedudukan kalian (kehadiran kalian) tidaklah samar bagiku, akan tetapi aku khawatir hal ini akan diwajibkan atas kalian sehingga kalian tidak mampu melaksanakannya.”

Maka Rasulullah wafat, dan perkaranya tetap seperti itu.[134]

Terkadang sebagian sahabat shalat bersama beliau:

Sebagaimana dalam hadis Hudzaifah bin Al-Yaman, ia berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah pada suatu malam di bulan Ramadan di dalam sebuah kamar yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau berdiri lalu bertakbir seraya mengucapkan:

«اللَّهُ أَكْبَرُ ذُو الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَذُو الْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ».

“Allah Maha Besar, Pemilik keperkasaan dan kerajaan (alam semesta), serta Pemilik kebesaran dan keagungan.”

Kemudian beliau membuka dengan surah Al-Baqarah lalu membacanya. Aku berkata (dalam hati): ‘Beliau akan ruku’ di seratus ayat pertama’. Kemudian (beliau terus membaca), aku pun berkata: ‘Beliau akan ruku’ di dua ratus ayat’.

Kemudian beliau membuka surah Ali ‘Imran lalu membacanya, kemudian membuka surah An-Nisa’ lalu membacanya. Tidaklah beliau melewati ayat ancaman melainkan beliau berhenti dan memohon perlindungan. Kemudian beliau ruku’ yang lamanya seperti berdirinya, beliau mengucapkan:

«سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ».

“Mahasuci Tuhanku Yang Maha Agung.”

beliau mengulang-ulangnya. Kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya mengucapkan:

«سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ».

“Allah mendengar (menerima) orang yang memuji-Nya. Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji.”

yang lamanya seperti ruku’nya. Kemudian beliau sujud yang lamanya seperti berdirinya, beliau mengucapkan:

«سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى».

“Mahasuci Tuhanku Yang Maha Tinggi.”

dan di antara dua sujud beliau mengucapkan:

«رَبِّ اغْفِرْ لِي».

“Wahai Tuhanku, ampunilah aku.”

Maka beliau tidak shalat melainkan empat rakaat dari shalat Al-‘Atamah (Isya) —dari awal malam hingga akhirnya— sampai Bilal datang mengumandangkan azan shalat Al-Ghadah (Subuh) kepadanya.”[135]

6- Di antara petunjuk beliau adalah mempersiapkan para sahabatnya untuk menyambut bulan Ramadan:

Dari Ubadah bin Ash-Shamit bahwa Rasulullah bersabda pada suatu hari ketika Ramadan telah tiba:

«أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرُ بَرَكَةٍ، يَغْشَاكُمُ اللَّهُ فِيهِ فَيُنَزِّلُ الرَّحْمَةَ، وَيَحُطُّ الْخَطَايَا، وَيَسْتَجِيبُ فِيهِ الدُّعَاءَ، يَنْظُرُ اللَّهُ تَعَالَى إِلَى تَنَافُسِكُمْ فِيهِ، وَيُبَاهِي بِكُمْ مَلَائِكَتَهُ، فَأَرُوا اللَّهَ مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا، فَإِنَّ الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيهِ رَحْمَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ».

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh keberkahan. Allah menaungi kalian di dalamnya, lalu Dia menurunkan rahmat, menghapuskan dosa-dosa, dan mengabulkan doa di dalamnya. Allah Ta’ala melihat perlombaan kalian (dalam kebaikan) di dalamnya, dan Dia membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya. Maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan dari diri kalian, karena sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang terhalang dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya.”[136]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

«هَذَا رَمَضَانُ قَدْ جَاءَ، تُفَتَّحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ النَّارِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، إِذَا لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِيهِ فَمَتَى؟».

“Ini Ramadan telah datang, di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Celakalah bagi orang yang menjumpai Ramadan namun ia tidak diampuni. Jika ia tidak diampuni di dalamnya, lantas kapan lagi?”[137]

7- Di antara petunjuk beliau adalah memotivasi untuk memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa, dan di dalam hal itu terdapat seruan untuk saling mengasihi, menanggung beban bersama (takaful), dan saling melengkapi (takamul):

Diriwayatkan dari Salman, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى طَعَامٍ وَشَرَابٍ مِنْ حَلَالٍ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ فِي سَاعَاتِ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَصَلَّى عَلَيْهِ جِبْرِيلُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ».

“Barangsiapa yang memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa dengan makanan dan minuman yang halal, niscaya para malaikat akan bershalawat untuknya pada waktu-waktu di bulan Ramadan, dan Jibril akan bershalawat untuknya pada Lailatul Qadar.”

Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam Al-Kabir dan Al-Bazzar. Dan ia (Al-Bazzar) menambahkan setelah sabda beliau ‘dan Jibril akan bershalawat untuknya pada Lailatul Qadar’:

«وَرُزِقَ دُمُوعًا وَرِقَّةً، قَالَ سَلْمَانُ: إِنْ كَانَ لَا يَقْدِرُ عَلَى قُوَّتِهِ؟ قَالَ: عَلَى كَسْرَةِ خُبْزٍ، أَوْ مِذْقَةِ لَبَنٍ أَوْ شُرْبَةِ مَاءٍ كَانَ لَهُ ذَلِكَ».

“Dan ia dikaruniai air mata (yang mudah menangis karena Allah) dan kelembutan hati.”

