Tarbawi

Bekal Sunyi Para Dai

«لَوْلَا اللَّازِمُ مَا وُجِدَ الْمُتَعَدِّي»

Seandainya tidak ada amal yang terbatas pada diri sendiri, maka tidak akan ada amal yang manfaatnya meluas kepada orang lain.

Dr. Talal bin Fawaz Al-Hasan
Cetakan pertama
1447 H / 2026 M

«لَوْلَا اللَّازِمُ مَا وُجِدَ الْمُتَعَدِّي»

Seandainya tidak ada amal yang terbatas pada diri sendiri, maka tidak akan ada amal yang manfaatnya meluas kepada orang lain.

Datanglah seorang ulama dari kalangan para ulama ke salah satu negeri. Hati manusia pun menyambutnya dengan penuh kegembiraan, dan mata mereka menantikan limpahan ilmunya. Lalu disusunlah untuknya sebuah jadwal yang penuh dengan pelajaran dan ceramah, seakan-akan mereka ingin mengambil dari lautan ilmunya sebanyak yang mereka mampu.

Namun beliau memandang dengan mata kebijaksanaan dan berkata dengan tenang bahwa satu pertemuan saja sudah cukup baginya. Maka salah seorang dari mereka merasa heran dengan jawabannya dan berkata: “Wahai Syaikh, orang-orang ingin mengambil manfaat dari ilmu Anda.”

Beliau mengatakan demikian karena ingin mengambil bekal dari sumber kejernihan ibadah dan menghiasi dirinya dengan kemurnian munajat kepada Allah, serta menjadikan sebagian waktunya untuk khalwat dan ibadah.

“Maka sang syaikh menjawabnya dengan kalimat yang layak ditulis dengan tinta emas, dan berkata dengan ketenangan orang-orang yang khusyuk:

‘Wahai anakku, seandainya tidak ada amal yang terbatas pada diri sendiri, maka tidak akan ada amal yang manfaatnya meluas kepada orang lain.’”

Betapa indah dan dalam makna hikmah itu. Dengan ketenangan pandangan dan kejernihan hati, tampaklah cahaya kebijaksanaan yang menggabungkan antara ibadah dalam kesendirian dan aktivitas di tengah manusia, sehingga tampaklah rahasia keseimbangan antara menyendiri untuk beribadah dan terjun ke tengah manusia untuk memberi manfaat kepada mereka.

Sebuah kata yang seakan keluar dari hati yang ibadah telah menyatu dengan darahnya, dan dari pikiran yang menimbang segala perkara dengan timbangan langit, bukan dengan timbangan bumi.

Seandainya tidak ada amal yang terbatas pada diri sendiri, maka tidak akan ada amal yang manfaatnya meluas kepada orang lain.

Apa gunanya suara seorang da‘i di tengah manusia jika suara munajatnya kepada Allah di keheningan waktu sahur telah terputus?

Ya, apa nilai seorang da‘i di medan dakwah jika bekal hatinya telah habis?

Berapa banyak da‘i yang memenuhi berbagai tempat dengan suaranya, tetapi sudut hatinya kosong dari cahaya.

Dan berapa banyak orang yang beramal di medan kebaikan, namun kesibukannya memberi petunjuk kepada orang lain justru melalaikannya dari memperbaiki dan menyucikan dirinya sendiri. Ia seperti lampu yang menerangi kegelapan di sekitarnya, sementara di dalam dirinya sendiri ia perlahan melemah hingga hampir padam.

