Tatsqif

Pokok-Pokok Pembahasan tentang Muharam dan Asyura

Pokok-Pokok Pembahasan tentang Muharam dan Asyura

Seri Pokok-Pokok Hukum Syariat dari Kitab Al-Hauliyyat

Hukum-hukum yang paling sering ditanyakan masyarakat dan berulang pada bulan-bulan Hijriah, disajikan dalam tanya jawab ringkas.

Dihimpun dan disusun oleh Prof. Dr. Faishal bin Abdurrahman bin Sa‘d asy-Syaddi, profesor fikih dan siyasah syar‘iyyah di Universitas Pangeran Sattam bin Abdulaziz. Semoga Allah mengampuni beliau, kedua orang tuanya, dan kaum muslimin.

Sumber: Al-Hauliyyat — Pokok-Pokok Pembahasan tentang Bulan Muharam dan Asyura. Terjemahan mengikuti berkas HTML yang diberikan. Angka rujukan dipertahankan sesuai urutan naskah sumber; belum diverifikasi ke kitab aslinya. Harakat pada kutipan ditambahkan untuk membantu pembacaan dan belum diverifikasi ke sumber luar.

☷ Daftar Isi Artikel

Tanya Jawab Seputar Muharam dan Asyura

Apakah berpuasa sepanjang bulan Muharam termasuk sunah?

Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«… وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ، صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ»

“… Dan puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharam.” (HR. Muslim, no. 1163)

Terjemahan sendiri; redaksi resmi dan lafaz hadis belum diverifikasi ke sumber luar.

[1]

Hadis ini menjadi dalil bahwa berpuasa sepanjang bulan Muharam merupakan sunah. Demikian pula fatwa Syekh Ibnu Baz[2] dan Syekh Ibnu Utsaimin[3].

Catatan kaki dan referensi
  1. HR. Muslim, no. 1163. ↩
  2. Lihat: Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Ibnu Baz, 460/16. ↩
  3. Lihat: Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Ibnu Utsaimin, 2/11. ↩

Hari apakah yang paling utama untuk berpuasa pada bulan Muharam, dan apa keutamaannya?

Puasa yang paling utama pada bulan Muharam adalah puasa Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam. Hukumnya sunah yang sangat dianjurkan (sunah muakadah). Demikian fatwa Al-Lajnah ad-Da’imah lil-Ifta’ (Komite Tetap Fatwa).[1]

Mengenai keutamaannya, dalam Shahih al-Bukhari, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

«مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ؛ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَهَذَا الشَّهْرَ. يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ»

“Aku tidak pernah melihat Nabi ﷺ begitu bersungguh-sungguh memilih puasa pada suatu hari yang beliau utamakan atas hari-hari lainnya, kecuali hari ini, yaitu hari Asyura, dan bulan ini, yakni bulan Ramadan.” (HR. al-Bukhari, no. 2006, dan Muslim, no. 1132)

Terjemahan sendiri; redaksi resmi dan lafaz hadis belum diverifikasi ke sumber luar.

[2]

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

«صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ»

“Puasa pada hari Asyura, aku mengharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim, no. 1162)

Terjemahan sendiri; redaksi resmi dan lafaz hadis belum diverifikasi ke sumber luar.

[3]

Syekh Ibnu Baz berkata:

«إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ يُكَفِّرُ الصَّغَائِرَ»

“Apabila ia menjauhi dosa-dosa besar, puasa tersebut menghapus dosa-dosa kecil.” (Majmu‘ Fatawa Ibni Baz, 221/25).

[4]
Catatan kaki dan referensi
  1. Lihat: Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, kumpulan kedua, 310/9. ↩
  2. HR. al-Bukhari, no. 2006, dan Muslim, no. 1132. ↩
  3. HR. Muslim, no. 1162. ↩
  4. Dalilnya: dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

    «الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ»

    “Salat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya merupakan penghapus dosa di antara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim, no. 233)

    Terjemahan sendiri; redaksi resmi dan lafaz hadis belum diverifikasi ke sumber luar.

    Lihat: Majmu‘ Fatawa Ibni Baz, 221/25. ↩

Apakah disyariatkan berpuasa satu hari lagi bersama tanggal 10 Muharam?

