Buku: Buah-Buah (Keutamaan) dari Qiyāmul Lail

Download Pdfnya Klik

Buah-Buah (Keutamaan) dari Qiyāmul Lail
Penulis:
Ustaz Beria Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.
Tim Ilmiah Markaz Inayah
Daftar isi
Buah-Buah (Keutamaan) dari Qiyāmul Lail 3
Perkataan Para Ulama dan Salaf tentang Qiyāmul Lail 4
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ صَلَاةَ اللَّيْلِ مِنْ أَجَلِّ الْعِبَادَاتِ وَأَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَهِيَ دَأْبُ الصَّالِحِينَ، وَشِعَارُ الْمُتَّقِينَ، وَقُرْبَةٌ يَتَقَرَّبُ بِهَا الْعَبْدُ إِلَى رَبِّهِ فِي سَاعَاتِ السُّكُونِ وَالْخَلْوَةِ، حِينَ يَنَامُ النَّاسُ وَيَقُومُ أَهْلُ الْإِيمَانِ بَيْنَ يَدَي رَبِّ الْعَالَمِينَ يَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ.
وَقَدْ أَثْنَى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى أَهْلِ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ، وَمَدَحَهُمْ بِمَا يَدُلُّ عَلَى عُلُوِّ مَنْزِلَتِهِمْ وَرِفْعَةِ دَرَجَاتِهِمْ، فَقَالَ سُبْحَانَهُ:
}كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ * وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ.{
وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْظَمَ النَّاسِ مُحَافَظَةً عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ، حَتَّى كَانَتْ قَدَمَاهُ تَتَفَطَّرَانِ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ، وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ:
»أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ.«
وَمِنْ أَجَلِّ مَا يُعِينُ الْعَبْدَ عَلَى الْإِخْلَاصِ وَالْقُرْبِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَخْتَلِيَ بِرَبِّهِ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ يُنَاجِيهِ وَيَدْعُوهُ وَيَتَضَرَّعُ إِلَيْهِ، فَإِنَّ الدُّعَاءَ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ وَالْقَبُولِ.
وَمِنْ هُنَا جَاءَتْ فِكْرَةُ هَذَا الْكِتَابِ، لِيَكُونَ جَمْعًا مُخْتَصَرًا فِي فَضْلِ قِيَامِ اللَّيْلِ، وَشَيْءٍ مِنْ أَحْكَامِهِ وَآدَابِهِ، وَمَا وَرَدَ فِيهِ مِنَ النُّصُوصِ وَالْآثَارِ، مَعَ ذِكْرِ جُمْلَةٍ مِنَ الْأَدْعِيَةِ الْمَأْثُورَةِ الَّتِي يُنَاجِي بِهَا الْعَبْدُ رَبَّهُ فِي تِلْكَ السَّاعَاتِ الْمُبَارَكَةِ.
أَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَجْعَلَهُ عَمَلًا خَالِصًا لِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، نَافِعًا لِكَاتِبِهِ وَقَارِئِهِ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَأَنْ يَجْعَلَنَا مِنْ أَهْلِ قِيَامِ اللَّيْلِ الَّذِينَ مَدَحَهُمْ فِي كِتَابِهِ، إِنَّهُ وَلِيُّ ذٰلِكَ وَالْقَادِرُ عَلَيْهِ.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kami memuji-Nya dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Rabb kami. Kami memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan bertobat kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan dari keburukan amal-amal kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepada beliau, kepada keluarga dan para sahabatnya dengan salam yang banyak.
Amma ba‘du. Sesungguhnya salat malam termasuk ibadah yang paling mulia dan pendekatan diri yang paling agung kepada Allah Ta‘ala. Ia merupakan kebiasaan orang-orang saleh dan syiar orang-orang bertakwa. Dengan ibadah ini seorang hamba mendekatkan diri kepada Rabb-nya pada saat-saat sunyi dan sepi, ketika manusia sedang tidur sementara orang-orang beriman berdiri di hadapan Rabb semesta alam, mengharap rahmat-Nya dan takut terhadap azab-Nya.
Allah Ta‘ala telah memuji orang-orang yang melakukan qiyamul lail dalam Kitab-Nya yang mulia dan menyanjung mereka dengan pujian yang menunjukkan tingginya kedudukan dan derajat mereka. Allah berfirman:
“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.”
Nabi adalah manusia yang paling menjaga salat malam, sampai kedua kaki beliau pecah-pecah karena lamanya berdiri. Beliau bersabda:
“Salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.”
