Kita Hanya Melihat Sekilas, Bukan Seluruh Kisahnya
Kita Hanya Melihat Sekilas, Bukan Seluruh Kisahnya
☷ Daftar Isi Artikel
Pendahuluan: Kita Melihat Apa yang Tampak, Bukan Semua yang Terjadi
Kita sering melihat seseorang hanya dalam beberapa detik, lalu merasa telah memahami seluruh kehidupannya. Kita mendengar sepenggal cerita, kemudian menyimpulkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita menyaksikan satu kesalahan, lalu seolah-olah kesalahan itulah yang menggambarkan seluruh kepribadiannya.
Padahal, kita hanya melihat sekilas, bukan seluruh kisahnya.
Kita melihat seseorang tersenyum, tetapi tidak mengetahui berapa banyak air mata yang telah ditumpahkannya. Kita melihat seseorang diam, tetapi tidak mengetahui betapa berat persoalan yang sedang dipikirkannya. Kita melihat seseorang berhasil, tetapi tidak menyaksikan kegagalan, pengorbanan, dan perjuangan panjang yang mengantarkannya sampai ke sana.
Kita melihat seseorang melakukan kesalahan, tetapi belum tentu mengetahui bagaimana keadaan yang melatarbelakanginya, apakah ia telah menyesal, atau bagaimana perjuangannya untuk memperbaiki diri.
Ada orang yang terlihat kuat, padahal sedang berjuang agar tidak menyerah. Ada yang tampak berkecukupan, padahal sedang menanggung banyak tanggungan. Ada yang jarang bergaul, bukan karena sombong, melainkan karena sedang menghadapi persoalan yang tidak ingin diceritakannya.
Sayangnya, manusia terkadang lebih cepat memberikan penilaian daripada mencari penjelasan. Lebih mudah menyimpulkan daripada memahami. Lebih senang membicarakan kekurangan orang lain daripada menyadari keterbatasan pengetahuannya sendiri.
Islam mengajarkan sesuatu yang sangat berharga: jangan menjadikan sedikit yang kita ketahui sebagai dasar untuk menghakimi seluruh kehidupan seseorang.
1. Allah Melarang Kita Mengikuti Sesuatu Tanpa Ilmu
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh berbicara, menuduh, atau mengambil kesimpulan tanpa dasar pengetahuan yang benar.
Apa yang kita lihat belum tentu menggambarkan keseluruhan kenyataan. Apa yang kita dengar belum tentu merupakan cerita yang lengkap. Bahkan, apa yang disampaikan seseorang kepada kita mungkin hanya berasal dari satu sudut pandang.
Seseorang mungkin menceritakan bagaimana dirinya disakiti, tetapi tidak menyampaikan peristiwa yang mendahuluinya. Seseorang mungkin memperlihatkan kesuksesannya, tetapi tidak menceritakan kesulitan yang harus dilaluinya.
Karena itu, tidak semua informasi yang sampai kepada kita boleh langsung dijadikan dasar penilaian.
Mata kita memiliki batas pandangan, telinga kita memiliki batas pendengaran, dan akal kita memiliki batas pengetahuan.
Semakin seseorang menyadari keterbatasan tersebut, semakin berhati-hati pula ia dalam memberikan penilaian.
2. Jangan Menghakimi Seseorang Hanya dari Satu Kesalahan
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
Artinya: “Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka merupakan perkataan yang paling dusta.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Betapa banyak hubungan persaudaraan yang rusak hanya karena prasangka. Betapa banyak orang yang kehilangan kehormatan karena cerita yang belum jelas kebenarannya.
Seseorang terlambat menghadiri undangan, lalu dianggap tidak menghargai orang lain. Padahal, mungkin ia sedang menghadapi keadaan darurat.
Seseorang tidak membalas pesan, lalu dianggap sombong. Padahal, mungkin ia sedang sakit, memiliki kesibukan, atau mengalami kesulitan yang tidak kita ketahui.
Seseorang pernah terjatuh dalam dosa, lalu sepanjang hidupnya terus dipandang sebagai orang yang buruk. Padahal, mungkin ia telah bertobat dengan sungguh-sungguh dan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Tentu saja, perbuatan yang salah tetap harus dinilai salah berdasarkan ketentuan syariat. Namun, menilai suatu perbuatan berbeda dengan merasa mengetahui seluruh keadaan, niat, dan akhir kehidupan pelakunya.
Satu kesalahan tidak selalu menggambarkan seluruh perjalanan hidup seseorang. Demikian pula, satu kebaikan tidak otomatis membuktikan kesempurnaan dirinya.