Salman bertanya: “Bagaimana jika ia tidak mampu memberikan makanan pokok (yang mengenyangkan)?” Beliau menjawab: “(Bisa) dengan sepotong roti, susu yang dicampur air, atau seteguk air, maka ia akan mendapatkan pahala tersebut.”[138]

Diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhani dari Nabi , beliau bersabda:

«مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ».

“Barangsiapa yang memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala sepertinya, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.”[139]

8- Nabi biasa memotivasi untuk melaksanakan umrah di bulan Ramadan, dan memberitahukan bahwa umrah di bulan Ramadan setara dengan ibadah haji bersama beliau.[140] Hal itu terjadi setelah beliau kembali dari Haji Wada’.[141]

Umat ini telah merespons ajakan-ajakan Nabi dengan sebaik-baiknya, sehingga Ramadan menjadi mutiara yang bercahaya di untaian hari-hari, memancarkan petunjuk dan ketakwaan, silaturahmi dan shalat, serta iman dan ihsan.

Di bulan itu, umat manusia bersaksi akan adanya persatuan dan saling menolong, infak dan semangat yang bersinar. Semua ini merupakan pancaran dari firman Allah Ta’ala mengenai bulan tersebut:

﴿لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾

“Agar kalian bertakwa.”

 

Penutup

Demikianlah kita melihat—dalam tulisan yang ringkas ini—bahwa bulan-bulan Ramadan Nabi dipenuhi dengan ibadah yang berlipat ganda: baik itu puasa, qiyam (shalat malam), i’tikaf, tilawah Al-Qur’an, jihad di jalan Allah, dakwah kepada Allah, maupun penyebaran hukum-hukum agama.

Dapat diperhatikan pula bahwa perjalanan (safar) beliau di bulan tersebut terbilang sedikit. Hal ini seolah-olah menunjukkan bahwa beliau memusatkan diri pada puasa dan shalat malam, meskipun perjalanan beliau sejatinya adalah untuk berjihad di jalan Allah.

Lantas, di mana posisi kita dari semua ini, dan bagaimana kita menghabiskan bulan Ramadan?

Apa bagian (keberuntungan) yang kita dapatkan darinya? Apa pengaruhnya pada diri kita?

Bagaimana kita menjaganya? Bagaimana kita menghargainya? Dan bagaimana kita memanfaatkan hari-hari serta malam-malamnya?

Sesungguhnya Ramadan adalah “Penghulu segala bulan”,[142] sebuah musim dari musim-musim (ketaatan kepada) Allah yang sangat agung. Maka sudah sepantasnya bagi kita untuk tidak menyia-nyiakan musim ini, dan tidak melewatkan berbagai pundi-pundi pahala ini.

Alangkah indahnya jika kita mengulang-ulang sabda Rasulullah :

«بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، إِذَا لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِيهِ فَمَتَى فَمَتَى؟!».

“Celakalah bagi orang yang menjumpai Ramadan namun ia tidak diampuni. Jika ia tidak diampuni di dalamnya, lantas kapan lagi?”

Kapan lagi?!

Wahai Saudaraku yang mulia:

Apa artinya hari raya bagi orang yang mendapati Idulfitri tetapi ia tidak berpuasa Ramadan? Dan apa artinya hadiah bagi orang yang hadir di hari pemberian hadiah tetapi ia gagal dalam ujian?

Pandanglah sekelilingmu dan lihat: berapa banyak yang telah hilang darimu tahun ini—saudara, teman, kekasih, sahabat. Kemarin mereka ada di sini, hari ini mereka telah tiada…

Sedangkan aku, engkau, dan siapa saja yang ada di atas muka bumi ini, bukankah kita semua akan menyusul jejak (mereka)? Maka bulatkanlah tekadmu dan bersiap-siaplah.

Dan jika engkau memasuki sepuluh hari terakhir, betapa dekatnya Idulfitri akan datang!

Jadilah seorang muslim yang sejati, dan biarkan bumi merasa bahagia dengan keberadaanmu di atasnya. Dan “Ramadan” adalah salah satu jalan terdekat menuju hal tersebut. Setelah itu, pilihan ada di tanganmu, dan tempat kembali kelak hanyalah satu di antara dua tempat, tidak ada yang ketiga: Surga, atau Neraka!

 

