Memuliakan Ilmu dan Para Ulama
ADAB · ILMU · TARBIYAH
Memuliakan Ilmu dan Para Ulama
Dalam Cahaya Al-Qur’an, Sunnah, serta Perkataan Salaf dan Ulama
Daftar Isi
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga, dan seluruh sahabat beliau. Amma ba‘du.
Sesungguhnya memuliakan ilmu dan para pemiliknya merupakan salah satu adab paling agung yang seharusnya dimiliki oleh setiap penuntut ilmu. Sebab, ilmu syar‘i adalah warisan para nabi. Dengan ilmu tersebut, seseorang mengenal Allah Ta‘ala, memahami syariat-Nya, membedakan antara Sunnah dan bid‘ah, serta antara petunjuk dan kesesatan.
Memuliakan ilmu bukan sekadar memberikan penghormatan secara lahiriah kepada kitab-kitab, para ulama, dan majelis ilmu. Lebih dari itu, memuliakan ilmu berarti mengagungkan wahyu yang diturunkan Allah, menghormati para pembawanya, mengikhlaskan niat dalam menuntutnya, menjaga adab ketika mempelajarinya, serta mengamalkan ilmu tersebut.
Imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim Thariq At-Ta‘allum membuat satu pembahasan khusus berjudul Fi Ta‘zhim Al-‘Ilmi wa Ahlihi (Tentang Memuliakan Ilmu dan Para Pemiliknya). Beliau menegaskan bahwa penghormatan terhadap ilmu dan guru merupakan sebab penting untuk memperoleh manfaat dan keberkahan ilmu.
Tulisan ini membahas kemuliaan ilmu dan para ulama berdasarkan dalil Al-Qur’an, Sunnah Nabi ﷺ, serta perkataan generasi salaf dan para ulama, kemudian menjelaskan penerapannya dalam kehidupan seorang penuntut ilmu.
Memuliakan Ilmu dalam Al-Qur’an
Lima petunjuk wahyu tentang kedudukan ilmu dan orang-orang yang mempelajarinya.
01Ilmu menjadi sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah
﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ﴾“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
QS. Al-Mujadilah: 11
Penjelasan dalil: Allah mengkhususkan orang-orang beriman dan berilmu dengan kedudukan yang tinggi. Hal ini menunjukkan kemuliaan ilmu dan besarnya kedudukan para pemiliknya.
Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu sesuai dengan keimanan dan ilmu yang diberikan kepada mereka.
Rujukan: Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, tafsir QS. Al-Mujadilah: 11. Penjelasan ini merupakan penyampaian makna tafsir, bukan kutipan harfiah.
Pelajaran pendidikan: Jika Allah telah meninggikan kedudukan orang-orang berilmu, seorang muslim selayaknya mengenali kemuliaan mereka, menghormati majelis mereka, dan mengambil manfaat dari bimbingannya.
02Ilmu menjadi ukuran keutamaan antara manusia
﴿قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
QS. Az-Zumar: 9
Penjelasan dalil: Allah menegaskan bahwa orang berilmu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu. Hal ini karena ilmu memberikan pengaruh besar dalam mengenali kebenaran dan mengamalkannya.
Pelajaran pendidikan: Seorang penuntut ilmu hendaknya menyadari nilai ilmu yang sedang dipelajarinya dan tidak menjadikan kegiatan menuntut ilmu sebagai perkara sampingan dalam kehidupannya.
03Perintah untuk senantiasa menambah ilmu
﴿وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾“Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’”
QS. Thaha: 114
Ayat ini merupakan perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ agar senantiasa memohon tambahan ilmu.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menjelaskan:
Pelajaran pendidikan: Penuntut ilmu yang sungguh-sungguh tidak akan merasa bangga secara berlebihan terhadap pengetahuan yang telah dimilikinya. Sebaliknya, semakin bertambah ilmunya, semakin besar pula kerendahan hati dan kesadarannya bahwa dirinya masih membutuhkan banyak ilmu.