Kita perlu bersikap adil, bahkan ketika sedang menilai orang yang tidak kita sukai.
3. Kisah Nabi Musa dan Khidir: Tidak Semua yang Terlihat Telah Kita Pahami
Salah satu pelajaran penting tentang keterbatasan pengetahuan manusia terdapat dalam kisah Nabi Musa ‘alaihissalam bersama Khidir yang disebutkan dalam Surah Al-Kahfi.
Allah mengisahkan perkataan Khidir kepada Nabi Musa:
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
Artinya: “Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. Al-Kahfi: 68)
Dalam perjalanan tersebut, Nabi Musa menyaksikan sejumlah tindakan Khidir yang pada awalnya tidak beliau pahami.
Salah satunya ketika Khidir melubangi sebuah perahu. Secara lahiriah, tindakan tersebut terlihat merusak harta milik orang lain. Nabi Musa pun mempertanyakannya.
Namun, setelah tiba waktunya, Khidir menjelaskan alasan tindakannya.
Allah berfirman:
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا
Artinya: “Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu.” (QS. Al-Kahfi: 79)
Ternyata, tindakan yang semula tampak merugikan itu memiliki alasan yang belum diketahui Nabi Musa.
Kisah ini mengandung pelajaran tentang pentingnya menyadari keterbatasan pengetahuan manusia. Namun, perlu dipahami bahwa Khidir bertindak berdasarkan pengetahuan khusus dari Allah, sebagaimana dijelaskan dalam kisah tersebut. Perbuatannya tidak boleh dijadikan pembenaran bagi manusia biasa untuk melakukan tindakan yang dilarang syariat dengan alasan memiliki hikmah tersembunyi.
Pelajaran yang dapat kita ambil adalah bahwa tidak semua yang tampak di hadapan mata telah kita ketahui sebab, keadaan, dan hakikatnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering hanya menyaksikan sebagian kecil dari suatu peristiwa. Oleh karena itu, jangan tergesa-gesa membuat kesimpulan ketika informasi yang dimiliki belum memadai.
4. Kita Tidak Mengetahui Seluruh Isi Hati Manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada niat, dan setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan niat dalam penilaian amal di sisi Allah.
Dua orang mungkin melakukan perbuatan yang secara lahiriah sama, tetapi memiliki niat yang berbeda.
Ada yang memberi bantuan karena mengharapkan keridaan Allah. Ada pula yang memberi bantuan karena menginginkan pujian manusia.
Sebaliknya, ada seseorang yang belum mampu memberikan bantuan, bukan karena tidak peduli, melainkan karena ia sendiri sedang menghadapi kesulitan.
Kita boleh menilai sesuatu berdasarkan bukti yang nyata dan ketentuan syariat. Akan tetapi, kita tidak boleh dengan mudah memastikan niat tersembunyi seseorang tanpa dasar yang sah.
Allah Ta’ala berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
Artinya: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Ayat ini mengingatkan agar manusia tidak merasa dirinya paling baik, paling benar, atau paling suci.
Mungkin orang yang kita anggap biasa saja memiliki amal rahasia yang besar nilainya di sisi Allah. Mungkin orang yang kita pandang rendah memiliki ketulusan hati yang tidak kita ketahui.
Karena itu, jangan menjadikan kelebihan yang kita miliki sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Kita mengetahui sebagian penampilan dan perbuatan manusia, sedangkan Allah mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati mereka.
5. Jangan Meremehkan Orang Lain, Sebab Bisa Jadi Mereka Lebih Baik
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini mengandung peringatan yang sangat mendalam.
Orang yang diremehkan karena pekerjaannya mungkin lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang memiliki jabatan tinggi.
Orang yang dipandang sederhana karena pakaiannya mungkin lebih bertakwa daripada orang yang mengenakan pakaian mahal.
Orang yang tidak memiliki gelar akademik mungkin memiliki keikhlasan, kesabaran, dan amal saleh yang lebih besar daripada seseorang yang memiliki banyak gelar.
Demikian pula, orang yang pernah melakukan kesalahan mungkin telah bertobat dan memperbaiki diri, sedangkan orang yang mencelanya justru sedang terjerumus dalam kesombongan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap melakukan keburukan apabila ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)
Betapa beratnya peringatan ini. Merendahkan orang lain bukanlah persoalan kecil.