Daftar Pustaka

  1. Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin bi Syarh Ihya’ ‘Ulum Ad-Din karya Az-Zabidi (wafat: 1205 H), reproduksi Mu’assasah At-Tarikh Al-‘Arabi – Beirut (1414 H – 1994 M).
  2. Al-Ihsan fi Taqrib Shahih Ibnu Hibban karya Ibnu Balban (wafat: 739 H), tahqiq (penelitian/penyuntingan): Syu’aib Al-Arnauth, Mu’assasah Ar-Risalah – Beirut, cet. 2 (1414 H – 1993 M).
  3. Azminah At-Tarikh Al-Islami karya Dr. Abdussalam At-Turmanini, Dar Thalas – Damaskus, cet. 2 (1408 H).
  4. Al-Isabah fi Tamyiz Ash-Shahabah karya Ibnu Hajar (wafat: 852 H), reproduksi Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi – Beirut.
  5. Ayyam Hayat An-Nabi Al-Karim karya Ibnu Fathimah (beliau adalah Musa Jarullah, yang wafat pada tahun 1369 H sebagaimana disebutkan dalam Al-A’lam 7/320), Percetakan As-Sa’adah – Kairo, (1354 H – 1935 M).
  6. Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Ibnu Katsir (wafat: 774 H), reproduksi Maktabah Al-Ma’arif – Beirut.
  7. Bulugh Al-Maram min Adillah Al-Ahkam karya Ibnu Hajar (wafat: 852 H), tahqiq: Ridhwan Muhammad Ridhwan, Dar Al-Kitab Al-‘Arabi – Beirut.
  8. Tarikh Ath-Thabari (wafat: 310 H), tahqiq: Muhammad Abu Al-Fadhl Ibrahim, reproduksi Beirut.
  9. At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an karya An-Nawawi (wafat: 676 H), tahqiq: Zuhair Syafiq Al-Kabi, Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, cet. 1 (1415 H – 1995 M).
  10. At-Targhib wa At-Tarhib karya Al-Mundziri (wafat: 656 H), tahqiq: Aiman Shalih, Dar Al-Hadits – Kairo, cet. 1 (1415 H – 1994 M).
  11. Tafsir Ibnu Katsir (wafat: 774 H), Dar Ihya’ Al-Kutub Al-‘Arabiyyah – Kairo.
  12. Tafsir Ath-Thabari (wafat: 310 H), tahqiq: Mahmud dan Ahmad Syakir, Dar Al-Ma’arif – Kairo.
  13. Taqrib At-Tahdzib karya Ibnu Hajar (wafat: 852 H), tahqiq: Muhammad ‘Awwamah, Dar Ibnu Hazm – Beirut, cet. 1 (1420 H – 1999 M).
  14. Al-Hawi Al-Kabir karya Al-Mawardi (wafat: 450 H), tahqiq: Mahmud Matharji dkk., Dar Al-Fikr – Beirut 1414 H – 1994 M.
  15. Hadits Al-Ifk karya Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisi (wafat: 600 H), tahqiq: Ibrahim Shalih, Dar Al-Basyai’r – Damaskus, cet. 1 (1994 M).
  16. Ad-Durr Al-Manstur fi At-Tafsir Al-Ma’tsur karya As-Suyuthi (wafat: 911 H), Percetakan Al-Anwar Al-Muhammadiyyah – Kairo.
  17. Rujhan Al-Kiffah fi Bayan Nubdzah min Akhbar Ahl Asy-Syuffah karya As-Sakhawi (wafat: 902 H), tahqiq: Masyhur Alu Salman dan Ahmad Asy-Syuqairat, Dar As-Salaf – Riyadh, cet. 1 (1415 H – 1995 M).
  18. Zad Al-Masir fi ‘Ilm At-Tafsir karya Ibnul Jauzi (wafat: 597 H), Al-Maktab Al-Islami, cet. 1 (1423 H).
  19. Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad karya Ibnul Qayyim (wafat: 751 H), tahqiq: Syu’aib dan Abdul Qadir Al-Arnauth, Ar-Risalah – Beirut, cet. 26 (1412 H).
  20. As-Saraya wa Al-Bu’uts An-Nabawiyyah Hawla Al-Madinah wa Makkah karya Dr. Brik Al-‘Umari, Dar Ibnul Jauzi – Dammam, cet. 1 (1417 H).
  21. As-Sunan karya Ibnu Majah (wafat: 273 H), tahqiq: Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, reproduksi Dar Ihya’ At-Turats.
  22. As-Sunan karya Abu Dawud (wafat: 275 H), tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Al-‘Ashriyyah – Beirut. Serta tahqiq: Muhammad ‘Awwamah, Dar Al-Qiblah.
  23. Sunan At-Tirmidzi (wafat: 279 H), beserta syarahnya Tuhfah Al-Ahwadzi, reproduksi Dar Al-Fikr – Beirut.
  24. As-Sunan karya An-Nasa’i (wafat: 303 H), dengan pengawasan Abdul Fattah Abu Ghuddah, Dar Al-Basyai’r Al-Islamiyyah – Beirut, cet. 4 (1414 H – 1994 M).
  25. As-Sunan Al-Kubra karya An-Nasa’i (wafat: 303 H), tahqiq: Hasan Abdul Mun’im Syalabi, Mu’assasah Ar-Risalah – Beirut, cet. 1 (1421 H – 2001 M).
  26. As-Sirah Asy-Syamiyyah (Subul Al-Huda wa Ar-Rasyad fi Sirah Khair Al-‘Ibad) karya Muhammad bin Yusuf Ash-Shalihi Asy-Syami (wafat: 942 H), Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah – Beirut, cet. 1 (1414 H – 1993 M).
  27. As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah karya Dr. Akram Al-‘Umari, Maktabah Al-‘Ulum wa Al-Hikam – Madinah, cet. 1 (1415 H).
  28. As-Sirah An-Nabawiyyah karya Ibnu Hibban (wafat: 354 H), tahqiq: Abdussalam Allusy, Al-Maktab Al-Islami – Beirut, cet. 1 (1415 H).
