Durūs min as-Sīrah

Bagian 50: Rencana Membunuh Nabi ﷺ

Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 50

مُؤَامَرَةٌ لِقَتْلِ النَّبِيِّ ﷺ

Rencana Membunuh Nabi ﷺ

بَعْدَ هَزِيمَةِ قُرَيْشٍ فِي مَعْرَكَةِ بَدْرٍ، جَلَسَ عُمَيْرُ بْنُ وَهْبٍ مَعَ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ. وَكَانَ عُمَيْرٌ شَيْطَانًا مِنْ شَيَاطِينِ قُرَيْشٍ، وَمِمَّنْ كَانَ يُؤْذِي رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَأَصْحَابَهُ، وَيَلْقَوْنَ مِنْهُ الْعَنَاءَ وَهُوَ بِمَكَّةَ. وَكَانَ ابْنُهُ وَهْبُ بْنُ عُمَيْرٍ فِي أُسَارَى بَدْرٍ.

Setelah Quraisy kalah dalam Perang Badar, ‘Umair bin Wahb duduk bersama Shafwan bin Umayyah. ‘Umair adalah salah seorang tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Islam. Ia pernah menyakiti Rasulullah ﷺ dan para sahabat, yang telah mengalami banyak penderitaan akibat ulahnya ketika masih di Makkah. Putranya, Wahb bin ‘Umair, termasuk tawanan Perang Badar.

فَذَكَرَ صَفْوَانُ قَتْلَاهُمْ، وَقَالَ: «وَاللَّهِ مَا فِي الْعَيْشِ بَعْدَهُمْ خَيْرٌ». فَقَالَ لَهُ عُمَيْرٌ: «صَدَقْتَ. أَمَا وَاللَّهِ، لَوْلَا دَيْنٌ عَلَيَّ لَيْسَ عِنْدِي قَضَاؤُهُ، وَعِيَالٌ أَخْشَى عَلَيْهِمُ الضَّيْعَةَ بَعْدِي، لَرَكِبْتُ إِلَى مُحَمَّدٍ حَتَّى أَقْتُلَهُ». فَاغْتَنَمَهَا صَفْوَانُ بْنُ أُمَيَّةَ، فَقَالَ: «عَلَيَّ دَيْنُكَ أَنَا أَقْضِيهِ عَنْكَ، وَعِيَالُكَ مَعَ عِيَالِي أُوَاسِيهِمْ مَا بَقُوا». فَقَالَ لَهُ عُمَيْرٌ: «فَاكْتُمْ عَلَيَّ شَأْنِي وَشَأْنَكَ». قَالَ: «سَأَفْعَلُ».

Shafwan mengenang orang-orang Quraisy yang terbunuh, lalu berkata, “Demi Allah, tidak ada lagi nikmat hidup setelah mereka.” ‘Umair menjawab, “Engkau benar. Demi Allah, seandainya aku tidak memiliki utang yang belum mampu kubayar dan keluarga yang kucemaskan akan terlantar sepeninggalku, niscaya aku akan pergi menemui Muhammad untuk membunuhnya.” Shafwan memanfaatkan kesempatan itu dan berkata, “Utangmu menjadi tanggunganku; aku akan melunasinya. Keluargamu akan kuperlakukan seperti keluargaku selama mereka masih hidup.” ‘Umair berkata, “Rahasiakan urusanku dan urusanmu ini.” Shafwan menjawab, “Akan kulakukan.”

ثُمَّ قَامَ عُمَيْرٌ إِلَى سَيْفِهِ فَشَحَذَهُ وَسَمَّهُ، ثُمَّ انْطَلَقَ حَتَّى قَدِمَ الْمَدِينَةَ. وَبَيْنَمَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي نَفَرٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَتَحَدَّثُونَ، إِذْ رَأَى عُمَيْرَ بْنَ وَهْبٍ وَقَدْ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ مُتَوَشِّحًا سَيْفَهُ، فَقَالَ: «هَذَا عَدُوُّ اللَّهِ عُمَيْرُ بْنُ وَهْبٍ، مَا جَاءَ إِلَّا لِشَرٍّ».

Kemudian ‘Umair mengambil pedangnya, mengasahnya, dan melumurinya dengan racun. Ia berangkat hingga tiba di Madinah. Ketika ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu sedang berbincang bersama sejumlah kaum muslimin, ia melihat ‘Umair bin Wahb menambatkan untanya di pintu masjid dengan pedang tersandang. ‘Umar berkata, “Ini ‘Umair bin Wahb, musuh Allah. Ia datang hanya untuk membawa keburukan.”

Sumber: Durūs min as-Sīrah (دروس من السيرة), pembahasan Rencana Membunuh Nabi ﷺ (مُؤَامَرَةٌ لِقَتْلِ النَّبِيِّ ﷺ), halaman 67 kitab (halaman 68 PDF). Harakat dan tanda baca ditambahkan untuk membantu pembacaan. Pembagian pasangan paragraf bersifat editorial; urutan isi mengikuti naskah asli.

Related Articles

Back to top button