Yang lebih utama ialah berpuasa pada tanggal 9 bersama tanggal 10 Muharam. Dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ، لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ»

“Jika aku masih hidup hingga tahun mendatang, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, no. 1134)

Terjemahan sendiri; redaksi resmi dan lafaz hadis belum diverifikasi ke sumber luar.

[1]

Apabila tidak memungkinkan baginya berpuasa pada tanggal 9 bersama tanggal 10, ia berpuasa pada tanggal 11 bersamanya. Demikian fatwa Syekh Ibnu Baz[2] dan Syekh Ibnu Utsaimin[3].

Catatan kaki dan referensi
  1. HR. Muslim, no. 1134. ↩
  2. Lihat: Majmu‘ Fatawa Ibni Baz, 404/15. Dalilnya: dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

    «صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا»

    “Berpuasalah pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi pada hari itu. Berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR. Ahmad, no. 2154; al-Baihaqi, no. 8406; dan Ibnu Khuzaimah, no. 2095)

    Terjemahan sendiri; redaksi resmi dan lafaz hadis belum diverifikasi ke sumber luar.

    Riwayat ini dinilai lemah oleh al-Albani dalam Shahih Ibni Khuzaimah. Dalam riwayat lain disebutkan:

    «صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا وَبَعْدَهُ يَوْمًا»

    “Berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.” (Diriwayatkan al-Baihaqi, no. 8406; dan as-Suyuthi dalam al-Jami‘, no. 7946)

    Terjemahan sendiri; redaksi resmi dan lafaz hadis belum diverifikasi ke sumber luar.

    Riwayat tersebut dinilai lemah oleh al-Albani dalam Dha‘if al-Jami‘. ↩
  3. Lihat: Majmu‘ Fatawa wa Rasa’il Ibni Utsaimin, 34/20. ↩

Bolehkah berpuasa hanya pada hari Asyura?

Boleh berpuasa hanya pada hari Asyura. Demikian fatwa Al-Lajnah ad-Da’imah lil-Ifta’.[1]

Catatan kaki dan referensi
  1. Lihat: Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, kumpulan pertama, 401/10. Hal ini berdasarkan keumuman dalil yang telah disebutkan, yaitu ketika Nabi ﷺ ditanya tentang puasa Asyura, beliau bersabda:

    «أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ»

    “Aku mengharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim, no. 1162, sebagaimana rujukan pada pertanyaan kedua)

    Terjemahan sendiri; redaksi resmi dan lafaz hadis belum diverifikasi ke sumber luar.

    Beliau tidak menyebutkan hari kesembilan. Lihat: Liqa’at al-Bab al-Maftuh, Ibnu Utsaimin, 13/95. ↩

Jika Asyura bertepatan dengan hari Jumat, bolehkah berpuasa hanya pada hari tersebut?

Apabila hari Asyura bertepatan dengan hari Jumat, boleh berpuasa hanya pada hari tersebut. Demikian fatwa Al-Lajnah ad-Da’imah lil-Ifta’.[1]

Catatan kaki dan referensi
  1. Lihat: Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, kumpulan kedua, 306/9. Syekh Ibnu Baz berkata:

    «لِأَنَّهُ صَامَهُ لِأَنَّهُ يَوْمُ عَاشُورَاءَ لَا لِأَنَّهُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، وَلِهَذَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: لَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ وَلَا لَيْلَتَهَا بِقِيَامٍ، فَنَصَّ عَلَى التَّخْصِيصِ، أَيْ عَلَى أَنْ يَفْعَلَ الْإِنْسَانُ ذَلِكَ لِخُصُوصِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَتِهَا»

    “Sebab ia berpuasa karena hari itu merupakan hari Asyura, bukan karena hari Jumat. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda, ‘Janganlah kalian mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa dan malamnya untuk salat malam.’ Beliau menegaskan larangan pengkhususan, yakni seseorang melakukan hal tersebut karena kekhususan hari Jumat atau malamnya.” (Majmu‘ Fatawa Ibni Baz, 414/15–415).