Kita tidak mengetahui berapa banyak salat malam yang dikerjakan seseorang. Kita tidak mengetahui berapa banyak sedekah yang disembunyikannya. Kita tidak mengetahui berapa sering ia menangis dalam doa dan memohon ampun kepada Allah.
Maka, mengapa kita begitu mudah merasa lebih baik daripada dirinya?
6. Setiap Orang Memiliki Ujian yang Tidak Selalu Terlihat
Allah Ta’ala berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
Artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Kehidupan manusia tidak terlepas dari kesulitan dan ujian.
Ada yang diuji dengan kemiskinan. Ada yang diuji dengan kekayaan. Ada yang diuji dengan penyakit. Ada yang diuji dengan kehilangan orang tercinta. Ada pula yang diuji dengan persoalan keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan tanggung jawab yang berat.
Tidak semua ujian tersebut terlihat oleh orang lain.
Kita mungkin melihat seseorang memiliki rumah yang bagus, tetapi tidak mengetahui kegelisahan yang dirasakannya.
Kita mungkin melihat seseorang memiliki pekerjaan yang baik, tetapi tidak mengetahui tekanan yang harus dihadapinya setiap hari.
Kita mungkin melihat keluarga yang tampak harmonis, tetapi tidak mengetahui perjuangan mereka menjaga rumah tangganya.
Bahkan, seseorang yang terlihat selalu ceria mungkin sedang menyimpan kesedihan yang tidak sanggup ia ceritakan.
Karena itu, jangan menganggap kehidupan orang lain selalu mudah hanya karena yang terlihat di hadapan kita adalah bagian-bagian yang menyenangkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesulitan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)
Hadis ini mengajarkan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak hanya dinilai dari keadaan lahiriahnya, tetapi juga dari bagaimana ia menyikapi nikmat dan ujian dengan keimanan.
Maka, ketika melihat orang lain, jangan hanya bertanya tentang apa yang telah dimilikinya. Ingatlah bahwa mungkin ada perjuangan panjang yang tidak pernah ia ceritakan.
7. Jangan Menyebarkan Cerita Sebelum Memastikan Kebenarannya
Di zaman media sosial, seseorang dapat menjadi sasaran penilaian hanya karena potongan video beberapa detik, tangkapan layar percakapan, atau cerita yang tersebar tanpa penjelasan lengkap.
Sebuah video mungkin memperlihatkan seseorang sedang marah, tetapi tidak memperlihatkan kejadian yang menyebabkan kemarahannya.
Sebuah foto mungkin menampilkan keadaan tertentu, tetapi tidak menjelaskan waktu dan konteks pengambilannya.
Sebuah cerita mungkin disebarkan oleh satu pihak, sedangkan penjelasan pihak lain belum pernah didengar.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim)
Kedua dalil ini sangat relevan dengan kebiasaan menyebarkan informasi tanpa pemeriksaan.
Tidak semua yang kita dengar layak diceritakan kembali. Tidak semua yang kita lihat layak disebarkan. Tidak semua informasi yang menarik perhatian merupakan informasi yang benar.
Sebelum memberikan komentar atau menyebarkan suatu berita, hendaknya kita mempertimbangkan kebenaran informasi, kelengkapan konteks, dan dampaknya terhadap orang lain.
Sebab, satu komentar yang ditulis tanpa berpikir panjang bisa merusak nama baik seseorang. Satu tuduhan yang tidak terbukti bisa melukai sebuah keluarga. Satu berita yang disebarkan tanpa pemeriksaan bisa menimbulkan permusuhan yang berkepanjangan.
Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang yang menambah penderitaan seseorang hanya karena tidak mengetahui seluruh kisahnya.
8. Belajarlah Memahami Sebelum Menyalahkan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Artinya: “Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)
Ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga kebaikan dalam ucapan dan interaksi sosial.
Ketika seseorang melakukan kesalahan, kita dapat menasihatinya tanpa harus mempermalukannya.
Ketika seseorang berbeda pendapat, kita dapat menyampaikan argumentasi tanpa harus merendahkan pribadinya.
Ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan, kita dapat membantu atau mendoakannya tanpa perlu memaksanya menceritakan seluruh persoalan pribadinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Tidak setiap keadaan menuntut komentar. Tidak setiap kesalahan seseorang harus menjadi bahan pembicaraan. Tidak setiap persoalan harus kita campuri.
Terkadang, menjaga lisan jauh lebih bermanfaat daripada memenangkan perdebatan.
Terkadang, mendengarkan dengan sabar lebih dibutuhkan daripada memberikan nasihat panjang.