Sesungguhnya tenggelamnya seorang pembaharu dalam aktivitas dakwah, sementara ia lalai dari ibadah dan perbaikan batinnya, dengan alasan bahwa “amal yang manfaatnya meluas lebih utama daripada amal yang terbatas pada diri sendiri”, bukanlah kaidah yang berlaku secara mutlak. Tidak setiap orang yang mengatakan bahwa “manfaat yang meluas lebih utama” selalu benar.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
«النَّفْعُ الْمُتَعَدِّي لَيْسَ أَفْضَلَ مُطْلَقًا، بَلْ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَكُونَ لَهُ سَاعَاتٌ يُنَاجِي فِيهَا رَبَّهُ، وَيَخْلُو فِيهَا بِنَفْسِهِ وَيُحَاسِبُهَا، وَيَكُونُ فِعْلُهُ ذَلِكَ أَفْضَلَ مِنِ اجْتِمَاعِهِ بِالنَّاسِ وَنَفْعِهِمْ، وَلِهَذَا كَانَ خَلْوَةُ الْإِنْسَانِ فِي اللَّيْلِ بِرَبِّهِ أَفْضَلَ مِنِ اجْتِمَاعِهِ بِالنَّاسِ»
“Manfaat yang meluas kepada orang lain tidak selalu lebih utama secara mutlak. Bahkan sepatutnya seseorang memiliki waktu-waktu di mana ia bermunajat kepada Rabbnya dan menyendiri bersama-Nya, menghisab dirinya. Perbuatan itu bisa jadi lebih utama daripada berkumpul dengan manusia dan memberi manfaat kepada mereka. Karena itu, menyendiri seseorang dengan Rabbnya pada malam hari lebih utama daripada berkumpulnya dengan manusia.”
( Syarḥ al-‘Umdah, 3/650 )

Ibadah, wahai saudaraku, bukanlah menjauh dari kehidupan atau berpaling dari amal. Ia adalah kekuatan yang menegakkan hati dan sumber yang memberi kehidupan padanya, serta membantu seseorang memikul beban dan menghadapi berbagai fitnah.

Wahb bin Munabbih berkata:
«مَنْ يَتَعَبَّدْ يَزْدَدْ قُوَّةً، وَمَنْ يَكْسَلْ يَزْدَدْ فَتْرَةً»
“Barang siapa memperbanyak ibadah, maka kekuatannya akan bertambah. Dan barang siapa malas, maka kelemahannya akan bertambah.”
( Az-Zuhd karya Imam Ahmad, hlm. 303 )

Karena itu pula qiyamullail diwajibkan atas Nabi ﷺ dan tidak diwajibkan atas selain beliau, agar beliau mengambil darinya bekal untuk menunaikan tugas penyampaian yang agung. Qiyamullail juga pernah diwajibkan kepada para sahabat pada awal masa dakwah, agar ia menjadi bekal bagi hati mereka dan penolong bagi keteguhan ketika beban semakin berat dan ujian semakin keras.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ۝ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا﴾
(Surat Al-Muzzammil ayat 1–2)

“Maka bangunlah untuk shalat pada malam hari, kecuali sedikit darinya.”

Qiyamullail adalah persiapan rabbani yang mendidik hati untuk bersabar dan mempersiapkan jiwa untuk memikul amanah dakwah serta menghadapi berbagai ujian dengan keteguhan yang tidak tergoyahkan.

Qiyamullail merupakan tangga tersembunyi yang dengannya ruh-ruh naik menuju derajat yang tinggi dalam ilmu dan iman, tempat di mana terdapat kejernihan hati, kedekatan kepada Allah, dan di sanalah orang-orang yang teguh dipilih.

Sesungguhnya Nabi ﷺ adalah orang yang paling banyak beramal di antara umat ini dan yang paling besar tanggung jawabnya. Namun demikian, beliau adalah orang yang paling banyak menyendiri untuk beribadah kepada Allah pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Beliau menjauhkan dirinya dari manusia agar hatinya dipenuhi cahaya, karena beliau mengetahui bahwa hati tidak akan berbuah kecuali jika disirami dengan air ibadah.

