Ramadan 1447

PUASA RAMADAN DAN PEMBARUAN UBUDIAH

PUASA RAMADAN DAN PEMBARUAN UBUDIAH

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

﴿آلُ عِمْرَانَ: 102﴾

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ، وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا، وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

﴿النِّسَاءُ: 1﴾

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

﴿الْأَحْزَابُ: 70-71﴾

أَمَّا بَعْدُ:

Ibadah Puasa

Ibadah puasa kepada Allah adalah jenis ibadah yang sangat istimewa. Seorang Muslim dituntut beribadah kepada Rabbnya setiap waktu.

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُالمؤمنون:32

 Hendaklah kalian menyembah Allah, tidak ada sesembahan selain Dia.

Ibadah inilah yang mengangkat seorang hamba ke derajat yang tinggi.

لَنْ يَسْتَنكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ النساء:172

Nabi Isa tidak enggan menjadi hamba Allah. Karena penghambaan kepada Allah adalah kemuliaan.

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ الفرقان:1،

Maha Suci Allah yang menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ الإسراء:1

 Maha Suci Allah yang memperjalankan hamba-Nya pada malam hari.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ الكهف:1،

Segala puji bagi Allah yang menurunkan kitab kepada hamba-Nya.

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ الجن:19،

Dan ketika hamba Allah berdiri menyeru kepada-Nya.

Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia paling mulia dan paling sempurna, namun beliau tetap seorang hamba Allah. Maka kemuliaan terbesar seorang Muslim adalah mencapai derajat penghambaan kepada Allah.

أن تعبد الله كأنك تراه، إحسان العبودية، فإن لم تكن تراه فإنه يراك،

Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.

Tugas kita di dunia adalah beribadah kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ الذاريات:56،

Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya.

Tidak ada yang kita miliki di dunia ini selain tugas beribadah kepada Allah. Bahkan tidur, makan, dan hubungan suami istri dapat menjadi ibadah dengan niat yang baik.

Penghambaan adalah jalan agung. Penghambaan memiliki tingkatan. Hakikatnya adalah tunduk dan merendahkan diri.

Hanya kepada-Mu kami menyembah. Kepada-Mu kami tunduk. Kepada-Mu kami merendah. Kami mengakui hanya Engkau Rabb kami. Kami mentauhidkan-Mu dan bersyukur kepada-Mu.

Hamba adalah orang yang tunduk dan patuh. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin sempurna imannya, semakin sempurna pula ibadahnya. Para rasul adalah manusia paling sempurna ibadahnya karena mereka paling mengenal Allah.

Kita hidup untuk Allah. Kita beribadah kepada Allah. Kita mengarahkan ibadah hanya kepada-Nya dengan ikhlas.

Kita hidup dengan pertolongan Allah dan bersandar kepada-Nya. Tidak ada yang mampu memberi manfaat dan mudarat selain Dia.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلا لَهُ الْخَلْقُ

“Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (Dia menciptakan pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang yang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, milik-Nyalah penciptaan…”

(QS. Al-A‘raf: 54)

Dari tauhid rububiyah menuju tauhid uluhiyah. Karena Dia menciptakan kita maka Dia berhak memerintah kita. Maka berdoalah kepada-Nya dengan rendah hati dan sembunyi-sembunyi

Allah menciptakan bumi agar kita memakmurkannya dengan syariat-Nya, bukan merusaknya. Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang menciptakan kalian agar kalian bertakwa.

Allah memerintahkan kita beribadah dengan ikhlas kepada-Nya melalui wahyu dan sunnah Rasul-Nya agar kita tahu bagaimana cara beribadah.

Mengapa Puasa?

Kita lapar dan haus. Kita menahan syahwat. Mengapa? Karena taat kepada Allah.

Ibadah terasa manis meski berat. Manusia merasakan lapar dan haus, tetapi ia bahagia karena sedang beribadah dan berharap pahala.

Semakin seorang hamba merendah kepada Allah, semakin dekat dan mulia kedudukannya. Hati tidak akan tenang kecuali dengan ibadah.

Orang yang tidak beribadah hidup dalam kesempitan, kegelisahan, dan kehampaan. Kekayaan dan ketenaran tidak memberi kebahagiaan tanpa ibadah.