Termasuk hal yang paling membantu seorang hamba untuk meraih keikhlasan dan kedekatan kepada Allah adalah menyendiri dengan Rabb-nya di kegelapan malam, bermunajat kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Sesungguhnya doa di tengah malam termasuk sebab terbesar dikabulkannya doa.
Dari sinilah muncul gagasan penulisan kitab ini, sebagai kumpulan ringkas tentang keutamaan salat malam, sebagian hukum dan adabnya, serta beberapa nash dan atsar yang berkaitan dengannya, disertai sejumlah doa-doa yang diajarkan agar seorang hamba bermunajat kepada Rabb-nya pada waktu-waktu yang penuh berkah tersebut.
Aku memohon kepada Allah Ta‘ala agar menjadikan karya ini sebagai amal yang ikhlas karena wajah-Nya yang mulia, bermanfaat bagi penulis dan pembacanya, serta agar Dia menganugerahkan kepada kita keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang menegakkan salat malam yang telah Dia puji dalam Kitab-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Menguasai hal itu dan Maha Mampu melakukannya.
Semoga salawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.
Buah-Buah (Keutamaan) dari Qiyāmul Lail
Qiyāmul lail (shalat malam) adalah syariat dari Allah, sunnah Nabi, kebahagiaan bagi ruh, dan kekuatan bagi jasad. Ia merupakan arena perlombaan bagi orang-orang yang berlomba dalam kebaikan, modal utama orang-orang saleh, sifat penting orang-orang bertakwa, amal para pemenang, serta jalan para salik menuju Rabb semesta alam.
Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk melakukan shalat malam. Allah berfirman:
﴿وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا﴾
“Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isrā’: 79)
Nabi pun melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, sampai kakinya bengkak karena lamanya berdiri dalam shalat malam. Beliau juga mendorong para sahabat untuk melaksanakan qiyāmul lail.
Dari Ibnu Umar raḍiyallāhu ‘anhuma, Nabi bersabda:
«نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ، لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ»
“Abdullah adalah sebaik-baik lelaki, seandainya ia mau shalat malam.”
(Muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Bab Keutamaan Qiyāmul Lail, 1/1070).
Perawi hadits ini, Salim bin Abdullah, berkata:
فَكَانَ عَبْدُاللَّهِ بَعْدَ ذَلِكَ لَا يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلَّا قَلِيلًا.
“Setelah itu Abdullah bin Umar hampir tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.”
Perkataan Para Ulama dan Salaf tentang Qiyāmul Lail
Al-Hasan Al-Bashri raḥimahullāh berkata:
(مَا أَعْلَمُ شَيْئًا يَتَقَرَّبُ بِهِ الْمُتَقَرِّبُونَ إِلَى اللَّهِ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ).
“Tidak aku ketahui suatu amalan yang lebih mendekatkan seorang hamba kepada Allah selain qiyāmul lail.”
Abu Sulaiman Ad-Dārānī raḥimahullāh berkata:
(وَاللَّهِ، لَوْلَا قِيَامُ اللَّيْلِ مَا أَحْبَبْتُ الدُّنْيَا، وَوَاللَّهِ إِنَّ أَهْلَ اللَّيْلِ فِي لَيْلِهِمْ أَلَذُّ مِنْ أَهْلِ اللَّهْوِ فِي لَهْوِهِمْ، وَإِنَّهُ لَتَمُرُّ بِالْقَلْبِ سَاعَاتٌ يَرْقُصُ فِيهَا طَرَبًا بِذِكْرِ اللَّهِ، فَأَقُولُ: إِنْ كَانَ أَهْلُ الْجَنَّةِ فِي مِثْلِ مَا أَنَا فِيهِ مِنَ النَّعِيمِ إِنَّهُمْ لَفِي نَعِيمٍ عَظِيمٍ).
“Demi Allah, kalau bukan karena qiyāmul lail, aku tidak akan menyukai dunia. Sesungguhnya kenikmatan yang dirasakan ahli malam pada malam hari mereka lebih nikmat daripada kesenangan orang-orang yang tenggelam dalam hiburan.” (Kitab Hilyat al-Awliyā’ karya Abu Nu‘aim, jilid 10 halaman 15)
Yazid Ar-Raqasyi raḥimahullāh berkata:
(مَا أَعْلَمُ شَيْئًا أَقَرَّ لِعُيُونِ الْعَابِدِينَ فِي الدُّنْيَا مِنَ التَّهَجُّدِ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ).