Betapa indahnya perkataan sastrawan Mustafa Shadiq Ar-Rafi‘i ketika menggambarkan pengaruh ibadah pada bulan Ramadan. Ia berkata:
«وعجيبٌ جدًّا أنَّ هذا الشهرَ الذي يَدَّخِرُ فيه الجسمُ من قواهُ المعنويةِ فيودِعُها مَصْرِفَ روحانيتِهِ، ليجدَ منها عندَ الشدائدِ مَدَدَ الصبرِ والثباتِ والعزمِ والجَلَدِ»
“Betapa menakjubkan bulan ini. Pada bulan ini tubuh menyimpan kekuatan-kekuatan batin dan menaruhnya dalam simpanan ruhani, agar ketika datang berbagai kesulitan ia menemukan darinya bantuan berupa kesabaran, keteguhan, tekad, dan ketahanan.”
Wahyu al qalam: 2/60.

Demikianlah hakikat ibadah itu.

Betapa mirip seorang pendidik di medan tugasnya dengan seorang petani di ladangnya. Jika ia lalai menyirami tanamannya, maka tanaman itu akan layu; dan jika ia mengurangi usaha mengolah tanahnya, maka buahnya akan sedikit atau bahkan sulit didapat.

Begitu pula seorang penuntut ilmu, seorang dai, dan seorang pembaharu. Jika ia tidak memiliki waktu untuk menyendiri bermunajat kepada Rabbnya dan tidak memiliki ibadah yang dengannya ia mendekatkan diri kepada Allah, maka suaranya akan melemah di hati manusia, meskipun suaranya terdengar keras di telinga mereka.

Kunci-kunci keberhasilan dari jalan hidup para ulama.

Seorang penuntut ilmu pernah berkata, setelah pengalaman panjang dan bergaul dengan para syaikh dan ulama, dan ia keluar dari persahabatan itu dengan sebuah kesimpulan yang tidak terlupakan:

Aku telah memperhatikan jalan hidup para ulama, dan aku tidak melihat seorang pun dari mereka yang berhasil kecuali pada dirinya terkumpul lima kebiasaan, seakan-akan ia merupakan kunci-kunci kemenangan dan tanda-tanda taufik:

1. Qiyamullail, yang dengannya jiwa menjadi bersih, batin menjadi lurus, dan niat menjadi jernih dalam kesendirian yang jujur bersama Allah.
2. Wirid Al-Qur’an harian, yang dengannya hati hidup sebagaimana bumi hidup dengan turunnya hujan lebat, dan hati disirami dari sumber wahyu yang murni.
3. Bersungguh-sungguh dalam doa, karena ia adalah pintu taufik dan kunci kebaikan dunia dan akhirat. Tidak ada pintu yang lebih mulia untuk diketuk selain pintu doa.
4. Lisan yang selalu basah dengan dzikir, karena ia adalah tanda kedekatan dengan Allah, kunci menuju negeri kebahagiaan, dan dengannya ruh menjadi akrab dengan Rabbnya serta merasa tenteram dengan kedekatan kepada-Nya.
5. Datang lebih awal untuk shalat, karena di dalamnya terdapat keutamaan dan keberkahan, serta mendapatkan doa para malaikat: “Ya Allah ampunilah dia, ya Allah rahmatilah dia.”

Tidaklah seorang hamba menambah dari sifat-sifat ini kecuali akan dibukakan baginya pintu-pintu keberhasilan, dan tidaklah ia menguranginya kecuali akan berkurang pula bagiannya dari kebaikan.

Demi Allah, perkara-perkara ini bukan sekadar kebiasaan waktu, melainkan kebiasaan hati dan sebab-sebab taufik. Siapa yang menegakkannya, maka ia akan ditegakkan olehnya; siapa yang meninggalkannya, maka ia pun akan ditinggalkan olehnya. Siapa yang berpegang dengannya akan mendahului, dan siapa yang menyia-nyiakannya akan terhalang. Barang siapa menyangka bahwa keberhasilan dapat diraih tanpa hal-hal tersebut, maka ia seperti orang yang mencari buah tanpa akar, atau mencari cahaya tanpa minyak.