Dan terkadang, sikap terbaik adalah mengakui bahwa kita belum mengetahui persoalannya secara lengkap.
Namun, berusaha memahami bukan berarti membenarkan segala kesalahan. Islam tetap memerintahkan keadilan, amar makruf nahi mungkar, perlindungan terhadap pihak yang dizalimi, dan penegakan hak berdasarkan bukti.
Kita tidak boleh menggunakan alasan “belum mengetahui seluruh kisahnya” untuk mengabaikan kezaliman yang sudah jelas atau membungkam orang yang membutuhkan pertolongan.
Yang diajarkan Islam adalah menggabungkan ketegasan terhadap kesalahan, keadilan dalam penilaian, dan kasih sayang terhadap sesama manusia.
9. Tutupilah Aib yang Tidak Perlu Disebarluaskan
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Artinya: “Barang siapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim, no. 2699)
Betapa indahnya ajaran Islam dalam menjaga kehormatan manusia.
Ketika mengetahui kekurangan seseorang, kita tidak diperintahkan untuk menjadikannya bahan hiburan atau menyebarkannya kepada banyak orang.
Menutupi aib dalam konteks yang dibenarkan syariat merupakan bagian dari akhlak mulia. Akan tetapi, menutupi aib tidak berarti menyembunyikan kejahatan yang membahayakan orang lain, menghalangi korban memperoleh haknya, atau membiarkan kezaliman terus berlangsung.
Seseorang yang melakukan kesalahan dan ingin memperbaiki diri perlu mendapatkan kesempatan untuk bertobat dan berubah.
Jangan sampai kesalahan masa lalu seseorang terus-menerus diungkit sehingga ia merasa tidak memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Kita sendiri tentu tidak ingin seluruh kesalahan, kekurangan, dan masa lalu kita dipertontonkan kepada semua orang.
Maka, perlakukanlah orang lain dengan kehati-hatian dan kasih sayang sebagaimana kita berharap diperlakukan.
10. Jangan Membandingkan Kehidupan Kita dengan Potongan Kehidupan Orang Lain
Ada satu bentuk kekeliruan yang semakin sering terjadi, yaitu membandingkan seluruh kehidupan pribadi dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain yang terlihat di media sosial.
Kita menyaksikan seseorang bepergian ke berbagai tempat, lalu merasa hidupnya lebih bahagia.
Kita melihat seseorang membeli rumah atau kendaraan, lalu merasa kehidupan kita tertinggal jauh.
Kita melihat seseorang memperoleh pekerjaan, menikah, atau meraih gelar akademik, lalu merasa diri sendiri gagal.
Padahal, yang kita saksikan mungkin hanya sebagian kecil dari perjalanan panjang mereka.
Kita tidak mengetahui secara menyeluruh bagaimana perjuangan mereka, tanggung jawab yang harus ditunaikan, ataupun ujian yang sedang dihadapi.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa’: 32)
Ayat ini mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam keinginan terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain dengan cara yang tercela.
Setiap manusia memiliki bagian rezeki, kesempatan, tanggung jawab, dan ujian yang berbeda.
Apa yang tampak sebagai kemewahan belum tentu membawa ketenangan. Apa yang tampak sebagai kesederhanaan belum tentu merupakan kekurangan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Artinya: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian.” (HR. Muslim, no. 2963)
Hadis ini mengajarkan pentingnya mensyukuri nikmat Allah, terutama dalam urusan duniawi, tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang yang memiliki kelebihan materi.
Jangan mengukur kebahagiaan diri dari apa yang ditampilkan orang lain.
Bersyukurlah atas nikmat yang telah Allah berikan, berusahalah memperbaiki keadaan dengan cara yang halal, dan jangan membiarkan perbandingan sosial merampas ketenangan hati.
11. Jadilah Orang yang Lebih Banyak Berempati daripada Menghakimi
Mungkin kita tidak akan pernah mengetahui seluruh kesulitan yang dialami seseorang. Kita juga tidak harus mengetahui setiap persoalan pribadinya.
Namun, kita tetap bisa memperlakukannya dengan baik.
Jika seseorang sedang bersedih, kita dapat menghiburnya.
Jika seseorang sedang menghadapi kesulitan, kita dapat membantunya sesuai kemampuan.
Jika seseorang melakukan kesalahan, kita dapat menasihatinya dengan cara yang benar.
Jika seseorang sedang berusaha memperbaiki diri, kita dapat memberikan dorongan agar ia terus berada di jalan kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Artinya: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim, no. 2699)
Alangkah indahnya jika manusia lebih sibuk memberikan pertolongan daripada mencari kekurangan orang lain.