“Tidak ada sesuatu yang lebih menenangkan mata para ahli ibadah di dunia selain tahajud di gelapnya malam.” (Kitab Ruhbān al-Layl karya Al-‘Affani, jilid 1 halaman 527)
Muhammad bin Al-Munkadir raḥimahullāh berkata:
(مَا بَقِيَ مِنْ لَذَّةِ الدُّنْيَا إِلَّا ثَلَاثٌ: قِيَامُ اللَّيْلِ، وَلِقَاءُ الإِخْوَانِ، وَالصَّلَاةُ فِي جَمَاعَةٍ).
“Tidak tersisa dari kenikmatan dunia kecuali tiga perkara: shalat malam, bertemu saudara-saudara seiman, dan shalat berjamaah.”
Sebagian orang saleh berkata:
(قِيَامُ اللَّيْلِ، وَالْمُنَاجَاةُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، لَيْسَ مِنَ الدُّنْيَا؛ بَلْ هُوَ مِنَ الْجَنَّةِ، أُظْهِرَ لِأَهْلِ اللَّهِ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا، لَا يَعْرِفُهُ إِلَّا هُمْ، وَلَا يَجِدُونَ سِوَاهُ سَعَادَةً وَرَاحَةً لِقُلُوبِهِمْ).
“Qiyāmul lail dan bermunajat kepada Allah ‘Azza wa Jalla bukanlah bagian dari kenikmatan dunia, melainkan termasuk kenikmatan surga. Allah menampakkannya kepada para kekasih-Nya di dunia. Tidak ada yang benar-benar mengetahuinya kecuali mereka, dan mereka tidak menemukan selain itu kebahagiaan dan ketenteraman bagi hati mereka.” (Kitab Mukhtashar Qiyām al-Layl karya Al-Maqrizi)
(لَيْسَ فِي الدُّنْيَا وَقْتٌ يُشْبِهُ نَعِيمَ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِلَّا مَا يَجِدُهُ أَهْلُ الِانْكِسَارِ وَالتَّذَلُّلِ لِلَّهِ تَعَالَى فِي قُلُوبِهِمْ بِاللَّيْلِ مِنْ حَلَاوَةِ الْمُنَاجَاةِ).
“Tidak ada waktu di dunia ini yang menyerupai kenikmatan para penghuni surga, kecuali apa yang dirasakan oleh orang-orang yang hatinya penuh kerendahan dan ketundukan kepada Allah pada malam hari, berupa manisnya bermunajat kepada-Nya.” (Kitab Ruhbān al-Layl karya Al-‘Affani, jilid 1 halaman 527)
(لَوْ يَعْلَمُ الْمُلُوكُ مَا نَحْنُ فِيهِ مِنَ النَّعِيمِ لَجَالَدُونَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوفِ).
“Seandainya para raja mengetahui kenikmatan yang kami rasakan, niscaya mereka akan memerangi kami untuk merebutnya dengan pedang.” (Kitab Al-Ibānah ‘an Asbāb al-I‘ānah ‘alā Shalāt al-Fajr wa Qiyām al-Layl karya Ruqayyah binti Muhammad Al-Muhārib, halaman 25)
Diriwayatkan pula bahwa:
صَلَّى سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ رَحِمَهُ اللَّهُ الْفَجْرَ خَمْسِينَ سَنَةً بِوُضُوءِ الْعِشَاءِ.
“Sa’id bin Al-Musayyib selama 50 tahun shalat Subuh dengan wudhu Isya.”
Dan Syaddad bin Aus ketika berbaring di tempat tidur seperti biji di atas wajan panas, lalu berkata:
(اللَّهُمَّ إِنَّ جَهَنَّمَ لَا تَدَعُنِي أَنَامُ)، فَيَقُومُ إِلَى مُصَلَّاهُ.
“Ya Allah, sesungguhnya neraka Jahannam tidak membiarkanku tidur.” Lalu ia bangun menuju tempat shalatnya.
Setelah Yazid bin Harun raḥimahullāh menjadi buta, seseorang bertanya kepadanya: “Apa yang terjadi dengan kedua matamu?”
Ia menjawab:
(ذَهَبَ بِهِمَا بُكَاءُ الْأَسْحَارِ).
“Keduanya telah hilang karena tangisan di waktu-waktu sahur (menjelang fajar).”