    Kutipan hadis di dalam perkataan ulama diterjemahkan sendiri; lafaz dan sumber riwayat belum diverifikasi. ↩

Jika berpuasa Asyura dengan niat mengqada puasa, apakah sah sebagai qada dan mendapat keutamaan Asyura?

Ya. Jika ia berpuasa pada hari Asyura, puasa tersebut sah sebagai qada. Akan tetapi, bersamaan dengan itu ia tidak mendapatkan keutamaan puasa Asyura karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Demikian fatwa Al-Lajnah ad-Da’imah lil-Ifta’.[1]

Catatan kaki dan referensi
  1. Lihat: Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, kumpulan pertama, 402/10, juga halaman 383 dan 397. Komite tersebut memberikan jawaban ini mengenai puasa Arafah, dan puasa Asyura berlaku serupa dengannya. ↩

Apa yang dijadikan dasar untuk menentukan tanggal 10 Muharam?

Syekh Ibnu Baz berkata:

«عَلَيْكَ بِاعْتِمَادِ الرُّؤْيَةِ، وَعِنْدَ عَدَمِ ثُبُوتِ الرُّؤْيَةِ تَعْمَلُ بِالِاحْتِيَاطِ، وَذَلِكَ بِإِكْمَالِ ذِي الْحِجَّةِ ثَلَاثِينَ يَوْمًا»

“Hendaklah engkau berpegang pada rukyat. Apabila rukyat tidak terbukti, ambillah langkah kehati-hatian dengan menyempurnakan bulan Zulhijah menjadi tiga puluh hari.” (Majmu‘ Fatawa Ibni Baz, 403/15).

[1]

Demikian pula fatwa Syekh Ibnu Utsaimin.[2]

Catatan kaki dan referensi
  1. Majmu‘ Fatawa Ibni Baz, 403/15. ↩
  2. Syekh Ibnu Utsaimin berkata:

    «إِذَا لَمْ يَثْبُتْ دُخُولُهُ، أَعْنِي شَهْرَ مُحَرَّمٍ لَيْلَةَ الثَّلَاثِينَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، فَإِنَّهُ يُكْمِلُ شَهْرَ ذِي الْحِجَّةِ ثَلَاثِينَ وَيَبْنِي عَلَيْهِ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ فِي رَمَضَانَ: فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ، وَهَذَا مِثْلُهُ؛ لِأَنَّ الْأَصْلَ بَقَاءُ الشَّهْرِ حَتَّى يَثْبُتَ خُرُوجُهُ بِرُؤْيَةِ هِلَالِ مَا بَعْدَهُ أَوْ إِكْمَالِهِ ثَلَاثِينَ»

    “Apabila masuknya bulan itu—yang saya maksud ialah bulan Muharam—tidak terbukti pada malam ketiga puluh Zulhijah, hendaklah ia menyempurnakan bulan Zulhijah menjadi tiga puluh hari dan menjadikannya sebagai dasar perhitungan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ mengenai Ramadan, ‘Apabila hilal tertutup bagi kalian, sempurnakanlah bilangannya menjadi tiga puluh.’ Keadaan ini serupa dengannya, sebab hukum asalnya adalah bulan tersebut tetap berlangsung hingga terbukti telah berakhir dengan terlihatnya hilal bulan berikutnya atau dengan menyempurnakannya menjadi tiga puluh hari.” (Majmu‘ Fatawa wa Rasa’il Ibni Utsaimin, 35/20).

    Kutipan hadis di dalam perkataan ulama diterjemahkan sendiri; lafaz dan sumber riwayat belum diverifikasi. ↩

Apakah orang yang tidak berpuasa Asyura karena uzur disyariatkan mengqadanya?

Orang yang tidak berpuasa Asyura karena uzur tidak mengqadanya. Sebab, puasa ini dikhususkan pada hari tertentu. Siapa yang mendapatinya, ia berpuasa; siapa yang tidak mendapatinya, tidak ada kewajiban apa pun atasnya. Diharapkan ia memperoleh pahala atas niatnya. Demikian fatwa Syekh Ibnu Utsaimin.[1]

Catatan kaki dan referensi
  1. Lihat: Liqa’at al-Bab al-Maftuh, Ibnu Utsaimin, 15/125. ↩

Apakah niat puasa sunah, seperti puasa Arafah atau Asyura, harus ditetapkan sejak malam?