  29. As-Sirah An-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam (wafat: 213 H), tahqiq: Mushthafa As-Saqqa dkk., Dar Al-Fikr – Beirut.
  30. Shahih Ibnu Khuzaimah (wafat: 311 H), tahqiq: Dr. Muhammad Mushthafa Al-A’zhami, Al-Maktab Al-Islami – Beirut, cet. 2 (1412 H – 1992 M).
  31. Shahih Al-Bukhari (wafat: 256 H), beserta Fathul Bari.
  32. Shahih Muslim (wafat: 261 H), tahqiq: Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, reproduksi Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, (1413 H – 1992 M).
  33. Thabaqat Ibnu Sa’ad (wafat: 230 H), reproduksi Dar Shadir.
  34. Al-‘Ujab fi Bayan Al-Asbab karya Ibnu Hajar (wafat: 852 H), tahqiq: Abdul Hakim Al-Anis, Dar Ibnul Jauzi – Dammam, cet. 1 (1418 H).
  35. Fathul Bari bi Syarh Al-Bukhari karya Ibnu Hajar (wafat: 852 H), As-Salafiyyah.
  36. Al-Qamus Al-Muhith karya Al-Fairuzabadi (wafat: 817 H), Mu’assasah Ar-Risalah, cet. 5 (1416 H).
  37. Majma’ Az-Zawa’id wa Manba’ Al-Fawa’id karya Al-Haitsami (wafat: 807 H), reproduksi Dar Al-Kitab Al-‘Arabi – Beirut, cet. 3 (1402 H – 1982 M).
  38. Al-Muharrar Al-Wajiz fi Tafsir Al-Kitab Al-‘Aziz karya Ibnu Athiyyah (wafat: 541 H), tahqiq: Majmu’ah Ad-Dauhah, cet. 1 (1409 H).
  39. Marwiyyat Ghazwah Bani Al-Musthaliq, dikumpulkan, ditahqiq, dan dikaji oleh Ibrahim bin Ibrahim Qaribi, distribusi Maktabah Al-‘Ulum wa Al-Hikam – Madinah Al-Munawwarah, cet. 1 (1413 H – 1993 M).
  40. Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain karya Al-Hakim (wafat: 405 H), reproduksi cetakan Haidar Abad, Dekkan.
  41. Musnad Ahmad bin Hanbal (wafat: 241 H), reproduksi cetakan Bulaq. Serta cetakan Mu’assasah Ar-Risalah, dan jika aku memaksudkan cetakan yang kedua, maka aku akan menjelaskannya secara tegas.
  42. Al-Mu’jam Al-Ausath karya Ath-Thabarani (wafat: 360 H), tahqiq: Thariq bin ‘Awadhullah dan Abdul Muhsin Al-Husaini, Dar Al-Haramain – Kairo (1415 H – 1995 M).
  43. Mu’jam Ash-Shahabah karya Al-Baghawi (wafat: 317 H), tahqiq: Muhammad Al-Amin Al-Jakni, Dar Al-Bayan – Kuwait, cet. 1 (1421 H – 2000 M).
  44. Al-Mu’jam Al-Kabir karya Ath-Thabarani (wafat: 360 H), tahqiq: Hamdi As-Salafi, Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi – Beirut (1405 H – 1985 M).
  45. Al-Maghazi karya Adz-Dzahabi (wafat: 748 H) (dalam Tarikh Al-Islam), tahqiq: Dr. Umar Tadmuri, Dar Al-Kitab Al-‘Arabi – Beirut, cet. 2 (1410 H).
  46. Al-Maghazi karya Al-Waqidi (wafat: 207 H), tahqiq: Dr. Marsden Jones, ‘Alam Al-Kutub – Beirut.
  47. Al-Mufhim lima Asykala min Talkhis Kitab Muslim karya Ahmad bin Umar Al-Qurthubi (wafat: 656 H), tahqiq: Muhyiddin Mistu dkk., Dar Ibnu Katsir dan Dar Al-Kalim Ath-Thayyib – Damaskus, cet. 1 (1417 H – 1996 M).
  48. Al-Muwaththa’ karya Malik bin Anas (wafat: 179 H) (Riwayat Yahya bin Yahya Al-Laitsi (wafat: 234 H)), tahqiq: Dr. Basysyar ‘Awwad Ma’ruf, Dar Al-Gharb Al-Islami – Beirut, cet. 2 (1417 H).
  49. Nata’ij Al-Afham fi Taqwim Al-‘Arab qabla Al-Islam wa fi Tahqiq Mawlidihi wa Umrihi ‘Alaihis Shalatu was Salam karya Mahmoud Pasha Al-Falaki (wafat: 1302 H), Dar Al-Manarah – Jeddah.
  50. An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnul Atsir (wafat: 606 H), tahqiq: Az-Zawi dan Ath-Thanahi, reproduksi Al-Maktabah Al-‘Ilmiyyah – Beirut.
  1. Lihat E-book aslinya: https://t.me/markaz_inayah/2229
  2. Al-Maghazi (2/126).
  3. Al-Bidayah wa An-Nihayah (3/254), dan Tarikh Ath-Thabari (2/417).
  4. As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah (2/626-627).
  5. Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya (1/215): “Kesimpulannya: Bahwa nasakh (penghapusan hukum pilihan) telah berlaku bagi orang yang sehat dan mukim dengan diwajibkannya puasa atasnya…”
  6. Musnad Ahmad (5/246-247), Sunan Abi Dawud, Kitab Ash-Shalah (1/140), dan Al-Mustadrak (2/274). Lihat pula: Ad-Durr Al-Manstur (1/184).
  7. Dalam buku “Ayyam Hayat An-Nabi Al-Karim “ hal. 18-19, terdapat pembahasan mengenai hari pertama pada Ramadan pertama, jumlah harinya, dan hari rayanya, maka silakan merujuk ke sana.
  8. Jami’ Al-Bayan (3/497-498). Lihat pula: Ad-Durr Al-Manstur (1/206).
  9. Lihat: Ad-Durr Al-Manstur (1/205).
  10. Lihat: Al-‘Ujab fi Bayan Al-Asbab (1/445-446).