Kemudian ia bangun menuju tempat shalatnya. (Kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal)
Salah seorang penyair berkata:
بَكَى البَاكُونَ لِلرَّحْمٰنِ لَيْلًا *** وَبَاتُوا دَمْعُهُمْ لَا يَسْأَمُونَا
“Orang-orang yang menangis karena Allah pada malam hari, air mata mereka tak pernah bosan mengalir
بِقَاعُ الأَرْضِ مِنْ شَوْقٍ إِلَيْهِمْ *** تَحِنُّ مَتَى عَلَيْهَا يَسْجُدُونَا
Bumi ini rindu kepada mereka, menanti kapan mereka bersujud di atasnya.”
Keutamaan Qiyāmul Lail
1. Termasuk sebab terbesar masuk surga
Dari Abdullah bin Salam raḍiyallāhu ‘anhu, Rasulullah bersabda:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلَامٍ»
“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari ketika manusia tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 569)
2. Menyebabkan tingginya derajat di surga
Rasulullah bersabda:
«إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا، أَعَدَّهَا اللَّهُ لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَلَانَ الْكَلَامَ، وَتَابَعَ الصِّيَامَ، وَأَفْشَى السَّلَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ»
“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar. Allah menyiapkannya bagi orang yang memberi makan, berkata lembut, rajin berpuasa, menyebarkan salam, dan shalat malam ketika manusia tidur.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, At-Tirmidzi. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ 2/220 no. 2119)
3. Meringankan lamanya berdiri pada hari kiamat
Allah berfirman:
﴿ وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا – إِنَّ هَٰؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا ﴾
“Dan pada sebagian malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang. Sesungguhnya mereka itu mencintai kehidupan yang segera (dunia) dan meninggalkan di belakang mereka hari yang berat (hari akhirat).” (QS. Al-Insān: 26–27)
Ibnu Abbas raḍiyallāhu ‘anhuma berkata:
(مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُهَوِّنَ اللَّهُ عَلَيْهِ طُولَ الْوُقُوفِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَلْيَرَهُ اللَّهُ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ).
“Barangsiapa ingin Allah meringankan lamanya berdiri pada hari kiamat, hendaknya Allah melihatnya sujud dan berdiri di malam hari.” (Tafsir Ath-Thabari, jilid 23 halaman 200)
Imam Al-Auza‘i raḥimahullāh berkata:
(مَنْ أَطَالَ الْقِيَامَ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ هَوَّنَ اللَّهُ عَلَيْهِ طُولَ الْقِيَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ).
“Barang siapa memperpanjang berdiri dalam shalat malam, maka Allah akan meringankan baginya lamanya berdiri pada hari kiamat.” (Kitab Al-Bidāyah wan-Nihāyah karya Ibnu Katsir, jilid 10 halaman 117)
4. Tanda kesempurnaan iman
Allah berfirman:
﴿ إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ – تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا ﴾
“Sesungguhnya yang benar-benar beriman kepada ayat-ayat Kami hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu, mereka segera bersujud, bertasbih memuji Rabb mereka, dan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka menjauhkan lambung mereka dari tempat tidur, mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan harap.” (QS. As-Sajdah: 15–17)
5. Shalat paling utama setelah shalat wajib
Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu berkata, Rasulullah bersabda:
«أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ قِيَامُ اللَّيْلِ»
“Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163)
6. Kemuliaan seorang mukmin
Dari Sahl bin Sa‘d raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata Jibril datang kepada Rasulullah lalu berkata:
«أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ قِيَامُ اللَّيْلِ»
“Wahai Muhammad, kemuliaan seorang mukmin adalah shalat malam, dan kehormatannya adalah tidak bergantung kepada manusia.” (HR. Al-Hakim dan Ath-Thabrani. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 831)
7. Qiyāmul lail adalah karunia Allah bagi orang yang dipilih-Nya
Allah berfirman:
﴿ أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ﴾
“(Apakah sama) orang yang beribadah dengan taat pada waktu-waktu malam, dalam keadaan sujud dan berdiri, ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?” (QS. Az-Zumar: 9)
Bahkan orang-orang yang banyak berbuat maksiat tidak mampu melaksanakan qiyāmul lail.
Seorang lelaki berkata kepada Ibrahim bin Adham raḥimahullāh:
“Sesungguhnya aku tidak mampu melakukan shalat malam, maka tunjukkanlah kepadaku obatnya (solusinya).”
Ibrahim bin Adham raḥimahullāh berkata:
(لَا تَعْصِهِ بِالنَّهَارِ، وَهُوَ يُقِيمُكَ بَيْنَ يَدَيْهِ فِي اللَّيْلِ! فَإِنَّ وُقُوفَكَ بَيْنَ يَدَيْهِ بِاللَّيْلِ مِنْ أَعْظَمِ الشَّرَفِ، وَالْعَاصِي لَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ الشَّرَفَ).