Mengapa orang beriman bangun subuh dalam dingin? Karena ia mencintai Allah. Ia mencintai apa yang dicintai Allah.

Perbedaan penghambaan kepada Allah dan penghambaan kepada manusia sangat jelas. Penghambaan kepada Allah penuh kebahagiaan dan kerelaan. Penghambaan kepada manusia penuh paksaan.

Orang beriman rela menahan lapar dan haus demi kehidupan abadi. Jiwa tidak meninggalkan sesuatu yang dicintai kecuali demi sesuatu yang lebih dicintai.

Allah menjanjikan kehidupan yang baik bagi orang beriman yang beramal saleh. Kehidupan baik di dunia dan pahala besar di akhirat.

Kebahagiaan sejati adalah hidup bersama Allah. Sebagian hamba bahkan merasakan surga sebelum masuk surga, yaitu ketenangan ibadah.

Kenikmatan Ibadah dan Puasa

Seorang hamba membaca Al-Qur’an karena mencintai Allah. Ia merasakan manisnya kalam Allah. Ia hidup dalam shalat, dzikir, doa, puasa, dan tilawah.

Puasa adalah rahasia antara hamba dan Rabbnya. Tidak ada yang tahu kecuali Allah

Saat berbuka, orang beriman bergembira karena:

dapat mengikuti sunnah

menyelesaikan ibadah

mendapat pahala

doanya dikabulkan

Ia beribadah karena cinta, takut, dan harap kepada Allah.

Cinta kepada Allah

Cinta ini adalah cinta yang mampu menundukkan segala kesulitan. Dalam meraihnya orang-orang berlomba, dan kepadanya para hamba mengarahkan amal mereka. Ia adalah kekuatan hati, makanan ruh, penyejuk mata, dan kehidupan sejati. Siapa yang terhalang darinya, maka ia termasuk orang yang mati (secara batn). Ia adalah cahaya, siapa yang kehilangannya, maka ia tenggelam dalam lautan kegelapan.

Kenikmatan agung dalam mencintai Allah inilah yang membuat dzikir kepada-Nya dan kerinduan kepada-Nya terus hidup di dalam hati seorang hamba. Manusia disiksa di dunia dan di akhirat karena berbagai bentuk cinta yang salah: ada yang mencintai berhala, seperti para penyembah berhala; ada yang mencintai salib, seperti kaum Nasrani; ada yang mencintai api, seperti kaum Majusi; ada yang mencintai wanita seperti para pecinta syahwat; atau mencintai pemuda tampan; atau mencintai harta dan dunia serta perdagangan; atau mencintai teman-teman dan kelompok pergaulannya. Karena itu ia tidak merasakan ketenangan ketika sendirian bersama Rabbnya. Jiwanya merasa berat untuk beriktikaf atau berkhalwat, karena ia hanya ingin merasa nyaman bersama manusia.

Adapun orang yang mengenal hakikat penghambaan, ia mencintai kesendirian bersama Allah. Karena itu termasuk di antara tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari kiamat adalah seorang yang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian lalu air matanya mengalir. I’tikaf menjadi sesuatu yang dicintainya karena memutusnya dari berbagai keterikatan dunia dan dari manusia, agar ia bisa fokus beribadah kepada Rabb manusia.

Jika sebagian manusia menjadi gila karena cinta kepada sesama makhluk, rela mengorbankan segala yang mahal demi yang dicintainya, bahkan bisa gila atau bunuh diri jika kekasihnya meninggal, seperti kisah orang yang tergila-gila kepada Laila. Bahkan ada yang mencintai sesuatu yang aneh hanya karena berkaitan dengan orang yang dicintainya. Dikatakan ada seseorang yang mencintai seorang budak wanita berkulit hitam hingga ia berkata:

“Aku mencintai warna hitam karena cintaku kepadanya,

hingga aku mencintai bahkan anjing-anjing hitam.”

Jika cinta kepada makhluk saja bisa seperti itu, bagaimana dengan cinta kepada Allah?