04Ilmu melahirkan rasa takut kepada Allah
﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”
QS. Fathir: 28
Penjelasan dalil: Ilmu yang bermanfaat akan melahirkan rasa takut kepada Allah dan kesadaran bahwa Dia senantiasa mengawasi hamba-Nya. Semakin seseorang mengenal Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan keagungan-Nya, semakin besar pula rasa takut dan pengagungannya kepada Allah.
Pelajaran pendidikan: Tujuan menuntut ilmu bukan sekadar memperbanyak informasi, melainkan memperbaiki hati, ibadah, dan amal perbuatan.
05Kewajiban merujuk kepada ahli ilmu ketika tidak mengetahui
﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan apabila kalian tidak mengetahui.”
QS. An-Nahl: 43
Penjelasan dalil: Allah mengarahkan orang yang tidak mengetahui agar bertanya kepada orang yang memiliki ilmu. Hal ini menunjukkan pentingnya mengakui keutamaan ahli ilmu dan merujuk kepada mereka dalam bidang yang mereka kuasai.
Pelajaran pendidikan: Termasuk memuliakan ilmu adalah tidak memberanikan diri mengeluarkan fatwa tanpa pengetahuan yang memadai. Seorang penuntut ilmu juga tidak seharusnya merasa cukup hanya dengan membaca buku atau mendengarkan potongan ceramah, lalu menganggap dirinya tidak lagi membutuhkan bimbingan ulama.
Memuliakan Ilmu dan Para Ulama dalam Sunnah Nabi ﷺ
Petunjuk Rasulullah ﷺ tentang ilmu, pembelajarannya, dan hak para ahli ilmu.
01Para ulama adalah pewaris para nabi
Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ».“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat besar.”
Takhrij hadis: Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, no. 3641; At-Tirmidzi, no. 2682; dan Ibnu Majah, no. 223, dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini memiliki pembahasan sanad di kalangan ahli hadis dan dinilai hasan atau sahih oleh sejumlah ulama berdasarkan jalur-jalurnya.
Penjelasan dalil: Para ulama membawa warisan kenabian berupa ilmu, penjelasan agama, dan pengajaran. Oleh karena itu, menghormati mereka merupakan bagian dari penghormatan terhadap ilmu yang mereka bawa.
02Pemahaman agama merupakan tanda Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang
Dari Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ».“Barang siapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya Allah akan memberinya pemahaman tentang agama.”
Takhrij hadis: Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, no. 71, dan Muslim, no. 1037, dari Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini sahih dan muttafaq ‘alaih.
Penjelasan dalil: Memahami agama merupakan salah satu tanda terbesar bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya.
Pelajaran pendidikan: Seorang muslim seharusnya merasa gembira ketika memperoleh kesempatan menghadiri majelis ilmu dan berusaha lebih mengutamakannya daripada banyak kesenangan dunia yang tidak memberikan manfaat sebesar ilmu agama.
03Keutamaan menempuh jalan untuk mencari ilmu
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ».“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
Takhrij hadis: Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sebagai bagian dari hadis yang lebih panjang. Hadis ini sahih.
Penjelasan dalil: Menuntut ilmu merupakan salah satu jalan yang dapat mengantarkan seseorang menuju surga, apabila disertai niat yang benar dan pengamalan terhadap ilmu yang diperolehnya.
04Menghormati orang yang lebih tua dan mengetahui hak ulama
Diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ».“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda, tidak menghormati yang lebih tua, dan tidak mengetahui hak orang yang berilmu di antara kami.”
Takhrij hadis: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dan terdapat riwayat dengan redaksi berdekatan dalam kitab-kitab hadis lainnya. Tambahan kalimat «وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ» memiliki pembahasan mengenai kekuatan sanadnya. Adapun pokok hadis tentang menyayangi yang muda dan menghormati yang tua diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi, no. 1919, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, dengan redaksi yang berbeda.