“Janganlah engkau bermaksiat kepada Allah di siang hari, niscaya Dia akan menegakkanmu di hadapan-Nya pada malam hari. Karena sesungguhnya berdirinya engkau di hadapan-Nya pada malam hari adalah kemuliaan yang agung, dan orang yang bermaksiat tidak berhak mendapatkan kemuliaan itu.” (Kitab Tanbīh al-Mughtarrīn karya Asy-Sya‘rani)
Sufyan Ats-Tsauri raḥimahullāh berkata:
(حُرِمْتُ قِيَامَ اللَّيْلِ خَمْسَةَ أَشْهُرٍ بِذَنْبٍ أَذْنَبْتُهُ!).
“Aku pernah terhalang dari qiyāmul lail selama lima bulan karena satu dosa yang aku lakukan.” (Kitab At-Tabshirah karya Ibnu Al-Jauzi, jilid 1 halaman 145)
Seorang lelaki berkata kepada Al-Hasan Al-Basri raḥimahullāh: “Aku merasa sangat berat dan tidak mampu untuk melaksanakan qiyāmul lail.”
Al-Hasan Al-Bashri berkata:
(قَيَّدَتْكَ خَطَايَاكَ، إِنَّ الْعَبْدَ لَيُذْنِبُ الذَّنْبَ فَيُحْرَمُ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ).
“Dosa-dosamu telah membelenggumu. Sesungguhnya seorang hamba melakukan dosa, lalu ia terhalang dari shalat malam dan puasa sunnah di siang hari.” (Kitab At-Tabshirah karya Ibnu Al-Jauzi, jilid 1 halaman 145)
Al-Fuḍail bin ‘Iyāḍ raḥimahullāh berkata:
(إِذَا لَمْ تَقْدِرْ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ، فَاعْلَمْ أَنَّكَ مَحْرُومٌ مُكَبَّلٌ، كَبَّلَتْكَ خَطِيئَتُكَ).
“Apabila engkau tidak mampu melaksanakan qiyāmul lail (shalat malam) dan berpuasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa engkau adalah orang yang terhalang dan terbelenggu. Dosa-dosamulah yang telah membelenggumu.” (Kitab Mukhtashar Qiyām al-Layl karya Al-Maqrizi)
8. Bentuk syukur kepada Allah dan meneladani Nabi
Dari Aisyah raḍiyallāhu ‘anha: Rasulullah shalat malam sampai kakinya pecah-pecah. Aku berkata:
“Mengapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu?”
Beliau menjawab:
«أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا»
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Al-Bukhari no. 1/1078)
(Kata (تَتَفَطَّرُ) artinya: terbelah atau pecah-pecah. Maksudnya, kedua kaki Nabi sampai pecah karena lamanya beliau berdiri dalam shalat malam).
Nabi juga tidak pernah meninggalkan qiyāmul lail, bahkan ketika beliau sedang sakit atau dalam perjalanan.
Dari ‘Amir bin Rabi’ah raḍiyallāhu ‘anhuma ia berkata:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ يُصَلِّي السُّبْحَةَ بِاللَّيْلِ فِي السَّفَرِ عَلَى ظَهْرِ رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ.
“Aku melihat Nabi melakukan shalat sunnah di malam hari ketika dalam perjalanan di atas tunggangannya, ke arah mana saja tunggangannya menghadap.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Al-Bukhari 1/1053)
9. Mendekatkan diri kepada Allah dan menghapus dosa
Dari Abu Umamah raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah bersabda:
«عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ، فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَقُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ، وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الْجَسَدِ»
“Hendaklah kalian melaksanakan shalat malam. Ia adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, mendekatkan kepada Allah, menghapus dosa, mencegah dari maksiat, dan mengusir penyakit dari tubuh.” (HR. At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi. Dihasankan oleh Al-Albani)
Ibnu Al-Hajj raḥimahullāh berkata:
(وَفِي الْقِيَامِ مِنَ الْفَوَائِدِ أَنَّهُ يَحُطُّ الذُّنُوبَ كَمَا يَحُطُّ الرِّيحُ الْعَاصِفُ الْوَرَقَ الْجَافَّ مِنَ الشَّجَرَةِ، وَيُنَوِّرُ الْقَبْرَ، وَيُحَسِّنُ الْوَجْهَ، وَيُنَشِّطُ الْبَدَنَ).
