Bagian 49: Para Tawanan Perang Badar
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 49
Para Tawanan Perang Badar
Kaum muslimin kembali dari medan perang ke Madinah dengan gembira atas pertolongan Allah. Penduduk Madinah menyambut kabar kekalahan Quraisy dengan sukacita, meskipun mereka tetap berhati-hati karena khawatir kabar itu tidak benar. Usamah bin Zaid berkata, “Demi Allah, aku belum percaya sampai kami melihat para tawanan.”
Pasukan tiba di Madinah dengan membawa para tawanan dan harta rampasan. Rasulullah ﷺ bermusyawarah dengan para sahabat tentang tujuh puluh tawanan itu. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menyarankan agar mereka ditebus. Dengan tebusan itu kaum muslimin dapat memperkuat diri, sementara para tawanan dibebaskan dengan harapan Allah memberi mereka petunjuk menuju Islam. ‘Umar berkata, “Tidak, demi Allah. Menurutku, serahkan mereka kepada kami agar kami memenggal leher mereka. Mereka adalah para pemimpin kekafiran dan tokoh-tokoh utamanya.”
Nabi ﷺ memilih pendapat Abu Bakar dan menerima tebusan dari para tawanan. Besarnya tebusan berbeda-beda sesuai kemampuan harta mereka, mulai dari empat ribu hingga seribu dirham. Tawanan yang tidak mampu menebus dirinya, tetapi pandai membaca dan menulis, diwajibkan mengajari sepuluh anak kaum muslimin sebagai tebusan. Rasulullah ﷺ juga membebaskan sebagian tawanan tanpa tebusan. Hanya An-Nadhr bin Al-Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu‘ayth yang dihukum mati karena termasuk orang yang paling keras menyakiti kaum muslimin di Makkah. Kesombongan dan keberanian palsu mereka tampak berakhir ketika ‘Uqbah memohon belas kasihan kepada Rasulullah ﷺ, “Siapa yang akan mengurus anak-anak, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Neraka.”