Namun kita tidak mengekspresikan cinta kepada Allah dengan istilah “asmara ilahi” sebagaimana orang-orang yang menyimpang, karena asmara yang berlebihan adalah penyakit dan bentuk kegilaan. Tetapi cinta kepada Allah adalah cinta yang agung. Allah berfirman tentang hamba-hamba-Nya yang beriman:

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ المائدة:54

“Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54)

Inilah hubungan antara Allah dan mereka: Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya. Yang menakjubkan bukanlah bahwa mereka mencintai Allah, karena orang yang membutuhkan tentu mencintai Yang Maha Memberi. Allah telah berbuat baik kepada mereka, maka wajar mereka mencintai-Nya. Yang menakjubkan adalah bahwa Allah Yang Maha Kaya mencintai hamba-hamba yang fakir dan membutuhkan itu.

Inilah kedudukan agung: cinta kepada Allah. Karena itu kita perlu mengetahui bagaimana meraihnya dan apa saja yang dicintai Allah.

Orang yang mencintai Rabbnya siap menyerahkan dirinya kepada Allah. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِالتوبة:111

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan surga sebagai balasannya…” (At-Taubah: 111)

Siapa pembelinya? Allah.

Siapa penjualnya? Orang beriman.

Apa barangnya? Diri mereka.

Apa harganya? Surga.

Siapa perantaranya? Jibril, pemimpin para malaikat, dan Muhammad ﷺ, pemimpin manusia.

Betapa mulia dan agungnya perjanjian ini.

Dalam hati seorang hamba, bersama cinta kepada Allah juga ada rasa takut kepada-Nya. Maka ia hidup dalam keajaiban, antara rasa takut dan harap kepada Rabbnya.

{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقࣱّۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَیَوٰةُ ٱلدُّنۡیَا وَلَا یَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ }

[سُورَةُ فَاطِرٍ: ٥]

“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar. Maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian, dan jangan pula penipu (setan) memperdayakan kalian tentang Allah.” (QS. Fathir: 5)

Karena itu, wahai saudara-saudaraku, seseorang merasa iba terhadap para korban yang malang ini, yang dirampok oleh “pencuri-pencuri Ramadan” lalu disesatkan. Mereka disibukkan dengan persaingan komedi dan drama dalam serial Ramadan, itulah yang menjadi pembicaraan manusia, memenuhi halaman-halaman koran, iklan, dan berbagai perbincangan. Tetapi semua itu tentang apa?

Apakah ini bentuk penghambaan kepada Allah bagi orang yang tidur sepanjang siang, menghindari pekerjaan, sibuk jual beli, keluar ke sana kemari, meninggalkan tugas yang diamanahkan kepadanya? Dengan suasana santai yang mereka sebut “Ramadan Karim”, mereka menghalalkan sebagian hal yang dilarang dan melalaikan kewajiban. Pada malam hari ada diskon dan potongan harga, hiruk pikuk pasar, tontonan serial, permainan kartu, dan kumpulan teman yang berkumpul tanpa tujuan jelas. Waktu terbuang di malam hari, waktu terbuang pula di siang hari.

{ وَٱللَّهُ یُرِیدُ أَن یَتُوبَ عَلَیۡكُمۡ وَیُرِیدُ ٱلَّذِینَ یَتَّبِعُونَ ٱلشَّهَوَ ٰ⁠تِ أَن تَمِیلُوا۟ مَیۡلًا عَظِیمࣰا }

[سُورَةُ النِّسَاءِ: ٢٧]

“Dan Allah hendak menerima tobat kalian, sedangkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu ingin agar kalian menyimpang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 27)

Lalu di mana rasa penghambaan yang dirasakan orang malang ini? Dalam lingkungan dan suasana seperti apa ia hidup? Memang manusia butuh hiburan, tetapi yang dibolehkan, bersama keluarga dan anak-anak, serta memanfaatkan kesempatan untuk mendidik mereka. Mengingatkan mereka tentang akhlak mendahulukan orang lain, sebagaimana seorang sahabat yang rela menahan lapar bersama istrinya, menyuruh anak-anak tidur, mematikan lampu, berpura-pura makan, dan menghidangkan makanan untuk tamu Rasulullah ﷺ padahal itu satu-satunya yang mereka miliki.

Ia juga mengingat orang-orang fakir saat merasakan lapar, lalu berusaha membantu kebutuhan mereka. Ia memikirkan kebutuhan Islam dalam menyebarkan dakwah, karena banyak manusia yang bekerja di berbagai bidang belum mengenal Islam sama sekali. Maka ini adalah kesempatan berdakwah.