“Di antara manfaat qiyāmul lail adalah menghapus dosa seperti angin kencang menggugurkan daun kering dari pohon, menerangi kubur, memperindah wajah, dan menguatkan badan.” (Kitab Faydh al-Qadīr karya Al-Munawi, jilid 4 halaman 351)
10. Dicatat sebagai Orang yang Berdzikir, Taat, Ikhlas, dan Mendapat Pahala Besar
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, Rasulullah bersabda:
«مَنْ اسْتَيْقَظَ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ وَالذَّاكِرَاتِ».
“Barang siapa bangun di malam hari lalu membangunkan keluarganya, kemudian keduanya shalat dua rakaat bersama, maka keduanya dicatat sebagai orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah)
Masih dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, Rasulullah bersabda:
«مَنْ صَلَّى فِي لَيْلَةٍ بِمِائَةِ آيَةٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، وَمَنْ صَلَّى فِي لَيْلَةٍ بِمِائَتَيْ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْقَانِتِينَ الْمُخْلِصِينَ».
“Barang siapa shalat di malam hari dengan membaca seratus ayat, maka ia tidak dicatat sebagai orang yang lalai. Dan barang siapa shalat dengan membaca dua ratus ayat, maka ia dicatat sebagai orang-orang yang taat dan ikhlas.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim)
Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash raḍiyallāhu ‘anhuma, Rasulullah bersabda:
«مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْقَانِتِينَ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْمُقَنْطِرِينَ».
“Barang siapa berdiri (shalat malam) dengan membaca sepuluh ayat, ia tidak dicatat sebagai orang yang lalai. Barang siapa berdiri dengan seratus ayat, ia dicatat sebagai orang yang taat. Dan barang siapa berdiri dengan seribu ayat, ia dicatat sebagai orang yang mendapat pahala yang sangat besar (المُقَنْطِرُونَ/orang-orang yang diberikan qinthār).” (HR. Abu Dawud)
11. Termasuk Sebab Dikabulkannya Doa
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, Rasulullah bersabda:
«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟».
“Rabb kita Tabāraka wa Ta‘ālā turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya? Siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya?” (HR. Muslim no. 758)
Sepertiga malam terakhir ini adalah waktu yang paling mulia, dan kesempatan itu datang setiap malam.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir raḍiyallāhu ‘anhu, Rasulullah bersabda:
«الرَّجُلُ مِنْ أُمَّتِي يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ يُعَالِجُ نَفْسَهُ إِلَى الطَّهُورِ، وَعَلَيْهِ عُقَدٌ، فَإِذَا وَضَأَ وَجْهَهُ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، وَإِذَا مَسَحَ رَأْسَهُ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، وَإِذَا وَضَأَ رِجْلَيْهِ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِلَّذِينَ وَرَاءَ الْحِجَابِ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هَذَا يُعَالِجُ نَفْسَهُ يَسْأَلُنِي، وَمَا سَأَلَنِي عَبْدِي هَذَا فَهُوَ لَهُ».
“Seorang laki-laki dari umatku bangun di malam hari dengan bersusah payah melawan dirinya untuk berwudhu, sementara padanya ada ikatan-ikatan (dari setan). Ketika ia membasuh wajahnya terlepas satu ikatan, ketika ia mengusap kepalanya terlepas satu ikatan, dan ketika ia membasuh kedua kakinya terlepas satu ikatan. Maka Allah berkata kepada para malaikat di balik hijab: Lihatlah hamba-Ku ini yang bersusah payah melawan dirinya untuk meminta kepada-Ku. Apa pun yang ia minta dari-Ku, maka itu akan diberikan kepadanya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
Dari ‘Amr bin ‘Abasah raḍiyallāhu ‘anhu, Rasulullah bersabda:
«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ».
“Waktu paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah pada akhir malam. Jika engkau mampu menjadi orang yang berdzikir kepada Allah pada waktu itu, maka jadilah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)
Dari Jabir raḍiyallāhu ‘anhu, Rasulullah bersabda:
«إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ».
“Sesungguhnya di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang Muslim memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat pada saat itu melainkan Allah akan memberikannya. Dan waktu itu ada setiap malam.” (HR. Muslim no. 757)
12. Qiyāmul Lail Mencegah dari Dosa dan Maksiat
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu: Seorang lelaki datang kepada Nabi dan berkata, “Sesungguhnya si fulan shalat malam, tetapi ketika pagi ia mencuri.”
