Keadilan senantiasa menyertai Rasulullah ﷺ, baik saat menetap maupun bepergian. Beliau berlaku adil dalam hubungan dengan Rabb-nya, dengan dirinya sendiri, dengan para istrinya, dan dengan orang lain, baik kerabat maupun orang yang jauh. Bahkan musuh yang keras kepala pun mendapat bagian dari keadilan beliau ﷺ.
Di antara contoh keadilan beliau, suatu kali beliau menyentuh pinggang Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu dengan sebatang tongkat. Usaid berkata, “Engkau menyakitiku, maka izinkan aku membalasmu.” Beliau menjawab, “Balaslah terhadapku.” Usaid berkata, “Engkau mengenakan baju, sedangkan aku tidak.” Nabi ﷺ pun mengangkat bajunya. Usaid lalu memeluk beliau dan mencium bagian antara pinggang dan tulang rusuknya. Ia berkata, “Sebenarnya inilah yang kuinginkan, wahai Rasulullah.”
Beliau ﷺ tidak membiarkan hukum-hukum Allah yang ditetapkan untuk menegakkan keadilan di antara manusia diabaikan, sekalipun pelakunya kerabat atau orang yang beliau cintai. Beliau bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah: jika orang terpandang mencuri, mereka membiarkannya; tetapi jika orang lemah mencuri, mereka menegakkan hukuman atasnya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti akan kupotong tangannya.”