Karena itu, kebaikan, kelembutan, dan kasih sayang harus menjadi ciri dakwah kita di bulan ini. Seorang hamba yang merasakan manisnya ibadah akan mencintai kebaikan bagi orang lain, ingin mereka ikut merasakannya. Ia menginginkan kebaikan bagi orang kafir agar masuk Islam, bagi orang fasik agar mendapat hidayah, bagi orang sesat agar kembali, agar mereka merasakan manisnya ibadah sebagaimana yang ia rasakan.

Namun ada pula pemuda-pemuda yang tersesat, sebagian sengaja tidak berpuasa, melakukan maksiat, menjadikan malam Ramadan penuh dosa. Mereka berkeliaran di jalan-jalan dan trotoar, menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau, tertipu oleh kehidupan dunia, bahkan sering hidup tanpa tujuan, hanya menghabiskan waktu mengikuti tren dan mode semata.

Kedudukan Penghambaan

Wahai saudara-saudaraku, penghambaan kepada Allah adalah kedudukan yang sangat tinggi dan mulia. Betapa pun banyaknya amal yang dilakukan seseorang di dalamnya, ia tetap merasa kurang, sehingga terus menambah amalnya. Karena Nabi ﷺ bersabda bahwa seandainya seseorang menyeret wajahnya sejak ia lahir hingga meninggal dalam keadaan tua demi mencari keridaan Allah, niscaya ia tetap menganggap amal itu kecil pada hari kiamat. Maka seorang hamba selalu merasa dirinya masih kurang.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ المؤمنون:60

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan, sedangkan hati mereka takut…” (Al-Mu’minun: 60)

Mereka takut amalnya tidak diterima, padahal ia berpuasa, shalat, bersedekah, mengikuti jenazah, ingin memberi makan orang miskin, bahkan orang kaya melayani kaum fakir di pintu masjid. Maha Suci Allah yang menggerakkan siapa saja dari hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya.

Ketika seorang Muslim merenungkan hakikat penghambaan ini, ia menyadari bahwa harus ada pembersihan sebelum penghiasan. Ia harus mengusir “anjing-anjing syahwat” dari hatinya agar malaikat kebaikan dapat memasukinya, karena malaikat tidak masuk ke rumah yang ada anjing atau gambar. Maka jika seseorang memasukkan syahwat dan syubhat ke dalam hatinya, bagaimana malaikat akan masuk?

Sungguh mengherankan, engkau mengenal Allah tetapi tidak mencintai-Nya. Engkau mengetahui sifat-sifat-Nya tetapi tidak mendekat kepada-Nya. Engkau mendengar panggilan adzan tetapi menunda menjawabnya. Engkau tahu besarnya keuntungan bermuamalah dengan-Nya—satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali—tetapi engkau lebih memilih selain-Nya. Engkau tahu dahsyatnya murka-Nya jika batas-batas-Nya dilanggar, namun engkau tetap mendekatinya. Engkau merasakan kesepian dan kegelisahan dalam maksiat tetapi tidak mencari ketenangan dalam ketaatan. Engkau merasakan sempitnya hati ketika tenggelam dalam pembicaraan selain mengingat-Nya, melihat bagaimana manusia saling mencela dan menyakiti dengan kata-kata, namun engkau tidak merindukan kelapangan hati dengan berdzikir dan bermunajat kepada-Nya. Bahkan ketika merasakan penderitaan dari makhluk, sungguh aneh jika engkau tidak lari kepada-Nya, tidak kembali, tidak bertaubat, dan tidak berserah diri kepada-Nya.

Orang yang mencari Allah dan negeri akhirat tidak akan lurus perjalanannya kecuali jika ia menahan hatinya untuk terus mengejar yang dicintainya (Allah), menahan dirinya dari berpaling kepada selain-Nya, serta menahan anggota tubuhnya dari maksiat dan syahwat. Ia terus berada dalam “pengekangan” itu hingga bertemu Rabbnya, lalu ia keluar menuju keluasan yang sejati.

Surga dikelilingi hal-hal yang berat dan tidak menyenangkan, maka tidak ada jalan menuju surga kecuali dengan menembus kesulitan itu. Sedangkan neraka dikelilingi syahwat, dan tidak ada yang memasukinya kecuali orang yang menuruti hawa nafsu.

