‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ikut berangkat bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Bani Musthaliq. Di tengah perjalanan, pasukan berhenti dan bermalam beberapa waktu, kemudian bersiap melanjutkan perjalanan. ‘Aisyah pergi mencari kalungnya yang terjatuh ketika ia menunaikan keperluan. Saat kembali ke perkemahan, ia mendapati orang-orang telah berangkat.
‘Aisyah berkata, “Aku menutupi diri dengan jilbab, lalu berbaring di tempatku. Aku tahu bahwa jika orang-orang menyadari aku tertinggal, mereka akan kembali mencariku. Demi Allah, ketika aku sedang berbaring, Shafwan bin Al-Mu‘aththal lewat. Ia tertinggal dari pasukan karena suatu keperluan.” Ketika melihat sosok ‘Aisyah, ia mendekat dan berhenti di hadapannya. Ia mendekatkan untanya lalu menjauh. Setelah ‘Aisyah naik, ia menuntun unta itu untuk menyusul rombongan. Mereka baru berhasil menyusul pasukan pada pagi hari.
Abdullah bin Ubay, pemimpin kaum munafik, melihat ‘Aisyah berada di atas unta Shafwan. Ia menuduh ‘Aisyah dan menyebarkan tuduhan itu di tengah masyarakat. Namun, Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi menurunkan ayat yang menyatakan kesucian ‘Aisyah. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah golonganmu juga. Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagimu, bahkan itu baik bagimu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Adapun orang yang mengambil peran besar di dalamnya, dia mendapat azab yang sangat berat.” (QS. An-Nur: 11).