  11. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab firman Allah Ta’ala {وَكُلُوا وَاشْرَبُوا…} (4/132), dan At-Tafsir (8/182-183): = Bab {وَكُلُوا وَاشْرَبُوا…} —dan penisbatan kutipan ini selalu merujuk kepada Al-Bukhari beserta Fathul Bari, maka ketahuilah—, dan Shahih Muslim, Kitab Ash-Shiyam (2/767).
  12. Al-Muharrar Al-Wajiz (3/126).
  13. Al-Mufhim lima Asykala min Talkhis Kitab Muslim (3/149-150).
  14. Fathul Bari (4/134).
  15. Al-Mu’jam Al-Kabir (23/412), Majma’ Az-Zawa’id (3/173), dan As-Sirah Asy-Syamiyyah (8/441).
  16. Lihat: Tarikh Ath-Thabari (2/418-479).
  17. Al-Isabah fi Tamyiz Ash-Shahabah (4/305).
  18. Ali adalah perawi yang dha’if (lemah), dan Yusuf adalah perawi yang layyin (lemah) hadisnya, sebagaimana disebutkan dalam At-Taqrib hal. 468 dan 708.
  19. Al-Isabah (4/304).
  20. Al-Maghazi (2/142).
  21. Al-Maghazi (2/136).
  22. (1/172-174).
  23. Ulama hadis menjelaskan bahwa sanad riwayat ini batil (tidak sahih) dan termasuk hadis maudhu’ (palsu); perawinya adalah Muhammad bin al-Hajjaj. Al-Bukhari berkata: “Hadisnya munkar (ditolak).” Ibnu Ma’in berkata: “Dia adalah pendusta yang jahat.” Ad-Daraquthni berkata: “Dia pendusta,” dan dalam kesempatan lain beliau berkata: “Dia tidak dapat dipercaya.” (Lihat Mizan al-I‘tidal, jilid 3, halaman 509) (Pent-).
  24. Al-Maghazi (2/126). Lihat pula beberapa hadis tentang zakat fitrah dalam Bulugh Al-Maram karya Ibnu Hajar hal. 108, nomor (503-505), dan At-Targhib wa At-Tarhib (2/149-150).
  25. Al-Bidayah wa An-Nihayah (3/255-256), dan Tarikh Ath-Thabari (2/418).
  26. Diriwayatkan oleh Abu Hafsh Ibnu Syahin dalam Fadha’il Ramadan, dan beliau berkata: Hadis gharib (asing) dengan sanad yang jayyid (baik). At-Targhib wa At-Tarhib (2/150).
  27. Al-Bidayah wa An-Nihayah (3/256), dan lihat: Tarikh Ath-Thabari (2/418).
  28. Sirah Ibnu Hisyam (2/59-60).
  29. Al-Maghazi (2/164
  30. Azminah At-Tarikh Al-Islami hal. 18.
  31. Al-Maghazi (2/164). Lihat pula mengenainya: Al-Isabah (4/273).)Kebanyakan riwayat menyebutkan bahwa beliau menikahi Hafshah di bulan Sya’ban. Pent-).
  32. Al-Maghazi (2/255). Lihat pula mengenainya: Al-Isabah (4/315).
  33. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum (Kitab Puasa)—dan beliau tidak menyebutkan babnya—(4/182).
  34. Shahih Muslim, Kitab Ash-Shiyam (Kitab Puasa), Bab At-Takhyir fi Ash-Shaum wa Al-Fithr fi As-Safar (Bab Pilihan antara Berpuasa dan Berbuka saat Safar) (1/790).
  35. Lihat: Fathul Bari (4/182-183).
  36. As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah (2/406).
  37. Sumber sebelumnya (2/408), dan lihat Al-Maghazi karya Adh-Dhahabi (2/349).
  38. Lihat: Marwiyyat Ghazwah Bani Al-Musthaliq karya Syekh Ibrahim Qaribi hal. 89-102.
  39. Pembebasan Aisyah dari fitnah melalui wahyu (Pent-).
  40. Aku juga telah merujuk pada juz Hadits Al-Ifk karya Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi (wafat: 600 H), di mana beliau menyebutkan beberapa riwayat mengenai hal tersebut di dalamnya, serta merujuk pada “Marwiyyat Ghazwah Bani Al-Musthaliq”, namun aku juga tidak menemukan sesuatu yang mengisyaratkan kepada bulan Ramadan!
  41. As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah (2/413).
  42. Al-Maghazi karya Adh-Dhahabi (2/259-260) dari Al-Maghazi karya Al-Waqidi (1/408).
  43. Lihat di: Al-Maghazi karya Adh-Dhahabi (2/263-264).
  44. Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-I’tikaf: Bab Al-I’tikaf fi Al-‘Asyr Al-Awakhir… (4/271).
  45. Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (23/412), dan sanadnya hasan. Majma’ Az-Zawa’id (3/173), dan As-Sirah Asy-Syamiyyah (8/441) dan hal ini telah disebutkan sebelumnya.
  46. Mengenai malam ini, lihat: Zad Al-Masir hal. 1570-1573.
  47. Sirah Ibnu Hisyam (2/308).
  48. Al-Maghazi (2/363).
  49. Al-Bukhari: Kitab Al-Istisqa’ (2/497-498). Kemudian Abu Abdullah Al-Bukhari berkata: “Ibnu Uyainah dahulu mengatakan: Ia (Abdullah bin Zaid) adalah orang yang (memimpikan) azan, akan tetapi itu adalah sebuah kekeliruan (waham), karena ia adalah Abdullah bin Zaid bin Ashim Al-Mazini dari Bani Mazin Al-Anshar.”