Penjelasan dalil: Menghormati orang-orang yang memiliki keutamaan, termasuk para ulama, merupakan salah satu akhlak mulia yang dianjurkan dalam Islam.
05Menghormati ahli Al-Qur’an merupakan bagian dari pengagungan kepada Allah
Dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ، وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ».“Sesungguhnya termasuk bentuk pengagungan kepada Allah adalah memuliakan seorang muslim yang telah lanjut usia, memuliakan penghafal dan pengemban Al-Qur’an yang tidak berlebihan terhadapnya dan tidak pula mengabaikannya, serta memuliakan penguasa yang berlaku adil.”
Takhrij hadis: Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, no. 4843, dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai hasan oleh sejumlah ulama hadis.
Penjelasan dalil: Menghormati orang yang mengemban Al-Qur’an, memahami kandungannya, dan bersikap lurus dalam mengamalkannya merupakan salah satu bentuk pengagungan kepada Allah Ta‘ala.
Memuliakan Ilmu dan Para Ulama Menurut Salaf dan Ulama
Nasihat dan teladan para sahabat, tabi‘in, imam, dan ahli pendidikan Islam.
01Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (wafat 40 H)
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dalam nasihatnya kepada Kumail bin Ziyad:
Pelajaran: Ilmu lebih mulia daripada harta karena ilmu menjaga pemiliknya dan berkembang melalui pengajaran. Sebaliknya, harta membutuhkan penjagaan dan akan berkurang ketika dibelanjakan.
02Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma (wafat 68 H)
Terdapat riwayat mengenai penghormatan Abdullah bin Abbas kepada Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum.
Disebutkan bahwa Ibnu Abbas memegang tali pijakan kendaraan Zaid bin Tsabit. Ketika Zaid memintanya untuk menjauh dan tidak perlu melakukan hal tersebut, Ibnu Abbas menjawab:
Pelajaran: Menghormati ahli ilmu merupakan akhlak yang mulia. Kedudukan dan kemuliaan seseorang tidak seharusnya menghalanginya untuk menunjukkan penghormatan kepada orang lain yang memiliki ilmu dan keutamaan.
03Muhammad bin Sirin rahimahullah (wafat 110 H)
Muhammad bin Sirin berkata:
Pelajaran: Termasuk bentuk memuliakan ilmu adalah memilih guru dan sumber pembelajaran dengan baik. Sebab, ilmu agama bukan sekadar kumpulan informasi, melainkan pengetahuan yang menjadi landasan seseorang dalam beribadah kepada Allah.
04Imam Malik bin Anas rahimahullah (wafat 179 H)
Terdapat ungkapan yang populer dan dinisbatkan kepada Imam Malik:
Adapun mengenai penghormatan Imam Malik terhadap hadis Nabi ﷺ, disebutkan bahwa beliau mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh ketika hendak menyampaikan hadis. Beliau mandi, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian yang baik sebagai bentuk penghormatan terhadap sabda Rasulullah ﷺ.
Rujukan: Al-Qadhi Iyadh, Tartib Al-Madarik wa Taqrib Al-Masalik, biografi Imam Malik, pembahasan mengenai penghormatan beliau terhadap hadis Nabi ﷺ.
Pelajaran: Penghormatan terhadap ilmu tercermin dalam penampilan yang pantas, kesiapan mengikuti majelis, dan sikap penuh penghormatan terhadap Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
05Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah (wafat 204 H)
Dinukil sebuah perkataan dari Imam Asy-Syafi‘i:
Pelajaran: Termasuk adab terhadap guru adalah menghindari tindakan yang mengganggunya, mendengarkan penjelasannya dengan baik, dan menghormati suasana majelis ilmu.
06Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat 241 H)
Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
Pelajaran: Kebutuhan manusia terhadap ilmu agama berlangsung sepanjang hidupnya. Sebab, seseorang senantiasa membutuhkan petunjuk ilmu dalam akidah, ibadah, muamalah, dan perilakunya.
07Imam Az-Zarnuji, penulis kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim
Imam Az-Zarnuji rahimahullah berkata:
Kemudian beliau menyebutkan:
Pelajaran: Imam Az-Zarnuji menegaskan bahwa menghormati ilmu dan guru merupakan salah satu sebab terbesar untuk memperoleh manfaat dari pembelajaran. Sebaliknya, buruknya adab dapat menjadi penyebab seseorang kehilangan keberkahan ilmu.
Meskipun demikian, perkataan tersebut harus dipahami berdasarkan prinsip-prinsip syariat. Adab merupakan sebab penting untuk memperoleh manfaat ilmu, tetapi tidak berarti setiap orang yang melakukan kekurangan dalam sebagian bentuk penghormatan pasti tidak akan mendapatkan ilmu.
Bentuk-Bentuk Memuliakan Ilmu dan Para Ulama
Adab yang dapat dipraktikkan dalam niat, majelis, relasi dengan guru, kitab, dan amal.
01Memuliakan ilmu di dalam hati
Memuliakan ilmu dalam hati dapat diwujudkan dengan meyakini kemuliaan ilmu syar‘i, mengikhlaskan niat dalam menuntutnya, mengutamakan ilmu yang bermanfaat daripada perkara yang tidak bermanfaat, berusaha mengamalkan ilmu yang dipelajari, serta bersikap rendah hati dalam menerima kebenaran dari siapa pun yang menyampaikannya.
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ﴾“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya.”
QS. Al-Bayyinah: 5
Ayat ini menunjukkan bahwa keikhlasan merupakan landasan seluruh ibadah, termasuk dalam menuntut ilmu agama.
02Memuliakan majelis ilmu
Di antara bentuk penghormatan terhadap majelis ilmu adalah menghadiri pelajaran tepat waktu, mempersiapkan diri sebelum pembelajaran dimulai, mendengarkan penjelasan dengan sungguh-sungguh, tidak menyibukkan diri dengan telepon atau percakapan yang tidak berkaitan dengan pelajaran, tidak memotong pembicaraan guru tanpa keperluan, mencatat faedah penting, mengajukan pertanyaan dengan sopan, serta mengulang pelajaran dan mengamalkannya.
﴿وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾“Apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah agar kalian mendapat rahmat.”
QS. Al-A‘raf: 204
Ayat ini berbicara tentang mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Dari kandungannya dapat diambil pelajaran mengenai pentingnya memberikan perhatian dan penghormatan terhadap firman Allah, terutama ketika dibacakan dalam majelis ilmu.
03Memuliakan guru
Di antara hak seorang guru adalah dihormati dan dimuliakan tanpa sikap berlebihan, diajak berbicara dengan bahasa yang santun, dihadapi dengan kesabaran ketika menyampaikan pelajaran, tidak sengaja dipermalukan atau dicari-cari kekurangannya, didoakan dan diberikan ucapan terima kasih atas kebaikannya, diterima penjelasannya apabila sesuai dengan dalil, serta dinasihati dengan cara yang baik apabila melakukan kesalahan.
﴿قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا﴾“Musa berkata kepadanya, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu?’”
QS. Al-Kahfi: 66
Penjelasan dalil: Nabi Musa ‘alaihissalam berbicara kepada orang yang hendak dijadikannya sebagai guru dengan bahasa yang penuh kesopanan. Beliau meminta izin untuk mengikuti dan memperoleh manfaat dari ilmu yang dimilikinya.
04Memuliakan kitab-kitab agama
Memuliakan kitab-kitab agama dapat dilakukan dengan menjaga mushaf Al-Qur’an dan kitab-kitab ilmu, tidak menghinakannya, memperlakukannya dengan baik, memperbaiki kesalahan yang ditemukan di dalamnya, serta mengutip kandungannya secara jujur dan bertanggung jawab.