Maka Nabi bersabda:
«إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا تَقُولُ»
“Kelak shalatnya itu akan mencegahnya dari perbuatan yang engkau sebutkan.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)
13. Membantu Menghadapi Tugas Berat dan Amanah Besar
Allah memerintahkan Nabi dengan qiyāmul lail sebelum memikul tugas dakwah yang berat. Allah berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا ﴾
“Wahai orang yang berselimut, bangunlah untuk shalat malam kecuali sedikit, yaitu setengahnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari itu, dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzzammil: 1–5)
Artinya, persiapan menghadapi tugas besar dan dakwah berat adalah dengan qiyāmul lail dan membaca Al-Qur’an.
14. Menjadi Sebab Dicintai Allah dan Allah Bergembira Kepadanya
Dari Abu Darda raḍiyallāhu ‘anhu, Rasulullah bersabda:
»ثَلَاثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللَّهُ، وَيَضْحَكُ إِلَيْهِمْ، وَيَسْتَبْشِرُ بِهِمْ: الَّذِي إِذَا انْكَشَفَتْ فِئَةٌ قَاتَلَ وَرَاءَهَا بِنَفْسِهِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِمَّا أَنْ يُقْتَلَ، وَإِمَّا أَنْ يَنْصُرَهُ اللَّهُ وَيَكْفِيَهُ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هٰذَا، كَيْفَ صَبَرَ لِي بِنَفْسِهِ! وَالَّذِي لَهُ امْرَأَةٌ حَسَنَةٌ وَفِرَاشٌ لَيِّنٌ حَسَنٌ، فَيَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَقُولُ: يَذَرُ شَهْوَتَهُ وَيَذْكُرُنِي، وَلَوْ شَاءَ لَرَقَدَ، وَالَّذِي إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ، وَكَانَ مَعَهُ رَكْبٌ، فَسَهِرُوا ثُمَّ هَجَعُوا مِنَ السَّحَرِ فِي ضَرَّاءَ وَسَرَّاءَ.«
“Tiga golongan yang Allah cintai, Allah tersenyum kepada mereka dan bergembira dengan mereka:
- Seorang yang ketika pasukannya mundur dalam peperangan, ia tetap maju berperang sendirian demi Allah. Maka bisa jadi ia terbunuh atau Allah memberikan kemenangan kepadanya.
- Seorang yang memiliki istri yang cantik dan tempat tidur yang lembut serta nyaman, namun ia bangun di malam hari untuk beribadah. Maka Allah berfirman: ‘Ia meninggalkan syahwatnya dan mengingat-Ku. Seandainya ia mau, tentu ia bisa saja tetap tidur.’
- Seorang yang sedang dalam perjalanan bersama rombongan. Mereka begadang lalu tertidur menjelang sahur, namun ia bangun untuk beribadah kepada Allah, baik dalam keadaan susah maupun lapang.” (HR. Ath-Thabrani)
Dari Nu’aim bin Hammar Al-Ghathafani رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
«وَإِذَا ضَحِكَ رَبُّكَ إِلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا فَلَا حِسَابَ عَلَيْهِ».
“Apabila Rabbmu tersenyum kepada seorang hamba di dunia, maka tidak ada hisab atasnya.” (HR. Ahmad dan Abu Ya‘la)
15. Termasuk Sebab Mendapatkan Rahmat Allah
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
«رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ».
“Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di malam hari lalu membangunkan istrinya untuk shalat. Jika istrinya enggan, ia memercikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di malam hari lalu membangunkan suaminya untuk shalat. Jika suaminya enggan, ia memercikkan air ke wajahnya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah)
Imam Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa kalimat «رَحِمَ اللَّهُ» bisa bermakna dua hal:
- Berita bahwa orang tersebut berhak mendapatkan rahmat Allah.
- Doa dari Nabi agar ia mendapatkan rahmat.
16. Ahli Qiyāmul Lail Memiliki Cahaya di Wajah Mereka
Allah berfirman:
﴿ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ ﴾
“Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa dan bergembira.” (QS. ‘Abasa: 38–39)
Imam Al-Qurthubi raḥimahullāh menukil tafsir dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما bahwa salah satu sebabnya adalah qiyāmul lail. (Tafsir Al-Qurthubi pada penafsiran Surah ‘Abasa)
Sa’id bin Musayyib berkata:
(إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي بِاللَّيْلِ فَيَجْعَلُ اللَّهُ فِي وَجْهِهِ نُورًا يُحِبُّهُ عَلَيْهِ كُلُّ مُسْلِمٍ، فَيَرَاهُ مَنْ لَمْ يَرَهُ قَطُّ، فَيَقُولُ: إِنِّي لَأُحِبُّ هٰذَا الرَّجُلَ!).