  50. Al-Fath (Fathul Bari) (2/499), dan As-Sirah An-Nabawiyyah karya Ibnu Hibban hal. 201, adapun tambahan di antara dua kurung siku adalah darinya.
  51. Lihat rinciannya di: As-Sirah Asy-Syamiyyah (6/99-100).
  52. Lihat: As-Sirah Asy-Syamiyyah (6/102-105).
  53. Lihat: As-Sirah Asy-Syamiyyah (6/111-112).
  54. (2/370).
  55. Jika hadis tersebut terdapat dalam riwayat Al-Bukhari, saya mencukupkan dengan menisbatkannya kepadanya.
  56. Ini termasuk riwayat Nabi dari Rabbnya, sebagaimana dalam lafaz yang kedua.
  57. Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan pengkhususan ini menjadi sepuluh pendapat, lihatlah dalam Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin karya Az-Zabidi (4/189-194).
  58. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab Fadhl Ash-Shaum (4/103).
  59. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab Hal Yaqulu Inni Sha’im Idza Syutima (4/118).
  60. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab Hal Yuqalu Ramadan au Syahru Ramadan (4/112).
  61. Sumber sebelumnya.
  62. Lihat: Al-Ithaf karya Az-Zabidi (4/192), dan Ad-Durr Al-Manstur (1/192).
  63. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab Man Shama Ramadan Imanan wa Ihtisaban wa Niyyah (4/115). Ibnu Hajar berkata: “Yang dimaksud dengan iman adalah meyakini kebenaran kewajiban puasanya, dan ihtisab adalah mencari pahala dari Allah Ta’ala.” Al-Khaththabi berkata: “Ihtisaban artinya tekad, yaitu ia berpuasa dengan niat menginginkan pahalanya dengan jiwa yang lapang, tidak merasa berat dengan puasanya, dan tidak merasa hari-harinya terlalu panjang.”
  64. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Al-Ithaf (4/192).
  65. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab Man Lam Yada’ Qaul Az-Zur (4/116).
  66. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab La Yataqaddam Ramadan bi Shaumin Yaum wa la Yaumain (4/127-128).
  67. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab Ash-Sha’im Idza Akala au Syariba Nasiyan (4/155).
  68. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab Idza Jama’a fi Ramadan wa Lam Yakun Lahu Syai’ fa Tushuddiqa ‘Alaih Fal Yukaffir (4/163). Dan ini mengingatkan kita pada hadis mengenai orang yang melakukan zhihar, yaitu Salamah bin Shakhr Al-Anshari, dan ia adalah orang yang berbeda.
  69. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab At-Tankil Liman Aktsara Al-Wishal (4/205-206).
  70. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (4/218-219) dengan sanad yang sahih.
  71. Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath (8/174), dengan nomor (8312). Al-Mundziri berkata: “Dan para perawinya terpercaya (tsiqat).” At-Targhib (2/100).
  72. Shahih Muslim, Kitab Ash-Shiyam: Bab Fadhl Ash-Shiyam (2/807).
  73. Sunan Ibnu Majah, Kitab Ash-Shiyam: Bab Ma Ja’a fi Fadhl Ash-Shiyam (1/525).
  74. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/329), At-Tirmidzi dan beliau menghasankannya dengan nomor (696), serta Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya (Shahih Ibnu Hibban 8/275-276). At-Targhib wa At-Tarhib (2/143).
  75. Beliau mengantarkannya sampai ke rumahnya
  76. Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-I’tikaf: Bab Hal Yakhruju Al-Mu’takif li Hawa’ijihi ila Bab Al-Masjid (4/278).
  77. Lihat: As-Sirah Asy-Syamiyyah (6/133). Dan di dalamnya disebutkan: “Ibnu Sa’ad menyebutkan, dan diikuti dalam ‘Al-‘Uyun’ serta ‘Al-Mawrid’, bahwa pada sariyah ini Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu membunuh Nahik bin Mirdas yang telah mengucapkan: ‘La ilaha illallah’. Maka Nabi bersabda: ‘Mengapa engkau tidak membelah hatinya agar engkau tahu apakah ia jujur atau berdusta…’ dan seterusnya. Dan akan datang pembahasannya pada sariyah Usamah menuju Al-Huraqat.” Lihat (6/192-193).
  78. Thabaqat Ibnu Sa’ad (2/133), dan lihat: As-Saraya wa Al-Bu’uts An-Nabawiyyah Hawla Al-Madinah wa Makkah karya Dr. Brik Al-‘Umari hal. 269, serta As-Sirah Asy-Syamiyyah (6/190-191).
  79. Diucapkan oleh Al-Waqidi. Lihat: Al-Isabah (3/604).
  80. Sirah Ibnu Hisyam (2/399-400). Al-Kadid: sebuah mata air di antara dua batas tanah haram (Makkah dan Madinah). ‘Usfan: sebuah tempat yang berjarak dua marhalah dari Makkah. Al-Qamus hal. 401 dan 1082.