Karena itu, ketika salah seorang syaikh ditanya tentang rahasia kuatnya pengaruh pelajarannya di hati manusia dibandingkan yang lain, setelah ia menolak menjawab beberapa kali dan penanya terus mendesak, ia akhirnya berkata:

“Wahai anakku, seandainya bukan karena kebutuhan, aku tidak akan berbicara sepuluh bagian pun dari pelajaran yang engkau dengar setelah shalat Subuh ini, sebelum aku membaca sepuluh juz Al-Qur’an.”

Seakan-akan kata-katanya ingin mengatakan bahwa bukan ilmu semata yang memberi pengaruh, tetapi hati yang dipenuhi cahaya. Jika hati itu bercahaya, maka ia akan memancarkan cahaya kepada orang-orang di sekitarnya.

Kemudian Ibnu al-Hajj rahimahullah dalam kitab Al-Madkhal (2/137) menegaskan makna ini dan menjelaskan dengan perkataan yang mencapai puncak makna, seakan-akan beliau berkata: mungkin engkau mengatakan bahwa seorang penuntut ilmu, jika ia melakukan hal-hal seperti yang disebutkan itu—yakni qiyamullail—maka aktivitas dan kesibukannya, dari kegiatan belajar, membaca (menelaah), dan melakukan penelitian atau kajian akan terganggu?

Jawabannya: bahwa hembusan karunia, cahaya, dan anugerah dari ibadah-ibadah tersebut kembali kepada penuntut ilmu dengan manfaat yang jauh lebih besar daripada yang ia peroleh dari kegiatan belajar, membaca, dan penelitian.

Perkara ini adalah sesuatu yang terkadang seorang penjelas pun tidak mampu menggambarkannya dengan sempurna. Hal itu jarang terjadi kecuali bagi orang yang benar-benar menjaganya dengan baik. Sesungguhnya ilmu dan amal setelahnya hanyalah dua sarana untuk sampai kepada kebaikan yang agung itu.

Betapa indah penutup ini.

Seakan-akan suara Ibnu al-Hajj berbisik kepada para dai, para peneliti, dan para pendidik: makmurkanlah malam kalian agar siang kalian berbuah, perbaruilah bekal hati kalian, karena seandainya tidak ada amal yang terbatas pada diri sendiri, maka tidak akan ada amal yang manfaatnya meluas kepada orang lain.

Betapa bermanfaatnya kalimat ini jika engkau memahaminya.

Ya, sesungguhnya amal yang manfaatnya meluas kepada orang lain tidak akan berkembang kecuali di tanah keikhlasan, dan tidak akan berbuah kecuali dengan air ibadah.

Karena itu, hendaklah engkau memiliki bagian dari malam dan bekal dari kesendirian bersama Allah. Jika engkau memperbaiki bagian dalam dirimu, maka Allah akan memperbaiki bagian luar dirimu.

Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu berkata:
«إِنَّ لِكُلِّ امْرِئٍ جَوَّانِيًّا وَبَرَّانِيًّا، فَمَنْ يُصْلِحْ جَوَّانِيَّهُ يُصْلِحِ اللَّهُ بَرَّانِيَّهُ، وَمَنْ يُفْسِدْ جَوَّانِيَّهُ يُفْسِدِ اللَّهُ بَرَّانِيَّهُ»
“Sesungguhnya setiap manusia memiliki sisi batin dan sisi lahir. Barang siapa memperbaiki batinnya, maka Allah akan memperbaiki lahirnya. Dan barang siapa merusak batinnya, maka Allah akan merusak lahirnya.”
( Az-Zuhd karya Ibnu al-Mubarak, no. 17 )

Benarlah perkataan seorang syaikh ketika ia berkata:
«لَوْلَا اللَّازِمُ مَا وُجِدَ الْمُتَعَدِّي»
“Seandainya tidak ada amal yang terbatas pada diri sendiri, maka tidak akan ada amal yang manfaatnya meluas kepada orang lain.”