Lebih senang mendoakan daripada mencela.
Lebih berhati-hati dalam memberikan penilaian daripada terburu-buru menyalahkan.
Dan lebih banyak mengingat kekurangan diri sendiri daripada mengungkit kesalahan orang lain.
Kehidupan sudah memiliki ujian yang berat bagi banyak orang. Jangan sampai ucapan dan tindakan kita justru menjadi ujian tambahan bagi mereka.
Penutup: Jangan Menghakimi Seluruh Buku dari Satu Halamannya
Setiap manusia memiliki kisah yang panjang.
Ada bab kehidupan yang dipenuhi kebahagiaan. Ada bab yang penuh kesedihan. Ada masa ketika seseorang berhasil, dan ada masa ketika ia mengalami kegagalan. Ada masa ketika ia melakukan kesalahan, dan ada masa ketika ia berusaha memperbaikinya.
Kita mungkin hanya hadir dalam satu halaman kehidupannya.
Kita mungkin hanya melihat satu kejadian, mendengar satu cerita, atau menyaksikan satu keadaan.
Lantas, mengapa kita merasa berhak menyimpulkan seluruh isi kehidupannya?
Seseorang yang hari ini tampak lemah mungkin sedang mengumpulkan kekuatan untuk bangkit. Seseorang yang hari ini terlihat gagal mungkin sedang menjalani proses menuju keberhasilan. Seseorang yang hari ini melakukan kesalahan mungkin kelak menjadi hamba yang sungguh-sungguh bertobat.
Dan orang yang hari ini terlihat baik pun tetap membutuhkan pertolongan Allah agar dapat istiqamah sampai akhir kehidupannya.
Karena itu, jangan terlalu cepat memuji diri sendiri. Jangan terlalu mudah merendahkan orang lain. Jangan merasa mengetahui segala sesuatu hanya karena telah menyaksikan sedikit bagiannya.
Kita hanya melihat sekilas, bukan seluruh kisahnya.
Kita melihat senyumnya, tetapi mungkin tidak mengetahui tangisnya.
Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak mengetahui seluruh perjuangannya.
Kita melihat kesalahannya, tetapi tidak mengetahui penyesalannya.
Kita melihat keadaannya hari ini, tetapi tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupannya.
Maka, sebelum menilai, carilah kebenaran. Sebelum berbicara, pertimbangkan akibatnya. Sebelum mencela, ingatlah kekurangan diri sendiri. Dan sebelum merasa lebih baik, ingatlah bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak semata-mata ditentukan oleh penampilan lahiriahnya.
Jangan menghakimi seluruh buku kehidupan seseorang hanya karena kita membaca satu halamannya.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحَسَدِ وَالْكِبْرِ وَسُوءِ الظَّنِّ، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْبُهْتَانِ، وَارْزُقْنَا الْعَدْلَ وَالْإِنْصَافَ وَحُسْنَ الْخُلُقِ، وَاجْعَلْنَا رُحَمَاءَ بِعِبَادِكَ، سَتَّارِينَ لِعُيُوبِهِمْ فِيمَا يُرْضِيكَ، نَاصِحِينَ لَهُمْ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ، وَأَصْلِحْ قُلُوبَنَا وَأَعْمَالَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ. آمِينَ.
Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kedengkian, kesombongan, dan prasangka buruk. Jagalah lisan kami dari gibah, adu domba, dan tuduhan dusta. Karuniakanlah kepada kami sikap adil, bijaksana, dan akhlak yang mulia. Jadikanlah kami hamba-hamba yang menyayangi sesama, menjaga kehormatan mereka dengan cara yang Engkau ridai, serta menasihati dengan hikmah dan kelembutan. Perbaikilah hati dan amal kami, serta ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin. Amin.
Referensi Utama
Al-Qur’an: QS. Al-Baqarah: 83; An-Nisa’: 32; Al-Isra’: 36; Al-Kahfi: 68 dan 79; Al-Hujurat: 6, 11, dan 12; An-Najm: 32; Al-Balad: 4.
Hadis: Shahih Al-Bukhari (Kitab Bad’ Al-Wahy, Kitab Al-Adab); Shahih Muslim (Muqaddimah, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du’a, Kitab Az-Zuhd).
Rujukan tafsir: Tafsir Ibnu Katsir, khususnya penafsiran Surah Al-Kahfi dan Al-Hujurat.
Wallāhu a’lam bish-shawāb.