Penghambaan itu membuat hati tidak bergantung kepada makhluk dan senantiasa berlindung kepada Rabb.

Hati orang beriman selalu terikat kepada Allah. Jika ia kehilangan suatu nikmat, ia bertanya pada dirinya: dosa apa yang telah aku lakukan? Kelalaian apa yang terjadi? Apa kesalahanku? Lalu ia bertaubat, kembali kepada Allah, memohon ampun, dan berserah diri. Seorang mukmin juga mengetahui bahwa manusia tidak mampu memberi manfaat atau menolak mudarat kecuali dengan izin Allah. Dialah Yang Maha Memberi manfaat dan mudarat.

Karena itu ia berusaha mencari keridaan Allah. Siapa yang mencari keridaan Allah meskipun manusia tidak suka, maka Allah akan mencukupkannya dari urusan manusia. Dan siapa yang mencari keridaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia.

Orang beriman juga bersyukur kepada Allah. Di antara nama Allah adalah Asy-Syakur (Yang Maha Mensyukuri). Allah memberi kepada hamba, memberi taufik kepadanya, dan menghargai amal yang sedikit tanpa meremehkannya. Bayangkan jika engkau diundang berbuka dan disuguhi satu butir kurma, bagaimana perasaanmu? Apakah engkau akan berterima kasih kepada tuan rumah? Maka Allah jika engkau mempersembahkan satu kurma melalui sedekah, Dia menerimanya dan menumbuhkannya di tangan-Nya hingga menjadi sebesar gunung.

Karena itu Nabi ﷺ bersabda:

“Lindungilah diri dari neraka walaupun dengan separuh kurma.”

Satu kurma mungkin tampak kecil, bahkan separuh kurma tampak tidak berarti. Tetapi jika engkau tahu satu kurma bisa menjadi sebesar gunung, mengapa satu gunung tidak bisa melindungimu dari neraka? Lalu bagaimana jika banyak gunung?

Wahai hamba-hamba Allah, termasuk penghambaan adalah memuji Zat yang kita sembah dan banyak mengingat yang kita cintai.

Seorang Arab Badui pernah berkata kepada Nabi ﷺ: “Wahai Rasulullah, pujianku itu indah dan celaanku itu buruk.” Nabi ﷺ menjawab: “Itu hanya milik Allah.” Dialah yang pujian kepada-Nya selalu indah dan celaan terhadap-Nya adalah keburukan.

Allah mencintai pujian dan sanjungan. Bagi kita, itu berupa dzikir:

Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, La haula wa la quwwata illa بالله, Allahu Akbar, Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘azhim.

Ucapan:

“Subhanallah sebanyak makhluk-Nya, sesuai keridaan-Nya, seberat Arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya,” tiga kali setelah Subuh memiliki timbangan yang sangat besar di sisi Allah.

Ucapan “Subhanallah walhamdulillah” memenuhi ruang antara langit dan bumi dan memberatkan timbangan amal. Inilah pujian kepada Allah. Jika penghambaan berarti memperbanyak mengingat dan memuji Zat yang disembah, maka inilah bentuk pujian itu.

Seorang hamba selalu berada dalam empat keadaan, tidak ada yang kelima:

1. Kenikmatan

2. Ujian

3. Ketaatan

4. Kemaksiatan

Jika ia dalam ketaatan, hendaknya ia bersyukur karena diberi taufik dan menambah amalnya.

Jika ia dalam kenikmatan, hendaknya ia bersyukur dan memohon tambahan karunia.

Jika ia dalam kemaksiatan, jalannya adalah taubat dan istighfar.

Jika ia dalam ujian, jalannya adalah ridha dan sabar.

Dengan demikian penghambaan mencakup seluruh aspek: doa, rasa takut, harap, ihsan, tawakal, keinginan dan rasa gentar, kekhusyukan, rasa takut kepada Allah, kembali kepada-Nya, meminta pertolongan, dan memohon perlindungan.

Setelah itu semua bentuk ibadah ditujukan hanya kepada Allah: shalat, zakat, puasa, haji, kurban, dan setiap kebaikan termasuk ibadah, bahkan perhatian seseorang kepada keluarga dan anak-anaknya, karena itu semua perintah Allah.

Intinya, seorang hamba seharusnya hidup bersama Rabbnya.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَنْظُرُ إِلَى وَجْهِكَ ال

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button