  81. Sumber sebelumnya (2/437).
  82. Al-Maghazi (2/536).
  83. Sumber sebelumnya (2/537).
  84. Sebelumnya (2/538).
  85. Azminah At-Tarikh Al-Islami hal. 24.
  86. Al-Jadh (mengaduk minuman): mengaduk sawiq (tepung gandum panggang) dan sejenisnya dengan air menggunakan sebatang kayu yang disebut ‘Al-Mijdah’, yang ujungnya bersayap (bercabang). Al-Fath (1978), dan lihat: An-Nihayah (1/243).
  87. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab Mata Yahillu Fithru Ash-Sha’im (4/196).
  88. Kitab Ash-Shiyam: Bab Bayan Waqti Inqidha’ Ash-Shaum wa Khuruj An-Nahar (2/772).
  89. Fathul Bari (4/197).
  90. Al-Muwaththa’ nomor (807), dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Al-Fath (4/182).
  91. Lihat: Tarikh Ath-Thabari (3/42-65).
  92. Lihat: Tarikh Ath-Thabari (3/66), dan As-Sirah Asy-Syamiyyah (6/199).
  93. Lihat: Tarikh Ath-Thabari (3/65-66), dan As-Sirah Asy-Syamiyyah (6/196).
  94. Lihat: Tarikh Ath-Thabari (3/66), dan As-Sirah Asy-Syamiyyah (6/198).
  95. Lihat mengenai utusan ini: Tarikh Ath-Thabari (3/96-100), Al-Maghazi karya Adz-Dzahabi (2/667), Majma’ Az-Zawa’id (3/149), Al-Isabah (3/103), dan As-Sirah Asy-Syamiyyah (6/365).
  96. Sirah Ibnu Hisyam (2/537).
  97. Sirah Ibnu Hisyam (2/537). Dan lihat: Majma’ Az-Zawa’id (3/152).
  98. Barangkali yang dimaksud oleh Nabi adalah beliau sedang menyetorkan bacaan Al-Qur’annya kepada Jibril, karena beliau menerimanya (tadarus) pada setiap malam bulan Ramadan lalu menyetorkan Al-Qur’an kepadanya sebagaimana penjelasan yang akan datang.
  99. Sunan Abi Dawud (2/55), cetakan Al-‘Ashriyyah, dan (2/237), cetakan Dar Al-Qiblah.
  100. Lihat: Al-Isabah (2/460).
  101. Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (3/301) dengan nomor (2125). Dan hadis ini terdapat dalam At-Targhib (1/101).
  102. Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-I’tikaf: Bab Al-I’tikaf fi Syawwal (4/283-284).
  103. Lihat: Fathul Bari (4/285).
  104. Adapun perkataan Ibnu Hajar (4/285): “Dan pendapat yang lebih kuat dari itu adalah bahwa beliau beri’tikaf pada tahun tersebut [yakni tahun kesepuluh] selama dua puluh hari, karena pada tahun sebelumnya beliau sedang dalam keadaan bepergian (safar)…”, maka pendapat ini perlu ditinjau kembali. Sebab, Ramadan sebelumnya—yakni (Ramadan) ini—telah dihabiskan oleh Nabi di Madinah secara meyakinkan. Beliau telah kembali dari Tabuk, menyambut utusan Bani Tsaqif, dan mereka pun ikut berpuasa bersama beliau pada sisa bulan Ramadan. Kecuali jika kata safar (bepergian) tersebut diarahkan pada perjalanan beliau pada (Ramadan) Penaklukan Makkah di tahun kedelapan.
  105. Lihat: As-Sirah Asy-Syamiyyah (6/343-344).
  106. Lihat rinciannya dalam As-Sirah Asy-Syamiyyah (6/334).
  107. Sumber sebelumnya (6/394).
  108. Sumber sebelumnya (6/410).
  109. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab Qawl Allah Ta’ala {وَكُلُوا وَاشْرَبُوا…} (4/132).
  110. Di dalam Al-Hawi karya Al-Mawardi (18/89) (Kitab As-Siyar) disebutkan bahwa kedatangan ‘Adi terjadi pada bulan Sya’ban tahun kesepuluh.
  111. Catatan ini mengarahkan kita pada keharusan untuk berhati-hati dalam menyikapi ungkapan: “Tatkala turun” dan yang semisalnya.
  112. Dalam Musnadnya (32/117) dengan nomor (19375), cetakan Ar-Risalah.
  113. Fathul Bari (4/132-133).
  114. Musnad Ahmad (32/123) nomor (19381) cetakan Ar-Risalah, dan Al-Isabah (2/468). Namun nama ‘Adi tidak disebutkan dalam bagian yang dicetak dari kitab Mu’jam Ash-Shahabah karya Al-Baghawi.
  115. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (2/22), dan lihat: Rujhan Al-Kiffah fi Bayan Nubdzah min Akhbar Ahl Asy-Syuffah karya As-Sakhawi hal. 301-302.
  116. Yakni wafatnya Ibrahim.
  117. Fathul Bari (2/529), dan lihat: Al-Isabah (1/175).
  118. Nata’ij Al-Afham hal. 19. Dan lihat: Ayyam Hayat An-Nabi Al-Karim hal. 21.
  119. Lihat: As-Sirah Asy-Syamiyyah (6/238).
  120. Sumber sebelumnya (6/391).
  121. Lihat rincian kedatangannya dalam sumber sebelumnya (6/311-312).
  122. Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-I’tikaf: Bab Al-I’tikaf fi Al-‘Asyr Al-Ausath min Ramadan (4/284-285).