Syekh Shalih al-Fauzan ditanya, “Dalam puasa sunah, seperti puasa hari Arafah atau hari Asyura, apakah niat harus ditetapkan sejak malam, atau boleh tanpa menetapkannya sejak malam?”

Beliau menjawab:

«كُلُّ صَوْمِ النَّفْلِ مَا يَلْزَمُ تَبْيِيتُ النِّيَّةِ مِنَ اللَّيْلِ، فَلَوْ أَصْبَحَ وَهُوَ لَمْ يَأْكُلْ وَلَمْ يَشْرَبْ ثُمَّ نَوَى الصِّيَامَ فِي النَّهَارِ جَازَ هَذَا فِي النَّافِلَةِ»

“Seluruh puasa sunah tidak mengharuskan penetapan niat sejak malam. Apabila seseorang memasuki pagi hari tanpa makan dan minum, kemudian ia berniat puasa pada siang hari, hal ini diperbolehkan dalam puasa sunah.” (Fatawa ad-Durus al-‘Ilmiyyah, Syekh Shalih al-Fauzan; tautan pada catatan kaki).

[1]
Catatan kaki dan referensi
  1. Lihat: Fatawa ad-Durus al-‘Ilmiyyah, Syekh Shalih al-Fauzan, cuplikan YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=yI5CdK9USG0. Dalilnya ialah keumuman hadis Aisyah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, yang berkata:

    «دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، فَقَالَ: هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟ فَقُلْنَا: لَا. قَالَ: فَإِنِّي إِذًا صَائِمٌ»

    “Pada suatu hari Nabi ﷺ masuk menemuiku, lalu bertanya, ‘Apakah kalian memiliki sesuatu?’ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Kalau begitu, aku berpuasa.’” (HR. Muslim, no. 1154)

    Terjemahan sendiri; redaksi resmi dan lafaz hadis belum diverifikasi ke sumber luar.

    ↩

Apakah ada bentuk perkabungan atau kegembiraan pada hari Asyura yang disyariatkan?

Berbagai bentuk kesedihan atau perkabungan, kegembiraan dan perayaan pada hari Asyura, maupun mengkhususkan hari tersebut untuk mandi, memakai pewarna (hinai), atau memberi kelapangan belanja kepada keluarga, semuanya tidak disyariatkan. Tidak terdapat hadis sahih tentang hal itu dari Nabi ﷺ maupun dari para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum. Tidak pula ada seorang pun di antara para imam kaum muslimin yang menganjurkannya. Demikian fatwa Syekh Ibnu Baz.[1]

Catatan kaki dan referensi
  1. Lihat: Majmu‘ Fatawa Ibni Baz, 249/26–253. Situs Syekh Ibnu Baz: https://binbaz.org.sa/audios/1537/. ↩
Informasi buku dan tautan halaman sumber
Sampul kitab Al-Hauliyyat
Kitab Al-Hauliyyat — Seri Pokok-Pokok Hukum Syariat (1).

Untuk membeli versi lengkap kitab Al-Hauliyyat, halaman sumber menyediakan kode QR toko berikut.

Kode QR halaman asli tentang Muharam dan Asyura
Pindai untuk membagikan halaman sumber tentang Muharam dan Asyura.
Kode QR toko Dar Thayyibah al-Khadra’
Toko daring Dar Thayyibah al-Khadra’ di Makkah al-Mukarramah.
Kode QR toko Dar Ibn al-Jauzi
Toko daring Dar Ibn al-Jauzi di Riyadh dan Dammam.

Jumlah pengunjung pada salinan halaman sumber: 1.250. Angka ini merupakan data pada berkas sumber, bukan penghitung pengunjung halaman Markaz Inayah.

© 2026 Al-Hauliyyat. Seluruh hak cipta dilindungi. Gambar sampul dan kode QR di atas ditautkan ke situs sumber.

↑ Kembali ke atas

Tim Ilmiah Markaz Inayah

Markazinayah.com adalah website dakwah yg dikelola oleh Indonesian Community Care Center Riyadh, KSA. Isi dari website ini adalah kontribusi dari beberapa mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan di beberapa universitas di Arab Saudi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button