“Sesungguhnya seseorang shalat malam, lalu Allah menjadikan cahaya pada wajahnya yang membuat setiap Muslim mencintainya. Bahkan orang yang belum pernah melihatnya pun ketika melihatnya akan berkata: ‘Aku benar-benar mencintai orang ini.’” (Kitab Ash-Shalah wa At-Tahajjud karya Ibnu Al-Kharrath)
Ketika ditanya kepada Al-Hasan Al-Bashri: “Mengapa orang yang tahajud di malam hari termasuk manusia yang paling baik wajahnya?” Beliau menjawab:
(لِأَنَّهُمْ خَلَوْا بِالرَّحْمٰنِ، فَأَلْبَسَهُمْ نُورًا مِنْ نُورِهِ).
“Karena mereka menyendiri bersama Ar-Rahman, maka Allah memakaikan kepada mereka cahaya dari cahaya-Nya.” (Kitab Mukhtashar Qiyām al-Layl karya Al-Maqrizi)
17. Menjadi Sebab Lapangnya Dada dan Bahagianya Hati
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
«يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ، يَضْرِبُ عَلَى كُلِّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ، فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقَدُهُ كُلُّهَا، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ».
“Setan mengikat di tengkuk kepala salah seorang dari kalian ketika ia tidur tiga ikatan. Pada setiap ikatan ia berkata: ‘Malam masih panjang, tidurlah.’
- Jika ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, terlepaslah satu ikatan.
- Jika ia berwudhu, terlepaslah satu ikatan.
- Jika ia shalat, terlepaslah seluruh ikatan.
Maka ia akan bangun dalam keadaan bersemangat dan jiwanya baik. Jika tidak, ia akan bangun dengan jiwa yang buruk dan malas.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah)
‘Atha Al-Khurasani berkata:
إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ مُتَهَجِّدًا أَصْبَحَ فَرِحًا، يَجِدُ لِذٰلِكَ فَرَحًا فِي قَلْبِهِ، وَإِذَا غَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ فَنَامَ أَصْبَحَ حَزِينًا مُنْكَسِرَ الْقَلْبِ، كَأَنَّهُ فَقَدَ شَيْئًا، وَقَدْ فَقَدَ أَعْظَمَ الْأُمُورِ لَهُ نَفْعًا.
“Jika seseorang bangun untuk tahajud di malam hari, ia akan bangun pagi dengan hati yang bahagia. Tetapi jika ia tertidur dan tidak bangun, ia akan bangun dengan hati yang sedih dan terasa kehilangan sesuatu, padahal ia telah kehilangan sesuatu yang paling besar manfaatnya bagi dirinya.” (Kitab Mukhtashar Qiyām al-Layl karya Al-Maqrizi)
18. Menjadi Sebab Menjaga Shalat Subuh Berjamaah
Terutama bagi orang yang bangun pada sepertiga malam terakhir untuk beribadah kepada Allah.
Penutup
Wahai saudaraku Muslim, jika engkau membiasakan diri melakukan qiyāmul lail, maka keadaan hidupmu akan berubah menjadi lebih baik.
Jika berbagai kesulitan menimpamu dan jalan terasa sempit, maka tidak ada jalan keluar kecuali mengetuk pintu Sang Raja, yaitu Allah yang di tangan-Nya kunci segala sesuatu.
Bangunlah di hadapan-Nya pada keheningan malam dan bermunajatlah kepada-Nya. Barang siapa telah merasakannya, ia pasti akan mengetahui manisnya.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَوَفِّقْنَا لِقِيَامِ اللَّيْلِ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنَّا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِينَ الشَّاكِرِينَ، وَمِنَ الْقَائِمِينَ الْقَانِتِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجِلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا وَغُمُومِنَا، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَاجْمَعْنَا بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Doa Penutup
Ya Allah, terimalah dari kami amal-amal yang saleh. Berilah kami taufik untuk melaksanakan salat malam dengan cara yang Engkau ridhai. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang banyak berzikir dan bersyukur, serta termasuk orang-orang yang menegakkan salat malam dengan penuh ketaatan. Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin.
Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya bagi dada kami, penghilang kesedihan kami, serta penghapus kegelisahan dan kesusahan kami. Karuniakanlah kepada kami husnul khatimah, dan kumpulkanlah kami bersama Nabi-Mu Muhammad di dalam surga-surga kenikmatan.
Semoga salawat dan salam tercurah kepada Nabi kami Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Semoga bermanfaat.