  123. Sunan Ibnu Majah, Kitab Ash-Shiyam: Bab Ma Ja’a fi Al-I’tikaf (1/562). Dan lihat: Fathul Bari (4/285), serta Zad Al-Ma’ad (2/89).
  124. Hal ini menunjukkan bahwa pertemuan dan penyetoran (mudarasah) Al-Qur’an terjadi pada setiap malam. Oleh karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa alasan beliau beri’tikaf pada Ramadan terakhirnya selama dua puluh malam adalah karena penyetoran Al-Qur’an dilakukan dua kali (sebagaimana dinukil dalam Al-Fath (4/285) perlu ditinjau kembali, karena penyetoran tersebut tidak dikhususkan pada saat i’tikaf saja.
  125. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab Ajwadu Ma Kana An-Nabi Yakunu fi Ramadan (4/116).
  126. Dikeluarkan oleh Al-Bazzar dan Al-Baihaqi. Ad-Durr Al-Manstur (1/194).
  127. Zad Al-Ma’ad (2/51-52).
  128. Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, dan Ibnu Khuzaimah (3/276) nomor (2063) serta Ibnu Hibban (8/274) nomor (3504) dalam shahih keduanya. At-Targhib wa At-Tarhib (2/144).
  129. Zad Al-Ma’ad (2/57).
  130. Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum: Bab Qadri Kam Baina As-Suhur wa Shalat Al-Fajr (4/138). Memperkirakan waktu dengan bacaan Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa para sahabat sangat banyak menyibukkan diri dengan tilawah di bulan ini: An-Nawawi berkata: “Sunnahnya adalah memperbanyak perhatian terhadap tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadan, dan pada sepuluh hari terakhirnya lebih banyak lagi, dan pada malam-malam ganjilnya lebih ditekankan lagi.” At-Tibyan hal. 143. Dan umat ini telah memberikan contoh-contoh yang paling menakjubkan dalam hal tersebut.
  131. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (4/145) dengan sanad hasan. At-Targhib wa At-Tarhib (2/138).
  132. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (4/145), dan lihat (4/146).
  133. Shahih Al-Bukhari, Kitab Fadhl Lailat Al-Qadar: Bab Al-‘Amal fi Al-‘Asyr Al-Awakhir min Ramadan (4/269).
  134. Shahih Al-Bukhari, Kitab Shalat At-Tarawih: Bab Fadhl Man Qama Ramadan (4/250-251).
  135. Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/321) dan ia berkata: Hadis ini sahih sesuai syarat dua syekh (Bukhari-Muslim), dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.
  136. Al-Mundziri berkata dalam At-Targhib wa At-Tarhib (2/110): Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani [dalam Al-Kabir] dan para perawinya terpercaya (tsiqat), hanya saja Muhammad bin [Abi] Qais, aku tidak mengingat adanya jarh (celaan) maupun ta’dil (pujian) tentangnya. Dan Al-Haitsami berkata mengenainya (3/142): “Aku tidak menemukan orang yang membuat biografinya.”
  137. Beliau berkata dalam Majma’ Az-Zawa’id (3/142-143): “Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Ausath [(7/323) nomor (7627)], dan di dalamnya terdapat Al-Fadhl bin Isa Ar-Raqasyi, dan ia adalah dha’if (lemah).”
  138. Al-Mu’jam Al-Kabir (6/261) nomor (6162), dan Majma’ Az-Zawa’id (3/156-157). Dan ia berkata: “Di dalamnya terdapat Al-Hasan bin Abi Ja’far: Ibnu ‘Adi berkata: ‘Ia memiliki hadis-hadis yang saleh, dan ia adalah shaduq (jujur)’. Aku berkata: ‘Namun pada dirinya terdapat perbincangan (kritikan)’.” Dan At-Targhib wa At-Tarhib (2/145), ia menisbatkannya pula kepada Abu Asy-Syaikh Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsawab.
  139. Al-Mundziri berkata: Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi [nomor (804)], An-Nasa’i [dalam Al-Kubra nomor (3317)], Ibnu Majah [nomor (1746)], Ibnu Khuzaimah [nomor (2064)] dan Ibnu Hibban [nomor (3429)] dalam shahih keduanya. At-Tirmidzi berkata: “(Ini adalah) hadis sahih…” Dan lafaz Ibnu Khuzaimah serta An-Nasa’i adalah: “Barangsiapa yang membekali orang yang berperang, atau membekali orang yang berhaji, atau menjaga keluarganya yang ditinggalkan, atau memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” At-Targhib (2/145).
  140. Lihat hadis-hadis yang warid (datang) mengenai hal tersebut dalam At-Targhib wa At-Tarhib karya Al-Mundziri, Kitab Al-Hajj: At-Targhib fi Al-‘Umrah fi Ramadan (2/167).
  141. As-Sirah Asy-Syamiyyah (8/450).
  142. Lihat mengenai penamaan ini: Ad-Durr Al-Manstur (1/194).

 

Rusmin Nuryadin, Lc.

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button