Menghormati kitab-kitab ilmu bukan berarti dilarang meneliti atau mengoreksi kesalahan yang terdapat di dalamnya. Justru memperbaiki kesalahan berdasarkan dalil dan penelitian yang benar merupakan bagian dari upaya menjaga kemurnian ilmu.
05Memuliakan ilmu dengan mengamalkannya
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ﴾“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan.”
QS. Ash-Shaff: 2–3
Dari Abu Malik Al-Harits bin Ashim Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ».“Al-Qur’an merupakan hujah yang membelamu atau hujah yang memberatkanmu.”
Takhrij hadis: Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, no. 223, dari Abu Malik Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu, sebagai bagian dari hadis panjang yang diawali dengan sabda Nabi ﷺ: «الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ» (“Bersuci adalah separuh dari iman”). Hadis ini sahih.
Pelajaran: Salah satu bentuk terbesar memuliakan ilmu adalah menjadikannya sebagai dasar keimanan, amal, dan akhlak, bukan membiarkannya berhenti sebagai hafalan dan kumpulan informasi.
Batasan-Batasan dalam Memuliakan Ulama
Penghormatan yang adil: menghargai ulama tanpa menganggapnya terhindar dari kesalahan.
Memuliakan para ulama harus dipahami secara benar, jauh dari sikap berlebihan maupun sikap meremehkan.
01Ulama dihormati, tetapi tidak dianggap maksum
Seorang ulama, setinggi apa pun kedudukan dan keluasan ilmunya, tetap mungkin benar dan mungkin keliru.
Kemaksuman dalam menyampaikan wahyu merupakan kekhususan para nabi sesuai dengan penjagaan yang Allah berikan kepada mereka. Adapun para ulama tidak memiliki sifat maksum dari kesalahan.
02Dalil harus didahulukan daripada perkataan siapa pun
﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ﴾“Jika kalian berselisih pendapat mengenai sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”
QS. An-Nisa’: 59
Ayat ini menjadi landasan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah merupakan rujukan tertinggi ketika terjadi perselisihan.
03Mengoreksi kesalahan ulama tidak bertentangan dengan penghormatan kepada mereka
Kesalahan seorang ulama boleh dijelaskan berdasarkan dalil dan argumentasi yang benar, dengan tetap menjaga kehormatan, mengakui jasa, serta menghargai keilmuannya.
Kritik ilmiah yang dilakukan secara adil berbeda dengan penghinaan atau serangan terhadap pribadi seseorang.
04Tidak boleh bersikap berlebihan terhadap ulama
Tidak boleh meyakini bahwa seorang ulama mengetahui perkara gaib secara mandiri, tidak mungkin melakukan kesalahan, atau bahwa seluruh pendapatnya harus didahulukan daripada dalil Al-Qur’an dan Sunnah.
Penghormatan terhadap ulama harus tetap berada dalam batas-batas yang ditetapkan syariat.
05Tidak boleh merendahkan ulama atau sengaja mencari kesalahan mereka untuk mempermalukannya
Seorang muslim hendaknya bersikap adil dan objektif terhadap para ulama.
Apabila ditemukan kesalahan, hendaknya kesalahan tersebut dijelaskan dengan cara yang ilmiah dan bertanggung jawab, bukan dijadikan sarana untuk menghina, mencela, atau merendahkan kehormatan mereka.
Pertanyaan dan Jawaban untuk Diskusi Halaqah
Tekan setiap pertanyaan untuk menampilkan jawabannya.
01Mengapa seorang penuntut ilmu harus memuliakan ilmu?
Karena ilmu agama merupakan warisan para nabi. Melalui ilmu, seseorang mengenal Allah dan memahami syariat-Nya. Ilmu juga menjadi sebab diangkatnya derajat seorang hamba di dunia dan akhirat.