يَا رَبِّ هَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
وَاجْعَلْ مَعُونَتَكَ الْحُسْنَى لَنَا مَدَدًا
Wahai Rabb kami, siapkanlah bagi kami petunjuk dalam urusan kami.
Jadikanlah pertolongan-Mu yang baik sebagai penopang bagi kami.
وَلَا تَكِلْنَا إِلَى تَدْبِيرِ أَنْفُسِنَا
فَالنَّفْسُ تَعْجِزُ عَنْ إِصْلَاحِ مَا فَسَدَا
Jangan Engkau serahkan kami kepada pengaturan diri kami sendiri,
karena jiwa ini lemah untuk memperbaiki apa yang telah rusak.
أَنْتَ الْكَرِيمُ وَقَدْ وَجَّهْتُ يَا أَمَلِي
فَلَا تَرُدَّنَّهَا يَا رَبِّ خَائِبَةً
Engkau Maha Pemurah, kepada-Mulah harapan kami tertuju.
Maka jangan Engkau kembalikan doa kami dalam keadaan kecewa.
إِلَى جِنَابِكَ قَلْبًا سَالِمًا وَيَدًا
فَبَحْرُ جُودِكَ يَرْوِي كُلَّ مَنْ وَرَدَا
Kami datang kepada-Mu dengan hati yang selamat dan tangan yang memohon,
karena lautan kemurahan-Mu memberi minum setiap orang yang mendatanginya.

اللَّهُمَّ يَا مَنْ بِيَدِهِ صَلَاحُ الْقُلُوبِ وَاسْتِقَامَةُ الْأَعْمَالِ، أَصْلِحْ لَنَا بَوَاطِنَنَا قَبْلَ ظَوَاهِرِنَا، وَأَحْيِ قُلُوبَنَا بِنُورِ عِبَادَتِكَ، وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ.
Ya Allah, wahai Dzat yang di tangan-Nya kebaikan hati dan kelurusan amal, perbaikilah batin kami sebelum lahir kami. Hidupkanlah hati-hati kami dengan cahaya ibadah kepada-Mu, dan janganlah Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap mata.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا مِنْ خَلَوَاتِ اللَّيْلِ زَادًا مَقْبُولًا، وَمِنْ مُنَاجَاتِكَ مَدَدًا مَسْمُوعًا، وَمِنْ صِدْقِ الْإِقْبَالِ عَلَيْكَ قُوَّةً وَثَبَاتًا.
Ya Allah, jadikanlah bagi kami dari kesendirian di malam hari bekal yang Engkau terima, dari munajat kepada-Mu kekuatan yang Engkau dengar, dan dari kejujuran dalam menghadap kepada-Mu kekuatan serta keteguhan.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَالِنَا وَأَقْوَالِنَا، وَاهْدِنَا وَسَدِّدْنَا، وَارْزُقْنَا الصِّدْقَ وَالْإِخْلَاصَ وَالْقَبُولَ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا عَامِرَةً بِذِكْرِكَ، مُتَوَكِّلَةً عَلَيْكَ، مُسْتَعِينَةً بِكَ، قَائِمَةً بَيْنَ يَدَيْكَ، إِنَّكَ وَلِيُّ ذَلِكَ وَالْقَادِرُ عَلَيْهِ.
Ya Allah, berkahilah amal-amal dan perkataan kami, berilah kami petunjuk dan keteguhan, serta karuniakan kepada kami kejujuran, keikhlasan, dan penerimaan. Jadikanlah hati-hati kami dipenuhi dengan mengingat-Mu, bertawakal kepada-Mu, memohon pertolongan kepada-Mu, dan berdiri di hadapan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah wali bagi semua itu dan Engkau Maha Kuasa atasnya.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button