02Apa dalil yang menunjukkan tingginya kedudukan orang-orang berilmu?
Firman Allah Ta‘ala:
﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ﴾“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
QS. Al-Mujadilah: 11
03Mengapa para ulama harus dihormati?
Karena mereka merupakan pembawa warisan ilmu para nabi dan memiliki peran dalam menjelaskan ajaran agama kepada umat manusia.
04Apakah menghormati guru berarti tidak boleh mendiskusikan pendapatnya?
Tidak. Seorang murid boleh bertanya, berdiskusi, dan mengoreksi kesalahan gurunya dengan dalil dan argumentasi yang benar, selama dilakukan dengan sopan dan tetap menjaga kehormatannya.
05Apa bentuk paling utama dalam memuliakan ilmu?
Mengikhlaskan niat kepada Allah, mengamalkan ilmu yang dipelajari, dan menjalankan ketentuan syariat.
06Apa akibat buruknya adab dalam menuntut ilmu?
Buruknya adab dapat menyebabkan seseorang tidak memperoleh manfaat ilmu secara optimal, melemahkan proses pembelajaran, serta membuat guru dan sesama penuntut ilmu merasa terganggu.
07Bagaimana bentuk penghormatan terhadap ilmu ketika mengikuti halaqah?
Dengan hadir tepat waktu, mendengarkan pelajaran dengan sungguh-sungguh, mengajukan pertanyaan secara sopan, tidak memotong pembicaraan tanpa keperluan, dan mencatat faedah-faedah penting.
08Apa perbedaan antara memuliakan ulama dan bersikap berlebihan terhadap mereka?
Memuliakan ulama berarti menghormati dan mengambil manfaat dari ilmu mereka. Adapun sikap berlebihan adalah mengangkat mereka melampaui kedudukan yang semestinya, seperti menganggap mereka tidak mungkin melakukan kesalahan.
09Bagaimana ilmu dapat menjadi sarana penyucian jiwa?
Ketika ilmu melahirkan rasa takut kepada Allah, kerendahan hati, keikhlasan, dan amal saleh.
10Apa nasihat utama bagi seorang penuntut ilmu?
Hendaknya ia mengikhlaskan niat, memuliakan ilmu, menghormati guru, menjaga adab ketika mendengarkan dan bertanya, serta mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya.
Penutup
Sesungguhnya memuliakan ilmu dan para pemiliknya bukanlah perkara yang hanya berkaitan dengan penampilan lahiriah. Memuliakan ilmu merupakan ibadah hati sekaligus perilaku nyata yang terlihat dalam niat, proses belajar, kehadiran di majelis ilmu, cara berdiskusi, dan pengamalan ilmu.
Pokok-pokok pembahasan ini dapat dirangkum dalam lima nasihat.
- Muliakanlah ilmu karena ilmu agama merupakan warisan para nabi.
- Muliakanlah para ulama karena mereka merupakan pembawa dan pewaris ilmu para nabi, tanpa bersikap berlebihan terhadap mereka.
- Hormatilah guru dengan menjaga adab, mendengarkan penjelasannya dengan sungguh-sungguh, dan menghargai jasa serta pengorbanannya.
- Muliakanlah majelis ilmu dengan menghadirinya secara tertib, mempersiapkan diri, dan berpartisipasi dalam pembelajaran secara bermanfaat.
- Muliakanlah ilmu yang telah dipelajari dengan mengamalkannya, menyebarkannya, dan mengajarkannya kepada orang lain.
﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”
QS. Fathir: 28
Ukuran keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu bukan semata-mata banyaknya pengetahuan yang dikumpulkan, melainkan sejauh mana ilmu tersebut melahirkan rasa takut kepada Allah, adab yang mulia, dan amal yang saleh.
Allah lebih mengetahui. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga, dan seluruh sahabat beliau.
Semoga bermanfaat.